Bukan Cinta Terencana (R3)

Bukan Cinta Terencana (R3)
.71. Perihal Hati & Mimpi


__ADS_3

📚.71. Perihal Hati & Mimpi



"Aku tahu kakek meminta apa. Aku tahu apa yang kakek rencanakan. Akan tetapi, aku juga tahu yanda mengerti dengan pasti perihal hati dan mimpi yang perlu dijaga."-Atmariani Karamina Adriani



****


"Yanda?" Panggil gadis cantik tersebut, dengan suara serak khas bangun tidur.


"Hm. Sudah bangun?"


Dia mengangguk, sambil membenahi posisi agar lebih nyaman. "Maaf, Kara ketiduran."


"Hm."


"Kakek gak macem-macem sama yanda 'kan?" Waswas gadis cantik tersebut.


"Misalnya?"


"Menggertak yanda, memaksa, ataupun menyakiti yanda secara verbal maupun non verbal."


Lelaki rupawan tersebut tersenyum tipis, sambil mengelus poni sang istri. "Tidur lagi. Ini masih malam."


"Yanda, jawab dulu pertanyaan Kara."


"Tentang?"


"Apa yang kakek minta?"


"Apa?"


"Yanda ihh." Ketus gadis cantik tersebut, sambil menenggelamkan wajahnya dalam dada bidang sang suami.


Saat melarikan diri dari pembicaraan emosial tadi, Kara langsung menuju pavilium utara, tempat dimana kamar pribadi milik ibunya terletak. Disinilah dia berada. Di ruangan pribadi milik ibunya. Tempat dimana ibunya dulu besar dan tinggal di negeri Sakura.


Semua interior dan eksterior hunian dikomplek perumahan kakek Kara memang masih tradisional. Namun kelebihannya, setiap tamu yang datang benar-benar bisa merasakan hidup di jaman kekaisaran Jepang dengan sangat kental.


Tidak ada tempat tidur king size atau Queen size seperti di kamarnya dan Arsyad. Hanya ada kasur lantai tradional alas mereka tidur, dan selimut yang cukup tebal yang menjadi penghangat tubuh. Walaupun begitu, tempat tersebut tetap hunian yang sangat nyaman untuk ditinggali.


"Yanda kenapa diem terus?" Bisik Kara, sambil menyimpan tangannya diatas dada bidang sang suami.


"Hm?"


"Ada yang yanda sembunyikan dari Kara?"


"Tidak." Jawab Arsyad apa adanya.


Gadis cantik itu mendongrak, menatap sang suami dari bawah. "Ini gak boleh digunakan untuk berbohong." Ujarnya, sambil menyentuh ujung bibir sang suami.

__ADS_1


"Allah gak suka sama orang bohong. Kara juga sama, gak suka." Lirihnya, sambil menurunkan pandangannya.


"Yanda itu-" belum sempat Kara menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba saja tengkuk belakangnya terdorong secara tiba-tiba. Membuat wajahnya kembali mendongrak dan condong ke depan.


Belum sempat ia bertanya kenapa, bibirnya sudah terlebih dahulu menjadi tawanan. Dia juga tidak tahu apa maksud dari tindakan ini. Yang pasti, ciuman yang dijatuhkan suaminya kali ini dalam dan sarat akan makna. Kara mencoba menggali makna tersirat tersebut, namun nihil.


Lelaki tampan itu benar-benar menawan bibirnya tanpa memberikan cela untuk lepas. Kara saja sampai terengah-engah saking tidak biasanya menerima perlakukan tersebut. Ini pertama kali baginya. Ciuman ini terlalu intim dan menghanyutkan. Kara yang notabene masih awam, tentu tidak bisa mengimbangi hasrat menggebu milik suaminya.


"Aku tidak bisa." Lirih Arsyad, saat ia berhasil melepaskan tawanannya.


Tangannya bergerak lirih mengusap bibir sang istri yang merah merona dan agak membengkak karena ulahnya.


"Aku tidak bisa."


"Yanda tidak bisa apa?" Bingung Kara.


"Maaf."


"Yanda?"


"Maaf. Aku tidak bisa."


"Eh, yanda mau kemana?!" Panggil Kara cepat. Karena setelah mengucapkan kalimat terakhirnya, lelaki rupawan tersebut langsung terburu-buru beranjak. Meninggalkan Kara dengan keterkejutannya.


"Yanda kenapa?" Bingung gadis cantik tersebut, sambil menatap punggung suaminya yang telah menjauh.


📚📚📚


"Yanda, ayo cepat." Panggil gadis cantik berpakaian tradional jepang tersebut.


Gadis cantik yang mengenakan pakaian tradisinal jepang itu terlihat sangat cantik pagi ini. Pakaian tersebut bernama Yukata. Salah satu pakaian tradisional Jepang yang juga populer selain kimono adalah yukata atau yang sering disebut sebagai kimono musim panas. Yukata merupakan kimono non formal yang sangat tipis dan terbuat dari bahan katun dan mudah menyerap keringat.



Kain putih dengan motif full bunga bunga yang colourfull, agaknya begitu cocok melekat pada tubuh mungilnya. Arsyad akui hal itu.


Akan tetapi, gundah kembali menyinggahi hati kecilnya. Soal gertakan kakek Kara semalam. Arsyad memang mampu mengatasinya untuk saat ini, tetapi nanti?


Ia harus memutar otaknya agar bisa mencari jalan keluar yang terbaik. Semalam, ia menolak opsi yang diberikan Hatake Wataya kepadanya.


Memberikan seorang penerus dari darah dagingnya bukanlah hal mudah. Terlebih lagi, ada hati dan mimpi yang harus dia jaga. Tidak mungkin dirinya merusak kepercayaan sang istri dengan egois. Selain itu, mana mau Arsyad membiarkan garis keturunannya dibesarkan dan di didik oleh orang lain.


Secara usia dan mental pun, dia belum siap untuk menjadi seorang ayah. Dari pemikirannya pula, ia bisa menyimpulkan jika sang istripun masih terlalu muda untuk mengandung. Sejauh ini pun, ciuman semalam adalah skinship terintim yang pernah mereka lakukan. Baik Arsyad maupun Kara masih awam akan hal-hal yang mengharuskan berhubungan lebih intim.


Arsyad pikir semua itu akan berkembang seiring dengan berjalannya waktu. Dia memiliki mimpi, pun dengan sang istri. Oleh karena itu dia tidak mau istrinya terbebani. Toh, mereka juga masih dini untuk memikirkan semua ini.


"Yanda, kok melamun?" Tanya gadis cantik yang tengah melambaikan tangannya dihadapan wajah sang suami tersebut.


"Yanda aneh deh dari kemarin. Ada apa sih?" Tanyanya penasaran.


Arsyad tidak menjawab. Lelaki tampan itu memilih membawa jemari mungil sang istri kedalam genggamannya. Di depan mereka ada sebuah kolam cukup besar dengan jembatan tradisional yang cantik. Ia ingin membawa istrinya kesana.

__ADS_1


"Yanda?"


"Iya. Ada apa?"


"Yanda gak mau cerita sesuatu sama Kara?"


"Hm."


"Kara tahu, yanda pasti sedang memikirkan sesuatu."


Ketika mereka tiba di atas jembatan tersebut, Arsyad menarik lengan sang istri pelan, guna membuat gadisnya beralih menghadap dirinya.


Mereka bukan sedang jalan-jalan menyusuri keindahan kota Osaka. Mereka masih ada di kediaman kakek Kara yang super duper luas. Beberapa kali mereka juga sempat bertemu dengan para oyabun yang hendak berlatih.


"Kara?"


"Iya. Ada apa yanda?"


"Kamu mau ikut bersamaku?"


"Kemana saja yanda pergi, Kara akan ikut." Jawab gadis cantik tersebut antusias.


"Kamu bebas meraih apa yang kamu inginkan, Kara. Aku akan berusaha semaksimal mungkin mewujudkannya." lanjut Arsyad.


"Kara gak mau jadi publicfigur seperti mamih. Kara juga gak mau jadi pembisnis kayak papih." Kara mengutarakan ketidakinginannya.


"Kara pengen keliling dunia untuk melukis. Kara ingin menjadi seorang pelukis."


Arsyad tersenyum tipis mendengarnya. "Aku akan selamu mendukungmu untuk meraihnya."


Kara tersenyum lebar. Manik hazelnutnya nampak berbinar antusias. "Terimakasih."


"Apapun untukmu."


Senyum gadis cantik itu semakin mengembang. Dengan sigap tangannya meraih rahang sang suami, sebelum ia menarik wajah sang suami mendekat.


"Makasih, Kara sayanggg banget sama yanda." Ujarnya, tepat didepan wajah sang suami.


Arsyad mengerjakan kedua manik gelapnya. Merangkum ekpresi bahagia yang begitu terpancar dihadapannya. Sebahagia itukah istrinya ini? Dia sampai-sampai bisa melihat manik hazelnut milik istrinya melengkung membentuk bulan sabit sempurna saat tersenyum lebar seperti saat ini. Cantik sekali.


Maka, ketika kedua pupil matanya telah merekan segalanya. Dia merengkuh pinggang sang istri mendekat. Sebelah tangannya membawa wajah cantik mengikis jarak diantara mereka. Ia biarkan gundah yang bercengkol dihati sirna. Toh, bahagianya Kara adalah perioritas utama baginya saat ini.


"Tersenyumlah terus seperti ini untukku, karena akupun akan selalu merindukan senyumanmu."


****


TBC


SELAMAT BERBUKA🍜


Mohon maaf jika updatenya lama🙏

__ADS_1


Jangan lupa like, vote, komentarrrr dan follow Author ya😀


Sukabumi 14 Apr 2021


__ADS_2