Bukan Cinta Terencana (R3)

Bukan Cinta Terencana (R3)
. 59-Cicit Sulung Radityan


__ADS_3

📚. 59-Cicit Sulung Radityan



"Kami memang bersyukur, hadir dan tumbuh besar ditengah-tengah keluarga Radityan. Bukan saja soal harta, tapi kami bersyukur atas perjuangan mereka yang membuat kami ada, dan hidup dengan nyaman."-Davino Aroon Dee Prameswari


****


Upacara bendera hari senin, adalah kegiatan rutinitas yang selalu dilakukan oleh seluruh pelajar di bumi pertiwi ini. Termasuk para siswa/i SMA Dandelion. Ketika bel dibunyikan sebanyak lima kali, berarti itu tandanya jika upacara bendera merah putih akan segera di laksanakan. Namun, seorang lelaki tampan yang baru tiba di gerbang SMA Dandelion dengan nafas terengah-engah itu, agaknya melupakan fakta tersebut. Ia datang setelah beberapa menit berlalu sejak upacara bendera dimulai.


"Please dong pak, bukain pintunya. Saya cuma mau nganterin ini, kasihan-"


"Lah, ini sudah telat masuk sekolah toh. Masih ngotot mau masuk." Sergah satpam yang berjaga di gerbang yang telah tertutup beberapa menit yang lalu tersebut.


"Pak, sebentar saja. Ini punya-"


"Punya pacarnya ya kan?" Tebak satpam tersebut. "Kamu ini bukan anak sekolah ini? Pasti topi ini punya pacarmu yang bandel, gak bawa atribut lengkap kan?"


"Bukan pak. Ini, topinya gak sengaja jatuh pas-"


"Lah, percuma to. Upacara sudah dimulai, pacarmu itu pasti sekarang sudah di jemur didepan siswa siswi yang lain."


Lelaki tampan itu menghembuskan nafasnya gusar. Beberapa menit yang lalu, ia rela membayar ojol 10 kali lipat, demi menempuh perjalanan ketempat ini. Namum sayang, perjuangannya untuk mengembalikan topi kepada si empunya ini gatot alias gagal total.


"Lagian, kamu ganteng gini. Seragamnya hitam putih, pake balok dibahu, kenapa-"


"Ini seragam pilot pak, asal bapak tahu." Selanya.


"Owalah, pilot to! Jadi, kamu ini anak penerbangan?" Gean mengangguk samar. "Lah, terus kenapa kamu kesini bawa-bawa topi segala?"


"Astaga naga!" Gean berujar lirih. "Si bapak pasti udah pikun nih, perasaan tadi udah gue jelasin."


"Saya mau nganterin topi pacar saya pak." Ujarnya penuh penekanan. "Topi pacar saya ketinggalan."


"Oh, topi pacarnya."


"Iya pak. Jadi, saya boleh masuk nih?"


"Wetss, gak semudah itu anak muda."


"Hah?" Gean melongok hebat.


"Sini topinya, biar saya saja yang sampaikan ke pacar kamu. Kamu pergi gih, sekolah yang bener. Biar kesampean jadi pilot."


"Astagfirullah. Bunda, Algean mimpi apa semalam." Batin Gean dalam hati.


"Mau ndak?" Gean nampak berpikir sejenak.


"Gimana? Kalau ndak, saya-"


"Eh, eh, mau pak."


"Yakin?"


"Iya. Soalnya saya juga mau ke luar negri sore ini, takut lupa."


"Walah, mau LDR-an toh."


"Heh? Bapak sotoy deh."


"Lah, memang mau LDR-an kan? Hubungan jarak jauh gitu. Kayak saya sama istri di kampung, LDR-an." Tutur Satpam tersebut, kental dengan adat jawanya.


"Udah, gak beres nih." Batin Gean.


"Jadi gimana, mau ndak dititipin itu topinya?"


"Iya. Ini, sapa titip topi pacar saya." Ujar Gean.


'Keterusan boong kan? Tapi gak papa lah.' Batinnya.


"Jangan sampai kotor, ilang, apalagi ketuker. Itu, saya bawanya pake perjuangan loh pak."


"Iya, tenang saja. Amanah kamu aman ditangan saya."


Gean tersenyum tipis, sambil merogoh saku celananya. "Nih, buat bapak beli rokok."


"Eh, gak usah. Saya gak ngerokok."


"Ya sudah, buat makan deh. Bapak pasti makan kan?"


"Ya iya dong, saya kan manusia."


"Ya sudah, ini. Ambil pak."


"Gak kebanyakan ini?" Gean menggeleng cepat.


"Enggak. Itung-itung balas kebaikan bapak yang mau dititipin amanah saya." Ujar Gean, sambil menyodorkan uang pecahan seratus ribu tiga lembar. "Kalau begitu saya duluan pak."

__ADS_1


"Iya."


"Jangan lupa pak, amanahnya. Jangan salah alamat."


"Oke, siaaap."


Gean mengangguk, lantas berbalik arah setelah menitipkan topi yang tanpa sengaja pujaan hatinya jatuhkan di minimarket tadi.


"Eh, den. Nama pacarnya siapa toh? Saya lupa. Masa mau kirim gak ada alamatnya?"


Gean berbalik, lantas tersenyum kecil. " Nama pacar saya, Arabelle Lumiera Humaira Rajapatni Az-zzioi."


"Jangan lupa, jangan salah alamat juga ya pak."


📚📚📚


Upacara bendera hari ini nampak berbeda, apalagi dengan kehadiran seseorang yang sedari tadi mencuri perhatian banyak mata. Tak terkecuali bagi para cicit-cicit Radityan yang ikut curi-curi pandang. Padahal, mereka cukup hafal siapa sosok tersebut. Sosok cantik pemilik manik nening nan teduh yang berdiri di jajaran para staf pengajar dan staf tata usaha.


Selepas upacara, para kelas XII digiriñg ke Aula. Sedangkan kelas X dan XI di intruksikan untuk kembali ke kelasnya masing-masih untuk memulai kegiatan bejar mengajar (***). Di ruang Aula, para siswa/i kelas XII mulai bertanya-tanya. Soal apa yang menjadi alasan mereka berada disini? Biasanya, jika ada sosialisasi dari pihak universitas, mereka akan diberi tahu sejak hari-hari yang lalu.


"Tes, tes." Bunyi suara percobaan dari mikropon diatas podium.


"Asalamualaikum warohmatullahi wabarakatuh."


"Waalaikumsalam warohmatullahi wabarakatuh." Jawab para siswa/siswi disana serempak.


"Selamat pagi anak-anak."


"Selamat pagi pak?!"


"Kalian pasti bertanya-tanya, kenapa kalian di kumpulkan di tempat ini. Hari ini, sekolah kita kedatangan tamu istimewa dari luar negeri. Tamu kehormatan yang kiranya akan memberikan inspirasi untuk kalian semua, selaku siswa-siswi kelas XII." Tutur guru yang berbicara di atas podium tersebut.


"Dia adalah pelajar termuda di salah satu universitas ternama di Amerika serikat." Tuturnya lagi, membuat para penghuni ruangan tersebut bertanya-tanya.


Namun, rasa kepenasaran mereka terjawab setelah seorang gadis berhijab syar'i berdiri di atas podium. Memberikan sambutan lewat suara halusnya, menuturkan alasannya ada di tempat ini. Pun memberikan motivasi bagi para siswa/i SMA Dandelion yang akan segera menyelesaikan masa putih abunya.


"Gila, tadi itu keren banget yang jadi pembicaranya. Denger-denger, dia itu gak ada niatan buat jadi pembicara. Tiba-tiba aja diundang sama kepsek, gitu."


"Masa? Faseh banget tadi bicaranya. Gak nyangka gue."


"Iya. Tadi, gue sempet nge-stalk akun IG-nya. Tapi aslian cuy, anak sultan."


"Sultan mana? Kerajaan brunney?"


"Bukan. Tapi, bapaknya CEO. Ibunya lawyer kenamaan gitu."


Si triple yang tanpa sengaja mendengar pembicaraan kakak kelas mereka itu, diam sejenak di tempatnya. Di antara kebisingan kantin sekolah, mereka mencoba menajamkan pendengaran mereka.


"Namanya siapa sih tadi? Penasaran gue sama mukanya. Dari nada bicaranya aja, udah lembuuut kek sutra. Matanya itu loh, meneduhkan diriku."


"Hiperbola cuy."


"Tapi dia memang cantik sih. Cantik pada taraf yang sewajarnya."


"Iya betul. Tapi namanya tadi siapa? Al, al, siapa gitu."


"Alea Ananta Rumi."


"Ho'oh. Alea, namanya aja manis gitu. Apalagi wajahnya yang ditutupin cadar itu." Timpal yang lainnya, disusil tawa renyah siswa yang lain.


"Ngerumpiin tèh Rumi." Lirih Aroon.


"Ho'oh. Mereka nge-ghibahin si tetèh." Timpal Davin.


"He'em. Untuk mereka bicarain yang bagus bagus, kalo kagak. Gue gibeg sekalian, berani mereka bicarain permata kita yang satu ini." Imbuh Davian, sambil melilirik gerombolan siswa kelas XII teresebut.


"Cabut." Ujar Davin.


"Mo kemana? Soto gue belum dateng." Ujar Davian.


"Ruang kepsek."


"Mau ngapain?" Giliran Aroon yang bertanya.


"Temu rindu sama bini." Ujar Davin sambil berlalu.


"Eh, calon bini lo kelas XI ya." Ujar Davian mengingatkan.


"Iya. Kalau ini, bini kesayangan." Ujar Davin sambil berlalu.


"Dasar." Gumam Aroon lirih.


📚📚📚


"Ya Allah, tadi tèh Rumi keren banget pembawaanya."


"Masa sih?"

__ADS_1


"Iya. Public speaking-nya Arra aja kalah."


Gadis berpenutup wajah itu tersenyum tipis. Hidapannya, ada dua saudara kembar dari pihak adik ayahnya. Sepupu-mungkin itu lah sebutan untuk keduanya. Sepupu yang usianya satu tahun lebih tua darinya. Namun, soal pendidikan ia satu langkah diatas mereka.


"Abang, nanti mau lanjut study dimana?" Tanyanya.


"Masih dipertimbangkan." Jawab si empunya nama.


"Abang sudah ada istri. Berat enggak bang?" Tanya gadis cantik tersebut, membuat si empunya nama tersenyum tipis.


"Tidak, karena menikah itu bukan beban." Jawab Arsyad.


"Subhanallah. Pokoknya, abang harus bisa melewati semua ini." Ujar gadis cantik tersebut.


"Pasti."


Ketiganya kini tengah berada di ruang kepala sekolah. Walaupun kepala sekolah SMA Dandelion sendiri tidak sedang berada di tempat. Ketiganya memiliki koneksi agar diperbolehkan untuk berbicara di tempat tersebut. Terutama karena mereka memang masih memiliki hubungan dekat dengan sang kepsek.


"Tèh?" Panggil si triple, yang berbondong-bondong memasuki ruangan.


"Hai?"


"Tetèh mau kunjungan ke sekolah kita kok gak bicara dulu?"


"Iya. Kita kan siap ngawal tetèh kalau diminta."


"Iya. Kita siap kok jagain tetèh." Ujar ketiganya berturut-turut.


"Ya Allah, ini pada kenapa sih? Aku kesini tadi sama papah." Ujar Alea, buka suara.


"Owh, sama bodyguard private." Kekeh Davian, hafal betul tabiat over protectif sang om.


"Kirain tetèh pulang pagi ini." Ujar Aroon, sambil mengambil tempat disisi Alea.


"Aku flight nanti sore kok."


"Kenapa gak lusa aja sih?" Tanya Davian, merajuk.


"Iya. Kita belum liburan bareng loh?" Timpal Davin.


Alea tersenyum tipis. Sejak kecil, ia yang notabenenya adalah cicit sulung, namun usianya satu tahun lebih muda dari Arsyad dan Arra. Ia memang dekat ďengan sepupu-sepupunya yang lain. Terutama si triple yang usianya tidak terlampau jauh dengannya. Sedangkan dengan Arsyad dan Arra, ia malah lebih menganggap mereka seperti kakak sendiri. Mereka memang jarang berjumpa karena bentangan jarak yang ada. Jikapun ada kesempatan saat libur semester, maka sang ayah akan over protectif membatasi destinasi liburannya.


"Insaallah , nanti kalau ada waktu kita liburan bersama."


"Tanpa om Anzar, titik!" Ujar Davian, menyuarakan pendapatnya.


"Mustahillamah. Om Anzar itu bodyguard privatenya tèh Rumi."


"Ho'oh." Ujar Davin dan Aroon bergantian.


"Memangnya kenapa sih kalau ada om Anzar? Om Anzar itu baik loh." Sela Arra, bersuara.


"Iya, baik sama tèh Arra." Aroon menjawab.


"Om Anzar itu pilihkasi. Baiknya cuma sama teh Rumi dan Arra doang." Davian ikut menimpali.


"Iya sih, tapikan-"


"Ya, tetap saja. Om Anzar jangan ikut." Davian kekeuh dengan pendiriannya, membuat yang lain tersenyum tipis juga tertawa.


Para putra putri Radityan memang memiliki cara tersendiri untuk menjaga putra-putrinya. Dengan tatanan, juga arahan yang sesuai dengan syariat agama yang baik dan benar, mereka menjaga juga mendidik putra-putrinya dengan disiplin. Agar kelak, mereka dapat tumbuh menjadi putra-putri Radityan yang tangguh, disiplin, soleh/solehah, juga memiliki tujuan hidup yang benar, tertata dan dapat bermanfaat bagi hajat orang banyak.


Begitupun dengan si cicit sulung Radityan, Alea. Putri sematawayang seorang CEO ternama dan lawyer ternama. Putri kesayangan yang hadir sebagai bukti buah cinta keduanya. Sempat mengalami yang namanya kehilangan, membuat kedua orang tuanya selalu menjaganya dengan ketat. Terutama sang ayah, Keevanzar Radityan Al-faruq. Pria yang menjaga putrinya dengan segenap jiwa dan raga, walaupun ia disebut ayah over protectif, over possesive, dan sebagainya. Toh, ia melakukan semua itu demi menjaga putrinya.


Dan kini, ada para Cicit Radityan juga yang saling menjaga satu sama lain. Terutama Arra dan Alea, keduanya akan selalu terjaga oleh pandawa dari keluarga Radityan generasi 4.


****


TBC


BCT update👐


Hayoo.... yang nunggu up, apa kabar?


Gimana? rindu sama Yanda? Kara? Arra? triple? Arsen? Gean? atau Alea yang tiba-tiba muncul?


Gimana nih buat part ini komentarnya?


Masih bertanya-tanya soal jodoh Arra? jangan dibuat penasaran, karena jodoh Arra nantiiii munculnya. Santai aja😋


Maaf lama gak up, aku sibuk sama sekolah. Tencu buat yang masih sabar nunggu dan selalu support aku. ILYSM😍


Buat part ini mungkin segini dulu, maaf pendek. Jangan lupa like, vote, komentarrr, share dan follow aku. IG Karisma 022, atau wttp @nengkarisma. Itupun jika berkenan😙


Jangan lupa mampir ke TENDEAN jika sempat👐


__ADS_1


Sukabumi 11 Feb 2021


__ADS_2