Bukan Cinta Terencana (R3)

Bukan Cinta Terencana (R3)
.5-Dendam


__ADS_3

📚.5-Dendam



“Ketika seseorang menghina anda, itu adalah sebuah pujian bahwa selama ini mereka menghabisan banyak waktu untuk memikirkan anda, bahkan ketika anda tidak memikirkan mereka,” – Bacharuddin Jusuf Habibie.


📚📚📚


"Apaan nih,gue lagi ngeroko bangs*t?!" Umpat pemuda yang masih mengenakan seragam SMA lengkap tersebut.


"KBM udah dimulai,loe ngapain masih disini?" Tanya lawan bicaranya.


"Urusan urusan gue,bacot loe?!"


"Bad Attitude control of tongue-bacot?"


Pemuda yang masih menyesap puntung rokoknya itu menggeram marah. Sudah menjadi rahasia umum jikalau dirinya ini selalu menjadi buronan anak MPK dan OSIS.


Kelakuanya memang minus soal kedisiplinan. Baju dikeluarkan,merokok diarea sekolah,bolos saat jam KBM bahkan dia juga sering tawuran dengan sekolah lain mengatas namakan SMA Dandelion.


"Ikut gue,kesiswaan nungguin loe."


"What the f*ck? Loe udah gila ngelaporin gue lagi?" Emosi pemuda bername tage-Galangger Adimana Sanjaya tersebut.


Pemuda paling menjadi incaran bagi sasaran anak MPK dan OSIS. Si berandalan bermuka diatas rata rata yang hobby sekali membuat kasus atau keributan. Sudah menjadi makanan sehari hari baginya untuk melanggar peraturan tata tertib sekolah. Ketua salah satu geng motor ternama ini memang sangat disegani banyak pemuda jika diluaran. Namun disekolah,setidaknya Galang harus bisa menempatkan dirinya dengan sewajarnya.


Anak OSIS saja sampai angkat tangan jika soal Galang. Siapa yang berani melawan ketua geng motor yang hobby semparingan ini? Kecuali,sang ketua MPK yang selalu siap memasukan Galang kedalam ruang bimbingan ataupun kesiswaan. Halayak umum sudah hafal betul jika Galang benci Arsyad. Sedangkan Arsyad-benci ketidak tegakkan peraturan disekolahnya. Sebagai pemimpin,dia sudah istiqamah dengan jalanya sebagai ketua MPK. Walaupun semua itu selalu bertentangan dengan keyakinan beberapa orang-termasuk Galang.


"Loe ngak bosen?" Galang merengsek maju dari tempat duduknya.


Mendekat kearah Arsyad yang masih berdiri dengan tegapnya. Spesial memang Galang ini,sampai sampai ketika patroli rutin akan selalu Arsyad yang menjemputnya.


"Loe sweeth banget ya,selalu aja ngejemput gue. Loe ngak bosen bawa gue ke kesiswaan?"


"Itu tugas gue." Jawab Arsyad to the point.


"Loe kan bisa pura pura ngak tahu kalau gue bolos. Apa susahnya?"


"Susahnya karena tuhan lihat kelakuan gue kalau gitu."


"Elah,susah amat hidup loe syad. Sok munafik hidup loe ini. Apa ngak monoton tuh hidup loe,ngusik kebahagiaan gue mulu."


"Bukan hak loe ngelanggar aturan sekolah."


"Elah,bacot." Emosi Galang sambil melayangkan satu tinjuan telak yang langsung dihalau oleh arsyad.


"Loe minum?"


"Bukan urusan loe aj*ng?!" Emosi Galang sambil melayangkan pukulan berikutnya.


Arsyad dengan sigap menghindar tanpa mau memberi perlawanan. Dia datang kesini bukan untuk berkelahi,melainkan untuk membawa Galang kembali.


Dua orang anggota Osis yang datang bersama Arsyad hanya bisa menonton tanpa bisa membantu. Siapa mereka,mana berani mereka melawan seseorang semacam Galang. Gudang sekolah diarea paling belakang ini memang markas Galang and the geng jika tengah bolos. Mereka bahkan tan segan membawa minuman keras ataupun wanita kesini tanpa sepengetahuan siapapun. Padahal,pihak sekolah sudah memberikan peraturan yang jelas agar tidak dilanggar oleh siswa siswinya termasuk pelanggaran berat yang selalu dibuat oleh Galang.


Bugh


"Argh,bangs*t." Pekik Galang nyaring saat terjatuh keatas lantai sambil menahan nyeri ditulang keringnya.


Dalam sekali pukulan Arsyad berhasil melumpuhkanya. Jangan ragukan lagi kehebatanya didunia bela diri. Dia memiliki guru guru yang ahli sebagai pengasah kemampuanya. Maka tak heran,jika Arsyad sering kali meraih mendali emas diturnamen bela diri tingkat nasional maupun internasional.


"Bawa keruang kesiswaan." Titah Arsyad ketika lawan duelnya telah tumbang.

__ADS_1


"Argh,sial*n. Lihat aja,loe bakal tahu akibatnya bangs*t." Teriak Galang marah.


"Gue bakal buat hidup loe hancur sehancur hancurnya!" Ancam Galang lagi yang tak digubris oleh siempunya.


Bagi Arsyad,ancaman tersebut bukanlah hal lumrah lagi. Mereka yang terjaring razia olehnya bekerjasama dengan anggota OSIS pasti akan mengumpatinya demikian. Karena tidak mungkin mereka diam saja,ketika Arsyad dan para anggotanya menjebloskan mereka keruang kesiswaan. Galang adalah salah satu contoh siswa yang paling sering discorsing karena pelanggaran yang dilakukanya. Namun sejauh ini,Galang belum sampai di Drop out dari sekolah karena beberapa hal pribadi. Terutama karena para petinggi sekolah mengenal siapa itu Galang.


"Gue bersumpah bakal bikin perhitungan sama loe!" Teriak Galang yang masih bisa didengar oleh Arsyad.


Namun Arsyad mengabaikanya,dia memilih melanjutkan langkahnya meninggalkan tempat tersebut. Sisanya,biar anak Osis yang menyelesaikanya.


📚📚📚


"Arra beneran ngak mau ikut?" Tanya Aroon untuk kesekian kalinya.


"He'em,aku ada jadwal menghadiri tablig akbar."


"Kan ada anggota Rohis yang lain tèh?"


"Enggak bisa. Soalnya,paginya ada jadwal pemotretan sama anteu Lunar."


"Halah,pemotretan sama mamah mah gampang diurus." Celetuk Davian.


"Sans ae loe,kayak ngak kenal nyokap aja." Ujar Davin sambil menoyor bahu adik kembaranya.


"Jadi ngak ikut nih?"


"Ish,iya. Arra ngak ikut camping." Ketus gadis cantik berhijab pink cream tersebut.


"Uwuuu,tetèh gak bakal ikutan camping buat malam renungan terakhir ini dong?"


"Ngak papa,lagi pula aku juga udah purna kok."


"Ikut aja ya tèh,nanti berangkatnya pake motor Dadav." Ajak Davian tidak mau menyerah.


Itu bukan suaranya,melainkan suara dari remaja tanggung dibelakangnya.


"Bang Davian jangan ganggu tetèh,nanti cemberut."


"Ish,anak kecil gak boleh ikut ikutan. Hust hust,pergi sana...." Usir Davian.


"Tau ah,lagian Arion juga gak mau deket deket sama bang Dadav. Bang Dadav pelit!" Tukas si tampan Arion sambil berlalu begitu saja.


"Eh eh bontot,mau kemana loe? Main pergi aja,ngak sopat tau." Kesal Davian sambil menatap kepergian Arion kesal.


Arra hanya bisa tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya. Hari ini para saudaranya akan pergi camping di puncak. Hanya saja,Arra tidak bisa mengikuti camping tersebut dikarenakan adanya kepentingan lain yang lebih urgen. Oleh karena itu,hanya Arsyad,Davin,Davian dan Aroon yang akan berangkat camping bersama anggota OSIS dan MPK lainya.


"Mah,kita berangkat ya?" Pamit Arron sambil mengecup punggung tangan sang ibu,setelah bergantian dengan sang kakak.


"Iya. Mamah titip abang abangmu ya sayang. Jagain mereka,takut berbuat yang aneh aneh." Pesan Lunar sambil mengecup dahi putra tampanya sayang.


"Ok mom." Jawab Aroon patuh.


"Apaan sih,masa kita dijagain bocil?" Keluh Davian yang sudah stay diatas motor sport berwarna hitamnya.


"Yoi. Yang ada juga abang jagain Aroon mah." Setuju si sulung Davin.


"Tapi pada kenyataanya,dua abang gue ngak waras semua." Kekeh Aroon sambil berkacak pinggang.


"Eh sial-" Jeda Davian sambil tersenyum kikuk saat melihat tatapan maut bundanya.


"Bilang kasar lagi,mama lakban bibir kamu."

__ADS_1


"Hehehe,jangan atuh mamah. Masa ganteng ganteng gini bibirnya dilakban sih?"


"Biarin,biar kamu tau rasa."


"Buahahah,ngak kebayang gimana lucunya." Kekeh Davian renyah.


"Dasar abang luknut. Bukanya bantuin malah ngetawain." Ketus Davian.


"Inget,jangan macem macem disana. Bawa motornya jangan ngebut-ngebut!" Pesan Lunar.


Wanita paruh baya berkerudung abu abu itu mengingatkan dengan pasti. Pasalnya sebagai ibu ia hanya tidak ingin ketiga putranya kenapa-kenapa. Walaupun hanya goresan sedikitpun,dia tidak mau hal itu terjadi. Terlebih lagi Davian-putra keduanya sering sekali pulang membawa luka ketika pulang dari perjalanan jauh atau turing.


"Asiaap mamah,kita bertiga akan saling menjaga." Ucap Davian mewakili.


"Abang berangkat bunda." Ucap suara bariton yang baru saja muncul.


Mengambil punggung tangan bundanya,sambil mengecupnya pelan. Wanita paruh baya bercadar itu mengangguk. Senyumnya terbit dibalik bibirnya yang terlapisi kain.


"Iya. Hati hati dijalan ya bang. Jangan lupa salat,makan dan istirahatnya yang teratur." Ujarnya lembut,sambil membelai pucuk kepala putra tampanya.


"Iya bunda."


Aurra mengangguk,padahal sebagian dari hatinya ada yang terasa berat. Entah mengapa,sebagian hatinya terasa berat ketika putranya pergi pagi ini. Padahal perjalanan yang akan putranya tempuh cukup dekat,namun entah mengapa. Rasanya ada yang begitu menganjal dihatinya.


"Kita berangkat bunda,Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." Ujar kedua wanita paruh baya tersebut.


Sabtu pagi yang cuacanya cukup mendung ini,keempat pemuda tampan tersebut tancap gas menuju sekolah. Perjalanan menuju Bogor memang dijadwalkan sejak pagi. Mereka akan berkumpul disekolah,lalu para rombongan akan melanjutkan perjalanan mulai dari pukul 08.30 pagi.


"Bunda?"


"Iya,kenapa Arra?"


"Perasaan Arra tidak enak bunda."


"Kenapa nak?"


"Abang gak papa kan bunda?" Aurra menoleh kearah putri cantiknya.


"Insaallah abang tidak akan kenapa-kenapa." Ujar Aurra sambil tersenyum tipis.


Gadis cantik itu mengangguk lemah. Entah mengapa,setelah abangnya pergi dia menjadi sangat gelisah. Dirinya terus saja mengingat kembaranya tersebut walaupun baru saja pergi beberapa menit yang lalu.


"Arra takut bunda."


"Arra bedo'a ya,do'akan supaya abang selamat sampai tujuan."


"Iya,baik bunda." Ujar Arra sambil mengangguk.


Dia harus berdo'a,benar. Semua itu untuk mendo'akan keselamat bagi kembaranya diperjalananya sana hingga pulang kerumah nanti. Bagaimanapun juga,intuisinya sebagai kembaran Arsyad sejauh ini tidak pernah meleset. Jika dia merasa gelisah seperti ini,pasti akan ada sesuatu yang terjadi nanti.


****


TBC


Typo masih bertebaran!!


Jangan lupa kritik dan saranya ya readerz :')


__ADS_1


Sukabumi 07 Okt 2020


__ADS_2