Bukan Cinta Terencana (R3)

Bukan Cinta Terencana (R3)
. 80. Memperbaiki Simpul Ikatan


__ADS_3

. 80. Memperbaiki Simpul Ikatan



"Katanya, bagi pasangan yang sudah di satukan dalam bahtera rumah tangga itu punya simpul ikatan rumit yang tidak ada habisnya."-Triple D


****


"Arsyad, kamu gak dengerin aku ya?" Pertanyaan gadis berhijab itu berhasil menarik perhatian lawan bicaranya.


"Hm."


Lelaki yang barusan menatap lurus ke depan itu beralih. "Maaf, aku harus pergi." Ia bergerak dari duduknya.


"Eh,"


"Sampai jumpa lagi." Arsyad menambahi, sebelum meninggalkan gadis itu sendiri.


Lelaki rupawan itu berjalan menghampiri 3 saudaranya yang sedang berada di bagian perasmanan. Sedari tadi fokusnya hanya bertitik pusat pada gadis berdress semi peach yang nampak tengah mengakrabkan diri dengan orang-orang yang baru ditemuinya. Bukan satu atau dua orang yang sedari tadi curi-curi lirik ke arah gadis tersebut.


Membuat si empunya geram sendiri di tempatnya. Untuk saat ini ia tidak memiliki kuasa apa-apa. Toh, ini semua salahnya karena mengindahkan permintaan sang istri. Hal itu juga ia lakukan sesuai peraturan yang telah ditetapkan oleh Tyoga-Ayah Kara. Ia harus sebisa mungkin membatasi ruang gerak sang istri di muka publik. Tapi jika begini jadinya, rumit sudah urusannya.


"Kok kapar bisa nyampe kesini bang?" Davian berbisik lirih. Lelaki itu juga nampak terpukau melihat penampilan sang kakak ipar.


"Alihkan pandanganmu, dia istriku." Arsyad berkata lugas.


"Mau gue ngalihin perhatian juga percuma, bang. Masih ada puluhan pasang mata yang ngelihatin kapar."


Arsyad menghembuskan nafasnya lemah, benar kata Davian. Toh, ia cemburu juga keadaan tidak bisa dihakimi. Adanya dia yang salah lagi disini.


"Kepsek itu siapanya mbak Kara, bang?" Aroon bergantian bertanya sambil berbisik.


"Om." Singkat Arayad.


"Wih, daebak. Berarti kapar itu beneran crazy rich yang koneksinya sana-sini ya." Ujar Davian terpukau. "Enak banget pasti kalau mau ngelacak orang, kan banyak koneksi."


Arsyad menghembuskan nafasnya lemah. Untuk saat ini ia tidak bisa berbuat apa-apa. Walaupun ia mau membawa sang istri ke acara Prom Night sekalipun, keadaanya tetap akan sama. Tyoga pasti tidak akan menyukai ide tersebut.


Untuk saat ini, hingga acara selesai dia tidak bisa berbuat banyak selain mengamati sang istri dari jauh. Itu lebih baik baginya, ketimbang memperumit keadaan. Acara Prom Night usai sekitar pukul 22.00 malam. Para tamu undangan sudah berangsur-angsur menyurut pada jam tersebut.


"Nyariin apa lo, syad?" Tanya Arsen yang baru saja tiba.


"Istri." Celetuk Davin, dari tempatnya berdiri. Mendahului Arsyad yang hendak menjawab.


"Istri kok dicari, kan udah dibawa pergi." Davian mengimbuhi.


"Dibawa pergi?" Arsyad bertanya cepat. "Maksudmu?"


"Kalau yang dicari itu kapar, telat nyarinya. Dia udah dibawa pergi sama kepsek, bang." Tutur Davian.


Arsyad sedari tadi memang curi-curi lirik mencari sang istri yang luput dari pantauannya. Siapa sangka, istrinya itu telah pulang terlebih dahulu bersama Setyo.


"Udah, palingan mbak Kara sudah dirumah." Aroon memberi support.


"Iya. Ini udah malam, ayo kita pulang." Ajak Arra. Gadis itu dengan cepat mengamit lengan sang kembaran, guna mengalihkan perhatiannya pula sejenak. Arsyad mengalah, ia mencoba menepis pikiran negatif yang berseliweran di kepalanya. Toh, mungkin benar seperti ucapan Aroon. Istrinya itu sudah ada di rumah dan sedang menunggu kepulangannya.


"Kara?" Panggilnya, kala ucapan yang ia serukan tidak mendapati jawaban.


"Kara?" Panggilnya lagi, namun nihil. Istrinya itu tak kunjung menawab. Pun tak kunjung muncul ke hadapannya.


"Abang sedang apa?"


"Bunda," Arsyad menoleh saat mendengar suara familiar wanita yang telah melahirkannya tersebut. "Istri abang dimana bund?"


"Kara? Bukannya tadi istri abang izin mau menginap di rumah Ayahnya?"


"Menginap?"


"Iya. Tadi Kara dijemput sama kepala sekolah abang. Katanya beliau Om Kara."


Arsyad terdiam sejenak. "Astagfirullah," Arsyad beristigfar kecil.


"Kenapa bang? Kara memangnya tidak izin sama abang?" Aurra menyentuh bahu sang putra pelan, guna menenangkan putranya tersebut.

__ADS_1


"Coba chek handphone, mungkin Kara sempat menghubungi, tapi abang sibuk tadi."


Arsyad mengangguk, sambil merogoh saku celananya. Ia lantas mengechek notifikasi yang masuk ke teleponnya. Benar saja dugaan sang ibu, ada 6 panggilan tak terjawab dari nomer sang istri, juga beberapa pesan tak terbaca.


"Astagfirullah." Ia kembali beristigfar kecil. Kerumitan itu kembali datang menyambangi bahtera rumah tangganya.


"Ya sudah, sekarang abang istirahat dulu. Salat malam kalau bisa, biar tenang. Besok, abang bisa jemput Kara." Aurra memberi solusi. Toh, tidak mungkin juga ia membiarkan putranya berkelana di tengah malam begini.


Membina rumah tangga memang tidak mudah. Aurra tahu, usia sang putra dan menantunya masih dini. Ujian yang silih berganti datang merupakan bentuk lain untuk mendewasakan diri. Oleh karena itu, selaku orang tua, ia harus bisa menengahi dan memberi solusi yang bijak di waktu yang tepat.


Keesokan harinya, Arsyad langsung pamit kepada kedua orang tuanya. Ia memang tidak tahu pasti dimana sang istri berada. Kediaman Tyoga lebih dari satu di Jakarta, belum lagi di kota-kota besar lainnya. Namun, dengan bantuan koneksi yang dimiliki Davian, Arsyad bisa menemukan lokasi tepat sang istri berada.


Tiba di kota Pahlawan, Arsyad langsung mengemudikan motor kesayangannya menuju lokasi yang Davian telah kirimkan. Iya, sang istri ada di mansion utama sang Crazy Rich di Surabaya.


Tiba di kediaman sang Taipan, Arsyad dihadang oleh 2 penjaga di gerbang utama. Gerbang yang tinggi menjulang itu tertutup rapat, seolah-olah tidak membiarkan Arsyad lewat.


"Izinkan saya masuk, saya ingin menjemput istri saya."


Kedua penjaga tersebut saling lirik. Satu diantara tiba-tiba mendapat panggilan dari interkom lewat earphone wireless yang tersambung di telinganya.


"Biarkan dia lewat." Ujar bodyguard tersebut.


"Tapi, tuan besar bagaimana?"


"Ini titah dari tuan besar." Bodyguad satu lagi mengangguk paham.


Arsyad memang cukup terkejut akan kemudahannya diberi akses masuk. Pikirnya, ia akan dicegat dan dihalangi dengan penuh drama. Tapi syukurlah, untuk saat ini tidak ada halangan yang terlalu berarti.


Melewati gerbang raksasa tadi, Arsyad melajukan kendarannya menyusuri jalanan beraspal hitam yang kanan kirinya ditumbuhi pepohonan rindang. Letak bangunan utama menjorok kedalam, sekitar ratusan meter lebih dari gerbang utama. Ia juga sempat melihat hewan berkaki empat, seperti rusa yang berlarian dengan bebas di pekarangan luas tersebut.



Setelah melalui perjalanan cukup panjang dari gerbang utama, kini Arsyad memarkirkan kendaraanya di depan bangunan utama. Bangunan yang terdiri dari 3 lantai itu nampak cantik, berdiri di tengah-tengah keasrian di sekelilingnya. Di samping kanan dan kiri bangunan megah tersebut, Arsyad bisa melihat berbagai jenis bunga bermekaran, termasuk bunga matahari kesukaan sang istri.


Ketika dua penjaga mempersilahkan Arsyad masuk, sebuah air mancur besar menyambut pandangannya. Para pelayan berpakaian seragam rapih, nampak menunduk kala ia melewatinya. Arsyad kikuk sendiri akan suasana akward tersebut.


Ini memang kali pertama ia datang ke mansion Tyoga, semenjak menikahi Kara. Ia bahkan baru tahu letak mansion milik sang Taipan tersebut. Sedangkan Tyoga sendiri, sudah hafal betul seluk beluk kediaman Radityan.


Seorang pelayan senior berpakaian rapih, datang menghampiri Arsyad. Beliau tersenyum kecil saat menyambut menantu pemilik kediaman megah tersebut.


Arsyad mengangguk, lantas ia mengikuti langkah pria tersebut tanpa kata. Tiba di ruangan megah yang katanya ruang tamu, ruangan yang besarnya 2 kali lipat dari ruang tamu keluarganya, langkah Arsyad disambut oleh Hiu macan yang tengah berenang bebas di dalam kotak kaca besar di salah satu bagian dinding yang memang merupakan aQuarium pribadi milik sang Taipan.


"Sudah datang rupanya." Pria berjas rapih yang tengah menikmati segelas teh camomile itu tersenyum tipis.


"Duduk, anggap seperti rumahmu sendiri."


Arsyad mengangguk tanpa menolak. Dua orang maid langsung datang membawa troli makanan, mendekati dirinya. Menawarkan minuman atau kudapan yang telah tersedia.


"Tidak, terimakasih." Jawab Arsyad sopan.


"Jadi," Tyoga menggantung kalimatnya.


"Aku ingin menjemput istriku, Pak." Arsyad berkata to the point.


Tyoga tersenyum sambil menyimpan gelas keramik berisi teh miliknya. "Putriku ada di belakang. Tidak perlu terburu-buru."


"Maaf, tapi tujuan saya kesini untuk menjemput Kara."


Tyoga mengangguk paham. "Hm."


Arsyad pikir Tyoga akan memarahinya, karena telah membuat sang putri marah dan berakhir meninggalkan rumah. Tetapi pada kenyataanya, pria itu nampak biasa saja menghadapinya.


"Bapak tidak marah?"


"Untuk?" Pria yang tengah berdiri, sambil berjalan menuju dinding kaca tranfaran itu bertanya balik.


"Saya membuat Kara pergi dari rumah, karena tidak mengizinkannya pergi ke acara Prom night."


"Untuk apa marah? Putriku yang kekanakan disini." Balas Tyoga. "Aku tahu dia kekanakan, itu sebagai antisipasi terhadap rasa kepemilikannya akan dirimu."


Arsyad tertegun. "Kara masih kecil. Dia belum bisa dipaksa untuk berpikir dewasa, melebihi batas kemampuannya. Wajar dia risau jika suaminya didekati perempuan lain."


Deg

__ADS_1


Arsyad tidak menyangka, jika Tyoga akan mengetahui sejauh ini.


"Selesaikan kesalahpahaman diantara kalian dengan baik. Aku tahu, kau cukup dewasa untuk mengatasinya." Tyoga berbalik, hendak meninggalkan ruangan.


"Dan, tinggalah disini untuk sehari saja. Putriku sepertinya masih belum ingin pulang."


Arsyad mengangguk. Tyoga meninggalkan dirinya setelah berkata demikian. Ia sempat meminta pelayan senior yang tadi mengantar Arsyad untuk menunjukan dimana sang putri berada.


Melewati area berlorong panjang dengan nuansa putih yang ditonjolkan dari bebatuan alami, pelayan senior itu membawa Arsyad ke area di sayap barat mansion. Tempat tersebut memiliki atap terbuka, dikelilingi oleh dinding bernuansa putih dari bebatuan alami. Ada kolam air mancur berdiri tepat di tengah-tengah area tersebut.


"Nona muda?" Pelayan itu bersuara ramah.


"Iya. Ada apa pak Nam?" Si empunya panggilan itu menoleh sambil menyunggingkan senyum tipisnya.



Ia tengah duduk di dekat air mancur, sambil bertelanjang kaki. Tubuh mungilnya terbalut dress semi cream keluaran rumah mode ternama.


"Yanda?" Cicitnya kecil, saat manik hazelnutnya menangkap sosok familiar di samping pelayan senior yang ditanyanya.


"Yanda sedang apa disini?" Gadis cantik itu buru-buru menurunkan kakinya. Ia berdiri tegak di sana.


"Menurutmu?"


"Hm, dari mana yanda tahu Kara disini?" Cicit gadis itu kecil. Arsyad tidak menjawab, ia sibuk mengikis jarak diantara mereka.


"Bukannya-"


Cup


"Pergi tanpa izin suami itu tidak baik." Arsyad menyela ucapan sang istri dengan seulas kecupan ringan.


"Yanda juga pergi tanpa izin Kara!" Jawab gadis cantik itu tak mau kalah.


"Kamu mengizinkan, lupa?"


"Terpaksa." Jawab Kara singkat. "Yanda mau apa sih kesini? Kara gak mau pulang."


"Memperbaiki simpul ikatan?"


"Maksud yanda?"


"Maaf." Lelaki rupawan itu mengelus surai sang istri lembut. Pelayan senior tadi sudah undur diri, tahu jika tuan dan nona mudanya memerlukan ruang.


"Aku tidak memahami keinginanmu."


Kara mendongrak, menatap lawan bicaranya lekat. "Kok minta maaf? Kara yang salah. Kara kekanak-kanakan."


"Kara cuma takut berlebihan, jadinya begitu." Imbuh gadis itu lirih.


Arsyad tersenyum tipis. "Maaf, belum bisa mengenalkan kamu kepada dunia. Nanti, ada waktunya dunia mengenal kamu sebagai istriku."


Kara mendongrak, memperlihatkan manik hazelnut cantik miliknya yang penuh binar. "Dari dulu, Kara selalu disembunyikan dari dunia. Itu bukan masalah buat Kara, asalkan yanda selalu pegang janji yanda. Jangan sia-siakan kepercayaan Kara."


"Tidak akan."


"Sampai saat ini, Kara masih pegang janji yanda. Jangan diingkari ya?" Lelaki rupawan itu mengangguk sambil memeluk sang istri erat.


"Hm. Selama itu mungkin dan mampu, aku akan selalu memenuhinya."


Arsyad mengingatkan dirinya lagi akan janji janjinya pada sang istri. Ia memang tidak berniat untuk mengingkari janji tersebut. Toh, adanya ikatan yang ada diantara mereka membuat Arsyad selalu siaga untuk berjaga-jaga. Ia tentu memiliki kewajiban untuk menjaga ikatan tersebut agar senantiasa tetap kokoh ketika diterjang badai apapun.


****


TBC


Yuhuuu.... Yanda update guys😉


Lamaaa.... baru bisa nyapa readers lagi, maaf ya🙏 cung.... yang kangen yanda, absen dulu yuk?!


Jangan lupa tinggalkan jejak, komentar, like, vote, share dan follow Author. Ig Karisma022 juga boleh.


Insaallah aku akan usahan up teratur ya. Belakangan setelah Idul fitri banyak yang buat acara keluarga gitu, jadi aku sibuk sana-sini. Semoga mulai besok bisa up teratur lagi ya. Tencu juga yang sudah setia nunggu update. Tencuu so much😍😍

__ADS_1


Sukabumi 17 Mei 2021


__ADS_2