
📚.57-Deja Vu
"Iya, gue memang rada gesrek. Tapi soal asmara, dan tanggung jawab, ucapan gue bisa dipegang."-Naraess AlGean Hazka Dwiarga
****
Suasana sebuah ruagan bernuansa abu-abu, nampak begitu mencekam. Ada empat penghuni di dalamnya, diantara keempatnya ada yang tengah di introgasi dan terintrogasi. Sedangkan dua lainnya, hanya menjadi penonton tauladan yang tidak bisa membantu apa-apa. Terlebih lagi jika dua orang yang tengah bersitegang itu, masih memiliki ikatan darah secara biologis.
"Harusnya kamu bisa memegang tanggung jawab yang kamu emban, Algean?!" Dikte pria bertubuh tegap berseragam pilot lengkap dengan segala atributnya tersebut.
Dia tengah menjadi hakim dadakan yang sedang mengintrogasi terdakwa di hadapannya.
"Maaf, pah."
"Maaf?" Pria itu menatap putra bungsunya nyalang.
"Kamu hampir gagal mengikuti tes awal masuk perguruan tinggi di Jerman. Dan kamu cuma minta maaf?!"
"Pah, Gean-"
"RWTH Aachen, impian kamu bukan?" Calon pilot muda itu mengangguk kecil.
"Dan karena cinta juga kebodohanmu itu, kamu hampir membuat tanganmu putus?!"
Gean--si terdakwa hanya bisa mengepalkan sebelah tangannya erat. Satu tangan yang lainnya di balut perban juga penyangga. Tindakan cerobohnya tempo hari, agaknya benar-benar berhasil membuat dunianya berada di ambang kehancuran. Tes awal masuk universitas penerbangan yang diimpikan sejak lama, hampir saja gagal ia dapatkan. Dan kini, ia tengah di sidang oleh panutan tertinggi dalam hidupnya.
"Cinta boleh, bodoh jangan Algean." Ujar si lawan bicara, penuh penekanan.
"Pergi, berkemaslah. Sore nanti kamu flight ke New york, temui kakakmu disana."
"Tapi pah, Gean--"
"Pergi, Algean! Turuti perintah papah." Ujarnya penuh penekanan.
Gean mengangguk samar, tak mau lagi mendebat sang ayah. Diikuti oleh kedua abdi setianya, lelaki tampan berwajah campuran Asia-Eropa itu berlalu. Meninggalkan sang ayah yang tengah murka, karena tak habis pikir dengan kelakuan ceroboh putranya.
Algafriel memijit sejenak pelipisnya yang mulai terasa pening. Ada perbedaan besar antara putra sulung dan bungsunya. Si sulung itu cenderung lebih mandiri, memiliki nilai inisiatif tinggi, dan tentunya mudah sekali memanage dirinya sendiri. Maka, Algafriel tak perlu banyak ikut campur. Sejak dini, hidup si sulung lurus lurus saja. Beda dengan si bungsu, yang sejak dini sudah memperlihatkan gelagat pengacaunya.
Si bungsu cenderung lebih hiperaktif, mudah sekali mengekspresikan diri, memiliki semangat berapi-api yang bergelora, namun masih sulit dikendalikan. Si bungsu mengingatkan ia pada masa mudanya. Masa-masa dimana ia lebih suka tawuran, tidur di basecamp, ketimbang pulang kerumah dan menetap. Si bungsu juga sama, hanya bedanya dia tidak suka tawuran. Saat ditanya alasannya apa, si bungsu dengan enteng menjawab 'tawuran panas, mana rusuh. Nanti wajah ganteng Gean gosong, sama babak belur. Gean gak like.'
Tapi memang Algafriel akui, si sulung itu percampuran sisi muda ia dan sang istri. Hyperaktif, memiliki tekad baja, dan terkadang ceroboh.
"Ck, apa Gean tidak terlalu dini untuk jatuh cinta?" Gumamnya, menerawang alasan dari kecerobohan sang putra.
Al tidak membatasi urusan asmara sang putra, hanya saja ia tidak mau putranya lalai dalam proses meraih cita-citanya sendiri. Al cuma tidak mau, putranya yang rada gesrek itu mengalami nasib yang sama seperti ia muda dulu. Ia hanya berharap, jika memang benar putra sulungnya tengah merasakan jatuh cinta, jangan sampai takdir mengulang takdir yang sama untuk putranya.
"Putri dari keluarga Radityan itu, haruskah aku mencari tahu?" Pikirnya.
📚📚📚📚
"Obos, lo mau apa? Tinggal bilang aja, nanti kita beliin."
"Iya, bossque. Asal jangan minta underware victoria secret aja, harganya lagi naek."
"Eh, apaan lo kata? Sekate-kate." Cakrawala menepuk pelan bahu sang sahabat.
"Ya kali, si Gean mau begituan. Belum cukup umur oneng. Mau siapa yang pake?!"
"Ya, kali aja mau di hadiahin ke..." Sagara menjeda sejenak ucapannya.
"Ke siapa hah?" Desak Cakrawala.
"Siapa aja boleh, yang penting asik, asik, asik sik sik sik asik, sik asik sayang dirimu." Canda Sagara, tiba-tiba menyanyikan sebuah tembang.
"Nyanyi ae lo, suara pas-pasan juga."
"Eh suaraaa, dengarkanlah aku. Apa kabarmu, pujaan hatiku. Aku..."
"Ssstt, gak usah dilanjutin." Sela Cakrawala. "Gendang telinga gue rasanya mau pecah."
"Et dah busyet, sekate-kate lo." Kesal Sagara.
"Eh, eh, mau kemana lo boss?" Tanya Sagara, sadar akan pergerakan Gean.
"Gue mau cari minum dulu. Lo pada jangan-"
"Kita aja yang cari minumnya bos. Lo duduk santuy aja dimari." Ujar Sagara menawarkan.
__ADS_1
"Enggak, gue pergi sendiri."
"Tapi," Cakrawala menyela.
"Gue pergi sendiri. Lo pada, balik aja duluan." Ujar Gean cepat.
"Tapi boss-"
"Cakra, lo ada less bahasa spanyol hari ini. Balik deh, nyokap lo pasti nyariin."
"Tapi, gue-"
"Dan lo, Gar. Hari ini ulangtahun kak Sahara. Lo gak lupa kan?"
"Itu, gue-"
"Lupa?" Tebak Gean. "Pulang gih. Nih, beli kue tar yang banyak kismisnya. Kak Sahara suka kan?" Gean menyodorkan sebuah kartu berlimit miliknya.
"Gak usah. Gue masih ada duit. Gue bisa beli sendiri, Ge." Ujar Sagara.
Gean tersenyum tipis. Senyum tipis, bukan senyum penuh cengengesan. Senyuman yang malam membuat Sagara dan Cakrawala sedih melihatnya.
"Gue pergi ya. Lo pada balik aja."
"Tapi Ge, lo gak bisa nyetir dalam keadaan begini. Kita bisa-"
"Apa gunanya ini?" Gean mengangkat smartphone miliknya.
"Apa gunanya otak, kalau gak digunain." Keduanya bungkam. Mereka lupa, lupa akan kecerdasan Gean yang sering kali tertutup oleh sifat gesreknya.
"Gue bisa pesen ojen online, atau taksi online. Gampang, santai aja." Ujarnya meyakinkan. "Kalau gitu, gue pergi ya."
Dengan langkah lebar, Gean meninggalkan kedua temannya yang masih terpaku. Membawa rasa yang bercengkol di rongga dadanya, menyusuri ruas jalan tanpa tujuan. Tak peduli orang-orang menatapnya penuh tanya ataupun iba. Ia hanya ingin mencari pelarian untuk menenangkan dirinya.
Harusnya, hari ini ia pergi untuk melakukan tes gelombang pertama. Akan tetapi, karena kecerobohannya ia harus menundanya hingga cedera di tangannya sembuh. Tidak mungkin ia melakukan tes penerbangan dengan sebelah tangan seperti ini. Lagi, Gean merutuki kecerobohannya.
Berjalan tanpa arahan, kini menjadi aktivitasnya. Masih mengenakan seragam kebangaanya, dengan tangan yang diais oleh alat penyangga yang tersampir di bahunya. Gean menatap nanar tangannya, ketika ucapan sang ayah kembali menggema. Rasanya, ia telah begitu mengecewakan ayahnya.
Bruk
"Eh, maaf nak."
"Saya kurang hati-hati tadi." Ujar pria berkacamata yang nampak tengah terburu-buru tersebut.
Hari senin, hari yang selalu cenderung dengan kesibukan. Namun, itu tak berarti untuk Gean. Namun, istilah itu berarti untuk pria yang sepertinya sebaya dengan ayahnya tersebut.
"Kamu tidak apa-apa, nak?" Tanya pria itu, dengan tatapan penuh arti.
Gean tidak bisa membedakan antara tatapan peduli ataupun iba. Yang pasti, sosok pria dihadapannya ini mengingatkan kepada ayahnya. Sosok yang selalu peduli, namun jika dikecewakan ia akan lebih memilih banyak diam.
"Apa, saya menyonggol tanganmu?"
"Hm, tidak om."
"Kamu yakin? Apa perlu saya-"
"Ayah, ayo." Panggil seseorang, yang membuat keduanya menoleh.
"Iya. Sebentar Sen."
Remaja lelaki berseragam putih abu yang sedang menengteng dua helm itu berjalan mendekat. Gean menyerngit saat melihat siluet tersebut semakin mendekat. Sepertinya ia hafal siluet tersebut.
"Lo?!" Ujar keduanya bersamaan.
"Kalian saling kenal?" Tanya pria berkacamata tadi.
Gean dan lelaki berseragam lengkap dengan almamater SMA Dandelion itu mengangguk bersamaan.
"Ayah ngapain bicara sama dia?" Ujar lelaki tampan tersebut, sewot.
"Sen, tidak boleh begitu. Dimana etikamu? Bukannya kalian teman?"
"Bukan?!" Ujar Gean dan Arsen bersamaan.
Ya, Arsen lah sosok yang tengah memanggil pria yang menabrak Gean ayah. Pria tinggi tegap berkacamata, namun kacamara tersebut tak lantas mengurangi kadar ketampanannya.
"Yah, ayo. Nanti telat." Ujar Arsen, tak mau berbasa-basi lagi.
"Eh, iya. Ayo, tapi ayah harus memastikan sesuatu dulu." Ujar pria tersebut. "Kamu yakin tidak apa-apa? Tidak perlu ke-"
__ADS_1
"Tidak, terimakasih atas tawarannya." Sela Gean.
"Lo?!" Arsen hendak angkat bicara saat Gean lancang menyela ucapan ayahnya. Gean tidak sopan menurutnya.
"Om bisa pergi sekarang. Sungguh, saya tidak apa-apa." Lanjut Gean. "Saya juga harus pergi sekarang, mari."
Gean tahu ia tidak sopan, tadi moodnya sedang buruk saat ini. Dari pada membuat banyak orang muak, ia lebih memilih untuk pergi menjauh dari orang-orang. Sudah cukup ayahnya yang ia kecewakan hari ini, ia tak mau menambah masalah lagi. Walaupun tak dapat dipungkiri jika ia merasa terkejut, karena menemukan sosok pria yang memiliki beberapa kemiripin sifat seperti ayahnya. Dan lagi, sosok tersebut adalah ayah Rival-nya. Arsen.
"Ck, gak guna." Kesal Gean, saat sebelah tàngannya berupaya membuka sebuah botol minuman dingin yang baru saja ia beli.
Jalan sembaragan arah, membuat dia haus. Oleh karena itu, saat ini ia terdampar di sebuah minimarket yang biasa buka 24 jam.
Namun, karena terkendala oleh sebelah tangannya yang sakit, ia jadi marah sendiri.
"Butuh bantuan?"
Gean menoleh, menatap si pemilik suara lembut nan menenangkan tersebut. Deja vu, ia sampai lupa berkedip kala menemukan sosok pemilik suara lembut tersebut.
"Hallo teman, apa kabar?"
"G-ue...."
"Tangan kamu masih sakit ya? Sampai pakai penyangga begitu?" Tanyanya beruntun, sambil menatap tangan Gean yang masih disangga di dadanya.
"Ah, ini. C-uma bengkak dikit." Kikuk Gean.
'Kok, gue jadi gagu begini ya?' Batin Gean.
"Sini, aku bantu buka minumnya." Ujarnya, menawarkan bantuan.
"Eh, Arra. Lo, gak sekolah?" Tanya Gean pada akhirnya.
Arra--gadis cantik yang kini berdiri di hadapannya dengan almamater lengkap itu tersenyum kecil. Senyum yang mampu membuat rasa yang bercengkol didada Gean menguap seketika.
"Sekolah. Tapi, habis aku bantu kamu." Ujarnya, sambil mengambil alih botol minuman Gean.
Membukanya dengan perlahan, lalu kembali menyodorkannya kepada Gean. "Ini, minum."
"Eh, iya." Ujar Gean sambil menerima botol tersebut.
"Biar aku aja yang bayar, sekalian."
"Tapi-"
"Jangan nolak. Arra ikhlas kok." Ujar Arra menyela. "Aku harus pergi sekarang, maaf ya."
Gean mengangguk tanpa banyak kata. Deja vu yang didapatkan olehnya pagi ini, agaknya mampu membuat kinerja otaknya lemot.
"Oh iya, ayah juga ingin kamu main ke rumah. Apa kamu ada waktu?"
Gean mengangguk cepat, lantas menggeleng. Ia lupa, lupa akan keberangkatannya sore ini ke New york. Sayang sekali, Deja vu yang ia dapatkan kali ini harus terbuang sia-sia.
"Maaf, untuk saat ini tidak bisa. Aku harus pergi."
"Pergi?"
"Iya. Mungkin, lain kali aku mampir." Ujar Gean sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Dia tidak mungkin jujur soal jadwal 'diasingkan' ke negeri orang untuk sementara waktu kepadanya. Karena dia pergi ke sana untuk mendapatkan pembelajaran karena ia tertinggal tes gelombang pertama.
"Sore ini aku flight, mungkin lain kali saja." Ujar Gean, sambil tersenyum getir.
Mungki? Masih adakah mungkin yang lain untuknya? Gean tak tahu pasti. Namun, ucapan gadis itu berikutnya, membuat Gean semakin bertekad untuk membuat kemungkinan itu terjadi.
"Safe flight. Aku tunggu kemungkinan yang lain itu, Gean."
****
TBC
Hallo, Met malem semua👐
BCT update, part khusus Gean-Arra-Arsen. Jadi, biar adilll aja aku bakal buat satu part buat Gean, satu part buat Arsen. Setuju?
Buat part ini gimana nih? kacian gak sama Gean? Atau B aja? atau rindu yanda nih??
Ok, jangan lupa like, vote, komentar, share dan follow jika berkenan.
ILYSM❤
__ADS_1
Sukabumi 05 Feb 2021