
📚.32-Landing yang Sebanding
وَلا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلا
"Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk." ( QS. Al Isra': 32 )
****
Ketika sang fajar mulai menutup hari, meninggalkan kemuning jingga yang cantik dilangit. Menggoreskan cahaya indah bak ilusi optik, yang siap membius setiap pasang mata yang menangkapnya. Beranjak gelap, ketika gemuruh lantunan adzan menggema diseluruh penjuru negri. Mega yang tadinya menjadi awal penanda manjing waktu untuk melaksanakan salat maghrib, kini perlahan mulai memudar. Gelapnya lagit, begitu kontras dengan hadirnya bulan penuh atau yang sering disebut super moon, pada tanggal tertentu. Cahaya terang menyinari bumi, apalagi saat tanggal 14 menurut kalender hijriah. Bulan akan bersinar terang dengan penampakan bentul full bundar.
Lantunan salawat, nampak menggema ditelinga kanan dan kirinya. Malam sudah mewati lingkar batas salat maghrib, kini mulai kembali memasuki lingkar waktu salat isya. Dia yang sedang menunggu di tempat tunggu, agakñya tersadar kecil lantunan salawat dari airphonenya berubah menjadi lantunan ayat ayat seruan untuk salat isya.
"Alhamdulillah." Sudut bibir yang berwarna merah alami itu, terangkat kecil.
Lantas ià beranjak, mencari musola terdekat yang ada diarea bandara Soekarno Hatta. Dia--Arabelle Lumiera Humaira Rajapatni Az-zzioi, putri kesayangan pasangan suami istri VanRa. Gadis cantik bergamis semi peach itu, kini tengah berada di Bandara Soekarno Hatta lagi. Tempat yang terakhir kali ia kunjungi, satu pekan yang lalu. Hari ini, dia diminta secara khusus untuk menunggu kedatangan seseorang. Menurut jadwal, pesawat yang membawanya akan lànding sekitar pukul 20.40 Waktu Indonesia bagian Barat.
Selesai dengan urusan peribadatanya, Arra--panggilan untuk gadis cantik tersebut, memilih untuk kembali menunggu. Toh, dia bukan pribadi yang tidak sabaran. Menurutnya, menunggu itu tak selamanya melelahkan. Sambil bergumam kecil, melantunkan salawat dengan suara merdunya, Arra memilih untuk men-scrool intagram home miliknya. Tempat dimana ia meraup pundi pundi rupiah sejak lama. Saat sedang melihat beberapa postingan yang mampir diberanda instagramnya, sebuah pesan Direct Messenger masuk.
Pesan DM memanglah bukan hal yang awam baginya. Para followers di instagramnya, biasanya mengirimya pesan untuk sekedar menyapa dan bertanya tentang outfit on the day (OOTD) yang cocok dikenakan pada acara acara tertentu. Tapi kali ini, yang membuatnya menyerngit adalam pesan DM yang paling berada diurutan tersebut. Terpang pang nama 'Skylake' di username pengirim DM tersebut. Karena penasaran, akhirnya Arra memberanikan diri untuk membukanya.
"Apa maksudnya?" Bingung Arra, ketika membaca dua untai kalimat yang berisi 'Intro' dan 'Kalau jumpa lagi, berarti kita berjodoh.' Begitu lah yang tertulis disana.
Tak mau ambil pusing, Arra lebih memilih meng-close jelajahanya di aplikasi tersebut. Ia memang jarang memantau IG, kecuali ada pekerjaan yang mengharuskanya posting sesuatu di peed instagramnya. Selebihnya, semua tentang job desknya diatur oleh Lunar--yang memanageri keponakanya ini.
Lama menunggu, dari suara bising yang cukup terdengar. Suara itu berasal dari deru mesin pesawat yang hendak take off maupun landing. Benar saja, dari jendela jendela besar nan transfaran ia bisa melihat sebuah peswat landing diarea yang diperuntukan. Landing dimalam hari cukup sebadring dengan resiko yang tentu harus dipertimbangkan. Setiap pilot profesional selalu dituntut untuk profesionalisme dalam bekerja. Karena ditangan mereka lah, ratusan hingga ribuan nyawa bergantung. Maka orang orang yang berada di flight Deck lah yang memiliki tanggung jawab besar tersebut.
"Pasti sebentar lagi mereka datang." Senang Arra.
Dia memang bersama supir, mengingat ayah dan ibunya masih bekerja. Paman dan bibinya juga sibuk dengan pekerjaanya masing masing. Adiknya, bocah tampan itu di jam segini pasti sedang bimbingan online ataupun les. Sedangkan triple-jangan ditanya lagi, mereka masih dalam kondisi jet lag, setelah pulang dari liburan di benua eropa kemarin.
Ketika beberapa menit sudah berlalu setelah pesawat landing tadi, gerombolan para penumpan yang muncul dari pintu kedangan membuatnya sumringah. Sambil membenahi smartphone miliknya, ia beranjak. Benda pipih yang baru selesai diservice itu, langsung ia amankan kedalam slim bag yang menggantung dibahunya.
Dengan segera ia beranjak, mendekati kerumunan orang orang yang sama halnya dengan dirinya. Menunggu kedatangan para penumpang pesawat yang baru saja Landing. Namun, belum sempat ia menjangkau kerumunan tersebut. Tubuh mungilnya tiba tiba terdorong oleh sesuatu, hingga membuatnya hampir terjatuh.
Arra sudah berdo'a dalam hati, ketika tubuhnya terdorong dan pasti akan berujung mengenaskan saat bertubrukan dengan lantai. Tapi, sebelum semua itu terjadi sudah ada tangan yang sigap untuk meraih pinggang rampingnya.
Grep
Arra mengerjapkan matanya bebèrapa kali, saat merasakan dirinya baik baik saja tanpa rasa sakit sedikitpun. Iris teduhnya langsung terbelalak, saat melihat posisinya kini. Irisnya langsung bersirobak dangan iris gelap nan mengkilap milik penyelaatnya.
"Hai, jodoh."
Celetuk si penyelamat yang kini memeluk pinggangnya erat. Menahan agar Arra tidak terjatuh tadi.
"L-epaskan?!" Titah Arra sambil berontak.
Pemuda tampan itu menyunggingkan senyumanya, lantas ia melepaskan tanganya yang sedari tadi menahan Arra.
"Hai, kita bertemu lagi. Mungkin benar, kita berjodoh." Selorohnya santai.
Arra menatap lawan bicaranya datar, apa barusan katanya. Jodoh? Berani sekali dia bilang jodoh kepada orang asing yang baru ditemuinya. Tapi tunggu, dia itu--agaknya familir dimata Arra.
"Yes, chèri. Gue yang sepekan lalu nabrak loe, disini juga."
"Chèri, siapa?" Bingung Arra.
Perasaan hanya ada dirinya yang mejadi lawan bicara pemuda berseragam hitam putih dengan pin sayap dan logo sebuah maskapai penerbangan tersebut. Tunggu, pemuda ini pilot, atau co-pilot?
"Chèri itu kamu, manis seperti ceri." Ungkapnya santai.
"Astgfirullah, kenapa Arra harus bertemu Playboy cap teri begini, bunda?" Gumam Arra kecil.
"Eh, mau kemana?" Aŕra yang hendak pergi, langsung berbalik dan menatap horor tangan yang digenggam oleh tangan lain tersebut.
__ADS_1
"Lepas. Astagfirullah." Kagetnya.
"Lepasin?!" Sentaknya, tidak suka tanganya disentuh sembarang.
Arra itu selalu diajari untuk menjaga pandanganya, juga sentuhanya. Ia juga selalu menjaga wudhunya agar tidak batal. Lantas, kenapa sekarang lelaki ini begitu lancang menyentuhnya?
"Lepasin tangan aku!" Kesal Arra.
"Ok, sorry. Tadi spontanitas." Ujar pemuda tampan tersebut sambil terkekeh.
"Bossque," Panggil seseorang, yang langsung membuat lelaki itu menoleh.
"Apaan?"
"Hos, hos. Loe tega bet dah ama kita boss." Keluh salah satu diantara mereka, yang terlihat masih kesulitan mengatur deru nafasnya.
"Kenapa memang?"
"Loe ninggalin kita, bossquè yang paling ganteng, anaknya sultan Algafriel Hazka Dwiarga." Jawab yang lainya.
Lelaki tampan itu memutar bola matanya malas. "Lain kali, kalau jalan jangan kayak siput. Kayak gue dong, lelet lo pada." Timpalnya.
"Iye, iye. Anda mah bebas mau ngomong apa aja." Ujar salah satu diantara keduanya.
Lelaki tampan itu beralih, menatap sosok yang beberapa saat lalu berhasil mencuri perhatianya. Tapi eh, tapi sosok itu sudah tidak ada lagi disampingnya.
"Nyari apaan bos?"
"Nyari upil Ariana Grande." Seloroh lelaki tampan tersebut.
"Heh, ngapain nyari Upil bos, mendingan nyari jodoh. Tuh, jodoh dunia akherat gue baru aja lewat."
"Mana?" Tanya yang satunya lagi.
"Tuh. Yang pake gamis semi peach, yang pake kerudung longgar. Arabelle Lumiera Humaira Rajapatni Az-zzio, calon menantunya mama Nindia tersayang."
"Bisa ae lo mah." Sahut pemuda tersebut.
Lelaki tampan tersebut beralih, ikut menatap sosok bergamis semi peach yang tengah berdiri beberapa ratus meter dihadapanya. Gadis itu nampak cantik saat tersenyum. Dia nampak berseri, saat menyambut seorang pemuda tampan yang baru saja keluar dari pintu kedatangan bersama seorang gadis. Diiringi dengan 4 orang pria berbadan tegap, berpakaian serba hitam. Bodyguard kah?
"Eh, itu uwa uwa dari SMA Dandelion kan?" Ucap pemuda bernama Cakrawala--atau kerap disapa Cakra tersebut.
"Iya. Arsyad An-nass Senopati Az-zzioi, pemenang lomba Fisika nasional tahun lalu bukan?" Sahut pemuda yang memiliki raut blasteran Indo-Eropa tersebut menimpali. Sagara--atau akrab disapa Gara.
"Iya. Pentolan SMA Dandelion. Gila, mukanya lebih ganteng dari pada yang gue lihat dimajalah."
"Hooh. Gue aja yang blasteran gini, kalah ganteng njirr." Imbuh Gara.
Ketika keduanya sibuk membicarakan sosok tampan yang tenngah mengobrol bersama Arra, lain halnya dengan lelaki tampan yang kini menyunggingkan senyumanya. Ada sesuatu yang hinggap diotak jeniusnya.
"Say hai to calon kapar or kakak ipar?" Kekehnya kecil, yang membuat kedua sahabatnya geleng-geleng kepala, aneh.
"Gar, boss kita gila kayaknya?"
"Iya. Gegara gak jadi nemu upil Ariana Grande kali ye?"
"Hooh, rada rada sih dia."
"Eh, GUE DENGER OMONGAN LOE PADA YA?!" Sentak lelaki tampan tersebut.
"Eh," Cakrawala terkekeh jenaka.
"Khilaf boss."
"Iye, kelepasan bos." Imbuh Sagara menambahi.
"Halah, ngibul loe pada. Trip keliling Eropa minggu depan, jangan harap bisa ikut loe pada."
__ADS_1
"Yah?!" Lesu Cakrawala dan Sagara.
Toh, mereka sendiri yang memancing kekesalan sang boss. Lelaki tampan anaknya sultan Algafriel Hazka Dwiarga dan sultnah Geasya Genandra Putri. Alooh, kasihan sekali Cakrawala dan Sagara. Tiket traveling jadi hanģuskan?
📚📚📚
Setelah menempuh perjalanan udara yang cukup panjang, pesawat yang dinaiki oleh keduanya kini landing dengan sebanding. Kedantangan keduanya disambut langsung oleh kembaranya, Arra.
"Abang?"
Arsyad--si empunya panggilan langsung mengangguk sambil tersenyum hangat. Disampingnya, ada sang istri yang tengah bergelayut manja dilenganya.
"Assalamualaikum, Yara."
Arra tersenyum kikuk, saat lupa mengutamakan salam. "W-alaikumsalam, abang. Maaf, Arra khilaf." Lirihnya.
Arsyad tersenyum tipis, lantas tanganya terulur untuk menyentuh pucuk kepala sang kembaran.
"Apa kabar, Yaranya abang?"
"Alhamdulillah, baik bang. Abang sendiri sama mbak gimana?"
"Alhamdulillah baik. Nih, mbak-mu lagi jetlag." Arsyad menunjukk Kara dengan dagunya.
"Yanda ih, Kara pusing juga." Ketus si empunya nama.
Arra tersenyum tipis melihat kedekatan keduanya. Ia senang, melihat kembaranya bahagia.
"Arra, ayo kita pulang. Kara pusing, ngantuk juga." Gadis cantik itu beralih, melepaskan rangkulannya.
Berjalan mendekati Arra, diikuti oleh 4 bodyguardnya. "Yuk pulang, Kara lagi marahan sama Yanda. Nanti kita bongkar oleh oleh dari Korea dikamar Arra, Kara bawa banyak oleh oleh buat Arra." Ujarnya, sambil menarik tangan Arra.
Arra menoleh sejenak, meminta persetujuan dari sang kakak. Sang kakak mengangguk, meng-iyakan. Ketika keduanya berlalu terlebih dahulu, Arsyad membuntutinya dari belakang. Senyum tipisnya mengembang, ketika melihat sang istri mengobrol akrab dengan sang kembaran. Arsyad bersyukur, setidaknya mood sang istri hari ini tidak terlalu buruk.
"Yanda, hari ini pokoknya tidur diluar. Kara mau bobok sama Arra." Ungkap sang istri tiba-tiba.
"Eh-"
"Pokoknya Yanda tidur diluar. Titik."
Arsyad menghembuskan nafasnya lemah. Hum, ternyata mood sang istri kembali naik turun. Sabar, sabar. Orang sabar disayang istri bang.
****
TBC
Hollla, Yanda kembali menyapa👐
Hayoo, cung yang suka sama fanel diatas. Ada yang penasaran gak, sama muka gantengnya jodoh Arra eaakkkk. Tapi jangan syirikkk😆😆
Nih, anaknya AlGea dari novel 'My Sweeth Homeschooling'
Namanya....... coba tebakk?
Uwuuukan, cogan-able banget😆😆
11 12 deh sama bapaknya, yang sempat jadi badboy and pentolan sekolah.
Ok, jangan lupa komentarnya ya zeyenggg semua. ILYSM pokoknya buat readers semua😍
Salam Author❤
__ADS_1
Sukabumi 27 Nove 2020