
...105. TITAH...
...Jangan lupa vote, komentar, like & follow Author ❤️...
“Apa yang sebenarnya terjadi di sini, Enzo?” pria tua dalam balutan kimono sutra bernuansa gelap itu melemparkan kertas-kertas yang baru saja dia baca.
Suaranya rendah, tetapi tetap menakutkan bagi sang bawahan. Kentara sekali jika pria tua yang selama hidupnya berkecimpung di dunia Yakuza itu tengah menahan emosi. Apalagi setelah dia mendengar jika harga saham perusahaanya kembali turun dratis.
“Hari ini kita kehilangan 30% saham.”
“Lagi?” tanyanya, seraya menatap pria yang tengah duduk di lantai beralaskan bantal duduk.
“Iya.”
“Dan apa langkah yang kamu ambil, Enzo? Apa kamu akan membiarkannya seperti ini?”
“Tidak, tuan. Saya tengah berusaha semaksimal mungkin.” Pria bernama Enzo itu mejawab seraya menunduk hormat.
“Temukan penyebab semua kekacauan ini. Jika perlu, habisi dia, sebelum aku membuat katana ini menentukan ajalmu.”
Enzo mengangguk sebelum pamit undur diri. Meninggalkan Hitake Wataya yang masih mencoba meredakan emosi di kursi kebesarannya.
Pria tua itu tengah berjibaku mencari tahu. Akan tetapi, sejauh ini dia belum memiliki bukti yang kongkrit. Saat urgent meeting dilakukan, Enzo menyetorkan tiga nama yang patut dicurigai. Nama-nama itu terdiri dari satu Diano Radityan, Agam Rumaksa, dan Adam Gallileo. Ketiganya mewakili Radityan Corp’s yang telah mencuri start. Diketahui hingga saat ini perusahaan tersebut sudah memiliki hampir ¼ besar saham.
Namun, yang membingungkan adalah pembeli saham terbesar saat ini bukan atas nama mereka bertiga. Bukan pula atas nama suami dari cucu satu-satunya. Nama itu seperti abstrak, tidak jelas asal muasalnya.
Sementara itu, di semenanjung Korea, seorang wanita tua tengah menatap grafik di layar macbook dengan kening mengernyit. Sesekali dia juga bertanya pada lelaki rupawan yang tengah menggulirkan jemari di atas layar gaway.
“Aiden?”
“Iya, Nenek.” Lelaki rupawan dengan senyum memikat seperti V BTS itu mengangkat wajah. Netranya yang berkilauan tampak menatap wajah penuh gurat menua di usia senja dengan lekat.
“Kenapa perusahaan milik kakekmu bisa begini?”
“Oh, No. Nek, tarik ucapanmu kembali.”
“Ada apa?” wanita tua yang masih tampak bugar di usia senja itu bertanya. Kebingungan akan maksud dari cucu saudaranya itu.
“Aku tidak pernah memiliki kakek seorang yakuza. Mafia, atau apalah itu. Kakekku adalah adikmu, okay. Adapun grandpa di Australia, dia bukan yakuza ataupun mafia, melainkan seorang mentri,” tutur lelaki rupawan tersebut. Dia tidak mau mengakui jika mantan suami wanita tua itu sebagai kakeknya. Toh, memang Hitake Wataya memang bukan kakeknya juga.
“Baiklah, anak nakal. Sekarang jelaskan kenapa perusahaan itu bisa begini?”
Aiden tertawa kecil melihat respon sang Nenek. Dia kemudian menunjukan layar gaway miliknya yang tengah menampilkan beberapa pemberitaan online. “Jadi, secara teknis perusahaan Hitake Wataya mengalami penurunan harga saham secara drastis. Belum ditetahui secara pasti apa penyebabnya. Entah masalah internal ataupun eksternal.”
“Perusahaan pria tua itu berada dia ambang kebangkrutan?”
“Secara harfiah iya.”
“Mungkin ini kutukan dari putrinya. Dia menegur pria tamak itu,” ujar wanita tua tersebut. Pandangannya teralihkan pada hamparan pohon sakura yang tertutup salju di luar sana. “Dia tidak pernah memberikan bagian putriku selama dia hidup. Setelah meninggal sekalipun, dia berusaha menganggu hidup cucuku. Padahal seharusnya aku yang lebih berhak terhadap putri Theresia.”
“Seharusnya kalian tidak berbuat egois,” komentar Aiden.
“Egois? Apa maksudmu berkata demikian, anak nakal?!”
“Aw, sakit, Nek.” Aiden mengaduh kesakitan saat Kim Eun Ha mencubit pingganya. “Aku cuma mengatakan pendapatku. Lagipula, hidup Aunty susah karena perpisahan Nenek. Sekarang, hidup my baby Kara juga susah karena keegoisan kalian.”
“Apakah dia juga merasakan hal itu?”
Aiden mengangguk. “Apa Nenek tidak tahu jika pria tua itu berulang kali membawa Kara pergi. Dia ingin Kara menggantikan posisinya secara paksa.”
“Jahat sekali pria tua itu.”
__ADS_1
“Nenek baru sadar? Dari dulu kemana saja!”
Kim Eun Ha sekali lagi mencubit pinggang lelaki berparas rupawan tersebut. Membuat si empunya mengaduh kesakitan.
“Dari dulu bukannya yakuza itu jahat, Nek? Apalagi dia adalah Oyabun.”
Apa yang dikatan Aiden memang benar. Walaupun saat bepisah mereka sepakat jika Theresia akan mewarisi kedua Klan, tapi pada akhirnya keegoisan merusak segalanya. Kematian Theresia benar-benar memukul Kim Eun Ha sebagai seorang Ibu. Dia yang membesarkan sang putri dengan tanganya sendiri, harus rela jika putrinya meninggal dengan tragis. Hal itu tidak akan terjadi jika saja pria yang dia cintai bukan seorang yakuza. Karena pekerjaan pria tersebut, banyak manusia di luar sana yang berlomba-lomba membunuh orang-orang terdekatnya. Sudah cukup putrinya yang menjadi korban, Theresia tidak lagi cucu satu-satunya mengalami tragedi yang serupa.
“Aiden.”
“Iya, Nek.”
“Berapa persen saham kita yang sudah terjual?”
“Sampai detik ini sudah sudah 65%. Saham bersih Nenek tinggal 40%.”
Wanita tua itu mengangguk. Sebelah tangannya tengah memegang cangkir berisi matcha, tampak bergerak mendekatkan benda tersebut ke bibir.
“Bisa dipastikan jika tidak ada jalan lain selain menyerahkan posisi pemimpin.”
“Apa kamu sudah mencaritahu siapa dibalik semua ini?” Aiden mengangguk.
“Menurutku, Nenek bisa mengambil keputusan yang menurut Nenek benar. Tidak perlu mendengarkan bisik-bisik dari pihak lain.”
“Begitukah?”
“Iya, Nek. Percaya sama Aiden. Kali ini, masukan dari Aiden seluruhnya tidak akan mengecewakan.”
“Tapi, selama ini kamu tidak bisa dipercaya, anak nakal.”
“Nenek!” Aiden menatap Neneknya dengan wajah masam. “Aku sudah lebih dewasa sekarang, Nek. Wajahku saja yang masih baby face. Usiaku udah memasuki kepala tiga. Mau ditaruh di mana hargadiriku saat melamar my Love Aileen.”
“Aku tidak akan nakal lagi, Nek. Karena sebentar lagi aku jadi Uncly.”
“Apa? Kamu menjadi paman? Apa Soo Young hamil?”
Aiden menepuk dahinya gemas. “Nek, adikku itu maih SMA. Dia kemarin baru diterima trainee di SM Entertaiment. Kenapa tiba-tiba Nenek bisa beranggapan kalau Soo Young hamil?”
“Lalu siapa? Memangnya kamu memiliki saudari lain selain dia?”
“Ada.”
“Siapa?” bingung sang Nenek. Aiden tersenyum tipis. Tetapi urung menjawab. Dia lebih memilih menyesap matcha miliknya, ketimbang menjawab pertanyaan sang Nenek.
“Jadi siapa?”
“Nanti Nenek juga tahu.”
...**...
“Ya amplop, kok lo pada mabok, sih?”
Lelaki dalam balutan pakaian serba hitam itu menatap dua pria yang tidak sadarkan diri dengan mata menyipit.
“Mereka dicekokik wine yang usianya udah 30 tahun. Hampir habis sebotol sama college, pastes kalau tepar,” ungkap pria yang baru saja muncul.
“Lah, lo enggak minum? Kok waras-warah aja?”
Pria itu menggeleng. “No alcohol. Nanti, my honey marah.”
“Hueeek, bucin. Spesies yang paling gue hindari di muka bumi.”
__ADS_1
Aroon menatap sang kembaran seraya tertawa pongah. Detik berikutnya, dia dengan sigap memeluk pria yang telah lama tidak dia jumpai. “Tiga tahun, dua lebaran, lo gak balik ke rumah, Dav.”
Si empunya tersenyum tipis seraya menerima pelukan tersebut, tak kalah erat. Bohong jika dia juga tidak merindu. “Ternyata si bontot rindu. Ngaku juga lo sekarang,” godanya.
“Sialan. Lo bikin rumah sepi karena gak pernah balik!”
“Gue balik kok,” ujar Davian.
“Kapan?”
“Lewat aja sih. Tapi, gue bersyukur selama gue pergi kalian baik-baik aja.”
Aroon melonggarkan pelukannya. “Lo lewat rumah kita, dan gak mampir?”
Davian mengangguk seraya teresyum tipis. “Ron, tanpa lo ketahui, gue selalu ada di rumah. Di deket lo, deket Davin, di deket Mama sama Papa. Gue ada di sela-sela kalian selama ini. Gue selalu pantau kalian lewat CCTV yang sengaja gue pasang di tempat-tempat tertentu. Itu cara gue ngobatin rasa rindu.”
“Kenapa lo gak pulang aja, Dav?”
“Soalnya gue belum bisa.”
“Kenapa?”
“Karena gue belum punya calon buat dikenalin. Lo sama Davin udah punya gandengan. Truk aja gandengan. Lah, gue? Ngenes amat!”
“Gak usah bercanda!” kesal Aroon.
Davian tertawa kecil. Kedua tangannya terlipat di dada. Pandangannya kini teralihkan pada pemandangan malam dari balik jendela. “Pas lo, Davin, Mama sama Papa pergi umroh bareng, gue juga pengen ikut. Tapi, gue sadar kalau belum waktunya gue membersihkan diri. Lo tau sendiri, kan, kerjaan gue?”
“Lo bukan pembunuh bayaran Dav. Jangan sok berdosa!”
“Seenggaknya, gue mendekati profesi itu.” Davian tersenyum tipis saat melihat Aroon berdecak. “Rencananya gue juga mau pulang kok.”
“Kapan?”
“Pas salah satu dari Davin atau lo nikah. Gue pasti hadir.”
“Tolol dipiara!” ujar Aaroon kesal. Seisi rumah menunggu kepulangan si tengah. Namun, dia menjelma menjadi bayangan. Bayangan yang tidak pernah disadari keberadaanya, tetapi dia ada di sana.
“Pulang, Dav. Semua orang kangen sama lo. Jangan sok-sokan jadi bang toyib lo!”
Davian kembali tertawa renyah. “Iya, gue balik, dek. Tapi, nanti kalau lo nikahin master chief itu.”
“Gue serius, Dav!”
“Iya-iya. Gue balik bulan depan,” ujar Davian kesal.
“Bener lo?” Aroon memastikan.
“Hm.”
“Janji dulu kalau gitu. Lo lengotan soalnya. Suka lupa,” ucap Aroon seraya menunjukan jari kelingkingya.
Davian tersenyum tipis. Kemudian dengan segera dia menirima tautan promise figer dari sang kembaran. “Gue bakal pulang, sesuai printah lo, dek.”
...**...
...TBC...
...JANGAN LUPA KOMENTAR 🤩...
...Sukabumi 13 Oktober 2021...
__ADS_1