Bukan Cinta Terencana (R3)

Bukan Cinta Terencana (R3)
.50-Bertamu


__ADS_3

📚.50-Bertamu



"Siapa yang harus dipilih diantara semunya kedua pilihan yang tersedia?"-Arsyad An-nass Senopati Az-zzioi


****


Akhir pekan telah tiba, ketika matahari begitu cerah menyinari hari. Di sebuah mansion megah, para anggota keluarga inti tengah berkumpul di meja makan. Akhir pekan begini, memang banyak dari anggota inti yang memilih menghabiskan waktu dirumah. Waktu berkualitas bersama keluarga bisa sangat bermanfaat bagi para workholic yang memang sulit menyempatkan waktu bersama keluarga.


"Selamat pagi." Sapa lelaki tampan yang baru saja memasuki ruang makan tersebut.


"Pagi." Sapa para penghuni ruang makan.


"Yang udah nikah mah beda ya, baju aja couplean terosss." Celetuk Davian, yang duduk ditengah-tengah antara Davin dan Aroon.


"Dav, jangan mulai deh." Intruksi Aroon.


Pagi ini, Arsyad memang mengenakan kaos putih bermotif sama dengan yang dikenakan sang istri. Bedanya, ia mengenakan bawahan celana panjang berwarna coklat susu. Sedangkan sang istri, menggunakan bawahan berupa rok pendek selutu dengan warna yang sama namun memiliki motif bunga edelwaise timbul.


"Couplean teroos juga masalah buat lu? Enggak kan? Sirik aja lu bisanya." Imbuh Davin, sambil menatap sang adik jenaka.


"Iya sih. Tapi--"


"Gak usah ribut di meja makan deh." Intruksi ibu mereka.


"Iya mam, maaf." Jawab ketiganya, kompak.


"Good guys." Kekeh Arkan--ayah si triple.


"Hari ini jadi memancing van?" Tanya Vano--kakek para Radityan generasi ke-4.


"Iya yah."


"Sama putramu?"


"Hm."


Van'ar memang mendapatkan jatah libur akhir pekan ini. Sesuai janjinya, ia akan memancing bersama sang putra untuk mengisi waktu cutinya. Sekalian dengan acara kunjungannya ke rumah mertuanya--Dimas dan Sayla--orang tua Aurra, istrinya.


"Di rumah Dimas?"


"Iya."


"Kalau begitu--"


"Mas, sarapan dulu. Ngobrolnya dicancel dulu, bisa kan?" Intruksi suara lembut milik wanita paruh baya tersebut. Arkia.


"Iya."


Dalam keluarga Radityan, wanita memang bukan saja seorang istri dan seorang ibu. Mereka juga di anggap sebagai pengendali ego terbaik para lelaki. Buktinya, para istri di keluarga ini selalu bisa membuat situasi lebih baik jika ia perlu ambil bagian ketika dibutuhkan.


Selepas acara sarapan pagi bersama, satu persatu anggota keluarga mulài melaksanakan tugasnya masing-masing. Para wanita membenahi sisa-sisa peralatan makan, sedangkan para pria sebagian pergi ke ruang kerja, menuju kebun di samping rumah, ruang tamu, dan sebagainya.


Sedangkan para Cucu Radityan, memilih berkumpul di ruang tengah. Arsyad duduk di sofa bersama sang istri, berhadapan dengan si kembar tiga yang duduk di satu sofa. Sedangkan disisi lain, ada Arra dan Arion yang duduk bersebelahan.


"Ini salah bang, perhitungannya." Arion buka suara.


"Masa sih?"


"Iya. Harga jual di hitung dari biaya produksi dan biaya lain di luar produksi." Tutur bocah yang masih duduk di bangku SMP tersebut.


Davian menatap deretan kombinasi angka yang tersaji di microsoft excel tersebut.


"Harga jual didapatkan dari HPP atau Harga Pokok Produksi ditambah laba, gitu bang."


"Ini salah dong?"


"Iya bang. Salah rumus." Davian mengangguk kecil, sambil mengoperasikan kesepuluh jarinya diata keyboard full color miliknya. Di bantu dengan intruksi saudara bontotnya, yang nyata otaknya lebih encer soal perhitungan.


"Ron, ini bener sigini pengeluaran gym minggu ini?"


"Iya. Itu penghasilan kotor, belum dipotong biaya operasional."


"Berarti, kalau gini pendapatan gym masih normal ya?"


"Hm." Jawab Aroon, yang tengah berdiskusi dengan Davian.


Arra sendiri tengah sibuk mengunggah beberapa hasil fhotsoot kemarin. Kali ini, ia menjadi Brand Ambassador sebuah toko hijab ternama.


"Saudara yanda rajin-rajin ya?" Puji Kara lirih, tepat di samping telinga sang suami.

__ADS_1


Lelaki yang tengah mengetik itu diam sejak. Ada gelombang keterkejutan yang menyengatnya, akibat tindakan istri kecilnya tersebut.


"Yanda juga, rajin." Puji Kara, sambil tersenyum tulus.


"Ini semua buat kita, buat tabungan di masa depan." Jawab Arsyad.


"Iya, Kara ngerti. Uang dari yanda juga Kara tabung kok."


Kara memang jarang belanja atau membeli sesuatu. Toh, semua kebutuhan sandang dan pangannya selalu terpenuhi. Tyoga tidak pernah membuat putrinya kekurangan apapun. Pun dengan uang bulanan yang Kara dapatkan dari Arsyad, semua itu masih tersimpan dalam tabungannya.


"Kamu bisa gunakan uang itu buat beli kebutuhanmu. Itu nafkah yang memang hak mutlak milikmu." Ujar Arsyad, sambil tetap bekerja.


"Iya, Kara tahu. Tapi, semua kebutuhan Kara sudah tercukupi. Jadi, uang dari yanda mending ditabung aja. Buat masa depan."


Arsyad tersenyum tipis dalam diamnya. Masa depan ya? Angan yang dibangun olehnya untuk pencapaian rumah tangga mereka dikemudian hari. Ia bersyukur, setidaknya Kara selalu membawa nilai positif soal masa depan yang hampir suram baginya. Namun kini, dengan Kara Arsyad akan rubah semua ketidak mungkinan tersebut.


Ting nong


Ting nong


Bunyi bel yang mengalun, membuat mereka beralih sejenak.


"Siapa yang datang pagi-pagi gini?" Bingung Aroon.


"Mana ketehe?" Jawab Davian.


"Mungkin Arsen." Ujar Arsyad.


Ia ingat, ada janji untuk mancing bersama sahabatnya tersebut.


"Bik, bukain pintu dong. Temen Kita ada yang datang." Ujar Davian, meminta tolong salah seorang maid untuk membuka pintu.


"Baik den." Davian mengangguk kecil, sepasang irisnya masih fokus mengetik.


Tak berselang lama, maid tersebut datang membawa tamu yang di maksud.


"Den, ini tamunya."


"Iya bik. Makasih ya, jangan lupa bawaain minum buat tamunya. Kita lagi kerja rodi dulu." Canda Davian, yang mebuat maid tersebut mengangguk.


"Duduk Sen, kita lagi kerja rodi nih. Sibuk, ngurusin bisnis." Kekehnya, meminta sang sahabat duduk saja.


Mereka semua memang fokus pada gaway dihadapan mereka. Juga tugas yang tengah mereka lakoni, membuat tamu-tamu tersebut terpekur dalam hati.


"Sen, lo gak duduk? Lo kan bisa--" Davian menjeda kalimatnya, saat melaikkan pandangannya.


"Duduk Sen, kita lagi ngurusin keuangan gym ini. Lo kemarin udah bilang buat hitung ulang kan?" Sambung Davin.


"Iya. Tugas kita tinggal ngitung pendapatan bersih bengkel, bang." Ujar Aroon menimpali.


"Eh, guys. Ini, bukan Arsen." Ujar Davian, yang langsung membuat mereka menaikan pandangannya.


"Maksud lo?"


Seorang wanita dengan terusan hijau tua, berdiri tegap di hadapan mereka. Sebelah tangannya memegang tas kulit buaya yang memiliki harga fantastis. Berdiri di hadapan mereka, sambil tersenyum canggung.


"Maaf, jika kehadiran saya menganggu aktivitas kalian." Ujarnya, sambil menatap balik para remaja yang terlihat terkejut dengan kehadirannya tersebut.


"Siapa yang betamu nak?" Sapa sebuah suara hangat, menyapa ramah.


Wanita berpenutup wajah itu datang membawa baki berisi makanan kecil juga minum untuk menjamu si tamu.


"Ibu?" Bingung wanita berhijab tersebut.


"Saya ibunya Galang. Teman satu sekolahan mereka."


Aurra tersenyum tipis dibalik penutup hijabnya. "Mari bu, duduk dulu." Ajak Aurra.


"Anak anak, ada tamu kok tidak disuruh duduk?"


"Tamu gak diundang bun." Celetuk Davian.


"Ya. Tamu anarkis bund, biarin aja." Imbuh Davin.


"Kok gitu?" Bingung Aurra, akan respon putra-putrinya.


"Bang, ini ibu temannya abang kan?" Tanyanya pada sang putra.


"Hm."


Kebingungan Aurra semakin bertambah, kala mendapatkan ekpresi datar sang putra. Ada apa dengan mereka?

__ADS_1


"Maaf, jika kedatangan saya menganggu kalian." Sekar buka suara.


"Tidak bu. Anak-anak memang sedang belajar mengelola tempat kerja mereka. Mungkin, mereka sedang kurang menanggapi sekelilingnya saat ini."


Sekar terenyuh, akan sopan santun wanita berhijab ini. Dia tahu, wanita solehah seperti ini pasti akan bisa mendidik putra-putrinya menjadi anak anak yang soleh, juga solehah.


"Jadi, kehadiran tante kesini buat apa?" Tanya Aroon to the point.


"Ron, kok gitu? Gak sopan sama orang tua." Lerai Aurra.


"Tapi bunda, beliau itu--"


"Sama seseorang yang lebih tua harus sopan, nak. Itu sudah menjadi ajaran rasulullah." Tutur Aurra.


"Iya. Maaf bunda." Ujar Aroon, tak bisa membantah wanita berhati mulia yang dipanggil 'bunda' tersebut.


Sekar terhenyak, melihat pemandangan tersebut. Ketika ia memperingati sang putra saja, harus menggunakan tenaga extra plus emosi yang menggunung. Nah ini, dengan gampangnya wanita satu ini menasihati putranya. Dan ajaibnya, anaknya langsung manut.


"Kalau boleh tanya, anda ini ibu dari mereka atau bukan?"


Aurra mengangguk. "Iya. Mereka putra-putri saya." Jawab Aurra.


"Alhamdulillah, Davin punya bunda yang gak suka julid." Kekeh Davian kecil, senang diklaim sebagai anak Aurra.


"Dasar. Durhaka lo sama mamah." Koreksi Davian.


"Cuma guyon, gak lebih." Imbuh Davian, membenarkan.


"Kalau ibu dari Arsyad dan Arabella? Itu, anda?"


"Iya. Saya, ibu dari Arsyad dan Arabella. Kenapa ya?" Tanya Aurra.


Arsyad dan Arra yang mendengar namanya dipanggil, langsung menoleh. Menatap dua wanita yang tengah mengobrol tersebut.


"Saya ibunya Galang."


"Galang?" Bingung Aurra. "Temannya Àrsyad dan Arra?"


Sekar ragu untuk mengangguk. Mana ada putranya berteman dengan siswa siswi teladan macam Arsyad dan Arra. Yang ada, Galang adalah musuh bebuyutan mereka.


"Begini, kedatangan saya kesini untuk minta maaf."


"Minta maaf?" Bukan Aurra yang menjawab, melainkan si triple.


"Setelah perbuatan anarkis hari itu?"


"Macam banteng ngamuk, lupa diri. Mau minta maaf?"


"Tante gak salah?" Tanya si kembar, bertubi-tubi.


"Eh?" Bingung Aurra.


"Itu memang salah saya." Sekar buka suara.


"Saya yang sudah menampar putra dan putri anda."


Deg


Aurra menoleh refleks, menatap putra putrinya bergantian.


"Saya minta maaf, karena telah menampar Arsyad dan Arrabella. Semua itu saya lakukan, karena saya shok melihat putra saya di pecat dari sekolah dan di gelandang petugas."


Aurra masih mendengarkan dengan seksama. Ia juga terkejut akan fakta jika wanita inilah, yang telah menyakiti putra putrinya.


"Saya minta maaf, atas perbuataan anarkis yang telah saya lakukan. Sungguh, saya tidak berniat menyakiti putra putri anda." Ujar Sekar tulus, meminta maaf.


Aurra mengangguk paham, lantas ia tersenyum tipis di balik penutup wajahnya.


"Sebagai seorang ibu, saya tahu perasaan ibu saat itu. Kehilangan putra memang berat, tapi jika kehilangan sementara itu baik untuk membuatnya jera. Maka, sebagai seorang ibu seharusnya kita membiarkan hukum yang berlaku berjalan dengan semestinya. Karena dengan demikian, anak yang telah melakukan kesalahan sedikit banyaknya akan mengerti apa yang telah mereka perbuat itu salah." Ujar Aurra memaparkan.


Kedatangan tamu tak terduga kali ini, nyatanya mengupas kejadian tempo hari. Soal maaf, hanya Arsyad dan Arra yang bisa memberi. Sebagai ibu, Aurra hanya perantara untuk memberi pengerti. Jujur, ia juga tak mau putra putrinya tersakiti. Tapi dalam kasus ini, memang campur tangan takdir lebih kuasa mendominasi.


****


TBC


Bang Syad Update👐


Jangan lupa komentarrrr ya. Buat part berikutnya, setuju gak kalau Arsen dan Gean ketemu? gimana ya reaksi mereka? apalagi kalau langsung bertemu sama ayah Van'ar. Gimana coba?


Cusss, like, vote, komentar, share dan follow. Tunggu buat part berikutnya, part ini segini dulu ya😙

__ADS_1


Sukabumi 18 Januari 2021


__ADS_2