
📚.34-Hukuman
{HATI HATI, PART INI MEMILIKI LEVEL KE-UWUUAN YANG TINGGI}
"Orang orang yang saling mencintai dengan keagungan-ku, bagi mereka menara dari cahaya, para nabi dan syuhada iri dengan mereka."-Saling mencintai karena keagungan Allah
****
"Yanda, mau bawa Kara kemana?" Tanya gadis cantik itu, untuk kesekian kalinya.
"Kamar."
"Kamar? Tapi kan, kamar yanda dibawah?" Bingung Kara.
Semenjak Arsyad membawa dirinya keluar dari kamar pria tersebut, Kara memang tidak tahu mereka akan kemana. Yang pasti, kini Arsyad masih membawanya berjalan entah kemana sambil mengenggam erat jemarinya.
Tiba dibagian paling belakang, disayap lain mansion Radityan. Tempat yang sempat Kara datangi bersama Arsyad, ketika berkeliling dirumah megah ini.
"Ruang baca?" Bingung Kara.
"Ada yang harus yanda hukum disini." Bisik Arsyad kecil, tepat disamping telinga Kara.
"H-ukuman? S-iapa yang mau yanda hukum?" Tanya Kara kikuk.
Gadis cantik itu bisa merasakan deru nafas hangat Arsyad. Toh, wajah mereka hanya berjarak beberapa centi saat ini.
"Kamu."
"K-ara?" Kara terbata, mengucapkan namanya sendiri.
Lelaki tampan itu tersenyum tipis, lantas ia memilih menarik tangan sang istri kembali. Membawanya memasuki buangan baca tersebut.
"Yanda punya hukuman kecil untukmu."
"A-apa? K-ara kan sudah minta maaf tadi?" Cicit Kara ketakutan.
"Yanda gak akan nyakitin K-ara kan?" Langkan kecil gadis itu terhenti, saat tangan kekar yang membawanya ikut berhenti.
"Jangan takut, yanda tidak akan menyakitimu."
"Yanda bohong?" Tanya Kara menyelidik.
"Tidak."
"Janji?" Arsyad mengangguk mantap.
"Tapi, namanya juga dihukum. Tidak ada yang tidak menyakitkan?" Good. Kara cepat tanggap menilai sesuatu secara logis.
Arsyad menggeleng, sambil tersenyum tipis.
"Ini akan menyenangkan. Tanpa melibatkan rasa sakit."
"Yanda janji?" Arsyad mengangguk mantap.
"Ayo." Lelaki itu kembali melanjutkan langkahnya.
Tiba diujung ruangan, diujung rak buku paling belakang. Lelaki tampan itu berbalik, menatap rak buku yang berjejer rapih dihadapanya.
"Yanda mau apa?"
"Ingat ini, buku tentang kekuarga." Lelaki tampan itu menunjukkan sebuah buku bersambul usang, dengan judul 'About Family' disampulnya.
"About Family?"
"Usap, tekan, Dorong. Lalu," Jeda Arsyad sejenak.
"Terbuka." Lanjutnya.
"Wow, amazing." Antusias Kara, terpukau saat melihat satu bagian katalog buku dihadapan mereka terbuka.
Menunjukkan sebuah ruangan rahasia dibaliknya. "Subhanallah. Yang benar itu Kara." Intruksi Arsyad.
"Iya, maksud Kara Subhanallah."
Arsyad mengangguk, lantas ia membawa sang istri masuk kedalam. Kembali menutup pintunya, agar membentuk derekan rak buku seperti semula diluar sana.
"Keren. Ini seperti ruang arsip milik Papi di Singapura. Persis." Jujur Kara, masih terpukau dengan bagaimana cara mereka masuk keruangan ini.
"Ups. Kara keceplosan." Cicitnya kecil, saat ia menyadari kecerobohanya.
Arsyad menggeleng tak habis pikir, sambil berjalan meninggalkan sang istri.
"Yanda mau kemana? Kara takut sendirian."
Lelaki tampan itu tak banyak bicara, ia lebih memilih menarik tirai gordeng yang menutupi jendela besar dibaliknya. Ketika ditarik, cahaya terang rembulan langsung menyinari tempat tersebut. Sebuah ruangan luas yang cukup gelap. Hanya ada beberapa lampu berwarna kuning dengan bentuk bunga bunga cantik disana, sebagai penerang. Ruangan tersebut, nyatanya sebuah tempat tidur. Lengkap dengan almari dari kayu yang dihiasi ukuran naga di daun pintunya, juga tempat tidur king size dengan rangka kayu juga kelambu putih yang menghiasi 4 pilar megahnya. Ada pula dua buah bingkai besar, yang menampakkan sebuah prosesi pernikahan ala militer.
__ADS_1
"Pedang Pora Wedding. Salah satu rangkaian acara yang wajib dilakukan, jika seorang anggota perwira menikah." Tutur Arsyad.
Seperti mengerti, jika sang istri tengah bertanya akan dua fhoto besar yang memajang fotret acara pedang pora dipernikahan kakek dan nenek buyutnya-Ibra dan Silvia, beserta acaŕa pedang pora dipernikahan orang tuanya-Van'ar dan Aurra. Ruangan ini memang futuristik, dengan beberapa ornamen yang kental akan keragaman budaya Indonesia. Ruangan ini dibangun oleh Ibra, khusùs ketika ia ingin menyendiri. Ataupun, ketika ia harus membuat salah satu putra ataupun cucunyanya mengisolasi diri ditempat ini ketika gundah meliputi hatinya.
Alat ibadah beserta kitab suci Al-Qur'an, juga nampak rapih tersimpan diatas nakas. Berdampingan dengan beberapa buku tebal yang tersusun rapih. Di dingding yang lain, terpajang sebuah bingkai besar yang didalamnya terpasang fhoto-fhoto anggota keluarga Radityan dari Generasi pertama hingga ke anak cucunya.
"Hm, yanda kenapa tunjukan ini sama Kara?" Cicit Kara kecil.
Gadis itu memang penasaran, entah kenapa Arsyad membawanya kesini. Padahal ya, tadi lelaki itu menyinggung soal hukuman yang akan diberikanya.
"Kemari." Panggil Arsyad.
Lelaki tampan itu nampak tengah berdiri membelakani jendela besar dibelakangnya. Membiarkan sinar rembulan malam, menerpa wajah rupawanya.
"K-enapa, Arsyad mau hukum Kara ya?" Alih-alih menjawab, lelaki tampan itu malah sibuk membenahi anak rambut sang istri yang jatuh kebeberapa bagian wajah cantiknya.
"Iya. Hukumanmu menanti." Ujar Arsyad lirih.
Kara menelan ludahnya susah payah. Belum pernah ia melihat suaminya itu seserius ini. Terlebih lagi, dia marah dan akan memberinya hukuman.
"Kamu tahu apa kesalahanmu?" Tanya Arsayd, sambil menaikkan dagu sang istri agar mendongrak kearahnya.
"Hm, itu Kara-" Cicit Kara kebingungan.
"K-ara, Kara minta maaf sama yanda. Kara salah, kara tidak menuruti yanda." Bibir mungil Kara berucap dalam sekali tarikan nafas.
Dia memang masih polos dan selalu patuh. Sukar baginya untuk berbohong. Bagi Arsyad, inilah tantangan sesungguhnya baginya. Kepolosan sang istri, yang harus dibentuknya dengan benar agar tidak menjadi boomerang dikemudian hari. Gadis sepolos Kara, memang amat berharga. Mengingat posisi gadis ini begitu berarti bagi keluarganya, termasuk Arsyad. Sudah menjadi tanggung jawabnya, untuk menjaga, memberinya wawasan, kasih sayang, juga dengan seperangkat tanggung jawab lainya.
Gadisnya masih polos, dibalik wajah cantiknya yang lugu. Tersimpan hati bersih yang memiliki luka masalalu yang membawa penyakit hingga kini. Itu tugas Arsyad, untuk menjaga dan mengarahkan sang istri.
"Kara tahu melanggar janji itu salah?" Gadis cantik itu mengangguk lemah.
"Lalu kenapa dilakukan?"
"Kara cuma penasaran yanda." Jawab Kara lirih.
"Kara, rasa penasaran itu terkadang menjerumuskan. Oleh karena itu, kita harus pandai pandai mengendalikan rasa penasaran itu."
"Eum, begitu ya?"
"Hm."
"Maaf, tadi Kara ingkar janji sama yanda. Kara janji, Kara gak akan ingkar janji lagi." Ujar Kara, sambil memperlihatkan puppy eyes miliknya.
Arsyad menatap istrinya lekat, lantas ia mengangkat dua tangan sang istri keudara.
"Jangan jadikan kedua tangan ini untuk mencaritahu sesuatu yang mengundang bahaya."
Cup
"Jangan gunakan pikiran ini untuk menggali apa yang menurutmu benar padahal itu tidak benar."
Cup
Lagi, lelaki tampan itu mengecup pucuk kepala Kara setelah berkata demikian.
"Jangan jadikan kedua mata ini, sebagai sumber penglihatan bagi apa yang tidak boleh kamu lihat."
Cup
Kali ini, kecupan mampir dikedua kelopak mata sang istri.
Perhatian Arsyad kini menerun, sebelum kembali menatap sang istri dan berucap lirih.
"Dan jangan jadikan ini, sebagai alat untuk berdalih ketika usai menggali sebuah ketidakpastian apalagi sebuah kepenasaran."
Jemarinya mulai berperan aktif, menyentuh bibir tipis berwarna pink alami tersebut. Untuk ukuran anak sultan yang dimanjakan oleh fasilitas, Kara ini tak banyak tingkah. Akan tetapi, tubuhnya terawat dengan baik. Walaupun dirinya sendiri tidak pernah merias diri seperti gadis pada umumnya.
Si empunya diam saja, dengan debaran ganas yang meronta ronta didadanya. Toh, Kara tidak tahu situasi ini menjorok kearah mana. Otak polosnya itu, masih menerka nerka. Satu pikirnya, selama Arsyad yang melakukanya dia akan diam dan menerimanya. Hatinya sudah menaruh percaya, maka dia akan selalu percaya.
"Jangan jadikan ini, sebagai alat untuk berdusta." Ujar Arsyad, sambil menurunkan pandanganya.
Mengecup bibir tipis berwarna pink alami tersebut perlahan tampa tergesa. Mengajarkan satu hal akan sang istri lugunya itu, jika ia tak suka dibohongi, diperdaya, apalagi dengan menggunakan kepemilikanya. Dia mengambil satu hak ringan paling awal menurutnya. First kiss-nya menjadi miilik sang istri, begitupun sebaliknya. Ia yakin, istrinya ini masih menjaga deñgan baik dirinya. Apalagi dibawah perlindungan Tyoga, mana berani satu orangpun menyentuh putrinya.
"Ingat itu, Kara." Ucapnya lirih, setelah kembali membuka mata.
"Um, i-tu, k-ara.... " Cicit sang istri kebingungan.
Arsyad tersenyum tipis, lantas kedua tanganya bergerak untuk merengkuh tubuh mungil sang istri. Ia tahu istri kecilnya itu shok dengan apa yang baru saja dilakukanya. Toh, niat awalnya Arsyad hanya ingin memberikan hukuman berupa pembelajaran lewat wejangan. Akan tetapi, wejangan itu, malah ia realisasikan lewat cara yang lain. Toh, mereka sudah memiliki lebel halal sih. Jadi wajar wajar saja jika satu kecupan Arsyad berikan, dia pun melakukan itu berdasarkan instingnya tanpa akhwat berlebihan yang akan merusak kepercayaan banyak orang.
Walaupun dengan begitu, Arsyad juga cukup merasa bersalah karena berani mengambil sesuatu tanpa meminta terlebih dahulu. Jika saja Tyoga tahu, entah akan dimutasi kenegara mana Arsyad nantinya.
"Maaf, tadi yanda tidak minta ijin." Lirihnya, sambil mengelus punggung mungil sang istri agar relax.
"Kara marah?" Tanyanya, sambil melonggarkan sedikit pelukanya karena tidak ada respon sedikitpun dari sang istri.
"Kara-"
Gadis cantik itu menggeleng dengan segera. "Itu tadi, namanya apa yanda?"
Arsyad melupakan satu hal penting disini. Istrimu itu lugu bang, mengerti tidak?
__ADS_1
Lelaki tampan itu tersenyum tipis. Senyum tipis yang mampu menggegerkan jagad raya ketika kaum hawa melihatnya. Tangan kekarnya terangkat, untuk menyentuh suarai lembut sang istri, sayang.
"Apa itu yang namanya ciuman?" Alis lelaki tampan itu menyerngit.
"Dari mana Kara tahu kata kata itu?"
"Hyung pernah tanya. Apa Arsyad pernah ciuman sama Kara, begitu. Apa tadi itu, sebuah ciuman?" Tañya Kara polos.
"Hm. Iya." Arsyad mengiyakan saja.
"Tapi tadi itu, lebih kearah kecupan. Bukan ciuman."
"Benarkah?"
"Iya."
Karena walaupun tidak pernah melakukanya, setidaknya Arsyad mengetahui perbedaan diantara keduanya. Jangan lupakan fakta jika ia juga tumbuh dan berkembang bersama 3 sepupunya yang berbeda rupa dan kepribadian. Satu playboy, satunya lagi fakboy, dan si satunyanya lagi termasuk golongan coolkasboy, sepertiñya.
"Apa itu kata lain untuk sun, seperti yang dilakukan kededek bayi?" Tanya sang istri lagi.
"Hm." Kikuk Arsyad, sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Gadis cantik itu tersenyum, lalu meraba bibirnya sendiri. "Kara suka, yanda kasih sun-nya disini. Yanda yang pertama kasih sun begitu."
Hati Arsyad berdesir lumayan hebat. Hatinya tersentuh oleh kata kata istrinya. Benar bukan, itu first kiss Kara, first kissnya pula. Arsyad setidaknya bangga, bisa menjadi orang pertama bagi Kara pun demikian dengan Kara.
"Dengar, tapi Kara tidak boleh minta sun seperti ini kepada orang lain." Ujar Arsyad memberi pengertian.
"Hyung misalnya? Apa gak boleh?" Arsyad menggeleng.
"Tapi kenapa? Biasanya Hyung juga sun dikening Kara, kayak yang yanda barusan lakukan. Papih juga."
Lelaki tampan itu menghela nafasnya berat.
"Di kening boleh, tapi cuma papih dan yanda yang boleh kasih. Ingat?" Arsyad mulai nampak possesive eh?
Gadis cantik itu mengangguk patuh. "Kalau cowok lain yang kasih sun kayak hyung, nanti bakal dosa ya yanda?"
"Hm."
"Allah gak suka?"
"Hm. Sudah ya, sekarang kemari." Lelaki tampan itu menggiring sang istri kedekat jendela.
"Lain kali, jangan lagi berbohong apalagi menutupi sesuatu. Kara harus jujur ok?" Gadis cantik itu mengangguk.
"Kara harus bisa jaga diri, jangan mudah percaya sama asìng. Mengerti?" Gadis itu kembali mengangguk patuh.
"Jika ada yang ingin dicari tahu, ditanyakan, atau penasaran, Kara tahu harus tanya siapa?"
Gadis itu mengangguk. "Yanda. Kara akan tanya sama Yanda."
"Pintar. Sekarang sini, tidur."
Kara beringsut, mendudukkan dirinya disamping Arsyad. Duduk di sofa panjang menghadap karah bulan yang tengah bersinar terang diatas sana. Kedua muda mudi itu memilih mengistirahatkan diri, setelah dirasakan cukup berbicara. Sepasang anak adam itu memang tertidur, namun salah satunya belum terlelap. Matanya masih terjaga, sambil meneliti sosok cantik yang sudah memejamkan mata disampingnya.
"Jadilah gadis yang kuat, Kara. Karena kamu, memiliki banyak rintangan diluar sana." Lirihnya.
"Suatu saat nanti, ketika aku tidak bisa melindungimu dari dekat. Aku harap, kamu akan bisa menjaga diri."
"Karena," Ucapan lelaki tampan itu terjeda sejenak.
"Aku jùga tidak bisa tinggal lebih lama. Ada yang perlu aku lakukan, agar masa depan kita terjamin dikemudian hari. Ada yang harus aku buktikan, untuk membuatku pantas bersanding denganmu, Kara."
Bukan soal tanggung jawab yang diberatkan kepada pundaknya, namun ada juga satu hal yang perlu dibuktikan kepada orang orang yang masih memandangnya sebelah mata. Kisahnya dengan sang istri, bukan seperti kisah Romeo dan Juliet yang tragis karena terhalang restu pula. Ia dan Kara sudah dizinkan bersatu oleh semesta, sengaja atau tidaknya. Namum pernikahan saja tak cukup membuat yakin pihak keluarga. Adanya kesenjangan sosial, juga status masa depan yang belum tergambar patut membuat keluarga Kara bertanya tanya.
Mampukah Arsyad menghidupi putri kesayangan mereka dengan fasilitas juga frasarana yang memadai? Juga, pantaskah Arsyad bersanding dengan Kara yang sejak lahir namanya sudah diincaŕ puluhan yakuza, mafia, pembunuh bayaran yang tak kasap mata? Mampukah, bisakah, atau dapatkah, semua lontaran kata kata itu tentu harus dijawab oleh Arsyad melalui bukti yang nyata, real dan tentunya memuaskan.
Karena ini bukan cuma tentang harta, tahta juga wanita semata. Tapi tentang seorang suami yang dituntut tanggung jawabnya. Suami muda yang bahkan usianya belum genap menginjak 19 tahun, namun beban yang diembanya cukup berat dari berbagai penjuru. Keep strong bang Arsyad, kamu pasti bisa.
****
TBC
Holla, Yanda updateee👐
Uwuuuu, gimana readers?? komentarnya buat part ini gimana? Ada yang dag dig dug serrr? atau melelehhh gitu?? kalau aku sih, jangan ditanya lagi pas nulis sama revisinya. Mesem mesèm sendiri dah aku😆
Hayoo, kalau readers gimana? parti ini 2000-kata lebih. Puanjang gak?? puas gak??
Jawab ya, aku ngerevisi part ini sama GG dalam keadaan mati lampu. Jaringan juga buruuk alias ❌ Jadi MAAF kalau UPDATENYA TERLAMBAT🙏🙏
Happy Desember pokoknya buat All readers, apalagi yang ultahnya bulan ini. Selamat.
Jangan lupa like jika suka, vote jika ihklas, dan follow jika berkenan. Terimakasih💋
Salam dari Yanda jodohku❤
Eh, jodohnya ini😔
__ADS_1
Sukabumi 01 Des 2020