Bukan Cinta Terencana (R3)

Bukan Cinta Terencana (R3)
.36-Amalan seorang Istri


__ADS_3

📚.36-Amalan seorang Istri



"Bahagia bukan berarti segalanya sempurna, bahagia adalah ketika kamu memutuskan untuk melihat segala sesuatu dengan sempurna."-Arsyad An-nass Senopati Az-zzioi


****


"Yuhuuu, pie pie pie. Manis manissee, seperrti yang bawa."


Suara melengking milik Davian, agaknya cukup membangungan seluruh anggota keluarga besar Radityan. Untung saja, ruang bermain para anak cucu Radityan itu didesain kedap suara, oleh karena itu mau sekeras apapun berteriak tidak akan menganggu orang diluar.


"Yuhuuu, pie spesial kayak kamu spesial dihatiku, eaaakk." Kekeh Davin jenaka.


"Martabak kali, spesial." Jawab Aroon yang sedang menggambar sebuah desain perumahan.


"Eh, bontot. Nyeletuk aee." Sinis Davin.


Lelaki berhoodie biru dongker itu berjalan lurus, mengarah kesepasang anak Adam yang tengah duduk berdua sambil membaca buku.


"Ekhem, warning. Dilarang dempet dempetan diruangan ini, hargai yang jomblo yang ngenes atuh." Ujarnya jail, sambil memisahkan kedua. Mencolek si gadis yang nampak masih serius membaca.


"Jangan pegang pegang." Delikan tajam plus suara datar itu agaknya cukup membuat dia merinding.


"Hehehe, maaf maaf. Yang udah halal mah bebas deh, mojok sana sini juga. Tapi hargain kita dong bang, jiwa jiwa jomblo meronta ini." Kesal Davian, ketika melihat Kara yang sedari tadi menempel pada Arsyad.


"Eh, Mia nelphone nih Dav?"


"Mia?" Radar playboy Davian langsung aktif seketika.


"Zahra juga nge-DM nih? Nyepam DM kayaknya, banyak banget nih pesan." Sambung Aroon.


"Zahra? Zahra yang mana nih?" Bingung Davian.


"Eh, bang Dav. Dibawah ada tante tante, katanya nyariin bang Davian." Ujar Arion, bocah tampan itu baru saja muncul dari balik pintu.


"Tante tante?"


"Namanya Monica. Dandananya tebal banget, kayak tante tante."


"Monica?" Kaget Davian. "Astagfirullah haladzim, tau dari mana tuh ayam sekolah alamat rumah gue?" Frustasi Davian.


"Ini, Mia, Zahra, sama Monica, pacar loe semua?" Tanya Aroon, sambil menunjuk dua handphone iphone milik Davian yang tak berhenti berderi.


"TUHAN, TOLONG HAMBAMU YANG GANTENG LILLAHITA'ALA INI. MASA LIBUR GINI, MASIH DI KEJAR KEJAR JUGA SIH?! WHY YA ALLAH?!" Teriak Davian frustasi.


"Mamam, fakboy sih dipiara." Kekeh Davin, sambil mencomot pie yang dibawa Davin.


"Mbak Kara?" Panggil Arra, yang baru masuk tersebut.


"Kenapa?" Bukan, bukan Kara yang menjawab melainkan Arsyad.


"Hm, gini. Kita kan masih libur semester, gimana kalau kita liburan keluar. Hitung hitung liburan pertama sama mbak Kara."


Iris hazelnut milik Kara langsung berbinar cerah. Senyuman manis juga ikut merekah dibibirnya.


"Ayo. Kara mau liburan bareng Arra."


"Iya. Boleh ya bang?"


"Yanda, boleh kan?"


Tanya Arra dan Kara bergantian. Arsyad diam sejenak, lantas menatap sang istri untuk sejenak.


"Hm. Nanti, kita tanya papih dulu."


Kara mengerucutkan bibirnya, saat mendengar ucapan sang suami.


"Papih pasti bolehin kok. Biar Kara yang izin nanti."


"Hm."


"Mau liburan kemana nih?" Tanya Davin, ikut nimbrung.


"Mau kemana ya? Kira kira yang enak kemana?" Tanya Arra, meminta pendapat.


"Bandung, gimana? Opa punya villa di lembang?" Usul Davin.


"Iya. Udaranya sejuk, bisa panen stroberi juga." Imbuh Aroon.


"Stroberi?" Takut Kara.


"Jangan deh, kan mbak Kara alergi stroberi." Bela Arra.


"Gimana kalau Bogor? Kan disana ada villa keluarga mbak Kara?" Usul Arra.

__ADS_1


"Menurut yanda, gimana?" Tanya Kara, kepada Arsyad.


"Terserah."


"Jangan deh. Bogor mah bosen atuh." Davian angkat bicara.


Lelaki itu sudah kembali angkat bicara, setelah uring-uringan menghadapi para teman kencannya.


"Gimana kalau Bali?" Usul Davian.


"Buat apa ke Bali? Musim hujan, dingooon." Sidir Davin.


"Iya juga ya?" Pikir Davian, sambil menggaruk-garuk kepalanya.


"Gimana kalau keluar negri. Kita lihat salju?" Ujar Arra.


"Kita ke negara Eropa, lihat Aurora borealis. Arra mau lihat cahaya Aurora itu." Antusiasnya.


"Iya. Ayo, kita lihat Aurora borealis. Kara juga belum pernah lihat. Maunya lihat dimana, papih Kara punya beberapa resot di negara Eropa."


Baik Davin, Davian, Aroon dan Arra masih diam mendengar ucapan Kara. Sultan mah, beda kuy mainya.


"Ayo kita liburan. Nanti kita perginya pakai pesawat pribadi papih, pesawatnya selalu ada dibandara Soetta kok. Gimana, mau gak?"


"MAU, MAU BANGET?!" Sumringah Davin dan Davian, bersamaan.


Gratisan kok dilewatkan. Mana pernah mereka menerima ajakan limited edition seperti saat ini. Liburan bareng anak sultan, mimpi dari mana coba?


"Kalau boleh, gue ajak temen. Boleh gak?" Tanya Davian, kesempatan cuy.


"Boleh, ajak aja. Gak papa kok, pesawat papih besar." Jawab Kara Enteng, yang langsung dijawabi sorak gembira dari Davian.


Sedangkan Arsyad, hanya bisa menghembuskan nafasnya lirih. Istrinya itu, susah diungkapkan dengan kata-kata sifatnya. Yang pasti, ia harus lebih sering memberikan wejangan lewat pillow talk ketika malam hari menjelang. Harus!


📚📚📚📚


"Yanda, kenapa? Marah ya?"


"Yanda, yanda?"


"Yanda-nya Kara?"


Lelaki yang tengah membaca sebuah jurnal itu menoleh dengan malas. Sedari tadi, entah berapa kali istri cantiknya itu terus menerus memanggilnya. Dia yang sedang membaca saja, jadi buyar karena panggilan panggilan tersebut.


"Look. Itu buat yanda."


Arsyad menyerngit, ketika milihat sebuah buku gambar tersodor kepadanya. Tanpa melihat sang istri terlebih dahulu, ia memilih membuka buku gambar yang ukuranya bisa dibilang sangat besar tersebut.


"Subhanallah." Lirih Arsyad.


Senyum kecilnya tercipta, saat melihat gambar cantik hasil keuletan tangan mungil sang istri. Arsyad menoleh, menatap sang istri yang tengah berdiri bersembunyi dibalik tirai.


"Kara?" Panggilnya.


"Umm, yanda gak suka ya?"


Lelaki tampan berkaos silver itu menggeleng. "Sini, yanda mau bicara." Panggilnya pelan.


"Gak. Yanda marah kan?" Jawab Kara yang masih sembunyi dibalik tirai.


Lelaki itu menggeleng. "Sini, Atmariani Karamina Adriani." Panggilnya.


"Ini gambarnya bagus. Yanda cuma mau bilang terimakasih."


Arsyad memang tidak bohong, gambar arsiran sang istri itu sangat bagus. Jelas dan sangat teliti juga jeli, ketika menggambar tiap lekuknya. Arsyad tidak menyangka, istrinya bisa menggambar potretnya tanpa melihat fhoto atau alat bantu lainya. Selain cantik, istrinya itu juga memiliki hobby terpendam ternyata.


"Hm, Yanda gak marah kan?" Cicit gadis cantik, yang perlahan-lahan keluar dari tempat persembunyianya tersebut.


"Ya Allah, Kara." Arsyad beristigfar kecil setelahnya.


Sedangkan si empunya nama malah tersenyum kecil. Gadis cantik berdress putih itu berdiri disamping tirai yang tadi menjadi tempatnya bersembunyi.



Arsyad memijit pelipisnya sejenak, guna menekan gejolak didadanya. Istri kecilnya ini, ampun deh. Bukan, Arsyad bukanya marah. Ia hanya tidak suka, akan apa yang melekat pada tubuh istri cantiknya tersebut. Lihat saja, dress berwarna putih yang panjangnya 7 centi diatas lutut tersebut. Pakaian tersebut bahkan tidak menutupi bagian bahu sang istri dengan benar. Walaupun tak dapat Arsyad pungkiri, jika istrinya itu terlihat sangat cantik saat ini. Akan tetapi, dengan pakaian seperti itu mana berani Arsyad membiarkan istrinya keluar dari kamar.


Yang ada, Kara ia kurung dikamar seharian.


"Kenapa pakai baju begitu hm?" Lirihnya, meredam suara beratnya.


"Tadi, Lily kirim baju baju kara dari Surabaya. Termasuk baju ini, baju rancangan onti Kiera. Kata onti, baju ini cuma ada satu di dunia. Khusus buat Kara, jadi Kara harus pakai." Tutur sang istri jujur.


Iya, Arsyad hafal siapa itu Lily. Wanita berusia awal 30-an yang bertugas untuk membuat baju untuk Kara. Setiap seminggu sekali, wanita yang berprofesi sebagai perancang busana, suruhan Tyoga itu akan datang kemansion Radityan guna mengukur tubuh sang nona. Setiap kebutuhan sandang Kara beserta seluk beluk kebutuhan lainya, memang sudah Tyoga atur melalui wanita yang Kara panggil Onti Kiera. Wanita itu sudah seperti Asisten pribadi untuk Kara.


"Kenapa, yanda marah ya lihat Kara pakai baju ini?" Tanya gadis itu, polos.

__ADS_1


Arsyad menggeleng, dalam hati ia berpikir keras supaya bisa menjelaskan kepada sang istri. Ia bukan marah, cuma bagaimana ya?


Ia hanya ingin menjaga semua agar selalu aman terkendali.


"Sini, duduk disini." Intruksinya, sambil menunjukkan ujung ranjang tempatnya kini duduk.


"Yanda marah?"


"Bukan." Arsyad menjawab cepat, ketika istrinya itu sudah duduk disampingnya.


"Kara tahu, amalan seorang istri itu apa?"


"Apa yanda, Kara mau tahu?" Good, istri Arsyad An-nass Senopati Az-zzioi itu penurut sekali.


"Amalan seorang istri itu, salah satunya adalah ketika dia selalu bisa menuruti perintah suaminya. Menuruti perintah suaminya, dalam artian dalam jalan yang benar, bukan yang batil."


Arsyad menatap sang istri yang masih mendengarkanya dengan seksama. Tatapanya turun kebahu sang istri, namun sejenak. Sebelum beralih menatap kearah lain. Dia cuma remaja biasa, fakta itu benar bukan? Ia juga tengah belajar, belajar menjadi suami yang baik, belajar menjadi imam yang baik, belajar menjaga akhwat, ketika mata dan hatinya harus tertuju pada satu satu sosok saat ini. Dia tengah belajar, dan alangkah baiknya ketika ia belajar, sang istri juga ikut mendukung niatanya. Agar kelak, mereka berdua bisa meraih pahala bersama lewat status yang mengikat keduanya kini.


"Jadi, Kara harus selalu menuruti perintah yanda begitu?"


"Hm. Begitu kurang lebihnya."


"Jadi, sekarang perintah yanda apa?" Tuh kan, istrinya yanda ini penurut sekalih.


"Kemarin sudah yanda bilang, jangan pakai pakaian seperti ini ketika diluar kamar kan?" Kara mengangguk, meng-iyakan.


"Tapi, Kara gak keluar kamar kok Yanda?" Nah, loh gimana itu?


"Hm. Tapi, tadi Kara pergi keluar kamar buat pinjam rautan kan?"


Gadis cantik itu berpikir sejenak, sebelum tersenyum tipis. "Iya. Tadi, Kara pinjam ke Arra. Tapi, Dav-siapa itu namanya, yang pinjamin rautan ke Kara."


"Davian?" Kara mengangguk, sedangkan Arsyad memijit pelipisnya.


"Tadi, Kara juga minta om bodyguard buat beliin pensih HB kan?" Gadis itu mengangguk meng-iyakan.


"Begini, nanti kalau mau keluar pakai pakaian yang lebih sopan ya?"


"Lebih sopan?" Arsyad menangguk.


Bukan semerta-merta ia berkata demikian. Ini mansion Radityan, bukan cuma ia dan sang istri yang tinggal disini. Ada keluarga besarnya, dan sebagian dari keluarga besar Radityan itu orang orangnya agamis. Dalam artian, mereka selalu menjaga, menaati, menerapkan apa yang agama terapkan. Soal pakaian pun, sebagian besar wanita di keluarga Radityan berpakaian tertutup. Nah, karena Kara kini menjadi istrinya yang otomatis menjadi tanggung jawabnya. Maka, Arsyad lah yang bertugas membimbingnya. Selain itu, Arsyad juga tak mau jika aurat istrinya dilihat oleh pria lain. Bukan saja karena dosa besar yang bisa saja ditanggung istrinya, namun bisa lebih berat dosanya jika ia tidak memberitahu sang istri yang tidak mengetahui akan hal tersebut.


"Iya. Kara istri yanda bukan?" Gadis itu mengangguk.


"Ini, adalah aurat yang tidak boleh Kara perlihatkan kepada pria yang bukan mahrom Kara. Kecuali kepada Papih Kara, dan yanda." Lelaki tampan itu menyentuh bahu terbuka sang istri. Mengingatkan jika, aurat itu tidak boleh diumbar semerta-merta.


"Ingat? Hukumnya apa?"


"Dosa. Hukumnya dosa yanda." Ujar Kara mantap.


Lelaki tampan itu mengangguk. Sedikit banyaknya, dia memang sudah memberikan wawasan dasar soal beberapa hal kepada sang istri. Apalagi soal amalan amalan yang wajib dilakukan.


"Tapi, kalau cuma sama yanda Kara boleh pakai?" Arsyad mengangguk kecil.


Gadis itu tersenyum senang, lantas kedua tanganya bergerak untuk memeluk lengan Arsyad spontan. Arsyad saja sampai terkejut dibuatnya.


"Maaf, Kara buat Yanda marah. Kara janji, Kara gak bakal pakai baju begini kalau enggak sama yanda." Ungkapnya, penuh penyesalan.


"Hm."


"Makasih, yanda udah ingatin Kara lagi. Kara gak mau dapet dosa, jadi yanda harus selalu ingetin Kara kalau Kara lupa." Arsyad tersenyum tipis, sambil meng-iyakan ucapan sang istri.


Sungguh, rasanya seperti nanonano tahu tidak? Menyelami peran sebagai young husband diusia yang masih bisa dibilang dini ini, Arsyad bisa kewalahan tiap hari. Untung saja, istrinya ini penurut dan pengertian. Namun, tanpa sadar karena rasa kepemilikanya, kian hari Arsyad makin possesive menjaga permata hatinya ini. Dia--Atmariani Karamina Adriani, tulang rusuk yang telah tuhan kirimkan untuknya. Tak akan pernah ada lelahnya Arsyad mengingatkan sang istri, jika istrinya itu kembali lupa. Karena sejak ia mengucapkan lapadz izab qabul kala itu, tugasnya sudah bertambah. Mengingatkan, juga mengarahkan sang istri kejalan yang lurus lewat status baru mereka untuk menuju jannah Allah kelak.



****


TBC


Huahahaaa, BCT UPDATE👐


Yuhuuuu, Thor kembali bawa cerita manisee dari mereka berdua. Pasangan Uwuuuu dari keluarga Radityan, sebelum diguncang badai pastinyee. Ia badai lewat segala sudut deh. Pokoknya, bang Syad bakal lebih diuji luar dan dalam. Sabar ya Bang❤


Hayooo, jan lupa like, komentarrrr dan vote jika ikhlas. Follow juga gak papa kok👐


Kalau mau mampir ke akun wttp ku @nengkarisma juga monggo. Nanti bisa kenalan sama anak anakku disana👐


Ok, segini dulu. Maaf kalau tlat tlat up nya, disinya sinyal burukkkk. Mungkin faktor utamanya karena cuaca juga. Sabar aja ya Readers❤


Salam, sayang❤



Sukabumi 11 Des 2020

__ADS_1


__ADS_2