Bukan Cinta Terencana (R3)

Bukan Cinta Terencana (R3)
.47-Introgasi Mendadak


__ADS_3

📚.47-Introgasi Mendadak



"Adanya penghalang ruang, waktu, juga jarak bukan berarti aku berhenti mempedulikan dirimu."-Arsyad An-nass Senopati Az-zzioi


****


"Ssshh." Ringisan kecil terdengar dari bibir lelaki tampan yang terluka tersebut.


"Aduh, maaf. Sakit banget ya bang?"


"Enggak."


"Ini kenapa sih bang? Bisa sampai luka begini?" Tanya wanita yang tengah mengobati luka lebam dipipi sang putra tersebut.


"Kesalahpahaman kecil." Ujar si empunya nama.


Aurra menghembuskan nafasnya gusar. Pulang sekolah tadi, ia dihadapkan dengan kondisi putra putrinya yang jauh dari kata baik-baik saja. Sang putra pulang dengan sudut bibir luka dan sebelah pipi lebam. Sang putri juga tak kalah mengenaskan. Sebelah pipinya merah, dengan kondisi pulang digendong lelaki asing pula.


"Terus, Arra juga kenapa?" Introgasi wanita yang kebetulan ada dirumah sejak pagi tersebut.


"Arra mungkin masih shok. Tadi, sempat di tampar sama ibu ibu anarkis bunda." Lelaki lain berujar, menuturkan.


"Hm, kamu ini siapanya Arra?"


Deg


"Saya....." Lelaki itu menggaruk tengkuknya yang tak gatal, bingung menjawab pertanyaan satu itu.


"Saya Arsen, teman Arsyad. Secara tidak langsung, Arra juga teman saya bunda."


"Hm, kamu Arsen?" Aurra bertanya hati-hati.


"I-iya."


"Bang, ini Arsen yang itu?" Tanya wanita bercadar tersebut.


"Hm." Jawab Arsyad, sambil mengangguk kecil.


"Kenapa ya, bunda?" Kikuk Arsen. Ia merasa agak canggung sekarang. Apalagi wanita yang dipanggilnya bunda itu, kini menatapnya seksama.


'Perasaan gue gak enak?' Batin Arsen.


"Kamu suka sama putri bunda?"


Deg


"Tuh kan??"


Arsen mati kutu ditempatnya. Ini salah, sungguh kesalahan yang hakiki. Niat awalnya memang membantu mengantarkan Arsyad dan Arra pulang menggunakan mobil milik Ayahnya yang ia bawa kesekolah. Ia juga tadi izin kepada Arsyad untuk menggendong Arra hingga pintu utama kediaman Radityan, sebelum pintu itu terbuka dan ia disambut oleh seorang wanita juga pria gagah berseragam TNI. Detik itu pula, ia sadar akan kesalahannya.


"Itu,"


"Bunda, maaf." Arsyad menyela.


"Tadi abang yang kasih izin Arsen buat bawa Arra." Tuturnya.


Aurra menatap sang putra lekat lewat kedua manik beningnya.


"Terimakasih, abang sudah mau jujur." Ujarnya, sambil menyentuh surai gelap sang putra.


"Dan Arsen,"


'Duh, gue lagi?' Gumam Arsen dalam hati, cemas.


Ia baru pertama kali diintrogasi seorang ibu yang baru saja mendapati putrinya dibawa pulang oleh lelaki asing. Arsen baru menghadapi situasi seperti ini, ia awam akan keadaan ini. Pacaran saja tidak pernah, mana pernah ia punya pengalaman diintrogasi orang tua dari seorang gadis.


"Jadi, kamu yang namanya Arsen?"

__ADS_1


Deg


Arsen meneguk salivanya susah payah. Suara bariton yang etensinya lebih berat dari suara bariton Arsyad sahabatnya itu, nyatanya mampu membuat lututnya lemas seketika. Baru ditanya nama saja ia sudah segugup ini? Apalagi Arsyad yang ditanya kenapa tiba-tiba dinikahkan kala itu? Apa Arsyad tidak gugup seperti dirinya saat ini?


Bung, perlukah dirimu mundur dari introgasi ini?


"I-ya om, saya Arsen."


Pria berseragam TNI yang entah kebetulan apa, siang begini sudah ada dikediaman Radityan. Padahal, beberapa kali ia bertandang kerumah sahabatnya ini ia jarang sekali bertatap muka dengan pria gagah nan rupawan anggota pasukan khusus TNI RI ini.


"Atas dasar apa kamu berani menyentuh putri saya?"


Deg


Arsen harus menjawab apa sekarang?


"Mas?" Lirih Aurra, mengintruksikan sang suami untuk tidak berlebihan.


Pria berseragam TNI itu berdehem kecil. Dehaman yang bagi Arsen lebih mirip aungan sang raja hutan, saking tegasnya.


"Maaf, saya lancang sudah menyentuh Arra om. Semua itu bentuk dari spontanitas, karena cemas melihat Arra di perlakukan demikian." Ujar Arsen menuturkan, dengan seberani mungkin.


"Selama saya berteman dengan Arsyad, Davin, Davian dan Aroon, Arra adalah satu-satunya perempuan diantara pertemanan kami. Selama bertahun-tahun kami berteman, sudah menjadi suatu kewajiban untuk menjaga Arra sebagaimana mestinya. Oleh karena itu, saya spontan melakukan tindakan tersebut om."


"Bukan karena kamu ingin memperlihatkan sesuatu."


"Itu-" Jeda Arsen, melirik Arsyad.


'Syad, bantuin gue napa? Gue bingung syad?!' Gumam Arsen putus Asa.


Sedangkan Arsyad, datar-datar saja menatap sang sahabat. Mau bantu bagaimana, ini bukan ranahnya.


"Arsyad tidak akan membantu."


Deg


'Kok bokap lo bisa baca pikiran gue syad? ceñayang ya?' Batin Arsen kaget.


Deg


"Dan lagi, saya bukan cenayang."


Doubleshit.


Arsen lupa akan satu hal, lagi. Ia lupa akan latar belakang ayah dari sahabatnya ini. Tentu ayah dari sahabatnya ini bisa membaca mimik muka atau apa yang dipikirkannya, karena semua itu tergambar lewat ekspresinya. Ia lupa, jika ayah sahabatnya ini dulu mengambil jurusan psikolog. Arsen lupa, sungguh lupa akan latar belakang pria penuh wibawa dan karisma satu ini.


"Sudah mas, kamu bikin Arsen takut."


"Tapi dek?" Pria rupawan itu menatap sang istri sejenak. Detik berikutnya, ia menghembuskan nafasnya kecil. Manik jernih nan teduh itu, selalu saja bisa menguasainya.


"Sekali lagi kamu sentuh putri saya tanpa ikatan, siap-siap terima konsekuensinya." Ujar Van'ar penuh penekanan.


'Itu kode bukan sih?' Bingung Arsen dalam hati, tapi sekuat tenaga ia bersikap biasa saja. Jangan lupakan kemampuan ayah dari sahabatnya ini, soal membaca mimik wajah.


"Mengerti?"


"I-ya om." Arsen mengangguk dengan cepat.


"Kamu suka memancing?"


"Memancing?" Ulang Arsen bingung.


"Suka atau tidak?"


"S-uka om." Jawab Arsen sedikit terbata.


"Hari minggu nanti, bawa alat memancing. Saya dan Arsyad mau memancing, dan kamu ikut."


"Ikut mancing om?"

__ADS_1


"Hm. Memangnya ikut kemana lagi?"


Arsen tersenyum kikuk. Menjawab pertanyaan tentara satu ini, gugupnya minta ampun. Jawabannya harus to the point, tartil dan jelas tentunya. Jawab pertanyaan ini saja sudah gugup setengah mati, apalagi nanti kalau menjabat tangannya di depan penghulu, eh Astagfirullah. Arsen menggelengkan kepalanya sendiri, gemas akan pikirannya yang terlalu tinggi.


"Kenapa kamu geleng-geleng kepala? Tidak mau ikut?"


"B-ukan om. Saya mau ikut kok."


"Hm."


Van'ar beranjak setelahnya. "Dek, nanti keatas."


"Iya mas."


"Jangan lupa bawa Arion juga. Dia ada hutang hafalan Undang Undang abdi negara." Ingatkan pria tersebut.


"Iya mas."


Van'ar berlalu setelah berkata demikian. Pria tersebut memang pulang lebih awal dari kesatuan hari ini. Itu adalah sebagai bentuk dari bonus yang di terimanya, karena dihari sebelumnya ia telah berhasil melaksanakan misi dengan baik.


"Ayo, diminum dulu sirupnya Arsen." Tawar Aurra.


"Iya, terimakasih bunda."


Tidak bermaksud menolah suguhan si empunya rumah, Arsen mengambil gelas berisi orange jus yang nampak segar tersebut. Kerongkongannya tiba-tiba kering, karena introgasi dadakan barusan. Setidaknya, orange jus segar tersebut bisa membantu membasahi kerongkonganya yang tiba-tiba kering.


"Jadi, benar Arsen ini suka sama Arra?"


"Uhuk, uhuk." Belum sempat ia menikmati segarnya orange jus tersebut, ia sudah terlebih dahulu tersedak karena terkejut.


Barusan itu pertanyaan ataukah a ncaman bunuh diri secara tidak langsung ya?


"Aduh maaf, Arsen terkejut ya?" Sesal Aurra.


Arsen tersenyum tipis, sambil mengelap sudut bibirnya yang basah. "Enggak ko bunda. Arsen saja yang kurang hati-hati."


"Tapi tetap saja, bunda minta maaf. Biar bunda ambilkan jus yang baru ya?"


Arsen menggeleng cepat. "Tidak perlu repot-repot bunda." Ujar Arsen.


"Tidak apa-apa. Sekalian bunda mau chek makanan, Arsen mau makan siang disini 'kan?"


"Itu, bunda-" Arsen melirik sang sahabat, yang masih anteng-anteng saja.


"Makan siang disini saja. Ayahnya Arsyad juga pasti senang."


'Nah itu, Arsenya yang gak enak bund.' Batin Arsen.


Lagi, Arsen hanya bisa mengangguk patuh. Ia tidak bisa menolak barang sedikitpun permintaan wanita baik hati seperti ibu dari sahabatnya ini. Wanita baik hati, yang dulu juga merupakan salah satu rekan sejawat almarhum ibunya. Untuk sesaat, lewat Aurra Arsen bisa kembali merasakan hangatnya perhatian seorang ibu. Sungguh, ia amat mendambakan perhatian-perhatian kecil tersebut sepeninggalan ibunya 10 tahun silam.


****


TBC


Bang Syad Update👐


Apa kabar semua?? baik? semoga semua sehat dan baik baik saja yo😄


Part Kali, bang Syad hadir dengan Arsen. Full Arseeen.... ciee yang pada bayangin wajah ganteng Arsen gimana? gimana ya rasanya diintrogasi Bang Van'ar? ngebatin sedikit, bisa dibaca gerak-geriknya. Taluk dehh pastinya😋


Ok, jangan lupa tinghalkan like, vote, komentarrr yang banyak juga share ya👐


Aku juga mau minta nantuan buat bantu vote dan komentar ceritaku 'My Mysterious Bakos'



Bisa lewat Apk Wttp, google juga link. Untuk link bisa lewat FB Karisma yknp atau IG Karisma022. Kalau lewat google harus log in dulu ya. Itu pun, jika berkenan😋


Ok, jumpa lagi di part berikutnya.

__ADS_1


ILYSM❤


Sukabumi 12 Januari 2020


__ADS_2