
📚.52-Rival
"Aku tidak menyangka, ada saimbara tak tersirat di antara dua anak muda?"-Keevan'ar Radityan Az-zzioi
****
"Ge, kita mau kemana sih ini? Pake bawa giniaan lagi?" Tanya pemuda yang tengah mengais tiga buah alat pemancing ikan tersebut.
"Gak usah banýak cingcong deh lo. Ikut aja napa!" Kesal si empunya nama, sambil membuka pintu mobil mewahnya.
"Gak bawa si ijo lo? Kali ini kok bawa mobil rongsokan gini?" Tanya satu pemuda lainnya, sambil membawa sebuah ransel di sebelah bahunyà.
"Gue terpaksa bawa mobil ini, karena bugati punya gue lagi diservice. Lo tahu sendiri kan, bugati gue rewel." Keluh si empunya mobil fortuner silver milik sang ayah.
"Kere lo boss? Biasanya aja bawa bugati, ferrari, atau lamborghini. Nah ini, bawa rongsokan 90-an."
"Rongsokan taik lo?! Mobil ini punya banyak historis buat nyokap dan bokap." Ujar si empunya mobil tak terima.
"Sans ae lo ngomong. Udah, masuk kalo mau ikut. Kalo kagak, gue tinggal!" Ketus si empunya mobil, kesal.
"Iye, iye, gue ikut boss." Ujar pemuda bernama Sagara tersebut.
"Kacian, pagi-pagi udah diomelin." Kekeh pemuda lainya yang bernama Cakrawala.
Ketiganya--Gean, Sagara dan Cakrawala memang tengah memiliki planning untuk mengunjungi suatu tempat. Maka tak ayal jika mereka berangkat sejak subuh dari Bandung.
"Eh, eh, ini mobil goyang-goyang kenape boss? Mabok kopi dangdut kali?" Tanya Sagara, saat dirasa mobil yang mereka tumpangi berjalan tidak pada umumnya.
"Eh, kok berhenti bos?" Bingung Cakrawala.
"Kenapa lagi ini mobil?" Bingung si empunya. "Lo berdua udah solat subuh belum sih?" Introgasinya.
"Udah bos?!" Jawab Sagara.
"Dalam mimpimu, bambang." Sahut Cakrawala. "Orang tadi lo ngebo di pinggir gue. Lo subuh masih ngorok, ngaku lo?!" Imbuh Cakrawala.
"Eh, massa sih?"
"Iya. Lo kan tidurnya kek kebo mati." Imbuh Cakrawala.
Gean--si pengemudi mobil tersebut berdecak sebal. "Makanya, subuh itu bangun, salat. Bukannya mimpi yang iya-iya. Jadi mogok!"
"Mimpi yang iya-iya?" Bingung Sagara dan Cakrawala.
"Yang lo pada tidur pelukan sambil sun, itu apaan?"
"T-idur apaan bos?" Tanya Cakrawala shok.
"Lo berdua kalau tidur berďua kayak pasangan hom* ternyata."
"Eh, kok gitu?!" Ujar Sagara tak terima.
Ia dan Cakrawala memang sering tidur bersama saat menginap di basecamp. Tapi, mereka tidak pernah merasa tidur sambil berdua apalagi ada adegan sun-nya.
"Ah, pusing dah gue bawa mobil ini. Padahal tadi udah gue chak, dan semuanya aman. Tapi sekarang?" Geram lelaki tampan yang tengah sibuk menghubungi seseorang lewat smartphonenya tersebut.
Bagaimana tidak kesal, baru beberapa meter dari rumahnya. Mobil kesayangan ayahnya itu sudah mogok di tengah jalan.
"Anterin mobil gue. Koncinya ada di tempat biasa, gak pake lama?!" Titahnya, pada si prnerima panggilan di sebrang sana.
"Tuh kan, udah biasa bawa super car, bawa mobil rongsok. Jadi gini kan?" Cibir Sagara.
"Diem lo?!" Galak Gean. Ia kesal bukan karena tidak bisa menggunakan super car-nya, melainkan kesal karena tidak bisa membawa mobil tua ini ke Jakarta. Tempat di mana ia bisa mendapatkan akhir pekan yang sudah dirancangnya matang-matang.
"Memangnya kita mau kemana bos? Pake bawa-bawa alat mancing gini?" Tanya Cakrawala penasaran.
"Yang pasti kita bakal mancing. Iya kan boss?" Celetuk Sagara.
"Kalo itu gue tahu, bambang. Maksud gue di mana?" Tanya Cakrawala menuturkan.
"Mana ketehe?!"
"Lo berdua bisa diem gak sih?!" Kesal si empunya, yang kini telah mengendarai salah satu super car miliknya.
Setelah insiden mogok tadi, kini mereka sudah melanjutkan perjalanan kembali. Cukup lama berkendara, mereka pun mulai memasuki daerah ibu kota. Sagara dan Cakrawala bahkan kini bungkam di tempat duduknya masing masing. Mancing kok sampe ke luar kota, pikir mereka. Kini mereka mulai memasuki pelatan rumah megah yang nampak di kelilingi pepohonàn besar. Suasana asri nampak mengelilingi setiap penjuru tempat, membuat rumah megah yang di dominasi warna putih itu, bak istana di tengah hutan. Ketika memasuki area depan rumah megah tersebut, dua pilar besar menyambut mereka.
__ADS_1
"Ini rumah siapa bos?"
"Kakek sama nenek gue."
"Kakek sama nenek?"
"Kakek nenek lo bukannya ada di Bandung ya? Kalau kakeķ dari pihak ibu lo, bukannya ada di luar negeri ya boss?" Papar Cakrawala, tidak mengerti akan kakek, nenek yang disebut sahabatnya itu yang mana lagi.
"Ini beda lagi."
"Lah, beda gimananya?"
"Ya gitu deh. Intinya, kita bakal weekend di sini. Mancing dah sepuasnya lo berdua, kakek gue punya tambak ikan di belakang rumah."
"Wih, daebak." Senang Sagara.
"Yok, masuk." Ajak Gean.
Lelaki tampan itu menggiring keduanya masuk. Dia sudah hafal juga terbiasa memasuki rumah megah ini. Hunian mewah yang sudah seperti rumah ke-3 baginya, selain rumah orang tuanya, dan basecamp tentunya.
"Amih?" Panggilnya, sàat maniknya menangkap sosok sang nenek.
"Gean, kamu sudah sampai?" Tanya wanita pensiunan pramugari tersebut, ramah.
"Iya mih, nyubuh berangkatnya." Ujar Gean, sambil mengecup punggung tangan wanita paruh baya yang ia panggil Amih tersebut.
"Mih, kenalin temen Gean. Sagara sama Cakrawala."
"Oh, teman-teman Gean ya? Selamat datang, anggap aja rumah sendiri ya."
"I-ya, terimakasih amih." Jawab Sagara dan Cakrawala sopan.
Kedatangan Gean dan kawan kawan, tentu di sambut hangat oleh si empunya rumah. Memang tidak ada hubungan dara di antara mereka, namun si tuan rumah sudah menganggap Gean seperti cucunya sendiri, begitu pun sebaliknya. Dahulu, Sayla--nyonya rumah tersebut pernah bekerja selama bertahun-tahun di maskapai yang dikelola kakek Gean, secara kebetulan juga pernah beberapa kali Sayla satu penerbangan dengan Algafriel Hazka Dwiarga--atau papa Gean. Dari sanalah, awal mula semua ikatan itu terjalin.
Selain itu, Dimas--si tuan rumah juga mengenal Andra Genandra--kakek Gean dari pihak ibu. Keduanya di pertemukan di Jerman, kala Dimas tengah membawa putrinya--Aurra, berobat dan mencari donor jantung yang tepat. Karena mama Gean juga memiliki riwayat penyakit yang sama, dalam satu kesempatan Andra Genandra--kakek Gean membantu mencarikan pendonor jantung tersebut untuk putri Dimas. Hingga kini, ikatan silaturahmi terjaga dengan erat di antara kedua belah pihak. Oleh karena itu, Sayla maupun Dimas sudah mengaggap Gean seperti cucu sendiri. Toh, Sayla saja menganggap Gea seperti putrinya sendiri. Pun dengan Dimas.
"Bikin apa mih?"
"Cake. Gean suka?"
Lelaki tampan yang baru saja memasuki area dapur itu menggeleng. "Gean udah manis mih, gak perlu makan cake yang manis lagi. Nanti yang lihat Gean pada diabetes lagi." Kekeh lelaki tampan berkaos putih polos tersebut.
"Teman-temanmu dimana Ge?"
"Di belakang. Tadi pergi ikut ngasih pelèt sama mang Ucup."
"Pelèt?" Gean mengangguk.
"Pelet makanan ikan ya mih, bukan pelèt buat pemikat itu. Tanpa pelèt pun, semua kaum hawa sudah terpesona sama Gean kok." Ujarnya jenaka. "Gean kan perfect, kek adonis-adonis yunani itu loh." Bangganya.
Sayla mengangguk sambil tersenyum tipis.
"Iya deh, Gean cucu amih yang ganteng."
"Kok ganteng sih mih?"
"Kenapa? Gak suka amih bilang ganteng."
"Maunya Gean di bilang tampan mih." Rajuk Gean.
"Gean itu ganteng, karena yang tampan itu Apih." Jawab Sayla sambil tersenyum kecil, senang berhasil mengerjai cucunya.
"Iya, iya. Apih kan nomer one di hati Amih." Kekeh Gean.
"Itu ada siapa ya di depan?" Tanya Sayla.
"Suaminya non Aurra nya, sama anak-anak." Jawab salah seorang maid.
"Anak-anak ikut?"
"Iya nya." Jawab maid terebut.
"Aduh, cucuku ngumpul semua ya. Amih harus selaiin ini dulu."
Gean tersenyum tipis, sambil mengangguk. "Kalau gitu, Gean ke depan dulu ya Amih."
"Iya."
__ADS_1
Setelah berpamit, Gean bergegas menuju ruang utama. Tempat yang ia yakini menjadi penampung para tamu istimewa yang di maksud Sayla tadi. Baru seĺangkah memasuki ruang tamu, sepasang irisnya terpaku akan kehadiran gadis cantik yang begitu ia rindukan akhir-akhir ini. Dia ada disini!
"Chèri?!" Panggilnya antusias.
Bukannya si empunya yang mejawab panggilan antusiasnya tersebut, melainkan empat pandawa yang belakangan baru dia lihat.
"Loh, lo ngapain ada disini?!"
Mereka tampak terkejut akan kehadiran dirinya. Apalagi ia dengan santainya melenggang keluar dan masuk dari area dapur ke kediaman Dimas.
"Kamu ngapain ada disini?" Tanya si empunya nama panggila, akhirnya bertanya.
"Mungkin kita jodoh, Chèri." Jawab Gean, gamblang.
Lagi, lagi, ucapannya tersebut dijawabi oleh seseorang, bukan si empunya yang ia maksud. Sosok lain buka suara, membuatnya beralih fokus.
"Siapa dia?"
📚📚📚
Kolam pemancingan berbentuk persegi yang di lengkapi dengan saung untuk berteduh dan tempat duduk dari bambu tersebut, terasa begitu panas. Kendati demikian, suhu tersebut tak mengurangi etensi challenge tersebut. Salah satu yang terlibat dalam challenge tersebut adalah Van'ar. Bapak tiga anak itu, nampak duduk di tengah tengah antara dua lelaki tampan yang saling lempar pelototan.
"Kalian bisa diam?" Tanyanya.
"Bisa om." Ujar keduanya kompak.
"Ngapain lo ikut ikutan jawab?" Tanya Gean.
"Masalah buat lo? Bibir bibir gue." Jawab Arsen tak mau kalah.
"Eh, lo jangan sok sokan--"
"Kalian mau mancing atau mau debat?" Tanya pria yang duduk di antara mereka, tajam.
"M-ancing om." Jawab keduanya ikuk, di tatap tajam oleh pria yang berprofesi sebagai TNI tersebut.
"Jadi sudah tahu kesalahan kalian apa?" Tanya Van'ar datar. Keduanya mengangguk singkat.
"Apa?"
"Pulang sambil menggendong Arra, om."
"Panggil Chèri dengan panggilan chèri, om."
Jawab Arsen dan Gean bersamaan. Detik berikutnya, mereka kembali saling tatap.
"Lo nyentuh calon jodoh gue?!" Tanya Gean tak terima.
"Lo panggil Arra chèri? Dia itu bukan buah-buahan!" Ujar Arsen tak terima.
"Tapi lo duluan yang--"
"Lo yang--"
"DIAM?!" Kedua lelaki yang masih duduk di bangku SMA itu langsung terdiam. Keduanya kembali fokus pada pancingan mereka masing-masing.
Van'ar menatap keduanya bergantian dengan datar. Biatnya ingin mengintrogasi sahabat putranya yang memendam rasa pada putrinya, ia malah di pertemukan dengam bocah lain yang juga tertarik kepada putrinya. Jadi kini, ia duduk di antara keduanya untuk melakukan sebuah challenge. Satu dapat ikan, maka satu pertanyaan akan Van'ar berikan.
'Sumpah ikan, lo jangan makan umpan gue ya. Gue belum siap di uji sama camer.' Batin Gean, menatap penuh harap pada mata kail yang berada di dalam air sana.
'Ikan, lo mau makan itu umpan atau enggak, terserah. Gue pasrah. Tapi, kalo lo makan umpan gue, harus adil ya. Makan umpan rival gue juga, ya, ya, ya?' Batin Arsen penuh harap.
"Saya harap, umpan kalian dimakan ikan yang besar. Biar sekalian saya introgasi besar-besaran." Ujar Van'ar buka suara, setelah berhasil membaca mimik muka keduanya.
'Kok came bisa tau kata hati gue ya?'
'Mati! Gue lupa sama keahlian spesial ayahnya si Arsyad.'
Gean dan Arsen membatin di dalam hati. Toh, kini dua rival tersebut harus lulus challenge introgasi oleh Ayah dari gadis pujaan mereka. Gadis pemilik manik teduh yang telah memikat perhatian keduanya. Selamat berjuang, para rival. Semoga dapat lulus dari introgasi Ayah Van'ar.
****
TBC
BCT update. Yuuuhuuu, part ini gimana readers? masih kurang? mo dilanjut? gercepp ramaikan kolom komentar. Like, vote, komentar, share dan follow juga jika berkenan. Buat part ini, segini dulu ya reades. Parti ini lebih panjang dari part GG. Semoga kenyang👍👍
Jumpa lagi nanti.
__ADS_1
ILYSM❤
Sukabumi 22 Januari 2021