
📚.39-Awal Permainan
"Keyakinan adalah sesuatu pengetahuan didalam hati, jauh tak terjangkau oleh bukti."--Arsyad An-nass Senopati Az-zzioi
****
Libur panjang telah usai, selepas liburan menyenangkan di Alaska, Amerika. Sepulang dari menikmati pemandangan cantik Aurora Borealis, tahun baru pun menjelang. Selepas berlibur di Alaska, mereka melanjutkan sisa libur panjang tersebut untuk menikmati perayaan tahun baru di rumah saja. Barulah ketika hendak mendekati pergantian tahun baru, Arsyad khususnya mengjak sang istri menikmati keindahan perayaan tahun baru di ibu kota.
Kara tentu antusias. Gadis cantik itu memang tidak pernah memiliki kebebasan untuk menikmati pergantian tahun baru. Ingat, pertemuan pertama Kara dan Arsyad? Keduanya di pertemukan tanpa sengaja di jalanan pada minggu pagi Kala itu. Kara sengja melarikan diri dari pengawasan para Bodyguardnya, saat papihnya tengah meeting di daerah Hotel Indonesia. Karena kuasa takdir, mereka tanpa sengaja bisa di pertemukan kala itu.
Jika mengingat pertemukan pertama mereka kala itu, Arsyad menjadi bersyukur sendiri. Toh, siapa yang tahu rencana tuhan. Jodoh, rezeki, dan mau adalah kuasanya. Jika pun ia dipertemukan dalam sebeuah insiden kurang mengenakan dengan Kara, tapi jujur Arsyad sudah bisa menerima segalanya dengan lapang dada. Soal cita cita yang telah dikubuhnya dalam dalam sebagai imbasnya, ia juga sudah ikhlas.
"Iya. Sayang, maaf. Tadi aku gak jemput, 'kan kamu tahu sendiri aku pergi sama kembaranku?"
"...."
"Iya. Besok aku jemput, nanti kita juga pulang bareng kok yang."
"...."
"Iya. Kalau gitu, aku tutup dulu telphonenya."
"...."
"Ok. See you, sayang." Putus pemuda tampan yang baru saja mengakhiri pembiraaan via telephone tersebut.
"Anak Royal Garden?" Tanya Aroon menebak.
"Hu'um. Possesive bener dah, cewek satu ini. Mau dibuang, sayang. Body-nya goal, wajahnya juga goodlooking. Lumayanlah, buat cuci mata." Kekeh Davian, jenaka.
"Terus, Anak XII IPS II itu gimana?" Tanya Davin, gantian bertanya.
"Ya, gak gimana gimana. Kita masih sering kontekan, chattingan juga. Kenapa?"
"Lo ada main sama anak kelas XII?" Kini, giliran Arsen yang bertanya.
Pemuda tampan dengan seragam rapih itu menatap lawan bicaranya sejenak.
"Iya. Kenape? Jangan bilang, kalau dia gebetan lo?"
"La-lo, la-lo, gue lebih tua dari lo ya!" Intruksi Arsen.
"Santuy lah Sen, kita 'kan sohib." Kekeh Davian.
"Eh, bang. Mau kemana?" Tanya Aroon, saat melihat Arsyad yang sedari tadi duduk diam diatas motornya beranjak.
"Kelas."
"Barenga bang. Aku juga mau ke kelas." Ujar Aroon, sambil menyimpan helm fullface miliknya di atas motor.
"Bareng." Ikut Arsen, sambil beranjak.
"Kok pada buru buru sih? Kan masih free class. Ngapain juga ke kelas?"
"Ya, mau ngapain juga lama lama disini. Panas." Sahut Davin, sambil mengikuti langkah ketika saudara dan temanya.
"Ce ilee, gue malah ditinggal." Kesal Aron.
Hari ini, kegiatan libur semester ganjil telah usai. Berarti, kegiatan belajar mengajar sudah kembali aktif seperti biasa. Para siswa maupun siswi dari kelas X, XI, dan XII sudah kembali beraktivitas di sekolah.
"Eh, cewek lu Vin." Ucap Davian, sambil bersiul menggoda.
"Eh lo, gak usah jadi bangs*t secara terang terangan dong." Murka si empunya.
"Ce ilee, minus baget selera humor lo." Ketus Davian.
"Kak?" Panggil suara lembut, yang berasal dari seorang gadis berambut hitam legam sepunggung tersebut.
"Iya. Kenapa, kangen ya?" Seloroh Davian yang langsung dipelototi Davian.
"Gak usah gangguin cewek gue. Mau gue gorok tuh leher?"
"Eh, sadis amat lo." Ngeri Davian, sambil mengelus lehernyà sendiri.
Davin beralih, menatap gadis dihadapanya. Tatapanya langsung melembut seketika. Ada rasa rindu yang membuncah didadanya, setelah kurang lebih dua minggu mereka LDR--an. Rasanya, puncak rindu itu terbayar sudah kini saat bisa melihat secara langsung sosok kekasih hatinya.
"Ada apa?"
"Ini." Gadis pemilik lesung pipi manis itu menyodorkan sebuah kotak dari anyaman bambu yang berukuran sedang kepada Davin.
"Apa ini?"
__ADS_1
"Mochi."
Kening Davin menyerngit, "Gue kan gak minta--"
"Ini aku buat sendiri. Kemarin 'kan, aku pulang kampung ke Sukabumi."
"Buat sendiri?" Gadis itu mengangguk.
"Umi juga titip salam buat kakak. Katanya, kapan main ke Sukabumi lagi?"
Davin tersenyum tipis, lantas tanganya bergerak menerima pemberian gadis yang sudah menjadi kekasihnya sejak tiga tahun belakangan ini. Davina Cantikka Sekar Arum, gadis manis asal kota Sukabumi yang tinggal di Jakarta bersama kakak dan kakak iparnya.
"Makasih." Ujar Davin. "Bilangin ke Umi, nanti gue kesana sama ortu gue kalau mau lamar lo." Ujarnya, sambil tersenyum penuh arti.
Davina menunduk, rona merah nampak menghiasi wajah cantiknya. Davina--nama yang selalu mengisi hari hari pemuda tampan satu ini. Gadis yang hobby masak, yang berhasil membuat Davin si sulung jatuh cinta se jatuh jatuhnya. Davina--namanya juga sudah berjodoh sekali dengan dirinya. Davin dan Davina. Gadis sederhana yang mampu mengenalkan cinta dalam kesederhanaan dan apa adanya kepada seorang Davin.
"Kalau gitu aku duluan ya kak."
"Hm. Nanti pulang sama gue, jangan lupa."
"Tapi aku ada kumpul ekskul kak, kakak bisa pulang duluan kok."
"Gue tungguin. Bentar palingan, dua minggu LDR-an aja gue kuat. Masa bertar doang nunguin lo gak kuat?" Kekeh Davin.
"Anjir, gombalan mau abang gue ada ada aja." Kekeh Davian, sambil mendahului sang kakak.
Meninggalkan sepasang kekasih yang memilih untuk berjalan beriringan sambil melepas rindu tersebut.
"Davin udah punya Davina, gue juga udah punya cewek. Banyak malahan, terus lo kapan punya ceweknya, brother?" Kekeh Davian, sambil merangkul bahu sang kembaran--Aroon.
"Jangan bilang, lo mau jadi single lillah sampe nikah?"
"Kalau iya, kenapa? Masalah buat lu?" Kesal Aroon.
"Eh, sewot. B aja kali, gue kan cuma nanya."
"Gedek ditanya sama lo, topiknya pasti soal cewek mulu. Gak ada pembahasan lain apa?" Kesal Aroon, sambil berlalu meninggalkan Davian.
"Salah gue apa? Playboy kan udah jadi jalan ninjaku?" Kekeh Davian sambil ikut berlalu.
📚📚📚
Semester akhir, merupakan perjalanan terakhir bagi kelas XII sebelum pra ujian tentunya. Semester akhir biasanya diisi dengan pemadatan jadwal pembelajaran, pemberian materi, disusul dengan adanya pemantapan/pengayaan sebelum mendekati masa masa ujian.
"Lagi ngapain syad?"
"Ngechek penghasilan caffe." Jawab si empunya nama datar.
"Bukanya udah dichek sama Aroon?"
"Iya. Cuma ngechek, sekalian sama perhitungan pengeluaran dan pemasukan setahun belakangan."
"Hm." Arsen--lelaki itu kembali menatap sang sahabat fokus.
"Hm, lulus nanti lo beneran mau kuliah diluar syad?"
"Hm."
"Ninggalin dia?"
Arsyad terdiam sejenak, ia cukup tahu siapa yang dimaksud oleh sahabatnya tersebut.
"Dulu, setiap ke puncak gue selalu semagat karena bakal ketemu seseorang. Bisa lo tebak, siapa seseorang yang gue maksud itu?"
"...."
"Itu dia. Milik lo," Ujar Arsen, yang tentu membuat Arsyad total menghentikan aktifitasnya.
"Maksud dari pembicaraan ini, apa?" Tanya Arsyad to the point.
"Gue dulu lihat dia selalu sendirian dalam kesepian. Gue kasihan lihat dia, yang gak bisa bersosialisasi dengan bebas. Pas tahu dia butuh temen, gue selalu nyoba jadi temen yang baik dari balik jendela kamarnya. Gue, suka lihat dia duduk dideket jendela sambil ngegambar."
"Maksudnya apa?"
"Gue gak mau dia ditinggal sendirian lagi, pas dia udah nyaman sama lo."
Arsyad menatap lawan bicaranya lekat. "Bukan. Maksud dari pembicaraan ini apa?"
"Dia udah kayak adek buat gue, walaupun dia sendiri gak terlalu deket sama gue. Gue sayang sama dia, kayak gue sayang almarhum adek gue. Gue, cuma gak mau dia ditinggal lagi karena lo milih study di luar. Dia pasti bakal kesepian." Tutur Arsen.
Arsen memang telah lama mengamati Kara dalam diam. Ada satu titik yang selalu membuatnya terpaku jika melihat Kara. Seolah-olah ia melihat almarhum adiknya bersemayam dalam diri Kara. Arsen hanya tidak mau melihat Kara berakhir dalam kesunyian yang hakiki seperti adiknya, karena kesendirian. Mungkin, jika masih hidup almarhum adik Arsen sudah sebesar Kara. Arsen dan adiknya cuma terpaut dua tahun, tetapi keduanya tumbuh layaknya saudara kembar. Adik Arsen meninggal dalam kesunyian diliputi kehampaan, karena kedua orang tuanya terlalu sibuk dengan pekerjaan. Sedangkan Arsen sendiri, kala itu sibuk dengan olimpiade kala ia masih duduk dibangku putih biru.
"Lo, pasti ngerti maksud gue kan Syad?"
__ADS_1
"Hm."
"Gue, ngerasa dia kayak almarhum adek gue." Ujar Arsen, sambil menepuk bahu sang sahabat.
"Komuknya, dikondisikan. Jangan kayak mau ngamuk Syad. Gue kan udah jujur, lagi pula perasaan gue ke dia itu gak lebih dari itu." Kekeh Arsen.
"Ck. Baru tahu gue, lo kalau udah official ternyata possesive juga."
"Diem. Gak usah banyak bicara." Datar si empunya nama.
"Buahaha... sensitif juga lo Syad." Tawa Arsen makin renyah.
Arsyad menghembuskan nafasnya lemah. Ia tentu terkejut akan apa yang diutarakan temanya tersebut. Namun, Arsyad juga patut bersyukur karena Arsen berani jujur kepadanya. Selain itu, ia juga bisa bernafas lega karena tahu apa yang dimaksud Arsen tak lebih dari perasaan sayang semata-mata kakak kepada adiknya.
Drap
Drap
Drap
Bunyi derap langkah cepat yang begitu menggema dilantai koridor. Menggema hingga terdengar kedalam kelas yang tengah diisi oleh Arsen dan Àrsyad.
"Bang, hos... hos... hos." Panggil suara Aroon yang tengah mengatur deru nafasnya.
"Kenapa lo lari lari gitu syad?" Tanya Arsen.
"I-tu, hos... hos... ada sesuatu dipapan pengumuman."
"Sesuatu apa?" Tanya Arsyad angkat bicara.
"Fhoto liburan di Alaska kemarin, ada dipapan pengumuman."
"Fhoto liburan di Alaska? Maksudnya fhoto yang-"
Grak
Àrsyad beranjak cepat, sebelum Arsen sempat menyelesaikan ucapanya. Pemuda tampan itu sudah terburu-buru berlalu keluar dari dalam kelas. Sepanjang jalan menuju papan pengumuman, yang berada tepat disamping ruangan ekstrakulikuler jurnalistik. Ketika tiba disana, sudah banyak siswa dan siswi yang mengerumuni area tersebut. Ketika Arsyad datang, banyak bisik bisik yang mulai terdengar. Banyak mata yang juga menatapnya penuh kepenasaran.
"Jadi ini, mantan ketua Osis, mantan ketua MPK yang nilah muda itu?" Cibir salah satu siswa kelas XII.
"Gak nyangka. Alim gitu kok udah merid, gue curiga ceweknya bunting duluan nih?" Timpal yang lainya.
Arsyad masih menatap sekelilingnya datar. Kedua tanganya mengepal erat. Lantas, detik berikutnya ia menerobos kerumunan tersebut. Melihat dengan mata kepalanya sendiri, apa yang membuat heboh SMA Dandelion pagi ini. Hingga manik jelaganya berhasil menangkap tiga lembar kertas HVS yang sudah berupa print out, memperlihatkan beberapa kumpulan gambar yang diambil secara diam diam. Kumpulan gambar tersebut memiliki beberapa latar, seperti korea, singapura, puncak, bahkan Alaska. Arsyad sampai dibuat terkejut akan penampakan tiga kertas HVS yang mencetak gambar dirinya tersebut.
"Ulah siapa ini?" Tanyanya penuh penekanan.
Dikelilingi lautan manusia yang menatapnya penuh tanya, intimidasi, cemooh dan meremehkan membuat Arsyad tentu harus pandai mengendalikan emosi. Dia tahu, ada seseorang yang ingin menjebak dirinya saat ini.
"Ada apa ini? Kenapa kalian semua berkumpul disini?" Tanya sebuah suara penuh wibawa tersebut, membuat mereka menoleh serempak.
"Ada apa ini?" Tanya pria berjas navy tersebut, sambil menatap anak muridnya satu persatu.
Sedangkan mereka--gerombolan siswa dan siswi yang masih berkerumun itu kini beralih fokus pada sosok disamping pemilik SMA Dandelion tersebut. Bisik bisik mulai kian santer terdengar, saat mereka menemukan persamaan antara wajah gadis yang tengah berdiri disamping pemilik sekolah itu dengan sosok gadis yang potretnya terpangpang di mading sekolah.
"Jadi ini, istri nya Arsyad?" Ucap seorang siswa yang tentu kian membuat suasana makin memanas.
Arsyad--jangan ditanya lagi bagaimana ekspresinya. Pria tampan itu sudah menatap lurus kearah gadis berdress flora yang tengah berdiri kebingungan disamping pemilik sekolah.
"Kenapa kamu harus ada disini?" Gumamnya, ketika melihan kondisi yang mulai tidak kondusif.
Bagaimana Arsyad harus meng-handlenya sekarang? Pemuda itu tidak pernah menebak, jika ada yang membuka statusnya dengan cara seperti ini. Tapi, siapa dalang dibalik semua ini? Lantas, Arsyad harus apa kini?
****
TBC
Hayoooo, bang Arsyad update👐
Gimane? Gimane inih guys, mulai ada serangan. Kira kira, apa yang bakal bang Arsyad lakukan?
Belum lagi kalau Tyoga tahu, gimana coba?
Huahhh😭😭.... gimana coba??
Yups, coba tebak siapa dalangnya?
Kasih solusi juga gimana bang syad harus menggambil sikap??
Aku tunggu dikolom komentar ya😘😘
Jangan lupa like, vote, follow dan komen jika ikhlas. Jumpa lagi nanti yo, salam dari Yanda dan istri❤
__ADS_1
Sukabumi 21 Des 2020