Bukan Cinta Terencana (R3)

Bukan Cinta Terencana (R3)
122. Yara-nya Yanda


__ADS_3

122. Yara-nya Yanda


“Ini pantai apa namanya, opa?”


“Pantai florya.”


Laki-laki muda yang baru menggunakan kaca mata hitam itu mengangguk saat melihat pemandangan pesisir pantai yang indah dari balik jendela mobil yang diturunkan. Pagi ini cuaca Ankara cerah sekali, bisa dilihat dari langit yang berwarna biru yang dihiasi oleh gumpalan-gumpalan kapas berwarna putih. Sungguh keindahan yang hakiki saat bertemu hamparan pasir putih dan air laut yang jernih.



Pantai florya adalah salah satu pantai tertua di kota Istanbul. Pantai ini merupakan salah satu destinasi wisata yang popular di kota tersebut. Pantai yang indah dengan air yang jenih serta hamparan pasir putih, cocok untuk menjadi tempat untuk bersantai bersama pasangan atau keluarga.


Rumah lama Keevano dan Arkia juga kebetulan berada di bibir pantai florya. Dulu Vano membeli tanah di sini setelah berhasil mendapatkan hati Arkia kembali. Mereka menetap cukup lama di sana, sampai si kembar Van’ar dan Lunar cukup besar. Keevano kemudian kembali memboyong istri dan anak-anaknya ke tanah air, karena keberadaannya sebagai pewaris tunggal sangat dibutuhkan. Radityan Group pernah berada di ujung tanduk karena getah dari perbuatan si pewaris utama yang tak lain dan tak bukan adalah Keevano. Jadi, ia dipanggil kembali untuk mengambil alih jabatan Chief Exsekutive Officer atau CEO.


Keevano juga sempat meminta bantuan Bara Pradipta dan Dimas Barack Alhaidan—ayah kandung GG Bersaudara dan istri Van’ar—untuk memperkuat tim Humas Radityan Group dan mengisi posisi Chief Financial Officer atau CFO. Bukan tanpa alasan Vano meminta bantuan mereka, jika berkaca pada peristiwa di masa lalu, Vano pasti akan dicap tebal muka. Namun, mereka sudah saling memaafkan setelah masing-masing berkeluarga dan memiliki keturunan. Jadi tidak ada salahnya Vano merekrut mereka berdua, karena tahu mereka mampu untuk mengambil job desk tersebut.


Sebelum tinggal di pantai florya, Arkia Salfira Mubaraq atau yang lebih akrab disapa Arkia Radityan tinggal terlebih dahulu di Ankara. Ibu kota Negara Turki saat ini—sebelumnya ibu kota Turki adalah konstantinopel atau Istanbul, tetapi sudah berpindah ke Ankara pada 13 oktober tahun 1923. Di sana Arkia tinggal bersama orang tua serta kerabat dari pihak orang tuanya dengan kondisi mengandung putra pertamanya—Keevanzar. Kehadiran Arkia yang mengandung tanpa suami tetap diterima dengan baik dan hangat oleh para kerabat mereka. Alhasil hingga saat ini, keluarga Radityan tetap menjalin hubungan baik dengan mereka.


“Rumah opa sama oma yang dulu di dekat pantai florya. Nanti kita mampir pas mau pulang.”


“Wah, enak dong tiap hari bisa lihat sunrise sama sunset,” sahut Davian ceria. Laki-laki yang berprofesi sebagai hacker itu tampak happy sekali. Ia bisa healing, sekaligus mengulas lebih jauh soal cerita kelam di masa lalu terbentuknya keluarga Radityan.


“Makanya nanti kita mampir. Dekat kok.”


“Ok, opa.”


Keevano tersenyum tipis melihat keantusiasan tercermin di wajah si tengah dari triple D. sejauh ini, cucu yang paling dekat dengannya adalah anak-anak Van’ar dan Aurra. Namun, ia juga dekat dengan triple D. Cuma jarang berkomunikasi dengan si tengah semenjak si tengah memilih tinggal di New York bersama duo om gantengnya. Senang juga bisa bercerita panjang kali lebar dengan happy virus paling berpengaruh di generasi ketiga Radityan. Davian Arion De Prameswari. Satu dari dua cucunya yang masih betah menyandang status jomblo, di tengah gempuran pada Radityan lain yang sibuk mencari cara untuk menghalalkan hubungan dengan ayang.


Di sisi lain, ada keturunan BigLear yang irit bicara, tetapi bisa jadi sangat cerewet saat bersama perempuan yang ia cintai. Seperti saat ini, keduanya asik menghabiskan waktu bersama seraya menikmati perjalanan ditemani beberapa jenis kudapan manis khas Turki.


“Yanda nggak mau coba ini? enak sekali loh.”


Satu jenis kudapan manis lagi-lagi tersodor di depan mulut, membuat laki-laki berparas rupawan yang sebentar lagi menyandang status ‘ayah muda’ itu menggeleng.


“Tapi baklava ini beneran enak, yanda. Lebih enak dari baklava yang pernah Kara makan di Jakarta,” ucap sang istri yang baru saja menyodorkan kudapan manis ke hadapan mulutnya.


Baklava adalah salah satu kudapan manis atau dessert khas dari Turki yang terbuat dari adonan berlapis filo, mentega, dengan isian kacang cincang. Adonan baklava kemudian dipanggang dan disiram sirup manis.



Asal-usul kudapan manis satu ini kemungkinan berasal daro Asyur, pada abad k-8 menyebar ke wilayah Yunani. Orang Yunani kemudian mengubah resep dan menciptakan lembaran tipis yaitu filo. Akan tetapi, baklava modern diyakini sebagai kreasi asli dari Negara Turki.


Selain baklava, istri Chief Financial Officer Radityan Corp’s itu juga menikmati Turkish delight atau dalam bahasa lokal disebut lokum. Makanan berbentuk kubus kecil dan terbuat dari gel pati serta gula. Lokum sendiri dibumbui dengan air mawar, lemon, jeruk bergamot, damar wangi, atau mint. Lokum original adalah jeli polos dikombinasikan dengan kacang pistachio. Lokum sendiri memiliki jenis lain yang menggunakan bahan seperti kayu manis, kurma, kemiri, atau kenari. Kudapan manis satu ini biasa dimakan bersama the atau kopi setelah sarapan, makan siang, atau makan malam.

__ADS_1


Ada pula lokma, hidangan penutup yang terbuat dari campuran tepung, gula, ragi dan garam, kemudian di goreng. Setelah digoreng dilumuri sirup atau madu. Hidangan penutup satu ini dianggap sebagai makanan penutup tertua dalam sejarah Yunani, dan sempat popular beberapa waktu lalu di tanah air.


Sebelum melanjutkan perjalanan, bumil cantik itu juga sempat menikmati asure atau pudding nuh. Salah satu makanan penutup tertua di dunia, terbuat dari campuran buah, kacang, serta biji-bijian. Campuran tersebut seperti buah ara, aprikot kering, kismis emas, hazelnut, kenari, kacang pinus, barley, gandum, dan aroma segar yang didapatkan dari kulit lemon atau jeruk. Asure juga merupakan hidangan buka puasa saat Muharam yang kerap dibagikan kepada keluarga dan tetangga. Makanan penutup ini juga dijadikan sebagai simbol keragaman, persahabatan, dan persatuan.


“Yanda nggak mau lagi?” tanya perempuan cantik itu sekali lagi.


Sang suami yang sejak tadi tengah bergumam—membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an—sembari mengelus permukaan perut buncitnya menjawab lagi dengan gelengan kepala.


“Ya sudah. Kara mau tawarin Dadav.” Perhatian perempuan cantik itu beralih pada si tengah yang duduk di depan. “Dadav mau kudapan manis lagi enggak?”


“Mau dong,” sahut Davian cepat. Ia sih doyan-doyan saja makan makanan manis, orang ominvora alias pemakan segala.


“Nih, Kara masih punya banyak kudapan manis. Ada baklava, lokum, lokma, ekmek kadayifi, sama sekerpare.”



...(ekmek kadayifi)...


“Mau dong. Disuapin sekalian apalagi, mau banget.”


Arsyad yang tadinya fokus melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an secara diam-diam kontan menatap Davian yang tengah menoleh sambil tersenyum lebar.


“Kapan lagi, kan, disuapin bumil cantik kayak mbak Kara. Istri CEO Radityan Corp’s dan putri tunggal Crazy Rich Surabaya pula,” imbuh Davian seraya terkekeh garing.


“Mau disuapi?” tanya Arsyad yang baru saja menuntaskan bacaannya.


“Buka mulut,” ujar Arsyad seraya mengambil alih makanan manis yang ada di tangan sang istri.


Alih-alih membuka mulut, Davian malah tertawa terbaha-bahak. Membuat suasana di dalam mobil jadi riuh seketika hanya karena dirinya. “Njir, si abang kalau cemburu serem amat,” komentarnya. “Posesif amat, bang. Sama saudara sendiri juga.”


“Saudara tetap berpotensi menjadi musuh dalam selimut,” balas Arsyad. Deep sekali, sampai-sampai Davian bisa merasakan jantungnya dipanah oleh anak panah tak kasat mata.


“Iya deh, iya. Nggak lagi-lagi godain kakak ipar, takut sama pawangnya. Galak,” kekeh Davian seraya menjulurkan tangannya guna mengambil kudapan manis yang hendak Kara berikan. “Makasih kakak ipar yang cantik dan baik. Lumayan, bisa buat cemilan selama perjalanan.”


Kara mengangguk seraya tersenyum kikuk. Ia masih tak enak karena tiba-tiba Arsyad bertingkah seperti barusan.


“Yanda kenapa tiba-tiba begitu?” bisik Kara pelan saat Davian sudah kembali ke posisi semula. “Yanda nggak mau sama opa?”


“Kenapa harus malu? Kamu, kan, istriku,” jawab Arsyad tanpa dosa. Ia kemudian kembali mengelus permukaan perut buncit sang istri. Seolah-olah meminta support dari buah hati mereka di dalam sana.


Kara tampak tersenyum geli melihat ekspresi sang suami. Arsyad memang irit bicara, tetapi jika menyangkut dirinya, laki-laki tampan itu bisa jadi sangat cerewet.


“Sudah, jangan senyum-senyum terus, Yara.”

__ADS_1


“Eh?” Kara menoleh pada sang suami yang juga tengah menatapnya dengan seulas senyum tipis di bibir. “Barusan ….yanda panggil Kara apa?”


“Yara.”


“Yara?”


“Yara.”


“Iya, yara apa?” ulang Kara untuk kedua kalinya. “Itu nama siapa? Kenapa panggil Kara dengan nama perempuan lain?”


Arsyad menggelengkan kepala, masih dengan senyum terpatri di bibir. “Itu panggilan untuk kamu, Zaujati (istriku).”


“Yara? Tapi namanya istri yanda itu Kara.” Kekeuh Kara, membuat sang suami geli sendiri.


Arsyad dengan perlahan membawa bahu sang istri mendekat, agar perempuan cantik itu senantiasa semakin dekat dalam jangkauannya. “Yara panggilan khusus untuk kamu dari aku.”


“Tapi, kenapa Yara? Kara sempat dengar yanda panggil-panggil nama itu beberapa kali. Itu ….bukan nama seseorang dari masa lalu yanda, ‘kan?” tanya Kara dengan suara kecil.


Logikanya, perempuan mana sih yang mau dipanggil dengan nama seseorang di masa lalu.


“Aku tidak memiliki mengerti apa yang kamu katakan barusan, karena aku tidak pernah menjalin hubungan dengan siapa pun di masa lalu. Cuma kamu satu-satunya perempuan yang berhasil membuat aku berani menjalin sebuah hubungan,” tutur Arsyad seraya menyelipkan beberapa helai anak rambut sang istri ke belakang telinga. “Yara adalah panggilan khusus untuk kamu. Arti dari kata Yara adalah kupu-kupu.”


“Kupu-kupu?” Kara bertanya seraya menatap bola mata sang suami lekat.


“Hm. Kamu seperti kupu-kupu untukku. Selalu tampak indah dan elok dalam setiap kesempatan,” ungkap Arsyad seraya menjatuhkan satu kecupan lembut di kening sang istri.


Ia memang sudah lama memikirkan panggilan ‘sayang’ untuk sang istri, namun belum sempat menemukan yang cocok. Ia baru menemukan panggilan Yara yang berarti kupu-kupu. Panggilan itu cocok sekali untuk sang istri yang seperti kupu-kupu jika sudah berkeliaran di antara bunga-bunga. Mengingat sang istri sangat menyukai bunga. Kara bahkan sudah memiliki beberapa kebun bunga dan depot bunga untuk menyimpan bunga-bunga kesayangannya.


“Kenapa lihat belakang terus?” bisik Keevano, menyadari jika cucu di sampingnya terus curi-curi pandang ke belakang. “Iri, ya? Makanya nikah, Dav. Jangan jomblo terus. Nikah itu sunnah Rasulullah loh. Selain dapat pahala saat menjalankannya, kamu juga akan mendapatkan benefit lain. Salah satunya seperti itu, kebahagiaan bersama pasangan halal kamu,” lanjutnya seraya tersenyum tipis.


Keevano tahu cucu satunya ini pasti agak iri melihat keuwuuan saudara tertuanya yang sudah memiliki pasangan halal.


“Ini baru Arsyad loh, gimana kalau nanti Alea, Arra, Davin san Davian ikut menyusul ke pelaminan? Apa kabar sama kamu?”


Davian menghela napas panjang seraya kembali mengunyah lokum pemberian Kara. “Tenang aja, opa. Dadav juga mau nyusul, tapi nanti. Calonnya sudah ada kok,” sahut Davian, tak mau ambil pusing.


🦋🦋🦋


TBC


YANDA & YARA CERITANYA LAGI MATERNITY SHOOT 😘😘


__ADS_1


BESOK UPDATE LAGI, YA. BUAT MENGOBATI RINDU 😘😘


Sukabumi 12-08-22


__ADS_2