
📚.62-Yanda Cemburu?
"Cemburu itu tanda jika memang hati mengklaim kamu adalah miliknya."-Arsyad An-nass Senopati Az-zzioi
****
Suara lantunan ayat suci al-Qur'an yang merdu itu, nampak menggema di setiap penjuru ruangan. Seorang lelaki nampak begitu menghayati tiap ayat yang ia baca. Sedangkan di sampingnya, ada sang istri yang tengah mendengarkannya dengan seksama. Ketika lelaki tampan itu mengakhiri bacaanya, ia pun beralih menatap sang kekasih halal. Wanita cantik yang mengenakan mukena itu nampak menatapnya penuh binar.
Cup
Satu kecupan ia daratkan di kening istrinya cukup lama. Memberikan kesungguhan lewat tindakannya tersebut. Sedangkan istrinya, membalas dengan mengecup punggung tangan sang suami.
"Yanda?"
"Hm."
"Apa papih ada telphone yanda hari ini?" Tanya Kara, saat ia selesai membenahi alat salatnya.
"Tidak."
Kara mengangguk, lantas beranjak untuk menyimpan peralatan salatnya. Arsyad yang penasaran akan maksud sang istri bertanya demikian, akhirnya kembali bertanya.
"Ada apa hm?"
Kara menggeleng, lantas beralih menatap Arsyad.
"Ada yang menganggu pikiranmu?"
"Enggak kok."
"Ada yang kamu sembunyikan?" Tanya Arsyad to the point.
"Itu, Kara-"
"Tatap aku, Kara." Kara mendongrak, menatap lawan bicaranya seksama.
Cup
"Aku pernah bilang, jangan jadikan ini sebagai alat untuk berbohong." Ujar Arsyad sambil menyentuh bibir Kara dengan ibu jarinya. Tempat dimana ia baru saja menjatuhkan satu kecupan.
Kara tentu tertegun akan tindakan tiba-tiba tersebut. Ia terlalu terkejut akan skinship tiba-tiba tersebut. Rona merah nampak menghiasi kedua pipinya.
"Kara?"
"Eh, iya." Kara menjawab lirih, mencoba menormalkan degup jantungnya.
"Ada apa?"
"Itu, besok. Kara mau pergi sama Dylan."
Arsyad menyerngit bingung. "Kemana?"
"Surabaya."
"Mau apa?"
"Itu, Dylan bilang kalau Papih kangen sama Kara."
"Bohong." Ujar Arsyad, sambil menyentuh pinggang sang istri. "Berapa kali aku bilang, jangan bohong. Atau," Arsyad menjeda sejenak.
__ADS_1
Kara menelan salivanya susah payah. Jika sudah berbicara dengan nada mengintimidasi seperti ini, dia bisa apa? Yanda-nya itu, paling tidak bisa ia abaikan jika sudah menggertak.
"Ada apa?"
Kara menghembuskan nafasnya gusar. Ia memang harus jujur, karena Arsyad tidak suka jika dibohongi. "Em, sebenarnya Dylan ajak Kara ke Surabaya buat dinner."
"Dinner?" Ulang Arsyad penuh penekanan.
"I-ya. M-aksud Kara, dinnernya itu cuma formalitas, yanda."
"Kalian dinner berdua?" Kara mengangguk ragu. Tapi memang benar, Dylan mengajaknya untuk dinner berdua di salah satu caffe ternama milik lelaki itu, yang terletak di Surabaya.
"Kamu lupa statusmu?"
Deg
Kara menunduk, takut akan tatapan penuh intimidasi dari sang lawan bicara. Arsyad yang sekarang, berbeda dengar Arsyad yang beberapa menit lalu mengaji untuknya.
"Kamu tahu apa hukumnya bermusafar dengar pria lain, ketika statusmu sudah menikah?"
"Yanda, Kara-"
"Hukumnya haram." Sela Arsyad mulai naik tensi. "Dan kamu mau melakukan itu, dengan cara berbohong?"
"Yanda,"
"Dengar, seharusnya kamu jujur Kara. Berpergian dengan lelaki yang bukan mahrom kamu itu tidak boleh. Aku sudah bilang kan?" Tanya Arsyad lagi, penuh penekanan.
"Kara, apa kamu dengar?"
Kara mendongrak, menatap lawan bicaranya seksama. Sejurus berikutnya, ia memegang kedua bahu sang suami sebagai tumpuan, agar kakinya bisa berjinjit dan memiliki tumpuan yang kuat.
Cup
"Sekarang, biar Kara yang jelasin. Yanda dengerin dulu, jangan menyela." Ujar Kara, setelah melakukan apa yang membuat Arsyad mematung.
Gadis cantik yang mengenakan dress rumahan berwarna salem itu baru saja menjatuhkan satu kecupan singkat pertamanya di pipi kanan sang suami. Tindakan yang nyatanya mampu membungkam si empunya. Walaupun ia sendiri melakukannya dengan jantung berdegup kencang.
"Dylan ngajak Kara dinner buat cari tahu soal tanangannya. Dyland dapat laporan, kalau tunangannya selingkuh sama salah satu barista di caffenya Dylan."
"Dylan minta bantuan Kara buat nyelidikin informasi itu. Kalau yanda tanya kenapa harus Kara, karena cuma Kara saudara perempuan yang Dylan punya." Tutur Kara panjang lebar.
Arsyad yang mendengarkan penuturan sang istri itu hanya diam saja, tanpa banyak komentar. Seperti permintaan Kara, ia juga tidak menyela barang sedikipun. Lelaki tampan itu tetap diam tak berekspresi.
"Yanda?"
"Yanda kenapa diam terus?" Tanya Kara, mulai tak nyaman dengan respon sang suami.
"Yanda marah ya?"
"Hm."
"Yanda beneran marah?" Tanya Kara membenarkan.
Lelaki tampan itu tak menjawab, namun ia memilih merengkuh tubuh mungil sang istri. Menjatuhkan kepalanya di dada bidangnya, agar tak ada jarak satu senti pun diantara mereka.
"Yanda beneran marah ya?" Bisik Kara kecil, sambil membalas pelukan hangat tersebut.
"Atau, yanda cemburu?" Cetus Kara, masih bertanya-tanya.
Arsyad tidak menjawab, ataupun memberikan respon apapun. Lelaki tampan itu juga tidak memahami sikapnya sendiri. Ia juga tidak tahu kenapa, ia tidak rela saat istrinya bilang akan dinner dengan lelaki lain. Padahal, mereka berdua saja belum pernah dinner berdua selama 2 bulan belakangan tinggal bersama. Arsyad cuma tidak mau hal itu terjadi, selama ia sendiri belum pernah melakukan hal tersebut bersama sang istri.
"Yanda benar, cemburu?" Tanya Kara, sambil melinggarkan pelukan mereka sejenak.
__ADS_1
"Cemburu itu tanda jika memang hati mengklaim kamu adalah miliknya." Jawab Arsyad dengan nada datar khas miliknya.
Kara tersenyum mendengarnya. Arsyad memang tipe lelaki yang to the point. Jika suka berarti bilang suka, jika tidak, ya bilang tidak. Seperti saat ini contohnya, ia bahkan tidak segan-segan untuk bilang cemburu, jika memang merasakannya.
"Memangnya yanda tahu apa itu cemburu?"
"Entah."
Kara tersenyum lagi. "Kalau gak tahu, terus kenapa yanda bisa bilang begitu coba?"
"Karena aku tidak suka kamu pergi dengan dia. Secara tidak langsung, cemburu menurut pengertianku adalah perasaan tidak suka jika milikku dekat, ataupun berhubungan dengan lelaki lain."
Kara dibuat bungkam oleh ucapan sang suami. Ia juga tidak tahu, jika suaminya itu bisa selalu berpikir logis tentang apapun yang ia rasakan. Cinta tanpa akal memang bisa gawat ujungnya. Untuk ukuran orang yang pertama kali berurusan dengan masalah asmara, Arsyad memang selalu berpikir logis tentang apa yang baru saja dirasakan olehnya.
"Aku cemburu, jadi jangan pergi." Ujar Arsyad sambil mengeratkan pelukannya kembali.
"Kenapa?"
"Karena aku tidak mengizinkan." Ujar Arsyad final. "Ingat, sebagai seorang istri, kamu harus menuruti perintah suami."
Kara tersenyum tipis dibalik pelukan sang suami. Sambil mengeratkan pelukannya, ia menjawab mantap. "Iya, Kara gak akan pergi."
Kara memang tidak berniat untuk melawan perintah Arsyad. Apalagi saat Arsyad sudah dengan gamblang mengutarakan kecemburuannya. Soal masalah Dylan, ia bisa mencari solusi lain nantinya.
Nyatanya semua kegiatan tersebut, tak luput dari sepasang insan yang tengah berdiri di ambang pintu.
"Ya Allah, mas. Itu, abang belajar dari siapa?" Tanya wanita yang berdiri diambang pintu yang sedikit terbuka tersebut.
"Abang kok bisa begitu?"
"Bisa bagaimana?" Tanya lawan bicaranya.
"Bisa romantis gitu. Padahal abang itu orangnya pendiam, cuek dan datar." Ujar wanita yang melahirkan Arsyad tersebut, terpukau akan kepiyawan putranya tentang satu hal ini.
"Itu sudah merupakan hal yang lumrah." Jawab pria tampan berseragam TNI tersebut, sambil menggandeng sang istri menuju kamar mereka sendiri.
Tadi, mereka tidak sengaja berhenti didepan kamar sang putra karena mendengar suara lantunan ayat suci Al-Qur'an. Bukan bermaksud menguping, hanya saja mereka tanpa sengaja menangkap obrolan berikutnya.
"Seorang lelaki itu, sedingin apapun sikapnya, mereka selalu bisa menemukan cara untuk menunjukan rasa kepemilikannya." Imbuhnya, ketika ia dan sang istri sudah tiba di kamar mereka.
"Kayak mas dulu, cuek tapi romantis."
Ayah tiga anak itu tersenyum tipis mendengarnya. Sambil menutup pintu, ia kemudian berbalik untuk menjatuhkan satu kecupan dipucuk khimar sang istri.
"Karena cuek tidak menutupi rasa sayangku padamu, dek."
Aurra mengangguk faham. Sekarang ia mengerti kenapa putranya bisa romantis walaupun sifat dan pembawaannya cuek dan datar. Itu karena ada darah sang suami yang mengalir pada putra mereka. Pada kenyataanya, walaupun terlihat cuek, datar, dan tidak banyak berekspresi, mereka tetap bisa romantis dan menunjukan rasa sayang kepada pasangannya dengan caranya sendiri.
****
TBC
Hallo, BCT update👐
Gimana..... ada yang nunggu lapak ini up?
Puas gak buat part ini? cung yang lagi berasa nostalgia? ayah sama anak, sama-sama cuek tapi romantis, masa? menurut readers, keromantisan Yanda-Kara bisa menyaingi kisah Van'ar-Aurra gak? cus.... komentanya ya....
Jangan lupa like, vote, share dan follow jika ikhlas. Masuk GC NT/MT juga di username author, biar gak ketinggalan info👐
Ok, jumpa lagi di part berikutnya❤
Sukabumi 23 Feb 2021
__ADS_1