Bukan Cinta Terencana (R3)

Bukan Cinta Terencana (R3)
114. Cemburunya Yanda, Marahnya Kara


__ADS_3

...114. Cemburunya Yanda, Marahnya Kara...


...“Apa itu cemburu? Apa perasaan tak suka yang baru saja aku rasakan?”—Arsyad An-Nass Senopati Az-zzioi...



...**...


Sebuah kendaraan roda empat tampak melaju di ruas jalan yang cukup dipadati oleh para pengguna jalan. Di dalamnya, ada seorang pria rupawan dengan setelah formal bernuansa dark blue tengah menyangga telepon. Indra pendengarannya menangkap semua suara yang keluar dari benda elektronik tersebut.


“Malam ini abang nginap di rumah mertua, bunda. Soalnya Kara mau pulang ke sana.”


“….”


“Iya. Besok abang pulang pagi, dan makan kue yang bunda buat.”


“….”


“Iya, bunda.”


“….”


“Iya. Waalaikumsalam.”


Panggilan telepon dari wanita yang sangat dia cintai itu terputus setelahnya. Dia, Arsyad An-nass Senopati Az-zzioi memang tengah dalam perjalanan menuju kediaman sang mertua. Pasalnya sang istri saat ini tengah berada di sana. Wanita yang tengah hamil muda itu ingin pulang ke rumah ayahnya karena rindu. Mereka juga sempat mendapat kabar jika Crazy Rich Surabaya itu terserang sakit. Jadi sebagai putri satu-satunya—sang istri bergegas pergi untuk memastikan sendiri.


Sekarang, CEO muda satu ini juga hendak menyusul sang istri. Pekerjaannya baru selesai saat jarum jam menyentuh angka 18.00, jadi dia baru bisa menyusul pada pukul itu. Dia juga menyempatkan waktu sejenak untuk mampir ke market untuk membeli beberapa buah tangan. Setelah melakukan perjalanan cukup panjang dari Jakarta-Surabaya, sekarang menantu Crazy Rich itu akhirnya tiba di tempat tujuan.


Kendaraan yang dinaiki olehnya baru saja memasuki gerbang utama kediaman sang istri. Semakin menjorok ke dalam, rindangnya pepohonan yang mengisi kanan dan kiri jalan tampak sunyi. Lampu-lampu taman tampak memancarkan cahaya kuning di sepanjang jalan menuju kediaman utama. Beberapa ekor rusa juga masih tampak terjaga.


Tiba di kediaman megah 3 lantai itu, Arsyad bergegas turun. Petugas valet dengan sigap menerima kunci mobil—guna memarkirkan kendaraan sang tamu sebagaimana tugasnya. Dua orang bodyguard yang berjaga di depan pintu juga sigap membungkuk, menyambut kehadirannya. Saat pertama kali datang ke tempat ini, Arsyad sempat dilanda rasa kikuk. Pasalnya, aura kemewahan tampak kental tercium di kediaman ini.


Jika ada yang mengatakan keluarga Radityan juga sudah termasuk golongan orang berada, maka bisa jadi sekarang keluarga sang istri bisa dikatakan berada di satu tingkat lebih atas. Mengingat aset yang keluarga mereka miliki tidak bisa dijumlahkan begitu saja, karena saking banyaknya. Keluarga sang istri juga tidak mau jumlah aset yang dimiliki menjadi konsumsi publik. Jadi, mereka selalu menutup rapat akses media maupun pihak-pihak terkait yang ingin menjumlahkan asetnya.


Memasuki ruang utama kediaman megah milik Tyoga Yosep Djuarta, pendengarannya disambut oleh pembicaraan dua orang. Samar-samar, dua suara beda jenis itu berasal dari ruang tamu. Saat ditelusuri, benar saja. Ada dua orang beda jenis yang tengah duduk berhadapan. Keduanya tampak tengah sibuk mengobrol, sehingga tidak menyadari kehadiran Arsyad.


“Mau aku kupaskan lagi?”


“Eh, gak usah, kak. Kara bisa kupas sendiri.” Tolakan itu berasal dari suara sang istri. Arsyad tahu betul suara itu.


Wanita yang tengah hamil itu saat ini memang duduk membelakanginya. Namun, Arsyad tahu jika sang istri tampak akrab dengan lawan bicaranya.


“Omong-omong kakak stay di sini sampai kapan?” suara sang istri kembali terdengar. Membuat lawan bicaranya menyahut tak lama.


“Sampai lusa.”


“Kok sebentar??”


“Kenapa, kamu mau aku tinggal lebih lama?” goda si empunya suara deep bass yang berjenis kelamin pria tersebut.


“Eh, bukan gitu. Maksud Kara, memangnya kakak gak mau lebih lama lagi di sini? Ibunya kakak pasti sedih kakak mau pergi lagi.”


“Ibu sudah tahu resiko dari pekerjaan putranya.”


“Iya sih.”


“Sudah, gak usah cemberut begitu. Jatuhnya jadi gemas.”


Arsyad yang masih setia menjadi pendengar itu langsung menajamkan pendengaran. Dengan langkah dibuat semakin lebar, pria itu langsung bergegas menghampiri sang istri.

__ADS_1


“Kalau gitu kakak—“


“Kara.”


Wanita yang memiliki suara lembut itu menoleh. Manik hazelnut miliknya langsung bersirobak dengan manik jelaga milik sang suami. “Yanda!” serunya antusias.


Dengan cepat wanita dengan dress flora yang jatuh di atas betis itu beranjak, mengikis jarak di antara mereka guna meraih punggung tangan sang suami. “Assalamualaikum, yanda. Tadi lupa,” ujarnya.


Arsyad mengangguk maklum. Sebagai jawaban, dia memberikan satu kecupan di pucuk kepala sang istri yang terlindungi pashmina berwarna senada dengan bajunya.


“Kok nyampenya lama?”


“Tadi sempat terjebak macet,” jawab Arsyad, menjelaskan. “Kamu sudah makan? aku bawakan makan malam untuk kamu.”


Wanita cantik itu menggeleng. “Nunggu yanda datang, jadi Kara belum makan.”


“Seharusnya kamu jangan menunda-nunda untuk makan. kasihan dia,” ujar Arsyad seraya menyentuh baby bump sang istri.


“Kita dari tadi ngemil buah kok. Barusan Kara juga makan jeruk mandarin, yang dibawa kakak.”


“Kakak?”


“Ah, iya, Kara lupa kenalian kakak sama yanda.” Wanita cantik itu tersenyum tipis, kemudian menggandeng lengan sang suami. “Kakak, kenalin, ini suami Kara. Namanya Arsyad.”


Pria yang sedari tadi jadi objek rasa kepenasaran Arsyad itu tampak menyunggingkan senyum tipis. Dengan tampang yang ramah, dibalut raut professional, pria itu menjulurkan tangannya.


“Halo, saya Adrian. Kerabat istri Anda.”


“Hm, halo. Saya suami Kara,” jawab Arsyad seraya menerima uluran tangan tersebut. Untuk sejenak, Arsyad dibuat bertanya-tanya, karena baru tahu jika sang istri punya kerabat seperti Adrian ini.


Secara spesifik, Adrian termasuk golongan incaran para wanita. Tubuhnya tinggi, mungkin sekitar 180-190 cm. Warna kulitnya kecoklatan, akan sangar tampak eksotis jika tersorot sinar mentari. Rambutnya hitam, lebat. Alisnya menukik tajam secara alami. Sorot matanya tampak tegas, namun ramah dalam waktu bersamaan. Hidungnya cukup mancung untuk ukuran orang Asia. Point plus-nya, pria itu memiliki lesung pipi di kedua pipinya. Sehingga menimbulkan kesan manis yang teramat jika tersenyum.


“Hm, begitu, ya?” respon Arsyad kecil. Saat ini mereka sudah kembali duduk di sofa.


“Iya. Kakak baru pulang dari Hong Kong, makanya gak sempat ketemu yanda. Kara aja sampai kangen sama kakak.”


Dari cerita sang istri sejauh ini, Adrian ini cukup berperan penting dalam hidup sang istri. Pria yang dipanggil dengan embel-embel ‘kakak’ itu juga tak segan memanggil Kara dengan sapaan yang sangat lembut.


“Besok kakak mau ajakin Kara lunch di luar. soalnya lusa kakak bakal pergi lagi. Yanda kasih izin, enggak?” tanya sang istri tiba-tiba.


Arsyad mengernyit. Pandangannya kemudian beralih pada pria di hadapannya. “Kemana?” tanyanya.


“Ke caffe yang gak jauh dari sini. Palingan lima belas menitan.”


“Berdua?”


Kara mengangguk dengan polos. “Deket kok. Habis lunch langsung pulang lagi.”


“Aku enggak kasih izin.”


“Loh, kenapa yanda?” tanya Kara sedih.


“Kamu lupa bunda bilang apa? Lusa akan ada pengajian di rumah. Tasyakuran empat bulanan. Besok kita harus pulang ke Jakarta.”


“Oh, iya, Kara lupa,” sedih wanita cantik tersebut. “Gimana dong, Kara gak bisa lunch sama kakak?” rajuknya.


“It’s okay. Lain kali kita bisa lunch bersama. Acara itu diadakan untuk kamu dan bayimu. Tidak mungkin kamu tidak menghadirinya.” Hibur Adrian.


“Tapi, lusa Kara gak bisa antar kepergian kakak.” Sedih Kara.

__ADS_1


“Tidak apa. Kita bisa bertemu lagi musim panas tahun depan.”


Kesedihan sang istri yang tidak bisa lunch bersama Adrian hingga terancam tidak bisa mengantar kepergiannya, bertahan hingga pria berlesung pipi itu izin pulang. Kara tampak murung karena tidak bisa menghabiskan lebih banyak waktu bersama anak salah seorang pelayan yang sudah dia anggap seperti saudara sendiri. Bahkan sejak kecil, Adrian yang selalu menemani Kara. Kebersamaan itu hanya bertahan hingga kara 15 tahun. Karena setelah lulus SMA, Adrian harus tinggal di London untuk menempuh pendidikan S1 hingga S2. Setelah meraih gelar magister, Adrian bekerja untuk perusahaan Tyoga yang berlokasi di Beijing dan Hong Kong.


“Kenapa? Marah hm?” Tanya Arsyad yang baru saja keluar dari kamar mandi.


“Enggak kok. Siapa juga yang marah?” jawab wanita hamil yang tengah berbaring di atas ranjang tersebut.


“Aku tahu kapan kamu marah, dan kapan kamu Senang Kara.”


Pria bermarga Raditya itu mendekat. Menghampiri sang istri yang tampak tengah mengelus baby bump-nya. Saat ini kehamilan sang istri sudah memasuki minggu ke-16. Ini artinya sudah memasuki trisemester kedua. Selama 16 minggu perkembangannya, janin di dalam rahim akan mulai membentuk ekspresi wajah, dan sistem sarafnya tumbuh. Berat janin kira-kira sudah mencapai 2 setengah ons. Pada masa ini, sang ibu mungkin sesekali merasakan gerakan janin di dalam rahimnya.


Saat melakukan chek up terakhir kali, pasangan suami-istri muda itu bahkan sudah bisa melihat wajah si kecil lewat USG 4D. Mereka juga bisa melihat beberapa ekspresi si kecil seperti mengernyitkan dahi, hingga cemberut—saat si kecil sudah bisa menahan kepalanya dengan lurus. Saat itu Arsyad dan Kara sama-sama menjadi orang tua paling bahagia di dunia.


“Kenapa? Masih gak mau jujur?” tanya Arsyad yang sudah ikut membaringkan tubuhnya di sisi seberang sang istri.


“Kenapa yanda tidur menghadap sini?” tanya sang istri, rada ketus.


“Dalam hadist riwayat Al-Bukhari no.247 dan muslim no. 21710 mengatakan jika, sunnah rasul itu tidur menghadap kanan, sayang.”


Wanita cantik itu tampak mengerucutkan bibir dengan rona menghiasi wajah. Bagaimana tidak malu, saat ini dia berbaring dengan posisi terlentang. Sedangkan sang suami berbaring sembari menghadap ke kanan—ke arah sang istri—dengan sebelah tangan menopang tubuhnya.


“Marah karena tidak bisa lunch sama Adrian-Adrian itu?”


“Enggak!”


“Yakin?”


“Kara cuma sedih enggak bisa habisin lebih banyak waktu sama kakak. Kara sama kakak udah lama enggak jumpa. Sekalinya jumpa, gak ada waktu buat bersama-sama. Padahal dulu yang sering nemenin Kara itu kakak.”


Arsyad tahu sang istri sedih. Namun, bagaimana lagi. Esok mereka harus bergegas pulang ke Jakarta, karena lusa aka nada acara empat bulanan untuk Kara dan calon buah hati mereka.


“Kamu tenang saja, lain kali aku akan pastikan kamu bisa bertemu dengan dia lagi.”


“Yanda yakin?” wanita cantik itu tampak tertarik.


“Hm. Namun, dengan catatan kamu tidak pergi berdua.”


“Maksudnya?”


“Aku ikut,” jawab Arsyad mantap. Mana rela dia membiarkan sang istri menghabiskan waktu bersama pria yang bukan mahrom-nya. Sekali pun mereka sudah seperti saudara sendiri, tetap saja dalam islam tidak dibenarkan seorang wanita yang sudah bersuami menghabiskan waktu dengan pria yang bukan mahrom-nya.


“Gimana, kamu mau?”


“Mau!” jawab sang istri antusias.


Arsyad tersenyum tipis sembari meraih tubuh sang istri. Merapatkan jarak yang tersisa di antara mereka. “Sekarang lebih baik kamu tidur, zawjati. Besok kita harus pulang pagi. Kamu dan our baby harus istirahat yang cukup.”


Kara mengangguk seraya tersenyum tipis. “Selamat malam, yanda. Semoga mimpi indah.”


“Selamat malam istriku, semoga mimpi indah.” Balas sang suami. Setelah berkata demikian, pria itu mengecup ubun-ubun sang istri lama seraya menggumamkan doa, “Allahumma inny as-aluka rukya shoolihatan shoodiqotan ghoira kaadzibatin naafiatan ghoiro dzloorrotin (Ya Allah, aku memohon kepada-Mu mimpi yang baik dan benar, (serta) tidak dusta, yang bermanfaat dan tidak bahaya).”


**


TBC


Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan 🙏


Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author & share ❤️

__ADS_1


Sukabumi 10/04/22


__ADS_2