
📚.54-Duka
"Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa kecuali dengan izin Allah SWT." (Q.S At-tagabun/64:11)
****
Meja makan yang diisi oleh beberapa orang tersebut, terlihat sangat ramai. Berbagai menu yang tersaji di atas meja sudah ludes di lahap, berpindah kedalam perut. Menyisakan piring-piring kotor yang berakhir di tempat cuci.
"Mau kemana lo?"
"Keluar. Sepet nih bibir, mau nge-"
"Lo ngerokok?"
"Enggak. Gue keluar mau ngemil ini." Tunjuknya pada sebuah tube kecil berisi bola-bola kecil berwarna-warni.
"Apaan tuh?"
"Permen karet. Curigaan banget lo dek."
Aroon mengangguk paham, lantas membiarkan kembaran tertuanya itu berlalu. Ia pikir Davin hendak merokok, nyatanya kembarannya itu tidak demikian. Dia cuma mau mewanti-wanti para kembarannya, agar tidak mendekati batang nikotin yang bisa membuat candu tersebut.
"Eh, Davin mana?" Tanya Davian.
"Noh, di luar."
"Owh. Pasti mau nyebat dia."
"Seudzon lo. Dia itu mau makan permen karet." Davian mengangguk faham.
"Owh, kalau gitu gue deh yang mau nyebat. Sepet nih mulut." Kekehnya, sambil berlalu.
"Eh, apa lo bilang?"
"Gue nyebat dulu."
"Jangan bercanda lo Dav, nanti mamah marah kalau lo ngerokok." Kesal Aroon, namun tak diindahkan oleh Davian.
"Udah, biarin. Lagi pula Davian gak ngerokok kok." Arsen datang menengahi.
"Hm."
"Yang lain kemana?" Tanya Arsen.
"Om Van'ar sama tuan rumah ke ruang tengah. Kalau bang Arsyad noh, lagi duduk sama istrinya." Tunjuk Aroon, sambil menunjuk sejoli yang tengah duduk di ayunan dekat kolam ikan Koi.
"Kalau Arra?"
"Tèh Arra....?" Aroon celingukan, mencari si empunya nama.
"Ke atas kali, salat dzuhur."
Arsen mengangguk, sambil menata piring kotor yang tersisa, untuk ia bawa ke dapur.
"Mau dibawa kemana bang?"
"Cuci." Jawab Arsen santai.
Aroon tersenyum tipis, sahabat satunya ini memang paling mengerti. Dia juga terbiasa hidup mandiri dan melakukan segalanya sendiri. Didikan yang benar, membuat Arsen selalu dewasa dalam setiap kesempatan.
"Eh?" Lirih Arsen, saat melihat seseorang sudah terlebih dahulu berada di balik tempat pencuci piring.
__ADS_1
Sambil bersiul kecil, lelaki itu terlihat menikmati setiap kegiatannya. Mencuci piring, membilasnya dengan bersih, lantas menyimpannya di rak agar kering. Arsen bisa melihat semua itu. Padahal ia pikir, jenis anak sultan seperti dia akan menja dan tidak bisa apa-apa. Tapi hari ini, sudut pandangnya terpatahkan.
"Lo gak seburuk yang gue kira." Batin Arsen, sambil tersenyum tipis.
📚📚📚
"Yanda mau lihat?"
"Boleh."
Gadis cantik yang duduk di sampingnya itu tersenyum senang. Dengan gembira, ia memperlihatkan gambar-gambar yang ia maksud.
"Buku gambarnya ada di mansion Papih. Lain kali, Kara bakal bawa ke rumah."
Arsyad tersenyum sambil mengangguk. Kedua sejoli tersebut tengah duduk di atas ayunan saat ini. Menghadap ke arah kolam ikan Koi, sambil berbincang-bincang soal hobby sang istri selama mereka LDR-an.
"Yanda?"
"Hm."
"Tahun ini yanda lulus SMA, yanda mau lanjutin study di mana?" Tanya Kara tiba-tiba.
Arsyad terhenyak, tentu pertanyaan itu membuatnya terkejut. Ya, dia memang belum memutuskan mau melanjutkan study kemana. Tapi yang pasti, pertimbangan terbesarnya adalah Kara. Istrinya, seseorang yang tentu harus ambil bagian dalam pertimbangannya mengambil tempat study nanti.
Cup
Kara mematung sejenak, saat sebuah kecupan singkat mampir di ujung hidung mungilnya. Alih-alih menjawab, Arsyad malah menjatuhkan satu kecupan mengejutkan tersebut.
"Di manapun aku melanjutkan study, yang pasti aku tidak akan meninggalkanmu." Jawab Arsyad, yang tentu membuat Kara tersenyum lebar.
"Terimakasih." Ucap Kara, sambil memeluk sang suami erat. "Kara bakal ikut kemanapun yanda pergi."
Arsyad mengangguk sambil membalas pelukan sang istri. Toh, menjalin hubungan jarak jauh seminggu saja sudah sangat berat. Apalagi harus meninggalkan sang istri bertahun-tahun lamanya. Jika pun kuat, maka ketika kembali akan ada sesuatu yang tak sama lagi nanti.
Drrrtt
Drrrtt
"Biarkan saja." Jawab Arsyad, belum rela melepaskan sang istri dari pelukannya.
Drrrtt
Drrrtt
"Yanda, itu telphone dari bunda." Ujar Kara lagi, yang membuat Arsyad langsung melonggarkan pelukannya.
"Kamu bilang apa barusan?"
"D-ari bunda. Apa lagi?" Cicit Kara kecil.
Arsyad tersenyum tipis, kala mendengar sang istri memanggil wanita yang telah melahirkannya dengan embel-embel bunda. Ia senang, istri kecilnya itu mulai bisa menerima segalanya.
"Ayo angkat, yanda." Ujar Kara. "Nanti bunda-"
Cup
Kara lansung melotot, saat satu kecupan kembali di curi oleh Arsyad. Kecupan singkat yang mampu membuat rona merah menjalar di pipinya.
"Lucu." Lirih Arsyad, sambil mengguyar pucuk kepala sang istri. Ia begitu gemas jika melihat sang istri merona begini. Ekspresinya itu, terasa lucu juga menggemaskan sekaligus. Ekspresi yang mampu membuat sisi datarnya perlahan berkurang.
"Aku angkat telphone dulu." Ujar Arsyad, sambil beranjak.
Kara mengangguk kecil, tak berani menatap mata Arsyad. Hari ini, lebih dari sekali Arsyad membuat jantungnya terlunta-lunta. Sungguh, ia rasa bisa saja terkena serangan jantung tiap kali diperlakukan demikian.
__ADS_1
"Waalaikumsalam, iya. Kenapa bunda?"
Kara beranjak, mendekati sang suami yang baru saja selesai menerima panggilan dari bundanya. Nampak perubahan raut wajah yang signifikan padanya. Kara bisa menangkap hal tersebut. Pasti ada yang tidak beres.
"Yanda, ada apa?" Tanyanya, sambil menyentuh lengan sang suami.
"Kita harus pulang."
"Pulang? Tapi-"
"Opa meninggal."
Kara tak lagi membuka suara. Ia manut saja saat sang suami membawa dirinya menemui yang lain. Padahal akhir pekan ini, sudah banyak planning yang disusun. Tapi apa boleh buat, kabar duka kembali menyelimuti keluarga besar Radityan.
Selepas dzuhur, mereka semua langsung kembali ke kediaman Radityan. Kabar berpulangnya salah satu anggota keluarga Radityan langsung tersebar. Para tetangga, kerabat, rekan sejawat juga teman dekat dari keluarga Radityan mulai berbondong-bondong bertakziah ke kediaman duka. Ibra Radityan, berpulang di usianya yang hampir mencapai usia sembilan puluh tahun. Setelah hampir 19 tahun hidup seorang diri, Ibra akhirnya menyusul sang istri yang telah berpulang lebih awal.
Bahkan Halim dan Salma--orang tua Arkia juga sudah berpulang sebelum Ibra. Pensiunan anggota TNI tersebut meninggal tanpa adanya gejala apapun. Ibra juga tidak sakit apapun, sebelum berpulang ke rahmatullah. Ia di temukan sudah mendekati sakaratul maut, ketika selesai salat dzuhur oleh Vano, putranya. Dengan bantuan Vano pula, Ibra di tuntun mengucap dua kalimat syahadat ketika sudah mendekati akhir hidupnya. Di hadapan putra, menantu, cucu, juga cucu menantunya, Ibra menghembuskan nafas terakhirnya setelah salat dzuhur.
Selepas kepulangan para cucu juga cicit Radityan bersama Dimas dan Sayla, jasad Ibra langsung di mandikan juga di salatkan. Vanya--suadari Vano yang tinggal di Ohio juga sudah di beri tahu. Tentu, semua ini sangat membuat Vano maupun Vanya terpukul. Akan tetapi, semua itu harus di tanggapi dengan lapang dada dan ikhlas. Selepas ashar, para keluarga juga kerabat dari luar kota sudah mulai berdatangan. Sedangkan kerabat dari luar negeri, paling lambat akan datang besok pagi.
Oleh karena itu, jenasah Ibra akan di malamkan. Mengingat putrinya belum tiba di tanah air. Lantunan surat yasin beradu dengan tangis, menggema di ruang tengah keluarga Radityan. Mereka ikhlas, melepas keluarga mereka. Mereka juga tidak mau almarhum hidup kesepian lebih lama lagi, sepeninggalan sang istri.
Kemelut duka amat kental terasa. Para pelayat juga merasakan kehilangan sosok Ibra yang di kenal baik dan ramah terhadap sesama. Namun, takdir-Nya terberkata demikian untuk hari ini. Ibra, harus kembali kepada sang pencipta. Di iringi oleh para anak, cucu, cicit, menantunya, juga lantunan kalimat tauhid, pagi harinya mereka menghantarkan ibra pada peristirahatan terakhirnya.
Tanah merah menjadi peristirahat terakhir pria yang menjadi cikal bakal keluarga Radityan tersebut. Di taburi dengan kelopak bunga segar, lantunan ayat suci al-Qur'an, juga tagis penuh keikhlasan. Mereka menghantarkan kepala keluarga inti Radiyan tersebut.
"Opa, selamat jalan. Semoga Opa bisa bertemu dengan Oma di sisi tuhan." Lirih cicit tertua di keluarga Radityan.
Arra--gadis cantik tersebut tentu ikut merasa kehilangan. Selain Van'ar--cucu kesayangan Ibra, maka Arsyad dan Arra adalah cicit yang paling dekat dengan Ibra. Maka jangan salah, jika Arra merasa sangat kehilangan.
"Ini." Sebuah sapu tangah tersodor kehadapan Arra.
Gadis itu mendonggrak, melihat si empunya. Seingatnya, tadi ia minta di tinggalkan sendiri di tempat ini. Lantas, siapa pemilik sapu tangan putih berbordir sayap di salah satu ujungnya tersebut.
"Hapus air matamu, beliau tidak akan suka kepergiannya dihantarkan oleh tangis." Ucapnya.
"Beliau sudah tenang disana, ikhlaskan chèri. Karena ini sudah waktunya beliau berpulang."
Lelaki tampan berkoko putih itu tersenyum tipis, kala sapu tangannya di ambil oleh Arra. Setidaknya, ia merasa senang bisa melakukan sesuatu tanpa membuat gadis yang di panggilnya chèri itu ilfil. Sedangkan dari arah lain, seorang lelaki nampak berdiri mematung di dekat sebuah pohon bunga kamboja. Ia bisa melihat segalanya dengan seksama. Dan lagi, ia bisa menangkap satu langkah lagi lelaki itu mengalahkannya.
****
TBC
BCT update👐
Maaf kalau gak kena feelnya, karena aku nulis ini dengan keadaan kurang fit. Tapi, aku ngejar deadline harus up takut ketumpuk sama tugas. Ok, jadi jangan lupa like, vote, komentar, share juga follow jika berkenan. Maaf pendek🙏
Semoga semua orang sehat-sehat ya. Kita juga doakan saudara-saudara kita yang terkena musibah di semua belahan negri, semoga semuanya lekas membaik.
😷😷
Bonus, cast Gean⬇
Ini bang Arsen⬇
Ganteng kan😍😍 Pilih mana ciayooo??
Sukabumi 27 Januari 202
__ADS_1