
108. Surprise Dari Hitake Wataya
Seorang pria muda menatap sengit pria yang memiliki serupa dengannya, saat pria itu menatap isi mangkuknya.
“Idih, amit-amit. Gue juga gak bakal minta ramen lo, Dav.”
“Gak usah b to the cot alis bacot. Gue lagi laper.” Pria yang mengenakan hoodie abu itu berujar ketus, masih sibuk dengan kegiatan makan ramen sembari menonton layar laptop. Citarasa lezat yang dikecap lidahnya tak rela ia bagi bersama sang kembaran.
Sruuuppttt
“Anjir, seruputan nya sampe bernada,” kekeh nya heboh. Jika memakan ramen di Jepang, kurang afdol jika tidak bersuara. Makan ramen atau olahan mie berkuah dengan mengeluarkan suara dianggap mengapresiasi si koki. Beda cerita jika di tanah air. Makan berisik itu cenderung dianggap tidak sopan.
Aroon menatap sang kembaran bingung. “Gitu aja bangga, elah. Emangnya ramen nya seenak itu?”
Davian mengangguk. “Mungkin ngalahin rasa Ichiraku Ramen di anime Naruto yang suka kita tonton pas bocil.”
“Woiya. Bang Davin dulu gak mau ketinggalan nonton itu. Dia, kan, penggemar beratnya Deidara member Akatsuki.”
“Yang suka bilang ‘seni adalah ledakan’ itu bukan?”
Aroon mengangguk seraya menghidangkan sebuah burger sushi di atas meja. Makanan tersebut memang menggabungkan dua jenis makanan menjadi satu. Menghasilkan citarasa baru yang unik dan ciamik. Ia sengaja membeli dua porsi, salah satunya untuk sang kembaran. Mengingat Davian sempat mogok makan karena dirundung malu.
“Buat gue?” Aroon mengangguk, menjawab pertanyaan Davian.
“Tumben lo baik? Kesambet?”
“Baik diprotes. Enggak baik, apalagi. Terus, gue harus gimana?”
Davian tertawa sebentar. “Canda, elah. Baperan lo.”
“Gue, kan, manusia. Manusiawi kalau punya perasaan dan gampang terbawa perasaan.”
“Dasar tukang berkelit lidah!”
“Asal bukan tukang adu bibir,” jawab Aroon yang langsung membuat Davian tersedak.
“Uhuk… uhuk… gak salah denger gue? Si bontot bicaranya vulgar sekali?”
Aroon memutar bola mata malas. “Gue tuh mengimbangi pembicaraan. Kalau sama lo, gue memang agak kurang waras. Kalau sama Bang Davin, gue jadi patriotisme. Sedangkan kalau sama my honey, gue jadi cheesy boy.”
“Udah kayak pizza aja lo, berbagai rasa, berbagai topping pula.”
“Gak nyambung woi!”
Davian tertawa mendengar sang kembaran kesal. Ada kebahagiaan tersendiri dapat menghabiskan waktu bersamanya. Hanya saja, satu member lagi tidak dapat hadir. Mengingat pekerjaanya sekarang adalah sebagai abdi Negara. Jarang sekali ia bisa berkomunikasi dengan si sulung, mengingat jam terbang mereka sama-sama tinggi.
“Dav.”
“Hm.”
“Lo yakin gak mau pulang dalam waktu dekat?”
“Hm.”
“Pulang, Roon. Lo bukan Bang Toyib.”
“Siapa juga yang bilang gue bang toyib?” kesal Davian. Tangannya dengan lihai menggeser mangkuk bekas ramen, kemudian mendorong burger sushi bawaan Aroon. Perutnya memang karet, karena sedari ia sudah makan banyak tapi tidak kenyang-kenyang.
“Jomblo juga pilihan, gak perlu malu buat mengakui kejobloan lo itu.”
“Heh, jamet kudasi. Kalau gomong yang bener lo, masa otak disekolahin tapi bibir kagak?”
“Apa yang salah?”
__ADS_1
“Fyi, gue gak jomblo, ya.”
“Apaan tuh efyei, gak ngerti?”
“For your information, kantrok. Makanya, jangan kerja mulu, sekali-kali buka toktok napa!”
Aroon mengangguk-angguk. Tak menyangka jika kembarannya yang satu itu sempat-sempatnya menonton toktok, padahal ia memiliki jam terbang yang tinggi. “Gue gak ada waktu liat toktok. Yang ada juga liat gunungan dokumen mulu, sampe mual.”
“Kasihan,” ujar Davian seraya mengelus pucuk kepala sang kembaran.
“Iya, lo harusnya stay di indo terus bantuin gue. Bukan malah jadi agen rahasia. Memangnya lo G.I JOE!”
“Gue emang bukan G.I JOE, tapi titisan Tom Cruise.”
“Makin gak waras.”
Davian tertawa, sedangkan Aroon mengelengkan kepala. Pembicaraan mereka terjeda saat sebuah surel masuk ke laptop Davian. Surel tersebut berasal dari sebuah alamat yang berhasil membuat keduanya terkejut bukan main. Mereka kompak terdiam saat membaca apa yang tertuang di surel tersebut.
“Mata gue gak salah baca, kan, Roon?”
“Of course. Soalnya gue juga baca apa yang lo baca.”
“Terus, sekarang gimana?” tanya Davian seraya menoleh ke arah sang kembaran.
“Kita harus kasih tahu bang Arsyad. Dia juga pasti kaget sama berita ini.”
🍡🍡
“Yanda, ayo buka mulut.”
Pria rupawan yang baru saja menganti pakaian itu mengernyitkan kening dalam. Pandangannya tertuju pada sang istri yang tengah duduk di atas kursi dekat meja kecil yang diisi oleh berbagai macam kudapan tradisional khas negeri Sakura. Wanita cantik dalam balutan terusan rajut itu tampak menampilkan senyum berseri-seri. Kudapan yang terhidang di atas meja juga tersaji dalam berbagai bentuk, mulai dari kubus, bulat, persegi panjang, opal, hingga bentuk hewan seperti ikan.
“Apa semua ini, Kara?”
Arsyad hanya menautkan kening mendengarnya. Kemudian lelaki itu mengambil posisi duduk di samping sang istri. Dari sekian banyak kudapan yang tampak legit itu, hanya dua jenis yang familiar di matanya. Tai-yaki dan kushi-dango. Tai-yaki adalah sejenis pancake berbentuk ikan yang diisi dengan pasta kacang merah.
Sedangkan kushi-dango adalah bola-bola mungil dari tepung beras berisisan yang ditusuk pada stik bambu. Kushi-dango tersedia dalam dua rasa, yaitu manis dan original. Kushi-dango yang rasa manis dibuat dengan menambahkan gula ke dalam adonan, sedangkan dango yang tidak manis dicelupkan ke dalam saus. Bagi pecinta anime Naruto, pasti sudah tak asing lagi dengan kudapan yang memiliki warna-warni cerah satu ini. Arsyad juga mengenalinya karena dulu cukup sering diajak menonton anime teresbut oleh si triple. 🍡
“Ayo, yanda harus coba semua. Semuanya enak-enak.”
“Aku tidak suka manis,” ujar Arsyad, membuat senyum di bibir sang istri seketika itu luntur.
Melihat perubahan ekpresi wajah sang istri yang signifikan, Arsyad menggaruk tengkuknya kikuk. Apa ada yang salah? Ia memang tidak terlalu suka makanan yang manis. Kecuali istrinya. Dia suka memakan sang istri jika kelewat manis.
“K—enapa?”
“Kara mau yanda makan ini,” ujar sang istri to the point.
“Ok. Aku makan yang ini saja.” Arsyad menunjuk tai-yaki atau sejenis pancake berbentuk ikan.
“Yanda harus coba semuanya. Ayo, biar Kara suapin.”
Arsyad menghela nafa kecil melihat keantusiasan sang istri. Makan mau tak mau, ia hanya bisa mengangguk seraya membuka mulut. Menerima suapan kudapan-kudapan manis yang terlalu legit di mulutnya.
“Ini namanya mushi-yakon. Dibuat dengan cara mengkukus campuran an dan tepung terigu. Kudapan ini biasanya disertai dengan chestnut,” ujar Kara seraya menyuapai sang suami. Wajah cantiknya tampak sumringah sembari menyuapi juga menjelaskan.
“Nah, kalau ini sakura-mochi. Mocha ini diisi dengan pasta kacanga azuki dan diselimuti daun sakura.”
“Hm.”
Arsyad merespon singkat. Mulutnya terasa penuh dengan satu rasa bernama manis. Tidak berhenti sampai di sana, Kara juga kemudian menyuapi Arsyad chimaki dan Kashiwa-mochi. Chimaki adalah kue bola manis yang dibalut daun bambu. Sedangkan Kashiwa-mochi adalah kue dari tepung beras yang diisi dengan an. Jika chimaki dibalut daun bambu, makanan satu ini dibungkus dengan daun pohon ek.
“Sudah Kara. Ini sudah cukup.”
__ADS_1
“Tapi, yanda—“
“Rasanya terlalu manis. Aku mual,” ujar sang suami seraya menahan suapan yang hendak istrinya layangkan. Arsyad tak bohong soal tidak terlau suka makanan manis.
“Yanda, ini masih banyak loh—“ wanita cantik itu tidak lagi dapat melanjutkan kalimatnya, saat Arsyad membungkam bibir mungilnya. Menutup akses agar wanita cantik itu tak lagi bersuara. Memberiahukan rasa manis nan legit yang tertinggal di mulut suaminya.
“Y-anda, stop.” Kara buru-buru menahan dada bidang sang suami saat pria itu hendak memperdalam ciumannya.
“Kenapa? Kamu tidak mau? Aku cuma mau membagi rasa manisnya.”
Kara menggeleng, membuat Arsyad mengeryitkan kening.
“Kenapa?”
Kara menggigit bibir sebelum menjawab. “Kata dokter, kita gak boleh sering-sering melakukan ‘itu’, takut adeknya kenapa-kenapa.”
Arsyad tersenyum tipis, menyadari pikiran sang istri yang sudah terlalu jauh. “Siapa bilang kita akan melakukan itu? Just kissing, Kara.”
“Just kissing? Yakin?”
Arsyad menautkan sebelah alisnya. “Kenapa? Kamu mau lebih?”
Kara buru-buru menggelengkan kepala. “H-abisnya, yanda tadi tiba-tiba kiss gitu. Kara cuma kaget.”
“Kenapa? Kita sudah sering melakukannya. Kenapa masih tidak terbiasa?”
“Mana Kara tahu,” ujar Kara ketus seraya membiarkan jarak kian lebar di antara mereka. “Yanda, elus-selus,” pintanya tiba-tiba.
“Elus-elus?”
“Ini, mau diselus-elus.” Kara menunjuk bagian perutnya yang tertutu oleh lapisan kain.
Arsyad tidak bersuara, tetapi tangan lebarnya bergerak sesuai perintan snag istri. Mengelus perut rata sang istri, tempat di mana sang buah hati tengah tumbuh dan berkembang. Ada rasa bahagia yang membuncah di rongga dada tiap kali mengingat fakta tersebut. Masih tidak percaya jika sebentar lagi ia akan menjadi seorang ayah. Akan ada mahluk hidup yang tercipta dari DNA-nya sendiri dengan sang istri. Ah, Arsyad tak sabar menunggu saat-saat itu tiba.
Di saat tengah menghabiskan waktu berdua, tiba-tiba saja pintu kamar mereka di ketuk dari luar. saat Arsyad beranjak untuk membuka pintu, ternyata Aroon dan Davian yang datang bertandang. Keduanya tampak memperlihatkan raut wajah serius, sebelum berubah 180° saat melihat makanan yang teronggok di atas meja.
“Kushi-dango Naruto!” ujar keduanya heboh.
Jangan lupa jika mereka sejak kecil sudah menjadi penonton setia anime si rambut kuning alias Uzumaki Naruto. Maka jangan heran saat keduanya langsung heboh saat melihat salah satu makanan yang didentik dengan anime tersebut.
“Ada Chitose-ame juga.”
“Permen seribu tahun bukan?” tanya Aroon. Dijawab anggukan oleh Davian. Alih-alih mengutarakan maksud dan tujuan dari kunjungan mereka, Davian dan Aroon malah sibuk membahas soal makanan. Membuat si empunya kamar kebingungan sendiri.
“Kalau Davian sama Aroon mau, ambil aja semua. Mushi-yokan, neri-yokan, manju, ochagi, chimaki, Kashiwa-mochi, tai-yaki, ama-natto, okoshi, rakugan, sembei, daigaku-imo, sama kushi-dango boleh diambil kok.”
Davian dan Aroon melongok mendengarnya. “Gila, Mbak Kara udah biasa pakai bahasa Jepang sih, nyebutin nama-nama makanannya sampai detail bin tartil gitu,” komentar Davian. Dijawabi anggukan oleh Aroon.
“Ada apa kalian datang ke sini?” tanya Arsyad to the point.
Mendengar itu, Aroon dan Davian baru sadar akan tujuan awal mereka datang. “Roon, jelasin ke Bang Arsyad.”
Aroon mengangguk, kemudian maju selangkah. Lelaki itu menarik nafas dalam, sebelum mengucapkan alasan mereka datang ke sana. “Kita dapat surel dari pihak Hitake Wataya, Kakek Mbak Kara. Bersamaan dengan pindah kepemilikan saham Hitake Wataya menjadi milik kita.”
Arsyad tentu terkejut mendengarnya. Begitu pula dengan Kara. Semudah itu Hitake Wataya menyerahkan saham miliknya? Arsyad merasa tak percaya. Apalagi mengingat sejarah kelam yang pria itu miliki guna meraih kesuskesan yang ia miliki.
“Yanda, kita harus pergi.” Ucapan Kara sontak membuat semua etensi beralih pada wanita yang tengah hamil muda itu.
“Kita harus pergi sebelum Kakek berbuat yang tidak-tidak. Jika Kakek tidak melakukan apa yang kita perkirakan, kemungkinan Kakek akan mengakhiri hidupnya sendiri. seorang samurai biasanya memilih menghilangkan nyawanya sendiri ketimbang menanggung malu.”
🍡🍡
Jangan lupa like, vote, komentar & follow Author 🥰
__ADS_1
Sukabumi 11/11/21