
...92. Persiapan Menuju Pertempuran...
..."Akan ada yang selalu dipersiapkan untuk menghadapi apa yang telah lama diketahui sebagai sebuah pertempuran."-Arsyad An-nass Senopati Az-zzio...
...****...
Dua orang lelaki ruapwan yang menggunakan alat pelindung diri lengkap, tampak tengah berduel di atas sebuah ring tinju. Kedua lelaki yang terpaut usia 4 tahun itu, tampak terengah setelah beberapa kali saling serang. Namun, lelaki yang paling tualah yang terlihat unggul. Dia bisa mengendalikan emosinya selama berduel dengan baik.
"Sudah, cukup." Intruksi seorang pria rupawan yang datang sambil membawa dua senjata api jenis Air Soft Gun di tangannya.
"Coba bidik jantungnya." Dia melemparkan salah satu benda tersebut, ke arah lelaki yang baru saja menang berduel.
"Baik."
Pria bersurai hitam itu mengangguk. Dia yang sudah menggunakan kacamata khusus untuk pelindung saat akan melakukan latihan menembak, melepaskan satu peluru dari senjata api di tangannya dengan santai.
DOR!
Tepat sasaran di jantung target.
Dia tersenyum miring melihatnya. "Ayo. Sekarang giliranmu." Lanjutnya, sambil menoleh.
Lelaki muda yang masih berpeluh akibat duel tadi itu mengangguk. Tanpa kacamata pelindung ataupun pelindung telinga, dia dengan segera mengubah posisi tangannya. Mengunci target bidikan dengan manik jelaganya. Dirasa sudah pas, dia menarik pelatuk senjata api tersebut. Sehingga menimbulkan bunyi yang cukup nyaring menggema di ruangan bawah tanah tersebut.
DOR!
"Good job, little sniper." Puji pria di sampingnya, sambil menepuk bahunya pelan.
Bidikannya tepat pada jantung yang menjadi target utama. Pria ynag mengenakan kacamata pelindung itu tentu terpukau melihatnya.
"Apa ada latihan lain untuk hari ini, om Gemi?"
Si empunya nama tampak berpikir sejenak. "Hm, untuk saat ini sudah cukup. Fisikmu sudah bagus. Kemampuan beladirimu juga sudah mendekati kata sempurna. Siapa pelatihmu dulu?"
"Om Dirgantara, anggota KOPASUS dan Om Arganta anggota KOPASKHAS. Beliau teman Ayah."
"Pantas saja, asuhan seorang tentara berbaret merah dan jingga pasti tidak akan ada yang gagal. Apalagi kamu anak bang Van'ar." Puji pria rupawan tersebut.
"Jangan beratkan Arsyad dengan kemampuan Ayah. Arsyad masih jauh dibawah Ayah."
Gemintang tersenyum kecil, sambil menatap anak muridnya tersebut. "Suatu saat nanti, kamu pasti bisa setara bahkan bisa melampaui kemampuan Ayahmu."
Arsyad mengangguk kecil. Semoga saja, apa yang disemoga-semogakan tercapai.
"Bang, dia udah lulus tes awal dari Gemi. Tinggal dari abang." Ujar pria rupawan bernama Gemintang teresbut seraya melepas kacamata pelindung dan pelindung telinganya.
"Hm," jawab pria berkacamata yang tak kalah rupawan dari balik personal computer. "Kemari dan duduklah." Titahnya.
Arsyad mengangguk, sambil mengambil posisi di samping pria tersebut.
"Aku sama Astro naik dulu kalau begitu." Ujar Gemintang, sambil memeluk bahu putra rupawannya yang bermanik biru laut tersebut.
"Hm." Jawab pria rupawan yang masih sibuk mengoperaikan personal computer tersebut.
"Om Galaksi?" panggil Arsyad.
"Hm."
"Apa test berikutnya?"
Galaksi-pria rupawan itu menoleh, sembari menyodorkan sebuah laptop kepada Arsyad. "Coba kamu kacaukan firewell atau keamanan jaringan pada simulasi jaringan Lokal Area Network di perusahaan A. Kamu harus bisa membuat 2 Agen yang menjadi anak buahmu, aman dari pengawasan keamanan user."
Arsyad mengangguk paham. Dengan segera, dia mengoperasikan benda tersebut. Soal retas-meretas memang Davian jagonya. Akan tetapi, siapa yang tahu kalau sebelum Davian ada Arsyad yang lebih dulu belajar soal dasar-dasar menjadi peretas handal.
"Kecerobohan apa yang dilakukan user, sehingga membuat mereka tanpa sadar memberikan celah bagi kejahatan di dunia maya terjadi?" Tanya Galaksi. Matanya tetap fokus ke personal computer, tapi dia tetap bisa memberikan pertanyaan.
__ADS_1
"Kelalaian user dalam membatasi host. Jumlah host ada banyak. Jika tidak dipakai, host-host tersebut bisa disalahgunakan untuk melakukan berbagai kegiatan yang merugikan. Untuk mengatasinya, user bisa memenage kebutuhan host lewat setting IP address dan penyetingan firewall untuk keamanan jaringan."
Galaksi mengangguk samar. Well, untuk tes dasar muridnya itu tentu saja langsung lolos. Walaupun kemampuannya belum semahir Davian. Namun, tidak dapat dipungkiri jika terus Arsyad juga bisa menjadi hacker yang handal jika terus digembleng dan diasah kemampuannya.
"Yanda."
Kedatangan Galaksi dan Arsyad disambut suara lembut milik putri Crazy Rich Surabaya tersebut. Gadis yang mengenakan apron berwarna pink di tubuhnya itu tampak ceria, saat menyambut kedatangan sang suami.
"Mas, makan dulu." Ujar suara ramah milik wanita cantik berdress rumahan selutut dari balik container dapur.
"Hm. Aurora mana?" Tanya Galaksi, saat maniknya tidak menemukan putrinya.
Maniknya beredar ke seluruh penjuru ruangan. Namun, hasilnya tetap nihil. Dia tidak bisa menemukan keberadaan sang putri.
"Aurora ada undangan dinner di rumah temennya. Perginya sama Senja kok."
"Senja juga pergi?" Tanya Gemintang ikut bersuara. Dia melirik putranya yang menuruni hampir seluruh ketampanannya, yang tengah asik menikmati sup ayam pedas di sampingnya.
"Kenapa kakang enggak ngawasin Senja?"
"Senja udah besar, Yah. Dia bisa jaga diri sendiri." Jawab sang putra seadanya.
"Tapi tetap aja, kang. Dia itu kembaran kamu. Kalau kenapa-kenapa gimana?" Tanya Gemintang risau.
"Don't worry, Yah. Alat komunikasinya adek udah aku pasang GPS plus pelacak jenius buatan Papa Galaksi." Jawab Fajar sambil kembali menikmati makanannya.
"Oh, gitu," respon Gemintang. "Temennya cowok atau cewek?" tanyanya, berganti kepada sang kakak ipar.
"Cowok."
"What?!" kaget Gemintang. Galaksi juga terkejut. Namun, tidak menunjukannya seheboh Gemintang.
"Begundal bau kencur dari mana yang berani ngajak putri-putriku dinner malam-malam begini?!" Tanya Gemintang emosi.
"Astagfirulla, Aa. Bibirnya minta ditabok ya?" ujar suara lemah lembut milik wanita cantik berhijab syar'i yang baru saja muncul dari dapur.
"Ditabok pake bibir sih, fine-fine aja." Jawab Gemintang sekenanya.
"Ish, bibirnya. Udah tua juga. Inget umur, Aa." Lirih Mentari mengingatkan.
"Habisnya, udah ada yang berani ngajakin putri kita dinner, Tari."
Wanita cantik berhijab Syar'i itu tersenyum kecil sambil menggelengkan kepalanya. "Tadi siang, anak itu telepon. Dia minta izin buat ngajak Senja sama Aurora dinner. Mereka kembar, adik-kakak. Putranya Wali kota."
"What?!" kaget Gemintang. "You sure, sunshine?"
Mentari mengangguk mantap. "Jadi, gak usah overthingking lagi. Lihat, mas Galaksi aja santai. Kamu mah, bawaanya overthingking terus."
Gemintang terkekeh kecil sambil menggaruk tengkuknya. Dia memang kadang overthingking jika menyangkut putra-putrinya.
"Ayo. Silahkan makan, Arsyad, Kara." Ujar Mentari, sambil menghidangkan makanan yang telah disiapkan bersama Arini.
Di meja makan, posisinya berurutan dari kepala keluarga tertua, yaitu Galaksi. Di hadapan Galaksi ada Gemintang. Di samping keduanya, adalah posisi yang akan diisi oleh para istri. Dilanjutkan dengan putra-putri tertua mereka berurutan hingga si bungsu. Mulai dari Astronot, berhadapan dengan Fajar. Antariksa berhadapan dengan tempat duduk Senja, Angkasa berhadapan dengan Alaska, dan Aurora yang biasnya duduk di samping Angkasa.
Kini, anggota keluarga mereka bertambah dengan kehadiran Arsyad dan Kara. Mereka memang sengaja datang berkunjung akhir pekan ini, sekalian untuk menginap seperti penawaran yang para Om dan Bibi-nya itu berikan.
Selepas makan malam, keluarga besar itu akan berkumpul di area ruang tengah. Mereka akan berbincang-bincang, terkadang juga menonton televisi sambil menikmati camilan atau kudapan manis yang dibuat para istri.
Kehadiran Astronot, Fajar, Antariksa, Angkasa dan Alaska. Agaknya mampu memberikan Arsyad angin segar akan kerinduannya kepada para saudara juga sahabatnya di tanah air. Tidak dapat dipungkiri jika dia terkadang rindu berkendara di pagi hari bersama si kembar Davin, Davian, Aroon juga Arsen sahabatnya.
Komunikasi antara mereka memang masih tetap berjalan baik. Namun, sudah tidak seintens dulu. Mengingat jika sekarang mereka memiliki kepentingan masing-masing.
"Sedang apa?" Tanya Arsyad.
Lelaki itu baru saja keluar dari kamar mandi. Dilihatnya sang istri yang sedang sibuk mengetik di atas keyboard laptop miliknya.
__ADS_1
"Ngerjain tugas."
"Dari dosen?"
Gadis cantik itu mengangguk, sambil menatap sang suami sejenak. "Sama tugas dari Papih juga. Sedikit sih, cuma mencocokkan data perusaan cabang."
Arsyad tersenyum kecil, lantas mengecup pucuk kepala sang istri sayang. "Kemarin aku beli tanah di Lemabang." Ucapnya.
Kara mengangguk. Tangannya dengan lincah menekan ctrl+s untuk menyimpan pekerjaanya di Microsoft word.
"Rencananya mau aku bangun rumah di sana. Apa kamu keberatan?"
Gadis cantik itu menggeleng sambil tersenyum. "Enggak. Kara setuju-setuju aja."
Arsyad mengangguk, sambil mengeluarkan sesuatu dari dompetnya yang tergeletak di atas nakas. "Ini, punya kamu. Hasil dari penjualan di Caffe, gym sama bengkel." Dia menyodorkan sebuah kartu ATM ke arah sang istri. "Kalau ini, tabungan untuk jangka panjang. Buat kamu nanti lahiran, biaya pendidikan anak-anak kita, atau apapun yang membutuhkan perencanaan sejak dini."
Kara tersenyum kecil melihatnya. "Kara yang simpan?"
"Hm."
"Waktu itu 'kan kita udah sepakat. Ini Kara pegang kalau udah butuh aja. Kara sekarang cuma butuh uang jajan dari yanda. Yang ini, disimpan lagi aja." Gadis itu menunjuk kartu yang Arsyad sebut tabungan jangka panjang.
"Besok, Kara suruh tante Vyone buat simpan tabungan ini ke BI aja. Gimana? Atau mau kita tabung dalam bentuk saham?" ujar Kara memberi solusi.
"Gimana baiknya aja." Jawab Arsyad, sambil merengkuh tubuh mungil sang istri. Menghirup rakus aroma harum yang tercipta dari tubuh sang istri. Aroma harum yang sudah menjadi candu baginya.
"Yanda?"
"Hm."
"Nanti, yanda mau punya baby berapa?"
"Berapa saja, itu tidak masalah selama kamu tidak keberatan." Arsyad menjawab sambil mengeratkan pelukannya.
"Kara mau yang banyak. Mansion Papih besar, mampuh kok nampung baby-baby kita nanti."
Arsyad tersenyum kecil sambil melonggarkan pelukannya. "Berapa saja, asalkan kamu senang. Tapi, banyak anak berarti juga banyak tanggung jawab yang harus ditanggung, Kara."
"Iya. Makanya, Kara minta pendapat dari awal. Karena nanti, kita harus berperang dengan banyak pihak sebelum bisa memiliki baby."
Arsyad terkesima mendengarnya. Dia juga baru tahu jika sang istri bisa berpikir sejauh ini. Ya, mereka memang akan memasuki pertempuran yang sebenarnya nanti. Hadirnya buah hati diantara mereka tentu membawa perkara baru. Jadi, ada baiknya jika mereka membicarakannya sejak dini.
...****...
...BCT Update guys! Apa kabar? Sehat kah? Jangan kendor, jaga iman dan imun biar kita selalu sehat....
...Maaf baru update. Aku nulis lewat notebook. Nootbook-nya juga harus disservice dulu (tiga hari lagi). Hp sementara yang aku pakai buat publish saat ini, keyboardnya sering lemot. Jadi susah kalau mau ngetik. Maaf kalau belum bisa update teratur. Janjiku doble part kan?...
...Satu part lagi aku up besok. Kita nostalgia sama Gean and the geng sama Triple & Arsen. Jadi, jangan lupa LIKE, VOTE, KOMENTAR, SHARE dan FOLLOW author....
...🔥🔥🔥...
...FOLLOW ini juga boleh banget :...
...IG : Karisma022...
...Wttp : Nengkarisma...
...Tikt*k : Shaka.dji...
...Fb : Karisma Yknp/ Kaka Shan...
...Disana, aku bakal share info seputar karya-karyaku:’D...
...Sukabumi 16 Juli 2021...
__ADS_1