Bukan Cinta Terencana (R3)

Bukan Cinta Terencana (R3)
.41-Pemancar dan Pelacak


__ADS_3

📚.41-Pemancar dan Pelacak



"Jangan nilai manusia dari sampul luarnya, karena tak selamanya apa yang tergambar sebagai sampul tak merealisasikan apa yang terbungkus didalamnya."


****


"Siapa?" Tanya Tyoga cepat.


"Tenang om, ini baru usernya." Ujar Davian, sambil menunjukkan layar laptop dihadapannya.


"Sumber unggahanya ada di kota ini. Tapi, user ini pengendalinya bisa saja lebih dari satu." Tutur Davian.


"Lebih dari satu user?"


"Iya. Kemungkinan mereka menggunakan sistem multi user, dimana ada dua atau lebih user yang bisa berkerja dalam satu waktu dan saling berkesinambungan."


Mereka yang berada diruangan tersebut tentu tercengang. Apa yang diucapkan oleh salah satu siswi kelas XII itu tentu agaknya tabu bagi mereka.


"Tapi, kamu bisa lacak sumbernya? Atau setidaknya tarik semua pemberitaan tersebut?" Setyo bertanya.


"Anak buah om Tyoga sudah lakukan itu. Tugas saya cuma lacak dari mana pusat sumber ini berasal."


"Apa itu bisa dilacak?"


"Tentu." Jawab Davian cepat.


"Mereka itu bergerak seperti sistem pemancar. Mereka yang memuat berita ini keudara, untuk dipancarkan dan diterima oleh pihak lain untuk kebutuhan komersial atau lainnya." Tutur Davian.


"Dan saya, disini bertugas sebagai pelacak." Seulas seringai terbit dibibir Davian.


IT dan seperangkatnya adalah makan yang menjanjikkan baginya. Entah sejak kapan, dan apa yang mendasari kecintaanya akan IT. Akan tetapi tak dapat dipungkiri, jika dengan menjadi seorang pelacak seperti ini ia menemukan kenyamananya sendiri.


"Pah?" Bisik Lunar.


"Iya, kenapa?"


"Kamu tahu, Davian suka ngotak-ngatik software gitu?" Pria itu mengangguk tipis.


"Kok kamu gak ngasih tahu aku?"


"Kan takutnya kamu malah batasin dia yang. Biarinlah anak anak berinovasi sendiri buat menggapai apa yang mereka mau."


"Berinovasi apanya? Anak kita itu hacker loh. Hacker?" Shok Lunar.


"Iya, hacker. Tapi, hacker juga dia mah dijalan yang benar yang." Timpal sang suami.


Lunar menggeleng tak habis pikir. Ini baru putra keduanya, belum si sulung dan si bungsu. Entah apa yang mereka tekuni selama ini dibelakangnya. Jangan bilang, mereka juga penyintas IT pula? Bisa pening kepalanya.


"Bapak dan ibu bisa pulang terlebih dahulu. Biar kami yang mengatasi sisanya. Lagi pula, semua pemberitaan juga sudah ditarik dari dunia maya." Setyo buka suara.


Hari memang sudah mulai gelap. Karena diizinkan pulang, beberapa guru yang ada diruangan tersebur izin berpulang. Mereka semua keluar dari tempat tersebut tentu dengan perjanjian untuk tutup mulut dengan apa yang mereka dengar dan mereka lihat. Kini, tinggal Setyo, Tyoga, Arsyad, Davian, Lunar dan Arkan. Serta dua bodyguard yang berjaga diluar ruangan.


Bugh


Semua orang diruangan tersebut dibuat terperanjat saat mendengar suara pukulan telah tersebut. Disusul dengan jatuhnya seseorang menghantam lantai.


"Puas kau membuat semuanya kacau?!" Murka Tyoga--si pelaku pemukulan.


"Uhuk, uhuk."


"Gara-gara ulahmu, putriku kini mulai terekspose media?" Geramnya kesal, sambil memukul meja.


"Uhuk, uhuk, ini juga bukan keinginannku kak." Belananya.


Arsyad dengan sigap membantu.


"Bukan keinginanmu? Jika saja kau tidak membawa putriku keluar dari mansion Radityan, semua itu tak akan pernah bertambah rumit."


"Tapi-"


"Berani menyangkal?!" Tyoga hendak melayangkan satu pukulan lagi, sebelum tertahan oleh gerakan menantunya.


"Semuanya bisa diselesaikan tanpa kekerasan, pak."


Tyoga menghempaskan tanganya keras. Kentara sekali raut wajah menahan amarah milik crazy rich asal Surabaya tersebut. Lunar juga Arkan saja sampai dibuat terkejut saat melihat kemarahan orang kaya no.1 di Surabaya tersebut.


"Selesaikan bagianmu. Aku tidak mau tahu, jangan sampai semua ini terulang kembali. Apalagi sampai terdengar oleh kakek Kara."


Deg


Arsyad terhenyak mendengar kakek Kara dibawa bawa. Dan ia kembali teringat, status kakek Kara tersebut didunia Yakuza. Apa semua ini akan mengancam Kara nantinya?


"Dan kau?" Tunjuk Tyoga kepada Arsyad.

__ADS_1


"Jangan temui Kara sampai saya mengizinkan."


Deg


"Tapi, Kara--"


"Tidak usah membantah. Ini semua demi kebaikan kalian berdua." Sela Tyoga.


"Kara akan saya bawa sampai semuanya selesai." Ujar Tyoga final, sambil berlalu meninggalkan ruangan tersebut.


Arsyad menatap kepergian pria tersebut dengan nafas lemah. Lagi, ia lalai menjaga istri kecilnya tersebut. Lagi, ia harus dipisahkan dengan istri kecilnya tersebut.


"Sabar ya bang, Kara pasti baik baik saja." Lirih Lunar memberi support.


"Hm."


"Abang pasti bisa melewati semua ini. Tante yakin."


"Iya. Terimakasih supportnya, tante."


"Iya. Sama sama." Ujar Lunar tulus, sambil memeluk Arsyad guna menyalurkan suppornya.


Davian menatap kecut kearah sang ibu, dari balik layar laptop miliknya. "Anaknya ini loh, kok gak inget ya?" Ketusnya.


"Padahal anaknya ganteng gini, pinter ngegombal, pinter ngerayu, rajin menabung, dan rajin ge-stalk akun mantan. Kok mamah gak bangga ya?" Ketusnya.


"Gitu kok dibanggain Dav?" Bisik seseorang.


"Astagfirullah?" Kaget Davian sambil mengelus dadanya.


"Kalau kamu sampai berhasil bobol keamanan Radityan Corp's baru papah akui, kalau kamu handal."


"Ok. Siapa takut?" Sanggupi Davìan.


"Ok. Tapi, kamu harus lewatin dulu om kamu yang di New york itu. Sanggup?"


"Om Anzar? Sanggup dong. Om Anzar doang mah kecil."


"Om Gemilak? Gimana?" Kekeh Arkan, menangtang sang putra.


"Apa coba bawa bawa gurunya Davian? Ya pasti kalahlah, aneh deh papa." Ketus lelaki tersebut.


Arkan terkekeh puas melihat wajah kesal sang putra. Untuk mengalahkan ego putranya yang SOK satu ini, memanglah dengan membawa nama-nama kenamaan didunia IT seperti dua Pradipta saudara. Mana bisa Davian berkutik jika harus melawan panutannya sendiri, tidak mungkin?!


📚📚📚


Sambil menyesap batang nikotin dijemarinya, lelaki yang mengenakan jaket parasut itu tersenyum tipis menatap kesekelilingnya. Pukul 11.30 malam, masih terlalu sore untuknya mabuk apalagi bermain. Sedari tadi, ia hanya bersantai sambil menonton teman-temanya berjoged, pun mereka yang sudah saling memangut dipojok sofa. Ia sendiri, memilih duduk menikmati segelas vodka. Jenis minuman yang disukaianya, selain wine, coktail, dan beberapa jenis minuman beralkohol lainnya.


Club malam ini sudah menjadi club langganannya. Walaupun ia masih belum cukup umur, ia tetap memiliki akses. Bahkan, dirinya memiliki kartu member tetap dengan barcode emas. Mantap bukan? Dia bisa dengan bebas keluar masuk di club malam milik kerabatnya ini. Tempat ini terjaga keamanannya, karena banyak orang orang dalam yang ikut serta mengamankan kerajaan bawah tanah ini. Para pecinta dunia malam yang bebas, bisa dengan santai menikmati kebebasanya ditempat ini.


"Ahh, beb. Masih sore, gue belum mau main."


Wanita berdress merah darah yang duduk diatas pangkuannya itu cemberut. Menggigit bibirnya sesual, namun tak lagi membuat hasrat putra konglomerat satu ini urung memasrahkan diri. Biasanya dia--Galangger Adimana Sanjaya, akan membiarkan para kupu-kupu malam ditempat ini menghiburnya. Ataupun untuk sekedar menemaninya, seperti saat ini.


"Keruang VIP yuk, kita main kuda kudaan." Ajak wanita berdress merah itu manja.


Lelaki itu menggeram, saat dirasa wanita diatas pangkuannya mulai membuatnya risi.


"Gue gak mau, ya berarti enggak." Kesalnya, sambil mendorong wanita tersebut hingga turun dari pangkuannya.


"Pergi lo, jijik gue."


"Sial*n lo?!" Balas wanita tersebut tak kalah marah.


Galang tak ambil pusing, lelaki itu memilih kembali menyesap vodka miliknya. Membiarkan cairan tersebut membasahi tenggorokannya. Sebelah tangannya menyimpak batang nikotin miliknya diatas asbak, sebelum mengammbil benda berlogo apel tergigit miliknya.


Benda tersebut beberapa kali berkedip, menandakan ada notifikasi yang masuk. Dengan malas, ia membuka benda tersebut. Membaca satu persatu pesan juga notifikasi yang masuk kesmartphone miliknya.


^^^Pup Onta^^^


^^^Kemana aja lo lang? Hari pertama masuk sekolah lo gak masuk?!^^^


^^^Lo ketinggalan berita viral woyy😲😲^^^


Pesan pertama yang ia baca adalah pesan singkat dari sang sahabat. Panggil saja Pup Onta, karena Galang bisanya memanggil demikian.


^^^Anak Setan^^^


^^^Woiii... anak kurang belaian, kemana lo gak masuk? Jangan bilang, lo masih di Alaska yang dingin itu😑😑^^^


^^^Lo ketinggalan berita tranding topik woyy, chek nih link😎😎^^^


^^^https://share.gosipdandelionviral.id/starOpen.html^^^


^^^Pup Onta^^^

__ADS_1


^^^Buka nih, biat lo gak kudet lang😎😎^^^


^^^https://share.gosipdandelionviral.id/starOpen.html^^^


^^^https://share.smadandelionofficial.id/Opennow.html^^^


^^^Anak Setan^^^


^^^Lo pasti terkedjoet, sama. Gue juga?! Mana bininya si mantan ketos sm ketMPK itu cuantikk bro. Apa gue jadi pembinor aja ya🤔🤔^^^


^^^Anak Setan^^^


^^^ANJAY GURINJAY, SUMPAH, TAPI GUE GAK NYANGKA^^^


^^^Pup Onta^^^


^^^Gue masih gak nyagka sih, anak tauladan sma Dandelion bisa kebablasan gitu. Gimana sama lo yang selalu main gak pake pengaman?^^^


^^^Pup Onta^^^


^^^Anak lo udh selosin kali aja lang😆😆^^^


^^^~••°Grup Kelas XII IPS V°••~^^^


^^^Anjir viral^^^


^^^Virallll^^^


^^^Virallll^^^


^^^Virallll^^^


^^^Tranding topik #1^^^


^^^Tranding topik #1^^^


^^^Tranding topik #1^^^


^^^Tranding topik #1^^^


^^^Chek link ➡➡https://share.gosipdandelionviral.id/starOpen.html^^^


^^^https://share.smadandelionofficial.id/Opennow.html^^^


^^^https://share.gosipdandelionviral.id/starOpen.html^^^


^^^https://share.smadandelionofficial.id/Opennow.html^^^


Alis lelaki tersebut menyerngit, saat ada puluhan chat singkat yang sama sama membagikan link tersebut. Namun, detik berikutnya senyum tipisnya mengudara.


"Main bersih juga dia," Kekehnya.


"Gak nyesel gue bayar mahal." Kekehnya, sambil menutup smartphone miliknya


"Bang, satu lagi."


"Vodka?"


"Yoi." Kekehnya, sambil menyesap batang nikotin miliknya kembali.


"Bisa tidur nyenyak gue." Seringainya mengembang bebas.


Ia senang, tentu. Bukan main rasanya, ketika bisa memupuk kotoran diwajah musuh bebuyutannya. Mana mungkin, Galang mau bermurah hati jika ada yang menangtang dirinya. Tak ada sejarahnya bagi dirinya untuk tidak membalas ketika dipermalukan. Bukan gayanya sekali.


"Bang, kamar VIP biasa kosong?" Tanyanya, ketika seorang bartender memberikan pesanan miliknya.


"Iya. Kenapa, mau ML?"


"Gak." Jawabnya, sambil terkekeh kecil. Lantas, lelaki itu merogoh saku celananya. Menunjukan sebuah plastik berisi butiran salju halus didalamnya.


"Mau pesta. Sayang, gue beli mahal mahal gak diicip-icip." Kekehnya.


Malam ini dia akan berpesta. Rencananya telah diselesaikan oleh para kaki tanganya, maka ia bisa bermain dengan santai malam ini. Menikmati surga dunia, ditemani kenikmatan tiada dua. Ah, dunia memang memberinya banyak kemudahan karena adanya uang juga akses.


****


TBC


BCT update yo, No Debat!!


Tapi maaf nih, kalau feelnya kurang ngeena


😭😭 Soalnya semalem nulisnya banyak gangguannn. Ok, kritiknya kalau ada banyak typo silahkan cantumkan di kolom komentar yo👐👐 Jangan lupa like, vote, share dan komentarrrnya😘😘


Salam❤

__ADS_1



Sukabumi 27 Des 2020


__ADS_2