
...91. Pendewasaan Diri...
...(Hati-hati baca part ini karena ada scen 17++🙀)...
..."Seiring dengan berjalannya waktu, perjalanan ini akan menumbuhkan kedewasaan yang kental dalam diri kita masing-masing."-Arsyad Ana-*** Senopati Az-zzioi...
...****...
Hari-hari mulai berganti. Setiap menit yang terlewati kian tak terasa untuk beberapa waktu. Tanpa sadar, sebulan sudah mereka tinggal di negeri orang. Baik orang tua Kara maupaun Arsyad, acak kali menelepon guna memastikan kondisi putra-putri mereka. Waluapun tidak lepas dari pengawasan. Namun, tetap saja para oramg tua perlu berkomuniksai secara langsung kepada keduanya.
Bukan saja menuntut ilmu, satu persatu pekerjaan mereka yang sesungguhnya mulai dilimpahkan. Tyoga acak kali mengirimkan mentahan ide untuk keduanya pelajari bersama dan pertimbangkan untuk penerapan ke depannya. Bagaimanapun juga, cepat atau lambat mereka akan benar-benar terjun ke dunia kerja yang nyata.
"Wow. It's your home?" ujar seorang gadis bule yang begitu terpukau oleh interior hunian lelaki di sampingnya tersebut. "Amazing." Imbuhnya.
"Hm. Masuklah."
Mereka masuk dengan decak kagum. Interior hunian bernuansa modern yang dipadukan dengan nuansa klasik-alami itu sangat indah menurut mereka. Apalagi beberapa ukiran dan lukisan yang terpajang di beberapa sudut, kian menambah keindahan hunian tersebut.
"Aku menjadi semakin ingin menjadi nyonya di rumah ini." Celetuk gadis bule tersebut.
Rambut pirang panjangnya tergerai indah dengan bagian bawahnya yang dibuat curly. Tubuh semampai bak gitar spanyol yang berlekuk-lekuk indah itu, dibalut dengan bawahan jeans biru dengan atasan cut of shoulder berwarna hitam pas body yang memperlihatkan bahu dan perut telanjangnya. Sepasang heels juga mempercantik kaki jenjangnya.
"Kamu bisa saja, Jess." Imbuh gadis berambut pendek di sampingnya.
Gadis bule bernama Jessy itu tersenyum bangga. Dia adalah putri seorang wali kota dan guru besar di salah satu Universitas ternama di New York. Kedatangannya jauh-jauh ke hunian lelaki rupawan ini adalah untuk mengerjakan tugas bersama yang diberikan oleh dosen mereka.
Padahal, bisa saja dia mengusulkan untuk kerjasama di tempat yang lebih dekat dengan kampus. Bukan harus menempuh jarak ratusan meter berjam-jam lamanya, demi datang ke tempat ini. Semua itu sebanding dengan keinginannya agar bisa mengunjungi rumah lelaki yang akhir-akhir menjadi perbincangan banyak orang.
"Kamu hanya tinggal sendiri di sini?" Tanya Jessy, sambil menetap ke sekelilingnya.
"Hm. Aku-"
"Wow. Ini ukiran dari tempat yang terkenal itu, ya?" sela suara milik seorang lelaki yang terpukau menatap ukiran flora yang terpajang di dekat meja.
"Hm. Itu ukiran original dari Jepara." Jawab Arsyad.
"Wow. Rumahmu berselera seni tinggi." Puji lelaki tersebut.
Arsyad hanya mengangguk kecil. Toh, hal itu ada benarnya juga. Namun, lebih tepatnya sang istrilah yang mencintai dunia seni lebih banyak ketimbang dirinya.
"Ayo. Kita kerjakan tugasnya di ruang belajar." Ajak Arsyad.
"Ok, let's go." Jawab mereka serempak.
Mereka berenam akhirnya memilih mengerjakan tugas yang diberikan di ruang belajar. Ruangan luas yang dilengkapi dengan fasilitas pendukung berupa perpustakaan pribadi, seperangkat PC (Personal Computer), mesin printer, proyekor tiga Dimensi, dan meja belajar yang dibuat panjang melingkar guna mempernyaman si empunya saat mengerjakan tugas. Bahkan di sana, dilengkapi juga dengan study model yang dibutuhkan.
"Di sini lengkap sekali." Ujar lelaki berkulit hitam bernama Georgi tersebut.
"Ya. Pantas saja dia terkenal sebagai mahasiswa baru yang jenius. Ruang belajarnya saja begini rupanya." Imbuh lelaki lain bernama Jemes.
"Kalian ini, sudah cukup bicaranya." Sela Jessy yang duduk di samping si empunya. "Nanti, kalian akan lihat sendiri bagaiman keindahan rumah ini setelah dia memiliki kekasih." Imbuhnya.
"Oh, ya? Memangnya lelaki seperti Arsyad tidak punya kekasih?" Tanya gadis yang duduk di samping Jemes.
"Ya ampun, Chloe. Semua orang juga sudah tahu kalau dia ini masih single." Ujar Jessy yakin 100% dengan jawabannya. Dia juga menyentuh lengan Arsyad yang ada di sampingnya.
Grak!
Semua orang menatap ke arah sumber suara tersebut serempak. "Aku akan ambilkan minum untuk kalian. Tunggu sebentar." Si empunya rumah beranjak dari duduknya.
"Tidak perlu. Duduklah kembali. Mereka bisa ambil sendiri jika haus." Ujar Jessy, sambil menarik lengan baju Arsyad.
"Biar aku saja-" belum sempat kalimat Arsyad rampung terucap, derit suara pintu kaca yang terbuka membuatnya menoleh.
"Hallo." Sapa gadis yang menjadi sumber terbukanya pintu tersebut. "Aku membawakan jus dan camilan. Kalian pasti membutuhkan ini selagi belajar."
Dia masuk sambil bersuara ramah. Di tangannya ada nampan berisi jus kemasan dan beberapa camilan homemade mulai dari yang rasa asin hingga manis.
"Bibi di dapur akan membuatkan camilan lagi jika kurang."
__ADS_1
Ucapnya ramah, sambil menyimpan barang bawaannya di atas meja. Mereka berlima hanya mengangguk kecil sebagai respon. Sedangkan Arsyad, hanya menatap gadis itu lekat. Dia datang dengan balutan midi dress berwarna putih gading yang melekat cantik di tubuh mungilnya. Rambut hitam panjangnya di gelung ke atas, sehingga menampilkan leher jenjangnya. Sepasang sandal bulu rumahan juga menghiasi kaki jenjangnya yang terekspose. Senyumnya mengembang sempurna di bibir mungilnya, dan Arsyad tidak suka melihat itu.
"Silahkan lanjutkan belajarnya, semangat." Ucapnya, sambil beranjak. "Aku pergi dulu." Imbuhnya, sambil melirik singkat ke arah Arsyad yang masih berdiri dengan posisi bagian lengah bajunya dipegangi oleh Jessy.
Hanya beberapa detik, sebelum gadis itu benar-benar undur diri.
"Woah, she's angel." Puji Jemes.
"Ya. Gadis Asia memang terkenal dengan keanggunan dan keramahannya. Aku melihatnya barusan." Imbuh Georgi.
"Kalian ini, seorang gadis saja pikirannya." Timpal Chloe, sambil berdecak sebal.
"Tapi dia memang ramah dan cantik." Imbuh seorang gadis yang duduk di samping Georgi.
"Iya. Beatrice saja mengakuinya."
"Sudah, cukup." Sela Jessy jengah. "Dia itu siapa kamu? Dia kenapa ada di sini juga?" Tanyanya pada Arsyad.
Lelaki itu berdehem kecil, sambil kembali duduk. "She's mine."
"WHAT?!" Pekik Jessy keras. "Maksud kamu?"
"Dia tinggal di sini, bersamaku. Dia milikku." Ujar Arsyad menuturkan datar. Lelaki itu kembali duduk dan kembali menekuni tugasnya. Tidak peduli jika gadis di sampingnya masih terkejut bukan main.
Padahal, sebulan belakangan juga sudah diketahui jika Arsyad selalu pergi kemanapun bersama gadis tersebut. Seharusnya Jessy mengetahui hal tersebut tanpa harus menanyakannya.
"Apa yang kamu bicarakan tadi benar? Bukannya dia adikmu? Atau kembaran mu mungkin." Tanya Jessy beruntun.
Sesi belajar bersama telah selesai dua puluh menit yang lalu. Namun, gadis itu tetap bertahan di rumah lelaki yang dia sukai hanya karena masih penasaran dengan jawaban lelaki tersebut.
"Pasti dia adikmu 'kan? Tidak mungkin dia bukan saudaramu jika kalian tinggal bersama." Kekeh Jessy tenang.
"Di dalam agamamu melarang dua orang yang berbeda jenis tinggal bersama tanpa ikatan yang resmi bukan?"
Pertanyaan Jessy itu berhasil membuat Arsyad agak risi. Toh, dia juga tengah berada di posisi tersebut saat ini.
"Lantas, kenapa kamu tidak segera pulang? Tidak baik berlama-lama di rumah seorang lelaki yang bukan siapa-siapa bagimu."
"Itu tidak sebanding dengan kalian yang tinggal bersama." Cibir Jessy.
Arsyad mengeluarkan ponselnya, lantas menunjukan sebuah bukti real yang bisa membungkam mulut gadis tersebut. Dia sudah mulai jengah menghadapi tingkah laku gadis tersebut.
"We are married. You understand, Jessy?" Tanya Arsyad dingin.
"T-api, kalian masih muda." Kaget Jessy. "A-pa kalian-"
"Itu bukan urusanmu. Sekarang pergilah." Ujar Arsyad tenang. Lelaki itu berbalik guna menutup pintu setelahnya.
Membiarkan Jessy yang masih ada di depan pintu dengan segala ketekejutannya hilang dari pandangannya.
Arsyad tidak memiliki waktu untuk meladeni gadis agresif dan penuntut seperti itu. Waktunya akan banyak terbuang jika meladeni mereka. Toh, tujuannya ke temapt ini adalah untuk mengenyam ilmu, bukan untuk mencari pasangan baru, popularitas atau sensasi.
"Yanda?"
Si empunya nama menoleh. Maniknya langsung mendapati sang istri yang baru saja turun dari anak tangga.
"Teman-teman yanda sudah pulang sem-" ucapan gadis cantik berdress putih gading selutut itu terhenti. Saat tiba-tiba saja sang suami melangkah cepat ke arahnya dan menawan bibir tipisnya. Membuat kata-kata yang tadinya akan ia ucapkan tertahan seketika.
"Hhmmp." Desahnya kecil. Saat merasa jika ciuman yang diberikan suaminya itu kali ini didominasi oleh emosi.
"Y-anda kenapa?" tanyanya waswas, saat lelaki ruapawan di hadapannya menyudahi ciumannya.
"Itu hukuman karena berani turun ke ruang belajar." Jawab lelaki rupawan tersebut, sambil menyatukan keningnya dengan sang istri.
Napas keduanya masih bersahutan tak beraturan pasca ciuman dua menit tersebut. "T-api apa salah Kara? Kara Cuma mau bantu tugas bibi. Tadi bibi sibuk buat camilan. Jadi Kara bantu antarkan." Ujar gadis cantik tersebut menuturkan.
"Kesalahanmu itu adalah ini." Arsyad menyentuh leher sang istri. Membuat gadis itu berjengit kecil karena terkejut.
"Ini." Tangan lelaki rupawan itu lantas menuruni perpotongan bahu sang istri, menuju bagian tulang selangka dan bahu sang istri yang terbuka.
Model midi dress yang digunakan gadis itu memang bertali yang ukurannya tiga jari. Hal itu tentu tidak mampu menutupi semua bagian bahu sang istri.
__ADS_1
"Yang terakhir, ini." Lelaki itu meremat pelan usapan terakkhir di area yang terekspose.
Midi dress itu memang jatuh di atas lutut, namun tidak tepat. Hal itu tentu membuat paha Kara terekspose sedikit. Belum lagi kaki jenjangnya juga tidak tertutup apa-apa. Arsyad tidak suka aset milit istrinya itu dilihat orang lain. Itu kepemilikannya. Jikapun Kara ingin memperlihatkannya, hanya dialah yang memiliki hak untuk melihatnya.
"It's mine." Ujar Arsyad penuh penekanan.
"Kamu kepunyaaanku, begitupun sebaliknya. Berapa kali harus aku katakan. Jangan keluar menggunakan pakaian seperti ini."
"M-aaf. Tadi Kara asal ambil baju yang penting nyaman, karena Kara mau menghabiskan waktu di galeri. Kara baru tahu kalau yanda bawa teman banyak dan ada cowoknya." Tutur Kara. "Tadi bibi juga bilang, katanya temen yanda cewek semua. Kara jadi penasran 'kan."
Arsyad menghela nafanya sejenak. "Jangan diulangi lagi."
Gadis itu mengangguk paham. Dia juga tidak berniat membuat suaminya marah. Hanya saja, dia juga tidak mau jika ada gadis lain yang begitu memperlihatkan ketertarikannya pada sang suami. Lelaki ini miliknya. Kepunyaanya. Kara memiliki hak paten untuk menjaga kepunyaanya.
"Ahk." Lamunan gadis itu buyar, saat meras ada sesuatu yang asing menghisap lehernya. Gelenyar asing merayapi rongga dadanya.
"Y-anda sedang apa?" tanyanya kikuk. Entah sejak kapan pula, lelaki rupawan itu ada di perpotongan lehernya, mengendus-endus bagian tersebut. Membuat si empunya menahan geli dengan wajah yang sudah memerah.
" You are mine." Ujar lelaki tersebut sambil tersenyum kecil kala menjauhkan wajahnya. Dia menatap bangga ke arah leher sang istri yang kini dihiasi tanda kemerahan darinya.
"Y-anda buat apa sama leher kara?" Tanya Kara, sambil menyentuh lehernya.
"Love bite (gigitan cinta)." Jawab Arsyad sekenanya, sambil meraih tubuh sang istri untuk ia gendong ala bridal style.
Gadis cantik itu memekik untuk sesaat. Namun, dia segera mengalungkan tanganya ke leher sang suami karena takut terjatuh.
"Yanda belajar dari mana yang seperti itu?" Tanyanya hati-hati, sambil menatap pahatan rupawan di hadapannya dari bawah.
"Aku seorang lelaki, Kara. Kaum kami diberi insting dan naluriah secara alami. Seperti perempuan dengan sifat keibuannya. Hal itu muncul secara alami."
Kara mengangguk sambil mendengarkan. "Tapi ingat, jangan biarkan lelaki lain melakukan itu kepadamu. Only me, your husband, paham?"
Lagi, gadis itu mengangguk tanpa banyak bicara. Arsyad tersenyum tipis melihatnya. Senyum manis dengan tatapan polos itu seperti kelinci mungil yang menggemaskan. Dia selalu menurut tanpa banyak kata. Kendati demikian, pesona si pemilik manik hazelnut itu bisa membuat banyak kaum Adam jatuh terperosok kedalamnya. Apalagi jika gadis itu sudah menduduki singasananya sendiri, di atas kerajaan bisnis yang selama ini menjadi peninggalan untuknya.
"Yanda."
"Hm."
"Tadi ada paket dari Om Galaksi."
"Paket?" lelaki yang tengah mengancingkan piamanya itu menoleh ke arah sang istri. "Di mana paketnya?"
"Itu. Kara simpan di atas meja belajar." Tunjuk gadis cantik berpiama motif benda-benda astronomi tersebut.
Arsyad mengangguk, lantas berjalan menuju meja belajar. Di sana, ada paket berbentuk kotak berukuran sedang yang dibungkus oleh kerta warna coklat. Lelaki itu membukanya menggunakan bantuan gunting. Mencari tahu apa isi dari paket tersebut.
"Apa isi paketnya, yanda?" Tanya sang istri.
"Bukan apa-apa." Jawab Arsyad sekenanya, sambil menutup kotam tersebut. Menyimpannya di dalam lemari baju yang didalamnya dilengkapi dengan sebuah brangkas berwarna silver.
Om-nya yang memiliki darah Inggris dari pihak Ayah itu, baru saja mengirimkan alat untuk dia berlatih. Namun, alat itu tidak boleh sampai dilihat sang istri. Dia tidak mau sang istri ketakutan hanya karena suaminya baru saja menerima kiriman senjata api jenis Air Soft Gun untuk latihan awal.
"Ayo tidur." Dia meraih pinggang ramping sang istri, saat kembali ke tempat tidur.
Kara mengangguk, lantas memeluk balik tubuh tegap nan wangi dihadapannya. Dia sudah biasa tidur berbantalkan lengan lelaki tersebut. Rasanya, hal tersebut sudah menjadi suatu kewajiban baginya.
"Tidur. Besok kita harus pergi kuliah." Bisik Arsyad, sambil mengirup aroma buah-buahan yang tercium dari rambut sang istri. Aroma menyegarkan juga menenangkan yang selalu membuatnya candu.
"Iya, yanda."
Arsyad tersenyum kecil sambil mengeratkan pelukannya. Karena besok, dia bukan saja harus kuliah dan berkutat dengan berbagai matkul. Tapi, dia juga harus mulai berlatih dengan para Om-nya yang akan memberinya berbagai pelajaran yang tidak bisa dia dapatkan dimanapun. Hal itu dia lakukan, guna menjaga keselamatan sang istri dan keluarga kecilnya kelak. Arsyad harus terlatih baik fisik maupun psikis, juga harus mumpuni di berbagai skill yang harus dia kusai. Karena nanti, tanggung jawabnya akan semakin besar dan tentunya berbahaya.
...****...
...BCT Update guys! Apa kabar? Sehat kah? Jangan kendor, jaga iman dan imun biar kita selalu sehat....
...Maaf baru update. Aku nulis lewat notebook, dan butuh waktu lamaa (Notebook ini satu-satunya harta benda berharga milikku yang tersisa, pasca insiden kehilanagn 3 unit hp kala itu). Hp sementara yang aku pakai buat publish saat ini, keyboardnya sering lemot. Jadi susah kalau mau ngetik. Maaf kalau belum bisa update teratur....
...Tantangan hidup mereka yang sesungguhnya akan dimulai ketika tiba di NYC seperti kataku. Jessy pelakor BUKAN?? Jawabannya bukan, Cuma bakal calon pelakor. Masalah terbesar yang harus mereka hadapi sebenarnya adalah masalah internal mereka sendiri. Nanti, mereka akan kembali dihadapkan dengan berbagai rintangan yang sumbernya dari masalah internal....
...Ok, Jadi jangan lupa like, vote, komentar, share dan follow Author. Semoga Readers selalu setia & sabar menunggu ya:')...
__ADS_1
...(Sukabumi 03 juli 2021)...