Bukan Cinta Terencana (R3)

Bukan Cinta Terencana (R3)
. 75. Berjuang, Yok.


__ADS_3

📚. 75. Berjuang, Yok.



"Perjuangan alangkah baiknya dilakukan oleh kedua belah pihak. Ketika hanya ada satu pihak yang berjuang, maka akan ada ketidakstabilan."-Arsyad An-nass Senopati Az-zzioi


****


"Sudah selesai hm?"


Gadis cantik yang baru saja mengakhiri tangisnya itu tersenyum kecil, sambil membenamkan wajahnya lebih dalam. Ia mencari posisi paling nyaman dalam pelukan sang suami.


"Mau sampai kapan?"


"Sampai tak terhingga."


Lelaki rupawan itu tersenyum tipis mendengarnya. "Nanti Papih marah?"


"Enggak kok. Kara udah minta izin." Ujar gadis cantik tersebut. "Kata Papih, boleh lihat yanda. Yanda katanya gak papa, tapi lebam-lebam begini. Pukulan Papih pasti sakit banget ya?"


Arsyad mengangguk, tak berniat berbohong. "Tuh kan. Soalnya, Papih itu punya banyak mendali kejuaraan olahraga tinju bebas. Hm, apa ya namanya?"


"MMA."


"Ah, iya, itu. Biasanya, Papih juga suka latihan sama Master Ji. Master Ji itu petarung handal, Kara pernah lihat Master Ji patahin lengan bodyguard Papih yang membangkang. Serem."


Arsyad terkejut, tentu. Ternyata, mertuanya itu benar-benar bukan single parent biasa. Dari tampangnya saja, Arsyad memang bisa menyimpulkan hal tersebut.


"Tidur ýa, ini sudah larut."


"Yanda temenin kan?"


Lelaki rupawan itu nampak berpikir sejenak. Lebih baik ia menjaga jarak dengan sang istri untuk beberapa saat, mengingat sang pawang masih dalam mode gàrang tingkat dewa.


"Temenin Kara bobok ya, yanda?" Gadis cantik itu mendongrak, menatap wajah sang suami dari dekat.


"Ya, please." Pintanya, sambil memperlihatkan puppy eyes andalannya.


"Kara gak mau tidur sendiri. Yanda tidur disini aja, ya?"


Arsyad masih tak bergeming. Ia menatap lekat wajah yang begitu dekat dengan wajahnya. Cantik. Satu kata yang mewakili. Walaupun baru saja menangis, dan tidak ada make up penunjang apapun, wajahnya tetap nampak cantik berseri.


Cup


"Ok."


Gadis cantik bermanik hazelnut itu mengerjapkan maniknya kaget.


"Apa?"


"Ayo tidur." Ajak lelaki rupawan tersebut, sambil mengelus pucuk kepala sang istri.


Kara mendadak linglung. Kecupan singkat di keningnya masih terasa tertinggal. Kecupan singkat itu pula yang telah membuatnya linglung seketika.


"Kenapa?"


Gadis itu menggeleng. "Enggak."


"Tidurlah. Ini sudah larut malam."


Gadis cantik itu mengangguk, sambil tersenyum tipis. "Selamat malam, Yanda." Ucapnya sebelum memejamkan mata.


Pesawat pribadi yang menjemput keduanya, memang milik Tyoga-Ayah Kara. Pesawat tersebut merupakan pesawat yang di dalamnya telah direnovasi sesuai kebutuhan si empunya. Biasanya, Tyoga menggunakan pesawat tersebut untuk bepergian ke beberapa negara saat perjalanan bisnis.



Pesawat mewah tersebut, juga di fasilitasi dengan beberapa sarana dan frasarana. Seperti ruang makan dan dapur, kamar pribadi, toilet, ruang pertemuan, dan ruang tunggu biasa. Saat ini, Arsyad dan Kara juga menempati salah satu kamar di dalam pesawat tersebut.



"Tidur." Ujar Arsyad lirih, saat melihat sang istri masih bergerak gelisah. Mencari posisi nyaman dalam pelukannya.


"Hm."


Lelaki rupawan itu tersenyum tipis, saat sang istri berhasil tertidur lelap. Dipandangi lekat wajah cantik yang tengah tertidur damai tersebut. Wajah cantiknya nampak permai, dalam lelapnya.


Cup


"Tidur yang nyenyak, istri." Lirihnya, sambil mengecup kening sang istri sekilas.


Melihat sang istri begini, jiwa pejuangnya kian membara. Dia tidak akan ragu lagi mulai saat ini. Dia sudah bersiap dengan berbagai planning untuk masa depan. Ia akan berusaha sekuat tenaga untuk menjaga apa yang telah menjadi miliknya.


"Astagfirullah." Kaget Arsyad kecil, saat melihat melihat siluet sang mertua yang tengah berkacak pinggang di depan pintu.


"Kukira kau akan mengambil kesempatan dengan tidur bersama putriku. Kenapa kau tidak mengambil kesempatan ini?"


"Tidak. Saya tidak sepicik itu." Arsyad menjawab, sambil menutup pintu perlahan.


"Jangan naif. Aku tahu semuanya, anak muda."

__ADS_1


"Apa yang anda ketahui? Soal dua penawaran yang kakek Kara tawarkan?"


"Ya. Itu salah satunya." Tyoga menatap lawan bicaranya lekat. "Kenapa? Kau jatuh cinta pada putriku? Kulihat kau sangat gigih memperjuangkannya."


Arsyad menjeda sejenak. "Kegigihan itu sebagai dasar dari bentuk tanggung jawab sebagai seorang suami."


Tyoga tersenyum miring. "Sudah jatuh hati ternyata."


Lelaki berusia 18 tahun lebih beberapa bulan itu menggaruk tengkuknya lirih. Entah mengapa, ia bisa melihat tatapan menyepelekan sang mertua tentang perasaanya.


"Apa salah jika saya jatuh cinta pada istri sendiri? Hal itu tidak dilarang dalam hubungan kami, pak."


Tyoga mengapresiasi keberanian menantunya dalam hati. Pantas saja cita-citanya menjadi seorang abdi negara, tekadnya nampak matang dalam setiap keputusan. Ia juga pandai bercakap dan mudah mengantisipasi lawan.


"Pasangan yang saling mencintai, biasanya rawah terjerumus dalam rayuan setan. Bagaimana jika sampai kamu menyentuh putriku sebelum waktunya?"


Deg!


Arsyad tahu, Tyoga pasti mengetahui soal masalah satu ini. Arsyad juga tahu hal ini sulit. Dia cuma lelaki normal biasa. Akhwatnya sebagai seorang lelaki dan suami, beberapa kali memang membuatnya kelimpungan sendiri. Tapi sejauh ini, dia masih bisa memegang kendali atas dirinya sendiri.


"Insaallah, saya masih bisa menjamin akan hal tersebut."


"Cih, munafik sekali." Tyoga mencibir. "Kamu sudah berani menyentuh putriku. Yakin bisa menahan hingga waktunya tiba?"


Arsyad mengangguk mantap. "Ya. Saya bisa."


Tyoga tersenyum tipis. Janji seorang Radityan terkenal akan kepastiannya. Jangan ragukan janji seorang Radityan, itu bukan lagi rahasia umum.


"Hm. Kita lihat saja nanti." Tyoga berlalu setelahnya.


Lelaki penuh kharisma itu benar-benar berhasil membuat Arsyad waswas sendiri. Toh, lambat atau laun ia juga harus menghadapi sang mertua. Hela nafas kecil terdengar, kini setidaknya ia bisa bernafas lega.


Setelah memastikan istrinya tidur lelap, ia pergi kembali menuju saudara-saudaranya berada.


"Wets, aib." Pekik suara Davian, saat ia memasuki ruangan.


"Woah, itu mah zaman lagi culun-culunnya."


"Yoyoy. Gue juga gak ngèh, kenapa dulu gue bisa pake kacamata bulet gitu? Kalau sekarang, dih ogah bingit." Suara si tengah kembali terdengar.


"Yups. Mana dulu mata sipit banget lagi. Kayak habis nangis semaleman, njirr." Kini giliran si sulung yang berkomentar.


"Ngehina bae lu pada. Ini kita woy, sadar!" Ujar si bunsu menengahi.


Ketika saudara kembar itu memang sedang asik membahas fhoto masa kecil mereka yang ditemukan di dompet si bungsu.



"Lagi nonton apa lo?" Tanya Davin, beralih pada laptop Davian yang menyala.


"Headline News in thè week."


"Headline News apaan?" Giliran si bungsu bertanya. Tangannya masih sibuk membenahi fhoto masa kecil mereka kedalam dompet kulitnya.


"Tenggelamnya kapal KRI Nanggala 402."


"Innalilahi." Jawab si bungsu dan si sulung bersamaan.


"Kok bisa? Kok gue gak tahu?" Davin bertanya, sambil buru-buru menggeser laptop milik Davian.


"Lah, lo yang gak update berarti?! Ini udah tranding topik di twitter. Udah ribuah kali ditwit." Davian memberi tahu. "Gue sih barusan gak sengaja ngelacak dari satelit, eh banyak kapal sama helikopter di perairan Bali. Pas gue chek, teryata itu lagi proses pencarian." Tutur Davian.


"Ibarat Quetos yang lagi tranding nih, ya. Januari Sriwijaya terbang terlalu tinggi, Febuari hujan terlalu deras, Maret meledak terlalu keras, April menyelam tanpa batas." Lanjutnya.


"Ya Allah, kok gue bisa gak update ya? Gue kan ada grup calon Taruna." Davin bergumam lirih.


"Apa?!" Aroon dan Davian berseru kompak.


"Biasa ae lah. Gue kan emang mau masuk militer."


"Enggak?!" Tolak Davian mentah-mentah. "Yang lain aja lah, Davin. Jangan itu."


"Sòrry, dorry, stobery, nih. Gue udah punya tekad bulet buat masuk AKMIL. Gue bakal ngabdi jadi abdi negara lewat TNI AD."


"Lo gak takut item apa? Nanti lo kurus, item, iyuw." Ujar Davian menakut-nakuti.


"Lo gak bercanda kan?" Aroon bertanya, memastikan.


Davian mengangguk mantap. "Lo berdua memangnya gak ñgerti juga alasan kenapa gue ikut Ekskul PASKIBRA, PRAMUKA, sama olahraga dari dulu?"


Davian dan Aroon menggeleng. "Itu sebagai salah satu batu loncatan buat pijakan gue."


Davin memang termasuk kedalam anak yang aktif dalam berorganisasi. Dia ikut ekstrakulikuler PASKIBRA, PRAMUKA, dan olahraga. Semua itu semata-mata agar ia mudah melewati ujian masuk AKMIL nantinya. Davin memang anak PASKIBRA kebanggaan SMA Dandelion, Judat (Juru adat) di eskul PRAMUKA yang terkenal akan ketegasannya.


Dari dulu, dia memang sudah berniat mengabdikan diri untuk menjadi abdi negara seperti om nya, Van'ar. Oleh karena itu, ia merasa sedih saat Arsyad yang notabenenya lebih dari dirinya harus mengubur dalam dalam mimpinya menjadi abdi negara.


"Kenapa sih harus TNI bang? Jadi TNI itu berat loh. Di darat, bisa aja lo mati pas di suruh tugas di perbatasan yang rawan konflik. Di laut, bisa aja lo tenggelam karena cuaca buruk. Di udara, bisa aja pesawat lo terbulensi terus meledak. Nah loh, serem bang."


"Sans ae lo bambang. Kalo ada maunya aja, bahanya alusss kayak kulit bayi." Ketus Davin, sambil menggeplak bahu Davian lirih.

__ADS_1


"Kan gue cuma parno bang. Mending jadi agen, aja kayak gue!" Celetuk Davian.


"Sama aja namanya, Marfu'ah." Ketus Aroon, sambil menggeplak bahu Davian yang sebelahnya.


"Njirr, kekerasan dalam kesaudaraan lo pada. Mau gue laporin ke KPAI hah?!" Kesal Davian.


"Dasar, pantat bayi. Sensian." Kekeh Aroon.


"Tau ah, gelap." Ketus Davian.


"Terang juga." Timpal Aroon sambil tertawa kecil.


"Sans Ae lo empal gentong. Bisa aja jawabnya!"


Diam-diam Arsyad tersenyum tipis melihat interaksi ketiga saudaranya, yang selalu bisa membuat orang di sekelilingnya tertawa bahagia.


"Lo ganti cita-cita ya Davin, abang gue tersayang." Bujuk Davian.


Si empunya nama menggeleng tegas.


"Mamah gak bakal setuju juga loh!" Ancam Davian.


"Papah setuju kok. Lagi pula, ini pilihan gue. Aroon harus stay di Jakarta, sambil ngurus bisnis kita plus bantu Papah sama Mamah. Lo harus ngelanjutiñ cita-cita lo jadi agen elite, cyber, hacker profesional, biar suatu saat gue bisa rekomendasiin BIN buat rekrut lo jadi anggotanya." Kekeh Davin.


"Kalau gue, bakal habisin waktu buat ngasah skill sama memperluas rasa cinta bela negara. Nanti, kalau kulit gue gosong, kepala gue plontos, lo jangan kaget. Tapi lo pada harus kaget, kalau gue udah bawa pulang gelar yang bisa banggain orang tua kita."


Si sulung menatap kedua saudranya lekat. "Kita gak bisa selamanya bersama. Kita punya jalan masing-masing buat di tempuh. Hidup lo, pilihan lo, dek. Hidup gue, pilihan gue."


Davian dan Aroon tidak bersuara. Davin tersenyum tipis sambil lanjut bercerita. "Gue ikut jadi anak murid om Galak sama on Gemi, buat ngelatih mental lebih kuat. Om om kita itu, guru yang paling tepat. Selain itu, Om Van'ar juga jadi guru utama buat gue."


"Gimana kalo lo gugur di medan perang, bang?" Davian buka suara.


Davin tersenyum tipis mendengarnya. "Itu udah resiko yang harus gue tanggung. Ini jalan hidup yang gue pilih."


"Ok kalau begitu." Aroon buka suara. "Asal lo harus janji sama kita. Cinta bela negara, lo jadi garda terdepan bangsa ñantinya. Tapi jangan lupa, ada Mamah, Papah, kita, sama yang lain nunggu di rumah."


Davian mengangguk. "Lagipula, kita masih belum lulus. Gue juga belum ikutan seleksi AKMIL. Ngapain lo pada menyè-menyè gini?"


"Kita sedih, begok!" Kesal Davian. "Lo sih, pake rahasia-rahasiaan segala."


"Lo yang gak nanya, keleusss."


"Dasar." Kètus Davian, sambil beranjak.


Grep!


"Awas lo sampe gak inget pulang kerumah pas udah jadi TNI RI nanti, gue gorok motor kesayangan lo!" Ancam Davian, sambil memeluk sang kembaran.


"Yeh si bangs*t. Jangan berani-berani nyentuh barang-barang gue!" Balas Davin, sambil menepuk punggung sang kembaran.


"Semoga lo selalu inget Allah bang. Karena semua kendali ada di Allah. Gue cuma minta, agar Allah selalu jaga lo dalam setiap langkah lo." Aroon buka suara, sambil tersenyum tipis.


"Duh, si bontot bijaknya. Calon CEO nih." Gurau Davian.


"Tau ah, sepet." Kesal Aroon, sambil membuang muka.


"Lagian lo pada, tiba-tiba jadi mellow gini." Kekeh Davin.


"Kita shok sama cita-cita lo?!" Davian dan Aroon berujar bersamaan.


"Woless, woless, itu masih lama brother. Kita Ujian aja belom. Masih setahunan lagi."


"Sial*n lo emang. Gue baru nyadar, kita masih kelas XI." Davian baru ìngat. Pun dengan Aroon yang baru menyadari kelebayan mereka yang cuma-cuma.


"Kaciann, baru sadar kalau lebay." Davian tertawa ngakak setelahnya.


"Sial*n lo!" Umpat Davian kesal.


Arsyad yang masih berdiri di tempatnya, hanya bisa tersenyum tipis. Melihat para saudaranya yang fokus membuat planning untuk masa depan, dia malah kerumitan membuat skema planning masa depannya sendiri. Ketika saudaranya sibuk mencari jalan agar menuju kesuksesan, berbanding terbalik dengannya yang harus berjuang untuk membuktikan diri jika ia layak untuk di perhitungkan.


"Berjuang, yok." Suara Davin kembali terdengar.


"Berjuang buat apa yang memang mau dan pantas kita perjuangin. Berjuang buat apa yang memang mau kita perjuangin, dan tunjukin sama dunia kalau kita mampu." Lanjutnya.


****


TBC


Sumber : Google


Yuhuu.... bang Arsyad update 😀


Gimane buat part ini? masih mau lanjooot? Terkedjut gak sama jalan yang dipilih si triple?


Jangan lupa like, vote, komentarrrr, share dan follow Author. IG Karisma022


Ok, kita jumpa lagi di part berikutnya ya 😙


Sukabumi 27 April 21

__ADS_1


__ADS_2