Bukan Cinta Terencana (R3)

Bukan Cinta Terencana (R3)
110. Publik Harus Tahu!


__ADS_3

110. Publik Harus Tahu!


Seorang pria muda yang baru saja turun dari helikopter yang mendarat di pekarangan mansion milik keluarga Pradipta, tampak berlari tergesa-gesa. Ia ingin cepat sampai ke kediaman megah tersebut, agar bisa segera melepas penat. Ransel hitam yang ia bawa sudah tersampir di sebelah bahu. Ia bahkan meninggalkan dua rekannya yang tampak berjalan santai, jauh di belakang.


“Davian home,” ujarnya seraya memasuki rumah setelah mengucapkan salam, tetapi tidak ada siapapun yang menjawab.


“Onty Tari, Onty Ari?” panggilnya. Entah kemana perginya dua wanita tersebut. Jikalau om-omnya, jangan ditanya lagi. Mereka pasti tengah berada di kantor.


“Davian sudah pulang?” sapaan hangat mampir saat Davian memasuki dapur.


Wanita yang tengah berkutat di balik kabinet dapur itu tampak menyunggingkan senyum, mendapati salah satu anggota keluarganya telah pulang dengan selamat.


“Iya, Onty. Misi sudah selesai dilaksanakan,” ujarnya seraya meraih punggung tangan wanita yang beberapa tahun kebelakang sudah merawatnya seperti anak sendiri.


“Astronot sama adiknya, mana? Kok enggak pulang bareng?”


“Bareng, kok. mungkin masih di luar,” jawab Davian. “Ini, yang lain ke mana, Onty?”


“Anak-anak yang lain lagi ngerjain tugas.”


“Kalau Senja sama Aurora? Tumben enggak bantu Onty?”


“Aurora lagi beli gula ke minimarket depan. Tadi, pas Onty buat kue, gulanya habis. Kalau Senja lagi bantu Mbak Ari metik buah di belakang.”


Davian menghela nafas pelan mendengarnya. Niat hati ingin menemui sang pujaan hati, gatot alias gagal total. Orang yang ia cari tidak ada di sini. Padahal ia sudah semangat 45 untuk segera pulang. Sekarang, ia malah harus menelan pil pahit bernama kenyataan.


“Kalau gitu Davian naik ke atas dulu, Onty. Mau istirahat.”


“Iya. Nanti kalau sudah waktunya makan siang, Onty panggil kamu.”


Davian mengangguk, lantas meninggalkan dapur setelah pamit. Dengan langkah gontai ia berjalan menuju kamarnya dengan Fajar. Ya, mereka memang berbagi kamar. Atau istilah kerennya room mate. Walaupun pada awalnya Davian sering kali usil dan tidak akur dengan Fajar. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, mereka bisa menjadi room mate yang saling melengkapi. Letak kamar mereka kebetulan diapit oleh kamar Astronot-Antariksa, kemudian Angkasa-Alaska. Sedangkan kamar Senja dan Aurora ada di bagian paling dekat dengan tangga.


Selama tinggal di New Yok, Davian tidak pernah kesepian. Mengingat ada tim GA dan si kembar Fajar dan Senja yang selalu mengisi hari-harinya. Ia juga sudah dianggap seperti keluarga sendiri di rumah ini, mengingat para GG bersaudara lah yang menjadi walinya selama menuntaskan pendidikan universitas New York atau UNY. Hingga saat ini Davian belum berniat pulang ke rumah, mengingat ada beberapa hal yang membuatnya urung pulang. Salah satunya adalah profesi yang ia jalani. Ia takut dicap tidak baik jika pulang, dan berujung mempermalukan nama orang tuanya.


Padahal Davin, kembaran tertuanya berpofesi sebagai TNI. Sedangkan Aroon, kembaran termudanya berprofesi sebagai Chief Exsekutive Officer atau CEO. Walaupun sementara, Aroon sempat mengharumkan nama keluarga karena berhasil melanjutkan masa kepemimpinan ayah mereka. Kendati kepemimpinan akan beralih pada Arsyad, Aroon tetap dapat mengisi posisi sebagai Chief Operations Officer atau COO. Mengingat kecakapannya dalam dunia bisnis.


Jadi, Davian belum bisa pulang jika ia belum bisa berdamai dengan diri sendiri. seraya menghela nafas berat, lelaki itu menjatuhkan dirinya di atas single bad dengan bed cover bermotif abstrak. Sebelum memutuskan untuk mandi, Davian terlebih dahulu membenahi peralatan yang ia bawa. Termasuk menyimpan senjata Uzi SGM yang ia bawa. Jangan terkecoh dengan nama senjata yang mirip merk susu formula, senjata yang dibeli secara resmi itu adalah salah satu andalan Davian.


Uzi SGM berkaliber 9 x 9 mm. Parabellum, 22LR, .45 ACP. Kecepatan laju peluru 390 meter/detik. Rata-rata tembakan mampu meluncur 600 peluru/menit dan jarak tembak efektifnya adalah 100-200 meter. Davian tentu hafal secara detail soal senapan yang menjadi hadiah pertamanya saat berhasil menyelesaikan misi pertama itu.


Setelah menyimpan benda tersebut di tempat yang seharusnya, Davian beralih pada ujung-ujung kaos yang ia gunakan. Menariknya ke atas, membuat benda itu terlepas dari tubuhnya. Mengekspose eight pack keras hasil latihan berat yang tentunya dapat membuat wanita manapun menelan ludah susah payah melihatnya. Sebuah kalung dengan gantungan besi pipih berukuran persegi, seperti identitas seorang abdi Negara juga menggantung di lehernya.


Di antara kedua kembarannya, Davian memang memiliki kulit yang lebih putih. Mengingat dari kecil ia memang hobby merawat kulit agar terlihat selalu glowing. Sedangkan saat ini, kulitnya agak kecoklatan karena terbakar matahari. Kegiatan yang padat di luar ruangan, membuat kulitnya mulai kecoklatan. Tetapi, hal itu malah membuatnya kian eksotis dan macho kala mendekati usia matang seorang pria.


“Aa, tadi bunda bilang—“ kalimat itu tak sampai rampung, karena si empunya terlanjut terbelalak dengan apa yang dilihat sepasang netranya.


“Astagfirullah!” gadis dalam balutan khimar semi peach itu cepat-cepat berbalik badan. Wajah cantiknya sudah dihiasi oleh rona kemerahan.


Bagaimana ia tidak gugup jika disuguhi pemandangan bahu kokoh dan punggung tegap kala membuka pintu. Sungguh, hatinya berdesir hebat sekarang.


“Senja, biasakan ketuk pintu dulu sebelum masuk!” ujar Davian. Ia juga terkejut kala gadis itu tiba-tiba masuk.


“Maaf, A. T-adi Senja buru-buru naik pas tau Aa udah pulang,” jawab si empunya nama pelan.


“Sini, masuk.”


“Aa pakai baju dulu.”

__ADS_1


“Memangnya kenapa? Kamu juga suka lihat saudara-saudara kamu gak pakai baju pas berenang.”


“Itu beda!”


“Apanya yang beda? Mereka juga laki-laki.”


“Mereka saudara aku,” jawab gadis itu ragu.


“Dan aku, siapa kamu?” tanya Davian, menuntut jawaban. Padahal, tanpa sepengetahuan gadis itu, ia sudah kembali mengenakan kaosnya. “Aku siapa kamu, Senja Pradipta?”


“Gak tahu. Aa jawab aja sendiri.” Terdengar nada ketus dari kalimat gadis tersebut, membuat Davian tertawa kecil.


“Coba lihat sini.”


“Gak mau, zinah mata!”


“Tapi, suka? Kamu suka lihatin aku pas workout sama Fajar, ‘kan? Hayo, ngaku?”


“E-nggak! Mana ada Senja gitu,” bantah si pemilik nama.


Davian kembali tertawa kecil. Gemas sekali dengan tingkah laku kembaran room mate nya itu. “Sekarang sini, dulu.”


“Aa pakai baju dulu.”


“Udah, coba lihat.”


Dengan perlahan, gadis itu kemudian berbalik. Memastikan kebenaran dari ucapan pria itu. Ternyata benar, pria muda itu telah kembali berpakaian.


“Sini, ngapain di pintu terus. Enggak kangen?”


“Bilang aja kangen, gengsi amat Neng.”


“Aa ih!”


“Iya, sayang. Kenapa? Kangen, ya? Sini, peluk dulu.”


“Bukan muhrim!” ujar Senja galak, seraya mencubit perut liat milik Davian. Membuat pria itu meringis kecil.


“Aw, sakit dong, yang. Orang lagi kangen juga. Kok malah di cubit? Di-kiss dong.”


“Apa itu kiss-kiss? Permen wangi bukan?”


Davian berdecak mendengarnya. “Mulai deh nyebelin,” ketusnya. Inilah salah satu sifat Senja, terkadang menyebalkan. Tetapi, itu pula yang sering kali membuat Davian rindu. Alasan kenapa ia tak pernah bermain hati di luar sana, karena ia sudah memilih pemilik hati.


“Peluk dulu boleh? Kangen nih,” ujarnya pelan seraya tersenyum tipis.


“Senja ke sini buat panggil Aa makan siang loh. Bukan mau kangen-kangenan.”


“Lah, kok gitu? Sama pacar sendiri masa gitu?” ujar Davian nelangsa. Namun, bukannya sang pujaan hati yang menjawab, melainkan suara familiar milik seseorang yang mematung di depan pintu.


“Pacar? Siapa yang pacarnya siapa?!”


Senja yang mendengar suara itu, sontak menoleh. “Aa Fajar, i-ni enggak—“


“BUNDA, DADAV SAMA SENJA LAGI PACARAN!”


‘Sudah waktunya publik tahu kah?’ batin Davian lirih.

__ADS_1


**


“Sini, Kara bantu pasang dasinya.”


Pria rupawan yang baru saja meraih dasi berwarna dark blue dengan garis hitam itu mengangguk seraya membiarkan sang istri melakukan pekerjaannya. Hari ini, wanita itu tampak kian cantik dalam balutan dress yang jatuh di bawah lutut berwarna semi pink yang dihiasi aksen bunga sakura.


Hari ini adalah momen yang penting bagi mereka. Hari di mana dunia akhirnya akan tahu, siapa sebenarnya putri persilangan dari dua klan yang selama ini ditutup-tutupi. Sesuai schedule, meeting dengan para dewan direksi akan dilakukan pukul 08.00 pagi. Aiden sendiri yang akan bertanggung jawab, dibantu dengan Aroon. Mereka akan memastikan jika meeting hari ini berjalan dengan lancar.


“Kamu yakin mau ikut.”


“Iya. Kenapa, yanda mau larang Kara?”


Arsyad tak merespon. Namun, telapak tangan pria bergerak, kemudian bermukim di permukaan perut sang istri. “Kamu siap? Apa dia juga siap?”


Kara tersenyum tipis. “Kita siap, yanda. Sudah waktunya mereka tahu, bukan?”


Arsyad mengulas senyum tipis. Kemudian wajah pria itu merunduk, meraih kening sang istri untuk dijatuhi kecupan hangat. Menggumamkan sebuah do’a, agar Tuhan senantiasa menjaga keselamatan sang istri dang calon buah hati mereka.


“Yanda.”


“Hm.”


“Setelah urusan kita selesai di sini, ayo kita pergi menemui Mamih. Kara rindu Mamih.”


Arsyad menatap sang istri lamat-lamat. “Kamu yakin?” tanyanya, ragu. Ia ingat jika ayah mertuanya pernah mengatakan jika Kara sempat trauma karena ibunya meninggal secara tragis. Istrinya itu bahkan selalu menangis histeris jika dihadapkan dengan tempat peristirahatan terakhir sang ibu.


“Iya. Kara mau kasih tahu Mamih kalau sebentar lagi putrinya akan menjadi seorang ibu.”


Netra hazelnut milik wanita itu tampak berkaca-kaca. Arsyad dapat melihatnya. Akan tetapi, Arsyad tahu jika sang istri telah berusaha keras melawan traumananya. Sekarang, lihatlah bagaimana Kara mengutarakan keinginannya dengan gamblang.


“Baik. Kita berkunjung sepulang dari sini.”


Kara mengangguk seraya menyunggingkan senyum lebar. Dengan segera ia menghambur ke dalam pelukan sang suami. Akhirnya, setelah sekian lama ia memiliki keberanian untuk mengunjungi tempat peristirahatan terakhir wanita yang telah melahirkannya, tanpa didampingi sang Ayah. Kara akan bercerita banyak pada sang ibu. Pun akan mengenalkan sang suami, pria hebat yang telah membawa banyak warna pada kehidupannya.


**


Haha.... Ada yang terkedjot? Kalau baca BCT dari awal, seharusnya udah sadar ya😂


Yuk.... Restuin Dadav Yuk...


Next??


woiya... yang belum baca Arragean yuk merapat ke Facebook Karisma Yknp 👋


Sebentar lagi Novel Arragean diterbitkan versi cetak loh 🥳


Novel Radityan series pertama yang bakal hadir versi real❤️



Jangan lupa mampir ke Mitress!


Add ke Library juga ya, karena cerita itu the next cerita berbawang setelah BSK & BSJ🔥



Sukabumi 19 November 2021

__ADS_1


__ADS_2