Bukan Cinta Terencana (R3)

Bukan Cinta Terencana (R3)
119. Baby Asad


__ADS_3

119. Baby Asad



“Kalian dari mana?”


Tiga pria muda yang sama-sama menggunakan jaket bomber hitam itu menoleh. Mereka sedang sibuk membuka beberapa kantong keresek yang mereka bawa dari luar saat suara familiar itu menyapa.


“Hangout, bang.”


“Iya. Hangout di sekitaran Jakpus sih, bang. Pulangnya sempet beli makanan langganan kita yang suka mangkal di deket SMA Dandelion.”


“Duduk, bang. Join sama kita, unboxing jajanan mas SMA.”


Tiga pria muda itu tampak happy saat mengajak Arsyad An-nass Senopati unboxing makanan yang mereka beli di sepanjang jalan pulang. Davin, Davian, dan Diano alias Aroon memang menghabiskan waktu seharian untuk berkendara bersama. Berkeliling kota, mengenang masa-masa SMA. Mereka juga sempat mengunjungi bengkel, gym, dan caffe yang dulu mereka kelola. Sekarang dikelola oleh tangan kanan mereka—yang masih kerabat dekat Radityan. Sebelum pulang, mereka juga sempat nonton ke Kokas. Dilanjut kongkow sambil ngopi-ngopi untuk satu jam di mall Kokas, baru pulang ke rumah pasca isya.


Seharian ini triple D bagaikan burung yang dilepaskan dari sangkar. Mereka mendatangi tempat satu ke tempat lainnya dengan senang hati. Ibaratnya hari ini boy’s time. Tidak ada yang namanya gangguan dari pacar, karena mereka sudah janji untuk me time bersama. Mereka juga sempat berjumpa dengan anak geng motor yang dulu diketuai oleh Davian. Hal itu tentu membuat Davian sangat senang, karena bisa melepas rindu dengan kawan-kawan lamanya yang masih tersisa.


“Kalian beli apa? Kenapa banyak sekali?” tanya Arsyad yang akhirnya ikut bergabung di sofa ruang tengah.


Triple D memang tengah unboxing barang belian mereka di ruang tengah. Mereka juga sudah meminta beberapa alat makan pada maid sebagai wadah untuk semua makanan yang mereka beli.


“Lupa. Saking banyaknya.” Davian berkata seraya memindahkan es kuwut ke dalam gelas.


“Buka satu per satu, terus pindahkan ke piring,” titah Davin yang baru saja memindahkan 4 buah kerak telur yang masih hangat.


Triple D pun mulai membuka barang belian mereka satu per satu dengan Arsyad sebagai penonton. Selain es kuwut, kerak telur, mereka juga membeli telur gulung langganan mereka saat SMA, nugget pisang balut caramel dan coklat, jamur tiram krispi, pentol, cilok, bakso goreng mekar, tahu gejrot, pukis, takoyaki, martabak manis, soto, sampai nasi goreng kambing.


“Woah, kerak telor babeh. Langganan gue nih,” kata Davian senang. Ia dengan cepat mengambil sepotong kerak telur yang masih hangat itu.



“Kalau ini kesukaan Davina,” celetuk Davin saat hendak menggigit satu potong nugget pisang balut coklat. Ia spontan teringat sang kekasih. “Manis banget, kayak Davina.”



“Cih, bucin kuadrat.” Davian berdecak seraya menelan kunyahan lezat di mulutnya.


“Cobain nih, bang. Bakso goreng mekar yang kayak di Bandung. Mereka udah buka cabang di Jakarta.” Aroon menyodorkan piring putih berisi 5 buah bakso goreng mekar yang tampak menggoda untuk dicoba. Lengkap dengan saus cocolannya.


“Ini bakso goreng mekar yang kita makan pas study tour bareng anak-anak OSIS dan MPK ke Bandung,” tambah Aroon.


Arsyad mengangguk. Ia tersenyum kecil kala kilasan-kilasan memori saat mengenyam pendidikan dahulu. Ia ingat betul hari-harinya selama mengenyam pendidikan di SMA Dandelion. Ia kemudian menerima piring berisi bakso mekar itu dengan suka rela. Sudah lama juga tidak makan makanan seperti ini.



“Gimana bang? enak?”


Arsyad tersenyum seraya mengangguk tipis saat berhasil menggigit bakso mekar original tanpa saos cocolannya. Bakso yang terbuat dari ikan tenggiri itu terasa sangat gurih berkat tambahan berbagai bumbu. Rasa gurih yang sungguh memanjakan lidah. Apalagi saat dimakan bersama saos cocolannya.


“Yanda lagi makan apa?”


Arsyad kontan menoleh saat mendengar suara lembut milik sang istri. Wanita cantik yang tengah berbadan dua itu tampak menaikkan sebelah alis melihat sang suami yang tengah menikmati bakso goreng mekar. Makanan yang belum pernah ia lihat dan makan.


“Sini,” panggil Arsyad, memberikan kode agar sang istri duduk di ruang kosong di sampingnya.


“Ini ada acara apa?” tanya wanita cantik yang mengenakan terusan berwarna jingga dari rumah mode Dior.


“Pesta miras,” seloroh Davian yang langsung mendapat pelototan tajam dari dua kembarannya.“Canda, bro.” Ia terkekeh kecil, lantas menatap sang kakak ipar seraya mengangkat sepiring pukis.


“Kita lagi unboxing jajanan kaki lima masa SMA. Kapar mau join?”

__ADS_1


“Memangnya boleh?”


Triple D kontan mengangguk. Lagipula makanan yang mereka juga banyak, dan tidak mungkin mereka bisa menghabiskannya. Tadi mereka kayaknya kalap, jadi semua dibeli.


“Mau?” Arsyad bertanya seraya mengangkat satu bakso goreng mekar yang bentuknya masih utuh.


Kara mengangguk dengan malu-malu. Ia memang penasaran dengan rasa makanan berbentuk unik tersebut.


“Buka mulut, biar aku suapi,” kata Arsyad seraya mengarahkan bakso goreng tersebut.


Kara menggeleng. Membuat sang suami kebingungan. “Kenapa?”


“Yang itu aja.”


“Ini baru, yang itu bekasku,”


“Gak papa. Kara mau bekas yanda.”


Pria muda yang memiliki wajah tampan itu mengangguk, kemudian menukar baso mekarnya dengan bakso yang tadi sempat ia makan seperempat. Sang istri tampak senang saat menggigit bakso goreng mekar bekasnya itu.


“Enak?”


Kara mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan sang suami. Pasangan suami-istri itu tampak senang sekali suap-suapan bakso goreng, padahal ada yang tengah mengamati dengan perasaan iri.


“Ada yang punya tiket mutasi ke Mars? Gue minta dong,” celetuk Davian. “Kalau udah nikah mah, beda. Dunia berasa milik berdua. Beda sama yang jomblo fisabilillah kayak gue,” imbuhnya sedih.


“Sabar, Dav. Ini ujian,” sahut Aroon dengan senyum geli.


Davian mendengus mendengarnya. “Tauk ah, gelap.”


“Udah, enggak usah debat. Mending cepet habisin semua ini. Sayang kalau keburu dingin.”


Melihat kebersamaan Triple D, Arsyad dan Kara ikut senang dan terhibur. Jarang sekali mereka bisa berkumpul seperti kali ini. Semakin bertambahnya usia mereka memiliki job desk masing-masing, sehingga sulit rasanya kumpul-kumpul untuk sekedar bercanda bersama.


“Mau lagi?” sebagai suami yang peka, Arsyad kembali bertanya untuk yang ke sekian kali. Takut-takut ada yang istri dan calon buah hatinya inginkan, namun ragu meminta karena malu.


“Itu apa?” tunjuk Kara.


“Ini?” Arsyad mengambil makanan yang ditunjuk sang istri. “Tahu gejrot.”


“Tahu gejrot?”


“Iya, mbak. Tahu legenda yang pernah dimakan sama presiden Obama,” kata Aroon memberitahu.


Kara tampak terkejut mengetahui informasi tersebut. Ia hendak bertanya, namun diserobot Davian.


“Masa sih?” tanya Davian penasaran.


“Iya. Searching aja di google kalau enggak percaya. Presiden Obama, kan, pernah tinggal di Indonesia.” Aroon menuturkan seraya mengambil satu takoyaki jumbo dengan isian baby octopus. Takoyaki itu mirip takoyaki jumbo yang dijual di pasar Lama Tanggerang. Aroon pernah membelinya bersama sang kekasih.


“Cobain juga jamur tiram krispi nya, mbak. Ini jajanan kesukaan teh Arra pas SMA. Tapi bang Arsyad malah gak suka.” Davin tersenyum tipis seraya menyodorkan piring berisi jamur tiram krispi yang masih original, tanpa tambahan bumbu.


“Yanda enggak suka itu?”


Arsyad menggeleng. “Aku kurang suka gorengan. Arra yang lebih suka makan gorengan,” kata Arsyad, memberi klarifikasi seraya menyuapi sang istri pukis dengan topping coklat dan keju.


“Kalau gitu Kara juga enggak suka.” Setelah berkata demikian, wanita cantik itu tersenyum lebar. Senyum yang selalu membuat seorang Arsyad An-nass Senopati Az-zzioi merasakan kehangatan.


“Oh, iya, bang. Buat wacana ke Turki jadi enggak? Kalau jadi biar dari awal cutinya abang diurus.”


“InsyaAllah, jadi.”

__ADS_1


“Ok. Kalau gitu abang tinggal kasih tahu kapan tanggalnya sama sekretaris abang. Biar nanti aku yang handle kerjaan pas abang cuti.”


“Hm.”


Aroon mengangguk seraya kembali mengunyah. Sebenarnya ia juga ingin pergi ke Turki untuk healing. Sekalian mengajak sang kekasih yang ingin belajar banyak tentang kuliner Negara tersebut. Ada satu tempat yang ingin mereka kunjungi bersama, yaitu Cappadocia. Namun, Aroon memilih menunda planning itu. Hitung-hitung sebagai salah satu destinasi honeymoon mereka saat menikah nanti. Memikirkan itu, membuat si bungsu tersenyum-senyum sendiri.


“Kenapa nih bocah? Kok tiba-tiba senyum-senyum?” bingung Davin yang baru saja menjangkau mangkuk berisi soto.


“Jangan-jangan kesambet?” seloroh Davian.


“Ngawur!” sewot Aroon yang baru saja sadar dari lamunannya.


“Ngelamunin apa lo? Sampai-sampai senyum-senyum begitu.”


“Ngelamunin masa depan,” jawab Aroon seraya menjangkau segelas air putih untuk melegakan tenggorokan.


Davian hanya manggut-manggut seraya asik mengunyah. Ia memang jagonya kalau soal makan-makan. Maklum, sejak dulu Davian suka jajan. Kalau sudah jajan, no jaim-jaim club deh. Davian akan makan makanan apapun, jika ia memang mau. Sekalipun makanan itu harganya recehan, asalkan rasanya gak receh.


“Bang,” panggil Davian


“Hm?”


“Boleh enggak gue sumbang nama.”


“Nama?” ulang Arsyad. Pria rupawan itu tampak kebingungan, sama seperti Aroon dan Davin. Pasalnya tiba-tiba saja si tengah berkata demikian.


Davian mengangguk seraya menyeringai kecil—seringai andalannya. “Nama buat baby kalian nanti.”


“Apa?”


“Apanya yang apa, bang?”


“Namanya,” ujar Arsyad, meluruskan.


“Asad,” jawab Davian seraya merubah posisinya menjadi duduk tegak, dengan tatapan lurus ke depan. “Asad adalah nama yang mengandung arti singa, senang, bahagia dan beruntung.”


“Kamu mau anak pertama kami menggunakan nama itu, tapi kenapa?”


“Karena nama ini mengandung harapan seorang orang tua untuk buah hatinya yang kelak tumbuh menjadi anak yang gagah dan pemberani seperti singa. Anak yang menyenangkan, pembawa kebahagiaan dan keberuntungan,” balas Davian. “Sebenarnya ini nama salah satu rekanku. Dia mantan anggota Navy Seal—tentara elit dari kesatuan Angkatan Laut AS yang gugur di medan tempur. Namanya Asad. Dia seorang muslim yang taat. Seperti namanya, dia adalah prajurit yang gagah dan pemberani seperti singa. Dia gugur setelah diberondol peluru karena melindungiku.”


Mereka semua yang ada di ruang tengah kompak terdiam kala mendengar cerita Davian. Siapa sangka jika pekerjaan yang Davian lakoni sangat berbahaya saat didengar langsung dari narasumber.


“Boleh gunakan nama itu sebagai bentuk rasa hormat dan terima kasihku? Karena aku belum yakin akan memiliki baby dalam waktu dekat.”


Davian tahu ini adalah permintaan yang tiba-tiba. Lagipula kenapa harus nama Asad yang digunakan? pasti Arsyad dan Kara sudah memiliki nama untuk bayi mereka. Namun, Davian punya firasat baik soal nama Asad ini. Entah kenapa, tapi hati nurani nya sejak awal ingin nama ini tersemat pada generasi Radityan gen 4.


“Tapi kalau abang sama mbak keberatan, enggak apa-apa kok. Aku gak maksa.”


“ama yang bagus,” sahut Kara dengan seulas senyum di bibir. Membuat Davian terhenyak. “Kara suka nama itu, yanda.”


Sang suami menoleh saat merasakan pelukan di sebelah bisepnya. Ia kemudian ikut menyunggingkan senyum tipis, tetapi manis. “Tentu, nama yang bagus. Kita bisa gunakan nama itu,” sahut Arsyad seraya membawa telapak tangannya agar bermukim di permukaan perut sang istri.


**


TBC


DOUBLE UPDATE!


JANGAN LUPA LIKE, VOTE, KOMENTAR, FOLLOW AUTHOR & SHARE ❤️


MAMPIR KE DUCHESS IS MINE JUGA, YA 💙

__ADS_1


__ADS_2