Bukan Cinta Terencana (R3)

Bukan Cinta Terencana (R3)
.35-Resep


__ADS_3

๐Ÿ“š.35-Resep



"Tidak halal bagi seorang wanita keluar rumah tanpa izin suaminya, jika ia keluar rumah tanpa izin suaminya, berarti ia telah berbuat nusyuz (durhaka), bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya, serta layak mendapat hukuman.โ€


****


Suara lantunan merdu lapadz lapadz adzan yang berkumandang, nampak menggema dengan indah diindra pendengaran. Dengan erangan kecil, si lelaki tampan itu membuka mata. Sambil menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina matanya, lelaki itu mencoba menggerakkan tanganya yang terasa kebas dan sulit digerakan. Ketika menoleh, ia menemukan alasan yang membuat tanganya terasa demikian.


Disana, bidadarinya tengah tertidur dengan pulasnya. Berbantalkan lenganya, istrinya itu tertidur lelap dalam pelukan hangangatnya. Wajah cantiknya nampak polos dan ayu secara bersamaan ketika tertidur. Tersihir, Arsyad kembali tersihir oleh pesona gadis cantik yang dinikahinya sebulan belakangan. Dipandanginya lekat, wajah cantik yang masih terlelap damai tersebut. Bulu mata lentiknya nampak menutup rapat, menyembunyikan sepasang iris hazelnut didalamnya. Rambut hitamnya nampak menutupi sebagian wajah cantiknya, membuat siempunya sedikit risi dalam tidurnya.


Lagi, lantunan Adzan mengingatkan Arsyad. Lelaki itu langsung beringsut, ia bergerak untuk melepaskan tanganya terlebih dahulu tanpa membangunkan sang istri. Berhasil, dengan susah payah ia berhasil melepaskan tanganya tanpa menganggu tidur sang istri. Semalam keduanya tertidur di sofa panjang dekat jendela, berbagi kehangatan yang sama, disinari sinah cerah rembulan yang canti.


Usai melemaskan otot otot lenganya lewat peregangan kecil, Arsyad melirik jam dinding sejenak. Pukul 04.30 menit--sudah manjing waktu salat subuh ternyata. Dengan pelan, lelaki tampan itu menyimpan tanganya diperpotongan lutut dan bagian belakang punggung sang istri.


"Bismillah."


Dengan sekali gerakan, Arsyad membawa tubuh mungil sang istri dalam pelukannya ala bridal style. Membawa sang istri yang masih terlelap, keluar dari ruangan rahasia tersebut.


"Hayo, habis nanaaninaa ya bang?"


"Astagfirullah." Kaget Arsyad.


"Hehehe, maaf bang. Kaget ya?" Kekeh Davian sambil nyengir kuda.


"Habisnya lo ngapain coba tidur diruang baca? Nyari tempat antimainstream buat ngadon ya bang?"


"Ngadon?" Bingung Arsyad.


"Itu loh bang, nanaaninaa. Nyicil bikin debay bang, dedek bayi." Kekeh Davian, sambil mempraktikan lewat dua jari telunjuk yang saling beradu.


"Kamu bicara apa sih, aneh." Ujar Arsyad datar, sambil berlalu membawa sang istri pregi.


"Eh, malah pergi. Padahal baru mau gue kasih resep ini."


"Resep apaan hayo?" Tanya Davin yang tiba tiba muncul.


"Resep kuat biar bisa ML berjam-jam."


"Hah?!" Davin melongok lebar.


"Ya itu, resep itu kan mantap banget buat bang Arsyad. Biar pas sekali gol, langsung punya debay kembar gitu." Kekeh Davian jenaka.


"Memang lo tahu resepnya?"


"Tahu dong. Resep buat lama ML, resep bikin panjang, bikin gede, bikin-awwww, nyeri njirr?!" Jerit Davian diakhir kalimatnya.


"Bikin apa? Resep apa hah?" Davin dan Davian kompak menoleh.


"Eh, papa ganteng. Met pagi, pah." Sapa Davian sambil terkekeh kecil.


"Pagi pagi, subuh ini. Gak lihat mataharinya belum nongol juga?!" Jutek pria awal empat puluhan itu.


"Hayo, ngomongin apa barusan?" Pancing Aroon yang tahu tahu sudah muncul disamping papanya--Arkan.


"Resep resep apaan barusan? Jangan bilang kalian bilang yang aneh aneh ya?" Arkan--menambahkan cubitanya kian kuat dikedua daun telinga kedua putranya.


"E-enggak bahas apa apa kok pah. Iya kan Dav?" Dalih Davin.


"I-iya pah." Imbuh Davian, menguatkan argumen.


"Tadi lagi bahas nanaaninaa loh bang? Masa lupa."


"Eh bontot, gak usah ngadi-ngadi ya lo?"


"Iya. Loe saksi, diem diem bae napa?" Ketus Davian kesal.


"Kalian ini ya, masih kecil udah bahas begituan. Belum waktunya!"


"Kan simulasi pah, nanti kalau udah SAH baru prakteknya." Davianya nyengir kuda setelah mengucapkanya.


"Simulasi, simulasi. Gak boleh?!" Arkan menarik tanganya, dari kedua daun telinga sang putra.


Dua pemuda berkoko putih itu nyengir kuda. "Pah, kata pepatah tuh 'Buah jatuh gedebuk, gak jah dari bapaknya eh, pohonya' nah itu, kalau kita gini berarti turunan dari siapa dong?" Kekeh Davian, sambil merangkul sang kakak--Davin.


"Iya. Kita kan hasil goyangan mamah papah, tiap malem. Masa sifatnya turunan mang Upit?"


Arkan--pria berkoko semi putih itu memijit pelipisnya pening. Menghadapi dua buah hatinya ini memang penuh dengan tantangan. Ada saja, argumen keduanya untuk mendebat dirinya.


"Ron, ayok. Nanti keburu telat salat subuhnya." Arkan lebih memilih mengalihkan topik pembicaraan.


"Anak papah yang lulus uji coba cuma Aroon. Kalian berdua resep goyanganya kurang, jadi keluarnya gagal."


Setelah berkata demikian, Arkan langsung berlalu dengan putra bungsunya. Meninggalkan dua putranya yang masih berpandangan.


"Keluaran gagal, kitakan kembar. Resepnya pasti sama, goyanganya sama, cuma kecebongnya yang agak beda." Tutur Davin.


Davian mangut-mangut mengiyakan, sebelum teriak untuk bersuara. "LAH IYA, KITAKAN KEMBAR PAH?!"


๐Ÿ“š๐Ÿ“š๐Ÿ“š


"Kara?" Panggil Arsyad.


"Kara?" Panggil lelaki tampan itu lagi, sambil menyimpan alat salatnya.


"Kara, kamu dimana?"


Lelaki tampan itu memang salat berjama'ah dimasjid komplek dekat rumah tadi. Sedangkan sang istri, memilih salat dirumah setelah bangun pagi tadi. Tapi ketika pulang dari masjid, lelaki itu tak menemukan istrinya dimanapun juga.


"Dimana dia?"


Karena khawatir, Arsyad memilih segera mengganti baju dan turun kebawah untuk mencari sang istri. Dia takut, terjadi apa apa kepada istri kecilnya tersebut.


"Bunda, ada lihat Kara?" Tanyanya pada sang ibu, yang tengah memasak di dapur.


"Kara. Tidak, bunda tidak lihat." Ujar Aurra, sambil menatap putranya bingung.


"Memangnya kenapa bang?"


"Kara gak ada dikamar bunda."


"Mungkin istrimu sedang mandi, bang. Sudah di chek dikamar mandi?" Arsyad mengangguk.

__ADS_1


"Mungkin ditaman belakang. Kara suka bunga, dia mungkin disana."


"Akan abang lihat, bunda." Ujar Arsyad, sebelum berlalu menuju keluar rumah.


Lelaki tampan itu berjalan tergesa-gesa menuju taman belakang. Udara sejuk setelah turun hujan sejenak pagi tadi, membuat beberapa sudut taman terlihat sangat sejuk. Bunga-bunga yang biasanya mekar dibulan desember/musim penghujan, nampak mulai bermekaran. Ada hamparan bunga lilum bakung berwarna warni yang juga tersusun rapih disana.


"Kara?" Panggilnya.


"Kara, dimana kamu?" Panggil Arsyad gencar.


Hari memang sudah mulai beranjak pagi. Musim penghujan dipenghujung Desember, memang amat kental dengan kondisi basah. Namun kemari, hari benar benar cerah hingga malam pun benar benar indah berkat sang rembulan yang bersinar dengan cantiknya. Namun, pagi ini semuanya telah berbanding terbalik. Hujan mulai kembali menjalankan tugasnya, membasahi bumi.


"Dimana dia?" Risau Arsyad, sambil mencari Kara kesana-kemari.


"Kara?" Panggil Arsyad, saat melihat sosok yang sedari tadi dicari olehnya.


Gadis cantik berdress semi peach 7 centi diatas lutut itu terlihat berjalan dengan agak kesulitan, setelah turun dari sepeda milik Arra--kembaranya. Di sebelah tanganya, ada satu totebag yang ukurannya lumayan besar, terisi entah apa tengah dibawanya.


"Kara?"


"Yanda?" Gadis cantik itu menoleh, sambil mengudarkan senyuman manisnya.


"Yanda." Dengan segera, Kara melangkah menuju sang kekasih hati.


Niat hati untuk segera memeluk sang suami, sayang baru selangkah dia sudah jatuh mengaduh. Ringisan kecil nampak mampir dibibir mungilnya.


"Aww."


"Kara?" Panggil Arsyad maupun Arra, panik.


"Kamu gak papa?" Arra buru buru mendekat.


"Ada yang sakit?" Arsyad langsung mengechek kondisi sang istri. Takut takut Kara luka atau lecet, bisa gawat nanti urusanya.


"Kamu kenapa bisa begini?" Tanya Arsyad tajam, sambil menunjuk ibu jari Kara yang terluka dan mengeluarkan darah.


"I-itu, yanda," Cicit Kara ketakutan.


"T-adi mbak Kara jatuh dari sepeda bang. Kakinya luka kegores aspal, pergelangan kakinya juga kayaknya keseleo." Tutur Arra memberitahu.


"....."


Tanpa banyak bicara, Arsyad langsung menggendong Kara ala bridal style. Nampak sekali, perubahan raut wajah Arsyad yang cukup signifikan. Lelaki itu marah, satu yang Kara maupun Arra simpulkan.


"Kara kenapa bang?" Tanya Aurra, ketika melihat putra dan menantunya tersebut.


"Jatuh dari sepeda. Ibu jarinya luka, kakinya keseleo."


"Astagfirullah. Sini, biar bunda obati." Wanita yang berprofesi sebagai dokter itu langsung bergegas mengambil kotak P3K.


Mendekat kearah sang menantu, lantas dengan cekatan membuka beberapa kotak yang ada didalam kotak besar P3K tersebut.


"Sini, biar bunda obati." Kara menggeleng tegas. Wajah gadis cantik itu sudah mulai suram, saat melihat wanita bercadar yang notabene-nya adalah mertuanya.


"Biar sama abang aja bun."


Arsyad mengambil alih detik berikutnya. Aurra meng-iyakan saja, toh menantunya itu memang masih belum terbiasa denganya jika dalam keadaan tertentu.


"Kenapa bisa sampai luka begini hm?" Tanya Arsyad datar, sambil mengobati luka di ibu jari Kara.


"Atmariani Karamina Adriani. Yanda tanya kamu, bukan Arra!"


Deg


Arra langsung diam seketika. Jika sudah begini, berarti kakaknya itu tak dapat dibantah. Nampak sekali, raut tegas tak dapat dibantah khas milik seorang Arsyad An-nass senopati A-zzioi.


"Arra, ayo kebelakang. Bantu bunda buat pie." Aurra, wanita itu mencoba memberikan ruang untuk sang putra.


"Tapi bunda, mbak-"


"Arrabella?" Lirih Aurra, namun penuh peringatan.


Gadis cantik berhijab baby blue itu akhirnya mengangguk lemah. Maaf, dalam hati ia menggumamkan kata demikian karena tidak bisa membantu Kara. Toh, ini juga salahnya karena mengajak kakak iparnya pergi tanpa minta izin kakaknya terlebih dahulu.


"Kenapa keluar rumah tanpa izin?" Tanya Arsyad, sepeninggalan Aurra dan Arra.


"I-tu, awww...." Kara menjerit tertahan, saat Arsyad menyentuh pergelangan kakinya.


"Sakit hm?" Anggukan kecil Kara tunjukan sebagai jawaban.


"Lain kali, jika ingin keluar rumah izinlah terlebih dahulu Kara." Ingatkan Arsyad.


"Iya. Kara minta maaf, yanda."


"Kamu itu sudah bersuami, jadi harus izin terlebih dahulu jika ingin bepergian keluar rumah." Tutur Arsyad.


Bukan semata-mata ia marah maka berkata demikian. Akan tetapi, semua itu memang sudah ketentuan dan hukum yang memang berlaku jika seorang perempuan sudah bersuami hendak keluar rumah.


"Tidak halal bagi seorang wanita keluar rumah tanpa izin suaminya, jika ia keluar rumah tanpa izin suaminya, berarti ia telah berbuat nusyuz (durhaka), bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya, serta layak mendapat hukuman.โ€


Dari dalil diatas saja, Arsyad sudah mengerti apa dosa yang diciptakan ketika seorang istri keluar rumah tanpa izin dari suaminya.


"M-aaf, yanda. Tadi, Kara cuma mau ikut Arra belanja. Katanya bundanya yanda mau buat pie dengan resep baru. Kara cuma mau ikut buat pie." Cicit Kara kecil.


Arsyad menghembuskan nafasnya gusar. Istrinya itu sudah berkata jujur, namun tetap saja ia merasa harus memberikan sedikit pengertian kepada sang istri.


"Lain kali, kalau mau keluar rumah izin terlebih dahulu."


"Iya. Maaf, tadi Kara lupa Yanda."


"Hm." Arsyad mendongrak, menatap sang istri yang masih tertunduk.


"Dan ingat, jangan keluar dengan pakaian seperti ini lagi." Imbuhnya.


"Memangnya kenapa yanda?" Tanya Kara.


Arsyad menatap sang istri, dress semi peach 7 centi diatas lutut yang dikenakan istrinya itu memang nampak sopan. Akan tetapi, Arsyad tidak suka jika istrinya itu mengenakanya jika diluar rumah. Toh, perhiasan seorang istri adalah malu. Aurat seorang perempuan yang sudah bersuami, tentu hanya boleh diperlihatkan kepada muhrimnya.


"Tidak boleh. Pakai saja jika didalam kamar, mengerti?" Gadis cantik itu mengangguk patuh.


Arsyad tersenyum tipis, melihat kepatuhan sang istri. Tanganya telurur untuk menyentuh pucuk kepala sang istri, mengacaknya gemas sambil sesekali tersenyum tipis.


Pemandangan itu nyatanya tak luput dari seorang bapak beserta tiga anaknya.

__ADS_1


"Pah, Davin juga mau nikah muda. Asyik deh kelihatanya, boleh?" Celetuk Davian.


"Eh, bicaramu. Istigfar Davian! Ngawur banget." Galak sang bapak.


"Hehehe, habisnya lihat bang syad jadi pengen. Enak gitu, ada guling hidup yang bisa dipeluk tiap saat. Ada yang bisa di sun tiap pagi, ada yang bisa diajak olahraga tiap-"


"Sssstttt, bicaramu ampun ya rabb. Anak siapa sih kamu?" Pusing Arkan.


"Papahlah, masa anak mang Upit--supir kita?!" Ketus Davian.


"Abang juga mau cari istri di shopee deh pah. Biar gratis ongkir." Sela si sulung jenaka.


"Heh, cari istri di shopee. Memangnya istri itu barang yang bisa dibeli, ngawur kamu Davin?!"


Davin dan Davian kompak tertawa renyah, melihat ekspresi sang ayah.


"Memang anak somplak. Bapaknya ngamuk kok malah diketawain, dosa kalian?!" Jengkel Arkan, sambil menyentil dahi dua putranya.


"Awww, nyeri atuh pah." Protes keduanya kompak.


"Mantap." Kekeh Aroon, sambil angkat jempol.


Pletak


"Itu bonusnya, tadi kan kalian ngetawain papa." Tambah Arkan, sambil menjitak putranya kembali.


"Awww, mamahhh papah jahat?!"


"Mahh, papah kkas."


"Kkas, apaan tuh?"


"Kekerasan kepada anak sendiri disingkat jadi Kkas."


"Dasar, aya aya wae." Pusing Arkan sambil berlalu, pergi meninggalkan ketiganya.


๐Ÿ“š๐Ÿ“š๐Ÿ“š


"Pah?"


"Kenapa? Kamu mau minta uang lagi? Black card sama platinum card-mu udah kering?" Tanya pria paruh baya yang tengah membaca sesuatu dilayar ipadnya tersebut.


"Bukan, bukan itu pah."


"Terus, kenapa? PC gaming kamu mau ganti lagi? Sekarang mau yang gimana? Biar nanti papah beliin. "


"Bukan pah, Gal-"


"Terus, mau apa? Motor, mobil, liburan, atau apa? Papah lagi banyak kerjaan ini, kamu jangan gangguin papa dulu."


Pemuda berhoodie merah darah itu menggeleng tak habis pikir. Saking sibuknya sang ayah, dia bahkan selalu menggampangkan semuanya dengan uang.


"Papah masih punya nomer om Devix kan?"


"Devix?"


"Iya. Founder salah satu kantor berita itu?


"Iya. Kenapa?"


"Galang mau nomernya pah, boleh?"


"Buat apa?" Pria berkacamata itu menatap putranya penuh tanya.


"Ada kerjaan buat om Devix. Hitung hitung kerjasama lah, lumayan ini kalau dimuat di televisi."


Pria berusia awal lima puluhan itu tersenyum bangga. "Papah senang, kamu mulai berpikir dewasa. Nanti papa kirim nomer Devix lewat whatsapp. Kamu tenang aja."


"Ok pa, thanks." Senyum pemuda berhoodie merah itu mengembang.


"Kalau gitu, Galang pergi dulu pah. Ada party di tempat bang Elang."


"Hm. Hati hati, jangan kebut kebutan."


"Iya pah."


"Kalau pulang malam, jangan lupa kasih tahu mamahmu. Nanti dia khawatir."


"Wokee pah."


"Satu lagi,"


"Apa lagi pah?" Pemuda itu memutar bola matanya jengah. Orang tua dan segala nasihatnya, membosankan. Pikirnya.


"Kalau main cewek, jangan bodoh. Main aman, papah belum mau punya cucu."


Pemuda itu terkekeh kecil, sebelum mengacungkan dua jempolnya keudara. "Aman pokoknya."


Dia-Galangger Adimana Sanjaya, pemuda yang tengah menyusun sebuah rencana besar setelah sekian lama ia menggali, dan juga mencari. Ketika tiba waktunya nanti, semua rencananya akan mengudara dan BOOM meledak bagaikan bom atom yang maha dashyat.


"Tinggal tunggu waktu mainya, Arsyad An-nass Senopati Az-zzioi." Kekehnya, sambil menyeringai tipis.


****


TBC


Yuhuuu, bang Syad update. Maaf kalau lamaaaa, niatnya mau up kemarin. Tp karena ada pemadaman listrik sampai saat ini (08.33), jadi upnya terlambat.


Hayo, satu komentar buat part ini. Mau panel yang mana aja, mangga.


Ok, jangan lupa komentar, like dan vote jika ikhlas. Salam dari yanda, ILYSM buat All readers katanyaโค



Sukabumi 5 Des 2020


Tuh, harusnya up dari tanggal diatas ngareeet kajadi tanggal 08 Des 2020.


MOHONN MAAF BANGET YA READERS๐Ÿ™๐Ÿ™


Disini ada pemadaman listrik karena hujan deras + angin besar terus. Semua jaringan listrik + Internet putus. Syukur alhamdulillah kemarin malam hidup, sekarang juga lagi disko. Hidup, mati, hidup, mati terosssss.


Tapi aku juga bakal jarang up, karena UAS/PAS.

__ADS_1


Maaf, semoga readers semua mengerti๐Ÿ™๐Ÿ™


LIYSM FOR ALLโคโค


__ADS_2