Bukan Cinta Terencana (R3)

Bukan Cinta Terencana (R3)
103. WAR I


__ADS_3

...103. WAR I...


...“Hari itu akhirnya tiba. Hari di mana tangan ini akan mengubah ego yang membuat mereka tercerai berai.”—Arsyad An-nass Senopati Az-zzioi...



...**...


“Yanda enggak apa-apa?”


Pria rupawan yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi itu menggeleng lemah. “Minum dulu, yanda. Ini bisa mengurangi rasa mual.”


Pria rupawan yang mengenakan koko putih itu mengangguk seraya menerima minuman hangat yang diberikan sang istri. Dengan segera dia meminumnya setelah membaca basmalah. Perutnya tiba-tiba saja terserang mual saat pulang dari salat subuh di masjid terdekat.


“Mungkin yanda masuk angin,” ujar sang istri. Wanita cantik yang mengenakan terusan dari Chanel itu mengurut leher sang suami dengan telaten. “Tadi yanda mandi pakai air dingin, ya?”


“Hm.”


Arsyad, pria rupawan itu mengangguk kecil. Satu bulan sudah mereka kembali ke tanah air. Dalam kurun waktu tersebut, mereka sudah mulai beradaptasi dengan posisi mereka yang sesungguhnya. Kara mulai mengambil posisi di kantor sang Ayah, sedangkan sang suami sudah terjun secara langsung mengisi posisi CEO. Namun, belakangan pria rupawan itu kerap kali mengalami gejala enter wind alias masuk angin, seperti mual dan muntah pasca salat subuh, atau sebelum waktu salat subuh tiba.


Saat Kara berniat memanggil dokter, suaminya itu menolak. Mungkin hanya gejala masuk angin biasa, karena perbedaan suhu antara Indonesia dan New York berbeda. Bisa jadi, Arsyad mengalami hal tersebut karena tubuhnya kembali beradaptasi dengan lingkungan yang sudah bertahun-tahun tidak dia sambangi.


“Yanda yakin mau ke Jepang?”


“Hm. Ada urgent meeting di sana. Aku harus pergi.”


“Dengan kondisi begini? Kenapa tidak diwakilkan saja?” tanya Kara, risau. “Aroon punya waktu luang. ‘kan?”


“Dia harus pergi ke rumah calon istrinya, untuk bersilaturahmi.”


Wanita cantik itu mengerucutkan bibir. “Kalau begitu Kara saja yang pergi, sama sekretaris yanda. Yanda, kan, lagi sakit.”


Mendengan ucapan sang istri, pria rupawan itu tersenyum tipis. “Aku tidak sakit, cuma mual sedikit.”


“Tapi yanda muntah-muntah,” ketus sang istri.


“Masuk angin doang.”


“Enter wind kok setiap pagi?” keluh sang istri.


“Mendebat terus.” Arsyad meraih lengan sang istri pelan. “Aku hukum dulu. Semakin hari semakin berani mendebat.”


Kara menggeleng seraya bergerak menjauhi sang suami. Namun, gerakannya kalah telak. Detik berikutnya, Arsyad sudah berhasil mengurung tubuh wanita cantik tersebut di bawah kuasanya.


“Sudah salah subuh belum?” kara mengangguk kecil.


“Hari ini ada meeting pagi atau tidak?” Kara mengernyitkan kening mendengar pertanyaan sang suami. Seingatnya, schedule hari ini tidak ada meeting penting di pagi hari. Hanya ada evaluasi antar divisi.


“Kenapa yanda tanya-tanya soal meeting pagi?” Pria rupawan itu tidak menjawab. Sebelah tangannya bergerak melucuti kancing koko yang dia kenakan. Mempertontonkan dada bidang hasil workout rutin dibaliknya.


“Yanda mau ngapain? Jangan macem-macem, ya. Kara mau turun ke bawah. Mau masak sama bunda!” Kara berucap seraya menatap sang suami horor.


“Ibadah dulu.”


“Kara udah salat subuh, yanda. Tadi—“


“Ibadah sunnah,” sela pria rupawan tersebut. “Jadwal perjalanan ke Jepang dimajukan menjadi hari ini.”


“A—pa?!” kaget Kara.

__ADS_1


“Makanya harus ibadah dulu, sebelum suami pergi mencari nafkah.”


Kara speechless mendengarnya. Semenjak malam indah di villa private kala itu, mereka memang sempat melakukan hubungan suami-istri beberapa kali. Itupun jika mereka sama-sama menginginkan, dengan kondisi tubuh fit. Karena semenjak kembali tinggal di mansion Radityan, baik Arsyad maupun Kara disibukkan dengan urusan pekerjaan. Terkadang mereka harus lembur di kantor. Jika tidak lembur, Arsyad juga sering pulang larut.


“Mau atau tidak?” tanya Arsyad memastikan.


“Hm.”


Seulas senyum terbit di wajah pria rupawan tersebut. Setidaknya, sebelum pergi ke medan perang, tubuh, hati, dan pikirannya sudah dalam keadaan full baterai. Karena dia juga tidak tahu akan berapa lama tinggal di Jepang untuk menangani bisnis klan Wataya.


“Tapi, ada syaratnya.”


“Syarat?” Arsyad mengernyitkan kening mendengarnya. Melihat ekspresi sang suami, Kara tidak dapat menahan senyum. Kedua tangan yang sedari tadi diam saja, kini terangkat. Membelai rahang tegas milik suaminya yang sentuhable.


“Kara mau ikut yanda,” ucapnya, tepat di hadapan sang suami. “Boleh, ya?”


“Tidak.”


“Kenapa tidak?”


“Kamu tetap di rumah. Jangan kemana-mana,” ujar Arsyad mutlak.


“Tapi—“ kalimat wanita cantik itu terpotong oleh ciuman singkat yang dijatuhkan sang suami.


“Jangan membantah.”


“Yanda—“


“Kamu harus di rumah,” ujar Arsyad lagi penuh penekanan. Sebelah tangannya merangkak turun, membelai perut ramping sang istri dari luar. “Jangan kemana-mana selagi kamu mempersiapkan diri untuk menyambut kehadiran mereka.”


“Yanda, Kara mau ikut!” rajuk sang istri.


“Sekali tidak, maka tetap tidak.” Arsyad berucap tegas, seraya menurunkan wajahnya. Menatap wajah cantik yang tengah merajuk itu dari dekat. “Di rumah saja, bantu Arra mempersiapkan pernikahannya.”


“Apa salahnya membantu mempersiapkan dari awal?” Arsyad berucap seraya mengecup pucuk kepala sang istri. Melapalkan do’a di sana, sebelum menjatuhkan kecupan lain di bibir ranum yang sedari tadi merajuk. “Atau, harus aku buat kamu tidak bisa berjalan dulu supaya tidak berbuat nekad?” bisiknya sensual.


“Coba aja kalau berani,” ketus sang istri. Rona merah sudah menjalari wajah ayu Kara. Dia hanya tidak mau ditinggal pergi lama oleh sang suami. Karena dia tahu, setelah dari Jepang, pria itu tidak akan langsung kembali. Melainkan akan bertolak ke negeri Gingseng.


“Lets see.” Arsyad tersenyum tipis seraya memulai ibadahnya. Membuat sang istri tidak bisa berjalan itu adalah perkara mudah.


**


Arsyad tetap pergi sekalipun sang istri mengantar dengan derai air mata. Wanita cantik itu ngotot ingin ikut, tetapi Arsya melarang. Dia tidak mau sang istri terjun ke medang perang. Apalagi saat ini kondisi di sana tengah panas-panasnya. Merosotnya sebagian besar saham milik Hitake Wataya, membuat pria tua itu murka.


Bahkan santer terdengar jika beberapa pemilik saham hilang dari kediamannya, dan ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa. Arsyad mewanti-wanti sejak dini. Dia curiga jika Enzo, tangan kanan kakek Kara ada dibalik semua itu. Dia juga sudah meminta bantuan Davian, Fajar dan Antariksa untuk membantunya mengusut masalah tersebut hingga tuntas.


Arsyad tidak datang sendiri ke Jepang, melainkan ditemani oleh Aroon yang saat ini memegang jabatan sebagai COO atau Chief Operation Officer. Didampingi pula oleh sekretaris masing-masing. Sesuai schedule, Arsyad datang untuk menyatukan saham-saham yang telah dia beli, sebagai senjata ampuh untuk mengambil alih sebagian besar saham milik Hitake Wataya. Jika rencananya berjalan dengan lancar, maka Arsyad akan langsung terbang ke negeri Gingseng. Dia akan membuat dua perusahaan tersebut merger. Terkecuali jika mereka memilih akuisisi, atau gulung tikar.


“Kon’nichiwa,” sapaan ramah itu menyambut Arsyad dan rombongan saat tiba di penginapan. Semua akomodasi memang sudah diatur sejak jauh-jauh hari, termasuk tempat mereka tinggal selama di Jepang.


“Eagle, masuk.”


“Hm. Eagle, masuk.” Arsyad menjawab dengan suara kecil, saat wanita berkimono yang tadi menyapa mereka sudah berlalu.


“Tepat dua langkah dari tempatmu berpijak, ada sesuatu di balik pijakan kayu.”


Arsyad beralih, menatap pijakan yang terlapisi oleh balok kayu. Penginapan mereka memang berbentuk villa yang terdiri dari beberapa komplek hunian tradisional Jepang. “Aku akan memeriksanya.”


Arsya menoleh, menatap pria di belakangnya dengan isyarat untuk mundur beberapa meter. “Tasku, tolong.”

__ADS_1


Pria berkacamata yang bekerja sebagai sekretaris pria tersebut mengangguk, seraya menyodorkan tas kerja milik tuannya. Di tas tersebut, Arsyad menyimpan handbag mini yang bisa dibawa kemana-mana. Tas tersebut berisikan peralatan penting yang dapat digunakan sewaktu-waktu.


“Eagle, lebih baik jinakkan benda itu, kemudian chek in di hotel lain. Aku akan share loc.”


“Hm. Akan aku selesaikan ini terlebih dahulu.”


Tidak mungkin juga mereka langsung chek out dari penginapan tersebut. Sementara ada yang telah 'menyambut' kedatangan mereka. Hal tersebut malah bisa memantik reaksi musuh. Untung saja ada Davian yang sigap memantau setiap situasi dan kondisi tempat yang mereka singgahi.


Peledak yang tersimpan di sana masih bisa ditangani oleh Arsyad sendiri. sedikit banyaknya dia sudah belajar mengenai cara menjinakkan bahan peledak saat masih melatih soft skill dan hard skill-nya bersama dua Pradipta. Menurut informasi yang didapatkan dari Davian, dan dua putra Pradipta, tempat ini sudah diawasi. Kendati demikian, Arsyad tidak memilih cepat-cepat angkat kaki, karena itu bukanlah solusi.


Lagipula selama ini dia membeli saham-saham tersebut bukan atas namanya, melainkan dengan nama calon penerusnya. Istrinya sendiri belum tahu jika dia menggunakan nama yang dipersiapkan untuk calon buah hati mereka. Oleh karena itu, pantas jika Hitake Wataya berjibaku keras mencari siapa dalang dibalik kerusuhan yang terjadi. Untuk sementara waktu, Arsyad dan rombongan harus tetap berada di sana agar tidak menimbulkan kecurigaan. Baru setelah keadaan agak lenggang, mereka bisa chek out.


“Bang?”


“Hm.”


“Apa abang berniat mengakuisisi perusahaan Wataya?” tanya Aroon seraya menunjukan grafik penurunan harga saham perusahaan Wataya.


“Tidak,” jawab Arsyad.


Akuisisi adalah pemindahan kepemilikan perusahaan. Tetapi, bukan itu tujuan Arsyad saat ini. Dia ingin membuat dua perusahaan merger, atau bersatu guna tercapai kepemilikan bersama dalam pengembangannya.


“Tujuan kita adalah merger.”


“Merger?”


“Hm. Merger dengan perusahaan keluarga Kim Eun Ha, nenek Kara.”


Aroon tentu terkejut. Menggabungkan dua perusahaan raksa tersebut, kedengarannya memang agak gila. Tapi, Aroon juga yakin akan stategi dan skill Arsyad dalam menjalankan rencananya.


“Jadi, sekarang kita harus bagaimana, bang? Besok akan ada urgent meeting di gedung utama.”


“Berangkatlah bersama yang lain. Aku akan memantau dari luar.” Aroon mengangguk. Dia yakin jika dibalik otak jenius pria yang dipanggil ‘abang’ itu telah tersusun rencana yang matang.


Keesokan harinya kala Aroon, sekretarisnya juga sekretaris Arsyad sudah bersiap untuk pergi menghadiri urgent meeting, mereka dibuat risau oleh kondisi Arsyad yang tiba-tiba drop. Pria itu mengalami mual hebat hingga muntah. Arsyad berakhir lemah di atas ranjang. Membuat mereka bertiga tidak tega meninggalkan.


“Pergi saja, jangan memikirkan yang lain,” usir Arsyad.


“Tapi, bang—“


“Pergi, Aroon. Mual ini akan reda setelah aku minum air hangat dengan irisan lemon dan madu. Istriku biasanya membuat itu.”


Ketiga pria itu mengangguk seraya tersenyum tipis. Ternyata, dibalik figure pria hebat seperti Arsyad An-nass Senopati Az-zzioi, ada wanita yang selalu memperhatikannya dengan telaten.


“Bawaan kangen mungkin, bang. Kemarin mbak Kara, kan, gak mau ditinggal. Sampai nangis gitu,” sindir Aroon, seraya menyimpan pesanan Arsyad. Segelas air hangat berisi potongan lemon dengan campuran madu. “Kasian, mana dibuat enggak bisa jalan dulu biar gak nekad nyusulin ke sini.”


“Uhuk, uhuk,” Arsyad tersedak minumnya sendiri. dia tentu terkejut dengan apa yang baru saja Aroon lontarkan.


“Kenapa, bang? Nyampe keselek gitu?” goda Arsen gencar. “Gak pa-pa kali, bang. Namanya juga lagi usaha buat baby. Aroon, Adam, sama bang Agam maklum, kok. apalagi Adam nih, kalau habis pulang dari perjalanan bisnis, istrinya pasti langsung digares habis. Sampe lupa sama anaknya sendiri.”


“Hm, saya tidak begitu, pak,” dalih si pemilik nama.


“Santai lah, Dam. Kayak gue gak tahu aja kelakuan lo kalau deket Hawah. Lo, kan, sang*an,” goda Aroon gencar. Adam adalah sekretarisnya, sekaligus teman semasa kuliahnya dulu.


Pria bernama Adam itu tersenyum kikuk seraya menggaruk tengkuk. “Namanya juga kangen. Apalagi kerjaan sekretaris harus ngikut atasan kemana-mana. Jadi, ya, waktu buat quality time sedikit. Kalau ada waktu buat berduaan sama istri, kenapa enggak. Lagian, Hasan, Husain, sama Hannah enggak pernah protes kalau Ibunya enggak keluar kamar seharian di kamar.”


Tawa Aroon kemudian menggema. Adam memang menikah muda dengan Hawah, kekasihnya. Mereka telah dikaruniai 3 buah hati, dua putra dan satu putri. Terkadang Aroon iri kala melihat temannya itu tampak sumringah kala sang istri datang bersama buah hatinya.


Mendengar pembicaraan Aroon dan sekretarisnya, Arsyad jadi rindu sang istri. Namun, rindu itu harus dia kubur dalam-dalam selagi dia masih berada di medan perang. Dia harus menyelesaikan pertempuran ini, baru bisa kembali menjumpai sang istri.

__ADS_1


**


Sukabumi 04/20/21


__ADS_2