Bukan Cinta Terencana (R3)

Bukan Cinta Terencana (R3)
85. HOT & COOL


__ADS_3

85. HOT & COOL



"Baru pertama kalinya, sejarah juga mencetaknya sebagai kisah terfenomènal dalam generasi Radityan ke-empat."-Triple D


📚📚📚


"Oh my got, baby." Ujar Davian heboh.


Davin yang tengah meminum cola di sampingnya, sampai menyemburkan kembali cairan bersoda tersebut, saking kagetnya.


"Apaan sih? Bikin kaget aja lu, goblok." Protes Davin sambil mengelap bibirnya.


"Njir, berita hot. Segeralah buka GC."


"GC apaan?"


"Grup chat, dodol." Ketus Davian jengah menghadapi kelemotan saudaranya.


"Ya GC apaan juga? Ini gue gabung ke GC itu banyak. Saking banyaknya, gak pernah gue lirik tuh GC." Koreksi Davin.


"GC Radityan. Gue kirim video amatir dari TKP. Baru gue kirim, masih belum selesai nih." Ujar Davian memberitahu. Ia memang memiliki video tersebut, karena aerover miliknya yang tengah mengudara tidak sengja merekan aktivitas keduanya. (Aerover* : semacam drone)


Davian buru-buru menghidupkan smartphone miliknya. Ketika benda itu menyala, terpangpang sebuah foto candid gadis cantik yang tengah tersenyum ke arah kamera. Gadis itu nampak lebih cantik saat tersenyum lebar begitu. Sepasang lesung pipi nampak muncul, menambah keayuan wajahnya.


"My grils." Kekeh Davin bangga. "Jadi kàngen. Malem senen apel ah."


"Woi, njir. Disuruh buka GC, malah buka yang lain." Protes Davian, saat melihat Davin pindah haluan, membuka room chatnya dengan sang kekasih.


"Cicing, nying. Lagi ngechat pun bojo nih."


"Hoek. Hiperbola." Jijik Davian. "Buruan buka. Bantu viralin nih."


"Ck. Apaan sih?!" Kesal Davian, beralih pada room chat GC yang di maksud. Grup chat tersebut memiliki 17 member. Triple D, Twins A, Arion, Fajar, Senja, tim GA, Anna, Aurum (putri Askara dan By), Raja dan Ratu (putra-putri Qy dan suaminya)


((Yang lupa sama Aksara, By, sama Qy, bisa ngulang baca BUKAN SALAH JODOH ya :'D))


Biasanya, room chat grup tersebut aktif digunakan untuk saling sapa, karena memang mereka terpisah oleh jarak, ruang dan waktu. Adanya grup tersebut digunakan sebagai sarana untuk saling berkomunikasi, walaupun tengah berada di tempat yang berbeda.


Davin menyentuh layar touchscreen miliknya, agar bisa mengakses video yang baru saja Davian kirimkan. Video tersebut memiliki durasi lumayan lama.


"Lama nih, videonya. Video apaan sih?"


"Tenang, udah gue percepat. Biar hemat kuota data dan gak bertele-tele." Kekeh Davian.


Davin mengangguk, lantas kembali mengunduh video tersebut. Ketika terunduh 100%, barulah dirinya menonton video tersebut. Maniknya menatap lekat resolusi gambar yang muncul pada layar smartphone miliknya.


"Si anying, apaan nih?" Ujar Davin sambil menggebrak meja.


"Wets, sabar slurr." Kekeh Davian sambil mengelus dadanya. "Si Aroon kemana sih? Kudet nih dia. Nanti pas lihat, auto jantungan dia."


Davin menatap ulang smartphone miliknya. "Anak siapa sih dia? Gentle amat."


"Anak sultan kota kembang. Keluarganya yang punya maskapai Arga's Air."


"Hah? sultan?"


"Ibunya desainer kondang yang suka kerjasama sama Mama."


"Owh, desainer yang itu?" Davian mengangguk.


"Eh, ini mbak Alea lagi typing."


"Oh, iya." Ujar Davin membenarkan. Beberapa menit kemudian, sebuah pesan balasan muncul dari saudari mereka yang tinggal di benua Eropa.


...~Alea AR~...


...Siapa lelaki itu?...


"Eh, apaan nih?"


"Kok mbak Alea nanyanya gitu?" Bingung Davin dan Davian, saling berpandangan. "Gak ngucapin salam dulu lagi. Gak biasanya."

__ADS_1


"Mbak Arra lagi mengetik lagi nih." Ujar Davin.


...~Alea AR~...


...Gean siapaa?...


...~•Davinnn•~...


...Anaknya sultan kota kembang. Memangnya kenapa, mbak?...


...~°Dadav°~...


...Mbak Alea kenal?...


...~Alea AR~...


...Lancang sekali dia menyatakan perasaanya begitu....


Davin dan Davian saling berpandangan bingung, saat melihat balasan tersebut.


...~•Davinnn•~...


...Mbak kok aneh?...


...~°Dadav°~...


...Iya. Mbak Alea kok gitu balasnya? Why?...


...~Alea AR~...


...Ini Om Anzar. Aleanya sedang membantu tante kalian di dapur....


"NJIRR?!" Kaget Davin dan Davian. Keduanya sampai membulatkan mata saking terkejutnya. "Mati, kok bisa Om Anzar yang baca?!"


"I-ya. Mati nih kita. Kalau nyampe ke telinga Ayah Van'ar gimana?" Lirih Davin, menerka-nerka reaksi pria yang berprofesi sebagai TNI tersebut nantinya.


"Oh my got, double kill ini mah." Frustasi Davian.


📚📚📚


"Ra,"


"Eh, aduh, maaf, maaf." Gadis berhijab pink cream itu dengan segera merapihkan apa yang barusan ia berantakan. Ia menuang air terlalu banyak hingga meluber kemana-mana.


Arsen yang melihatnya hanya mengangguk kikuk. Ia sadar ada yang aneh dari sikap gadis tersebut. Semenjak pulang tadi, dia terlihat sering kali melamun.


"Kamu kenapa? Aku perhatikan dari tadi, kamu sepertinya kurang fokus. Ada yang menganggu pikiranmu, Ra?"


Gadis berhijab itu menggeleng. "Enggak apa-apa kok."


"Apa ini ada hubungannya sama dia?"


"Dia siapa?"


"Gean."


Arra menghentikan aktivitasnya spontan. "Hm, ada apa sama Gean?"


"Apa dia alasan dari sikap kamu ini?" Arra menggeleng cepat.


"Besok dia pergi ke Aachen untuk kuliah."


"Aachen, Jerman?" Arra mengangguk kecil. "Jadi, tadi dia pamit pergi?"


"Iya." Arra menjawab lirih. Gadis cantik itu menatap ke sembarangan arah tak menentu.


"Kamu gundah karena dia?"


Arra mengangguk, lantas menggeleng. Gadis cantik itu nampak linglung dengan jawabannya sendiri. "Maaf, pikiranku sedang tidak fokus. Kita bicara lagi nanti, ya," lirih Arra.


Gadis itu buru-buru beranjak, meninggalkan Arsen yang masih berdiri di dekat countener dapur. Namun, belum sempat langkahnya jauh. Suara berat milik lelaki rupawan itu kembali terdengar.


"Ra,"

__ADS_1


"Hm?"


"Kalau kamu mau, aku bisa antar kamu ke bandara besok."


Gadis cantik itu tersenyum tipis, lantas menggeleng. "Kata orang, melihat orang yang akan dilepaskan itu lebih sulit. Lebih baik, melepaskannya tanpa mengantarkan."


Arsen menyerngit mendengarkannya. "Kamu tidak mau mengantar kepergiannya?"


Arra menggeleng, "sudah ada sebagian miliknya yang berharga ada padaku. Aku yakin, dia pasti kembali untuk mengambilnya."


Arsen tidak mengerti dengan maksud dari ucapan gadis cantik tersebut. Setelah berkata demikian, gadis itu berlalu dengan dalih ingin melaksanakan salat isya. Arsen masih menerka-nerka, apa ia salah mengambil langkah? Apa ia telah tertinggal selangkah di belakang Gean? Arsen tidak tahu dengan pasti.


"Bang,"


"Eh, iya. Kenapa Roon?"


"Jangan kaget ya." Lirih Aroon. Kini kedua lelaki itu tengah berada di kamar milik si kembar.


Kamar si kembar memang didesain untuk 3 orang. Ada 3 bad bersisian yang tersimpan apik di ruangan megah tersebut. Keduanya tengah berbaring bersisian. Sedangkan Davin dan Davian sedang sibuk bermain game online di lantai dasar.


"Gean udah curi start duluan." Dengan berat hati, Aroon berujar. Ia tidak mungkin berbohong lebih lama lagi. Ia merasa menjadi penghianat jika menyembunyikan fakta tersebut lebih lama lagi.


Ia tidak bodoh. Aroon tahu Arsen menyukai Arra. Ia juga tahu betapa bersungguh-sungguhnya Arsen akan perasaanya.


"Maksudnya?" Lelaki rupawan berkaos warna mustard itu beralih, merubah posisinya menjadi duduk.


Aroon juga melakukan hal yang sama. Ia menatap rekan, teman, juga seniornya dalam segala bidang tersebut sendu. "Dia udah nyatain perasaanya sama mbak Arra."


Deg!


Arsen membatu. Bibirnya kelu, jantungnya bertalu-talu. Tubuhnya tiba-tiba lemah tak beralasan. Bersamaan dengan runtuhnya dinding kokoh di hatinya.


"Terus jawaban Arra apa?" Arsen bertanya tanpa ekspresi.


"Nih, lihat sendiri. Terus nilai sendiri." Ujar Aroon, menyodorkan smartphone miliknya.


Arsen menerimanya tanpa kata. Ia menonton apa yang ditampilkan oleh layar smartphone tersebut hingga selesai. Tanpa kata, ia mengembalikan benda pipih itu setelahnya. Atmosfir disekeliling mereka tiba-tiba berubah menjadi hening dan dingin.


"Gimana, bang?"


"....?"


"Katanya, didikan baik itu kalau diterapkan sejak dini, tidak akan pernah menghianati hasilnya di kemudian hari. Untuk ukuran cowok urakan, yang katanya anak mamih, dia lebih gentle dari perkiraan."


Arsen masih tidak menjawab. "Bang, jangan putus asa dulu. Disini gue netral. Mana yang terbaik buat teh Arra, gue dukung."


Arsen tersenyum tipis mendengarnya. "Selama kesempatan itu masih ada, gue wajib berjuang."


Aroon tersenyum mendengarnya. "Semangat bang. Lo pasti bisa."


"Hm. Entah jagain jodoh orang atau bukan, pada akhirnya, gue tetep akan berjuang." Aroon mengacungkan dua jempolnya.


"Gean udah ambil start duluan, tinggal waktunya gue nyari tanggal cantik buat beraksi."


Aroon tertawa kecil mendengarnya. "Gean atau lo, gue tetap dukung calon yang tèh Arra piĺih. Semangat pokoknya." Ujar Aroon memberikan support.


Kita lihat saja nanti, siapa yang akan keluar menjadi pemenangnya.


****


TBC


YUHUU.... UPDATE LAGI🔥


TIM ARRAGEAN💓💓 MANA SUARANYA??


TIM ARSEN'ARRA💙💙 MANA SUARANYA??


Absen kuy.... aku suka lihat keantusiasan TIM ARRAGEAN & TIM ARSEN'ARRA di part sebelumnya. Di part ini siap unjuk gigi lagi? kuy ah... komentar yang banyak sesuai tim jagoan👍


Jangan lupa like, vote, komentar, share dan follow author. Kalau ada yang nanya rekomendasi cerita, boleh direkomendasiin ya👍 biar makin banyak yang baca.


Sukabumi 31 Mei 2021

__ADS_1


__ADS_2