Bukan Cinta Terencana (R3)

Bukan Cinta Terencana (R3)
120. Terbang Ke Istanbul


__ADS_3

120. Terbang Ke Istanbul


“Kenapa nggak boleh ikut sih, ma?”


Laki-laki muda yang tengah menikmati es loli buah yang terbuat dari buah segar seperti semangka, nanas, serta kiwi yang diblender kemudian dibekukan itu tampak sedih. Ia kemudian mencomot satu potong Korean fish cake yang disajikan dengan bala-bala (bakwan dalam bahasa sunda) serta tempe mendoan yang masih hangat. Dicocol ke saus sambal berwarna merah yang pasti terasa pedas.


“Kamu baru lima hari pulang ke sini, Dav. Masa mau pergi lagi? Kamu tega sama mama?”


“Lah, kan, Dadav cuma pergi bentaran doang. Nganter abang sama mbak.”


“Kamu nganter ke Timur Tengah loh. Bukan jarak dekat yang dapat ditempuh dalam waktu singkat.”


“Aish, mama,” ucap laki-laki muda itu lesu.


“Lihat, mama sekarang lagi jahitin jas sama baju batik seragam buat kamu. Nanti bajunya sama kayak punya Davin sama Aroon.” Alih-alih menghiraukan protes sang putra, Lunar memilih fokus pada mesin jahit yang tengah ia operasikan. Sedangkan sang putra sibuk memelas di depan sana.


Si tengah sudah merengek seperti anak kecil semenjak kemarin. Ia katanya mau minta izin pergi lagi. Dengan alasan izin mengantar Arsyad dan sang istri ke Istanbul, Turki, putranya itu pasti sudah punya rencana untuk pergi lagi. Lunar hanya belum ingin membiarkan sang putra pergi lagi. Anaknya yang satu itu, entaha kenapa ….Lunar tidak mau membiarkannya pergi untuk saat ini.


“Dadav janji akan kembali lagi. Izinin ya, ma?”


“Tidak.”


“Sebentar doang, ma. Dadav juga mau silaturahmi ke Ankara. Tahun lalu pas keluarga liburan ke Turki, terus singgah ke Ankara, Dadav kan nggak ikut.”


Lunar langsung menghentikan aktivitas menjahitnya. Tahun lalu sebagian anggota keluarga Radityan memang berlibur ke Turki saat libur nasional. Saat mengunjungi Negara tersebut, mereka sempat berkunjung ke Ankara, selain ke Istanbul. Di Ankara mereka menghabiskan beberapa malam untuk menginap di bekas rumah yang dulu ditinggali oleh Vano dan Arkia. Lunar juga sempat mengajak kekasih Davin dan Aroon untuk ikut liburan bersama ke Turki. Cuma Davian yang tidak ada, karena memang Davian tidak pulang ke Indonesia. Davian pasti tahu tentang liburan itu lewat potingan calon kakak dan adik iparnya. Mereka memang sempat membagikan beberapa potret liburan di Turki ke media sosial masing-masing, sebagai kenang-kenangan.


“Mama coba pikir-pikir lagi aja. Dadav mau ikut karena pertama mau mengantar bang Arsyad dan mbak Kara. Bodyguard aja nggak cukup buat ngantar dan ngawal mereka. Dari dulu Dadav sama Astro yang selalu melakukan tugas itu. Gimana kalau, naudzubillah, ada apa-apa sama abang Arsyad dan mbak Kara?”


Lunar memilih tutup mulut. Ia tampak ragu untuk menjawab perkataan sang putra.


“Kedua, Dadav juga mau silaturahmi sekalian wisata religi. Selama ini Dadav fokus kejar pendidikan sama kerja, sampai jarang ada waktu buat menikmati waktu luang. Kalau mama mengizinkan Dadav mengunjungi Turki, Dadav akan sangat senang sekali.”


Lunar menarik napas dalam, kemudian menghelanya perlahan-lahan. “Kamu benar-benar mau pergi ninggalin mama, ya?”


Davian menggelengkan sepala seraya tersenyum manis. “Nggak kok. Masa Dadav tega sih ninggalin mama.”


“Ok. Kalau gitu Dadav harus janji satu hal sama mama.”


“Iya?”


“Dadav harus pulang dengan selamat, ok? Pulang ke sini, ke mansion Radityan. Bukan pulang ke tempat yang lain.”


Lunar menatap sang putra dalam seraya merah salah satu tangan Davian untuk digenggam. Sulit bagi Lunar untuk melepaskan sang putra yang baru lima hari kembali ke dekapannya. Kini, putranya sudah ingin pergi lagi. Sebelum ini, Davian juga sempat minta izin pada sang papa agar diperbolehkan pergi. Namun, laki-laki itu menyerahkan semua keputusan pada sang istri. Toh, Lunar adalah ibu Davian. Ia yang memiliki lebih banyak hak soal mahluk yang dulu dititipkan dalam rahimnya selama Sembilan bulan.


“Davian janji, ma. Davian akan pulang dengan selamat ke rumah ini.”


**

__ADS_1


“Lo beneran mau pergi?”


Laki-laki yang menggunakan Pakaian Dinas Harian Satu atau PDH I itu bertanya seraya mengambil ikat pinggang warna hitam dengan lambang TNI dari dalam laci.


“Iya. Kenapa? Masih kangen?” sahut laki-laki yang tengah memasukkan beberapa potong baju ke dalam ransel hitam.


“Hm. Kenapa lo bersikeras ikut sih? Kalau mau liburan ke sana mah, bisa nanti aja bareng gue atau Aroon.”


“Ngga deh, bang. Lo, kan, sibuk di kesatuan. Aroon juga sibuk sama kerjaan dia, gue nggak mau nganggu.”


“Nganggu apaan?” ketus laki-laki dengan PDH I yang sekarang tengah menggunakan penutup kepala atau baret harian seraya berkaca.


Pakaian Dinas Harian satu atau PDH I adalah baju dinas lengan pendek yang digunakan untuk bekerja sehari-hari dalam ruangan, kompleks, kantor, asrama, dan instansi lain. Selain itu dapat juga digunakan untuk mengikuti pelajaran yang bukan bersifat lapangan, perjalanan dinas dalam negeri, rapat, ceramah, pertemuan kedinasan, dan sebagainya. Atau dapat juga digunakan saat peresmian atau launcing kantor, museum, ksatrian, kapal, tugu peringatan dan bangunan lainnya. Termasuk juga upacara pembukaan atau penutupan, kursus dan pemberhentian tidak dengan hormat (BTDH) anggota TNI.


Untuk kelengkapan PDH I sendiri, antara lain penutup kepala berupa baret atau peci harian angkatan, ikat pinggang hitam dengan lambang TNI, sepatu harian, kaus kaki harian, serta tas PDH. Untuk menunjang kelengkapan PDH I, digunakan pula atribut berupa papan nama ebonit, tanda pangkat harian, tanda jabatan logam, badge lokasi atau kesatuan berwarna, tanda kualifikasi atau kemahiran atau korps logam, dan tanda jasa pita.


“Jangan pergi. Bisa?”


Davian yang tengah menarik riseleting ransel langsung terdiam. Ia menag tidak berniat membawa banyak barang, jadi tidak memerlukan koper. Ia hanya membawa beberapa potong baju yang kemudian dimuat dalam satu ransel.


“Nggak,” sahut Davian tanpa pikir panjang. “Gue mau pergi healing.”


“Healing bisa di dalam negeri. Mau di pulau Jawa, Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, nggak kalah kok sama di luar negeri.”


“Orang-orang pada kenapa sih?” sebal Davian. “Lo juga kenapa bang? gue mau pergi biasanya juga nggak dipersulit. Lah, ini….”


“Ya sudah.”


“Ya sudah apanya?” bingung Davian.


“Pergi,” kata Davin seraya memastikan tampilannya sekali lagi. “Tapi, berjanjilah untuk kembali.”


Davian mengangguk tanpa ragu. “Gue pasti akan kembali lagi ke sini.”


Keputusan Davian untuk pergi sudah bulat. Jika ia sudah memutuskan, tidak ada seorang pun yang dapat menghalangi jalannya. Davian memang keras kepala orangnya. Namun, sifat itu juga yang telah melatih dirinya agar tumbuh menjadi laki-laki dengan tampang humoris, namun bertabiat sadis.


Sebenarnya bukan tanpa alasan Davian ingin pergi ke Turki. Ia hanya merasa harus pergi mengawal Arsyad dan sang istri. Ditambah lagi Davian ingin menemui seorang teman. Teman lama yang selalu ia sapa lewat dunia maya. Jadi selama ada kesempatan, kenapa tidak Davian kunjungi saja ke sana. Temannya itu selama ini banyak membantu Davian dalam bertransaksi di pasar gelap internet.


“Kalau sudah tiba di bandara Istanbul Atatȕrk, jangan lupa hubungi mama, ya?”


“Iya, ma,” jawab laki-laki muda yang menggendong ransel hitam itu dengan senyum tipis tercipta di bibir.


“Pulanglah dengan selamat. Kamu belum sempat berkunjung ke Bandung, tapi sudah mau pergi lagi.”


Kini giliran laki-laki dengan setelan jas dari brand Executive yang melangkah maju. Menyentuh bahu sang putra seraya berkata demikian.


“Pasti, pa. Lagian Dadav juga kangen main ke Bandung. Kangen jajan cakwe, seblak, surabi, sama kawan-kawannya.”

__ADS_1


Arkan tersenyum kecil seraya mengangguk. “Kamu harus cepat pulang, karena rumah sepi tidak ada kamu.”


“Siap Captain!” seru Davian mantap seraya mengacungkan ibu jarinya.


“Sudah siap?” tanya Arsyad yang datang menghampiri bersama sang istri.


“Siap, bang.”


“Hm. Sebentar lagi pesawat yang kita naiki boarding,” katanya seraya melirik jam di pergelangan tangan kiri.


“Good morning, ladies and ganleman. His is a pre-boarding announcement for passengers of Garuda Airlines on flight number 432B to Istanbul, Turki. We would like to invite those passengers with small children and any passengers who require special assistance to start boarding first. Please have your boarding pass and identification ready. Regular boarding will start in approximately ten minutes. Thank you.”


(Selamat pagi, penumpang sekalian. Ini adalah pengumuman pre-boarding untuk penumpang Maskapai Garuda Airlines dengan nomor penerbangan 432B tujuan Istanbul, Turki. Kami mengundang para penumpang dengan anak kecil dan penumpang yang membutuhkan bantuan khusus untuk melakukan boarding terlebih dahulu. Mohon persiapkan pas naik dan identitas anda. Boarding regular akan mulai dalam waktu sekitar sepuluh menit. Terima kasih)


Pre-boarding Announcement atau pengumuman yang ditujukan untuk penumpang yang membawa anak kecil dan penumpang berkebutuhan khusus terdengar menggema dari pengeras suara. Airport Announcement (pengumuman di bandara) barusan memberikan informasi pada penumpang yang membawa anak kecil dan berkebutuhan khusus untuk melakukan boarding (masuk pesawat) yang seolah-olah membenarkan ucapan Arsyad.


“Barang bawaan kamu cuma itu saja?” Arsyad melirik ransel hitam juga tas yang berisi laptop.


“Iya, bang. Ini doang.”


“Sudah dicek ulang?”


Davian mengangguk. Ia sudah mengecek barang bawaannya yang tidak seberapa itu berulang kali. Jadi, tidak perlu risau lagi.


“Barang bawaan Dadav sedikit sekali,” komentar istri Arsyad yang tampil cantik dan anggun dalam tweed dress berwarna coral dari seharga 7 juta rupiah dari brand BAU atau Bride And You.


“Iya, mbak. Seperlunya saja. Nanti kalau kurang, bisa beli di sana.” Davian berkata seraya tersenyum lebar. Tak lama, Airport Announcement kembali terdengar. Membuat Davian, Arsyad, serta Kara harus segera bersiap untuk melakukan boarding.


“Dadav pergi dulu, ma, pa,” pamit Davian seraya mengecup punggung tangan orang tuanya bergantian. “Mama sama papa tidak perlu cemas, Dadav pasti pulang dengan selamat.”


Janji itu kembali diutarakan Davian agar kedua orang tuanya tenang. Terutama sang ibu yang tampak berat melepas kepergiannya.


**


TBC


SELAMAT DATANG KEMBALI UNTUK READER YANG SELALU SETIA MENUNGGU 💙


BCT UPDATE LAGI SETELAH HAMPIR 1 BULAN HIATUS. MASIH MAU BACA NGGAK NIH?


RENCANA PART BCT TINGGI BEBERAPA PULUH BIJI LAGI. BISA SAMPAI 20 ATAU KURANG.


HARI INI DOUBLE UPDATE YA.


JANGAN LUPA LIKE, VOTE, KOMENTAR, FOLLOW AUTHOR, TABUR BUNGA SEKEBON 💐💐💐


Sukabumi 29-07-22

__ADS_1


__ADS_2