
📚.48-Jatuhnya Jarak, Ruang, dan Waktu.
"Ini tentang jarak, ruang, dan waktu yang membentang. Melintang tak ubahnya jadi penghalang antara aku dan kamu."-Arsyad An-nass Senopati Az-zzioi
****
"Dari mana kalian?"
Dua orang anak Adam beda usia tersebut terkejut dalam posisinya. Suara tegas yang berasal dari sosok yang masih mengenakan suit kerjanya tersebut. Pria gagah yang duduk diatas sofa, sambil menikmati secangkir kopi hitam toraja itu nampak menatap keduanya penuh intimidasi.
"Pukul berapa ini?" Manik gepalnya melirik jam rolex yang menghiasi pergelangan tangannya.
"Dylan?"
"Iya, ada apa om?"
"Masih tanya ada apa?" Lelaki muda itu meneguk salivanya susah payah.
"Kemana kamu bawa Kara?"
"Dinner om." Ujar Dylan mantap.
"Dimana?"
"Caffe kenangan, om."
"Sampai semalam ini?" Tanya Tyoga, penuh penekanan.
"Maaf om, tadi saya bawa Kara mampir ke rumah nenek." Ujar lelaki bernama Dylan tersebut.
"Ibu ada di Yogyakarta. Kamu lupa?"
'Astaga, gue lupa?!' Batin Dylan mati kutu.
"Om bisa telphone kediaman nenek, tanya saja jika tidak percaya. Saya bawa kerumah nenek untuk mengantar Kara mengunjungi kebun bunga mataharinya. Ada bodyguard juga yang ikut mengantar."
Tyoga menatap putra adiknya tersebut seksama.
"Kara?" Panggilnya.
"I-ya papih."
"Apa kamu menghubungi suamimu?" Gadis berdress semi hijau itu mengeleng.
"Dimana handphonemu?"
"Di kamar papih," Ujar gadis cantik tersebut jujur.
"Berkemaslah."
"Berkemas?" Bingung Kara.
"Suamimu di tampar orang, kamu tidak penasaran dengan keadaannya?"
"Di tampar?!" Kaget Kara, shoked.
"Berkemas. Papih akan mengantarmu, pulang."
"Sungguh?" Manik hazelnut milik gadis itu berbinar senang.
"Hm."
Kara senang bukan main. Dengan segera, gadis cantik itu berlari kearah sang ayah. Menghambur ke pelukan pria rupawan yang sudah melajang sejak lama tersebut. Memeluk super daddynya tersebut erat, menyalurkan segala kebahagiaan yang ia kecap karena akhirnya LDR-yang dilakoni usai.
"Senang?"
"Iya. Kara senang bisa bertemu yanda lagi."
Jawab Kara, sambil melonggarkan pelukannya.
"Dengan meninggalkan papih?" Kara mendongrak, menatap sang ayah lekat.
"Papi the only one. Papih punya tempat tersendiri dihati Kara."
Pria paruh baya yang berjuluk crazy rich surabaya tersebut tersenyum tipis. Sungguh, bahagia rasanya bisa mengembalikan senyum manis sang putri. Permata yang telah ia jaga selama 17 tahun, dengan segala daya dan upaya.
"Dan suamimu itu, menempati ruang lainnya dihati putri papih ini?"
Kara tersenyum sumringah. Rona merah di pipinya sudah lebih dari cukup untuk menggambarkan apa yang ia rasakan.
Cup
"Papih senang, Kara bahagia." Ujar Tyoga, selepas meninggalkan satu kecupan singkat di pucuk kepala sang putri.
"Kara juga, sayang sama papih." Jawab gadis tersebut, membuat Tyoga tertawa kecil.
__ADS_1
Kara--putri juga pengobat rindu baginya. Putri kecil yang sedari dulu memang hidup dalam kepelikan karena status dua clan yang mengalir dalam tubuhnya. Bagaimanapun juga, rasa sayang yang diperlihatkanya dalam bentuk pengamanan yang terlalu over, hanyalah bentuk dari perlindungannya sebagai seorang ayah.
📚📚📚
Aroma harum extrat citrus menguar, memenuhi indra penciuman. Aroma citrus bernuansa manly tersebut menguar berkat sabun yang digunakan oleh lelaki tampan yang tengah berkutat dibalik bath up. Penat karena kasus di sekolah hari ini, ditambah dengan jadwal les juga rapat bulanan caffe, bengkel juga gym yang dikelola, membuat berbagai beban pikiran menumpuk. Berendam senak di air hangat, kiranya dapat dijadikan alternatif untuk meralksasikan otak. Sambil berpikir sejenak, soal rindu yang memupuk.
Di liriknya sejenak, nakas tempat menimpan peranti-peranti mandi. Ada sepasang sikat gigi, pasta gigi, sabun cair botol berwarna mencolok, senada dengan botol shampo yang berwarna senada. Peralatan mandi berwarna-warni itu adalah milik istri kecilnya. Ia bahkan hafal betul, aroma menenangkan yang biasa tercium selepas istrinya itu mandi.
8 hari terhitung sudah, ia menjalani hubungan jarak jauh dengan istri kecilnya. Selama itu pula, ia hanya pernah bertukar kabar satu kali. Itu pun dalam jangka waktu yang singkat, saking terburu-burunya. Tapi mau bagaimana lagi, semua itu harus dilakoninya dengan sabar dan ikhlas.
Di rasa cukup dengan acara berendam, lelaki berparas rupawan itu memilih beranjak untuk segera menuntaskan acara mandinya. Ada yang harus ia kerjakan setelah mandi. Beberapa tugas menanti untuk segera ia usaikan. Terutama tugas sekolah juga tugas pekerjasn.
Sambil menggosokkan handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya, lelaki tampan yang hanya mengenakan handuk untuk menutupi pinggang hingga lututnya itu beranjak. Membiarkan tubuh bagian atasnya terekspose, dengan bulir bulir air yang masih menempel. Ia sendiri di kamarnya yang luas ini. Biasanya, ah di kembali berangan-agan soal kebiasaan sang istri. Tapi itu kebiasaan gadis itu, hal-hal yang acak kali dilakoninya secara rutin. Membuatnya hafal akan semua rutinitasnya.
"Yanda?"
Si empunya panggilan menoleh cepat. Efek rindu kah? Sampai sampai ia bisa mendengar suara sang istri.
"Astagfirullah." Batin Arsyad, sambil menggosok rambut bagian belakangnya, gusar.
"Yanda?"
Lagi, lelaki tampan itu dibuat terhenyak oleh suara khas milik istri kecilnya. Apa benar, saking rindunya ia bisa mendengar suara sang istri?
Grep
"Kara pulang."
Lelaki bermanik gelap itu terkejut, tentu. Apalagi saat sebuah tangan mungil melingkari pinggangnya. Diiringi suara familiar yang begitu ia rindu, mengalun dekat dengan sumber pendengarannya.
"Kara kangen."
Lagi, lelaki tampan itu bisa mendengar suara itu dengan nyata. Suara dan pelukan yang berasal dari balik punggung tegapnya. Apa benar, dia disini?
"Kara...." Panggilnya memastikan.
"Hm."
"Kara?" Sekali lagi, lelaki itu memastikan.
"Hm." Jawab suara familiar dibalik punggung telanjangnya tersebut.
"Kara pulang, yanda."
Dengan gerakan cepat, lelaki tampan tersebut membalikan tubuhnya. Membuat kedua tangan yang melingkarinya itu sontak mengendur. Dia cuma ingin melihat secara nyata, ini realita atau hanya ilusi semata.
"Kara?"
"Iya. Ini Kara, yanda." Jawabnya antusias.
"Bagaimàna bisa?"
"Bisa. Semua bisa dilakukan Kara, supaya bisa lihat yanda." Jawab Kara mantap, sambil tersenyum cerah.
Arsyad sudah tak peduli lagi dengan berbagai pertanyaan yang berseliweran di kepalanya. Pintanya hanya satu saat ini, merengkuh kenyataan yang kini tersaji di hadapannya. Maka, dengan segera ia merengkuh tubuh mungil tersebut. Tubuh mungil beraroma familiar yang menyenangkan. Aroma buah buahan juga wewangian bunga segar yang selalu membuatnya rindu. Rindu, rindu, serindu rindunya.
Mau dunia berkata apa, ia tidak peduli. Ketika hati telah disinggahi rasa ajaib itu, Arsyad akan menerimanya dengan terbuka. Toh, ia juga belum pernah merasakan yang namanya jatuh cinta. Jika kali ini hati memilih tuannya sendiri, ia bisa apa? Toh, sudah ada lebel resmi yang membuatnya fine fine saja jika jatuh cinta pada ciptaan tuhan yang satu ini. Asalkan, dalam taraf yang sewajar-wajarnya.
"Kara kangen." Lirih gadis canti tersebut, masih dalam dekapan sang pemilik rindu.
"Hm."
"Yanda juga?" Tanyanya.
"Hm."
"Kangen?"
"Hm."
Lagi, satu dehaman mewakili. Kara tidak peduli akan apa yang terucap mewakili jawaban dari pertanyaanya. Toh, yang terpenting adalah respon yang didapatkannya dari pertanyaan tersebut. Rengkuhan erat dari lelaki yang menguarkan semerbak citrus itu, tentu mewakili segala rindu yang memang menetap. Melekat lama, seiring dengan luruhnya batasan jarak, ruang, dan waktu. Kini, tak ada penghalang lagi perantara yang membentang.
Meraka ada disini, di tempat yang sama. Berbagi pelukan hangat untuk menyalurkan rindu. Mengadu pada sang pemilik hati, jika ada yang begitu tersiksa selama ini. Membebaskan rasa, sesak juga hampa yang melingkupi. Satu hati yang disatukan oleh takdir-Nya, kini telah dipertemukan kembali.
"Eh?"
"Kenapa sih lo? Eh, eh, kenapa?" Protes lelaki yang baru saja menubruk punggung kembarannya tersebut.
"Ngapain si Davian di sono?" Tunjuknya.
"Eh, iya. Ngapain tuh bocah?"
"Kita samperin. Kali aja dia punya niat gak bener."
"Seudzon lo, sama sodara sendiri." Koreksi si sulung.
__ADS_1
"Ya, cuma nebak. Davian kan gitu orangnya." Ujar si bungsu, sambil mengedipkan bahunya acuh.
"Samperin." Intruksi si sulung, yang diangguki oleh si bungsu.
"Heh, ngapain lo? Ngintip ya?" Tanya si sulung, sambil menepuk bahu kembarannya tersebut.
"Astaga naga, bikin kaget lo!"
"Habisnya, gerak gerik lo mencurigakan banget bro. Ngintip lo ya?"
"Palingan." Imbuh si bungsu.
"Seudzon lo pada. Gue bukan ngintip, cuma nguping."
"Sint*ng." Ujar kedua lelaki tersebut bersamaan.
"Enak aja lo berdua ngatain gue sint*ng! Gue cuma penasaran." Belanya.
"Sama?" Tanya Davin dan Aroon.
"Tuh, Romeo and Juliet yang baru bertemu setelah LDR-an selama 192 jam atau 275,040 menit lamanya."
"Anjay, sok tahu lo."
"Gue emang tahu ya! Hitung aja, sejam 60 menit dikali berapa jam dalam delapan hari. Gitu aja, gampang." Kekeh Davian bangga.
"Sok lo."
"Brisik lo, gak lihat gue lagi nonton tuh." Tunjuknya apa celah pintu.
"Apaan sih?" Bingung Davin dan Aroon.
"Kan tadi gue udah bilang, lihat sendiri sono. Mata dipake dong, brothers." Tunjuk Davian.
Davin dan Aroon yang penasaran pun memilih mengikuti arahan petunjuk Davian. Kedua manik coklat tersebut melotot kaget.
"Astagfirullah?!" Kaget keduanya bersamaan.
Bukan, bukan lagi karena terkejut melihat saudara sulung mereka berpelukan dengan istrinya didalam sana. Melainkan, sengatan panas yang menjalar di telinga mereka. Sengatan maut yang refleks membuat mereka berbalik badan.
"Bagus ya, di suruh fhotoshoot malah ngintip orang?"
"Ampuh mah, ampuh." Ujar ketiganya.
Lunar--wanita yang menjewar telinga si sulung dan si tengah, lupakan si bungsu yang hanya melongo cengo sambil memohon. Mereka lupa, tujuan utama mereka keluar kamar adalah untuk menjadi model dadakan bagi rancangan baju anak muda musim ini. Eh, mereka bertiga malah tersangkut didepan pintu kamar orang.
"Aroon juga sini, ikutan kan?" Si bungsu menggeleng cepat.
"Abang yang nunjukin mah."
Si suĺlung dan si tengah melotot tak terima. "Eh, adik laknak. Sok sokan lo panggil abang kalo lagi gini?! Kalo ikutan dosa ya jawab aja, jujur?!" Segar Davian, tak terima.
"Enggak mah, abang tuh."
Lunar menatap kedua putra tertuanya tajam. "Beneran?"
"Davian mah. Abang mah ikut ikutan doang." Bela Davin pada diri sendiri.
"Suer takewer kewer, mah. Tuh si Davian yang duluan. Abang sama adek cuma lewat, iya kan dek?" Davin menatap Aroon penuh permintaan.
"Iya Ron?" Lelaki itu mengangguk sekilas.
"Bagus. Jadi, sekarang hacker alih propesi jadi tukang ngintip ya?" Lunar menatap si tengah tajam, setelah melepas jewerannya pada si sulung.
"Iya, eh enggak mah."
"Dasar, anak siapa sih kamu?"
"Mamah sama papah lah. Kita bertiga kan hasil goyangan papa--"
"Ngomong ngelantur sekali lagi, mama sunat lagi kamu?!"
"Jangan dong mah?!" Jerit Davian tidak terima.
Davin dan Aroon malah terkikik geli melihat kembarannya itu tersiksa. Sekali-sekali, biarlah playboy kelas wahid itu mendapatkan pelajarannya. Toh, memang benar jika Davian lah yang peling banyak tingkah. Subhanallah pokoknya, jika sudah bersangkutan dengan kelakuan playboy kelas wahid tersebut.
****
TBC
Met Pagi All readers semua👐
Gimana nih buat part ini? Senang? ngakak? atau B aja? jawab di kolom komentar ya👐
Jangan lupa tinggalkan like, vote, komentarr, follow dan share. Tencu yang sudah lakukan semua itu😙😙
Tencu juga buat yang udah mampir ke MMB di wttp.
__ADS_1
Ok, segini dulu ya. Jumpa lagi nanti👐
Sukabumi 14 Januari 2021