Bukan Cinta Terencana (R3)

Bukan Cinta Terencana (R3)
.88. Ikhlaskan, Sabar, & Lepaskan


__ADS_3

....88. Ikhlaskan, Sabar, & Lepaskan...



...“Kita tidak pergi kemanapun, bunda. Kita Cuma pergi sebentar untuk mencari ilmu dan menyongsong hidup baru agar lebih mandiri.”—Arsyad An-nass Senopati A-zzioi...


...****...


Setiap individu pasti akan tumbuh, berkembang, menuju kedewasaan. Ada saat orang tua melepaskan buah hatinya guna menyongsong masa depan yang juga melatih dan menumbuhkan mandiri dalam kedewasaan. Hal itu lumrah terjadi, misalnya jika seorang anak ingin menuntut ilmu di luar kota ataupun luar negara. Orang tua dituntut untuk berpikiran terbuka, agar ketika memberikan izin ataupun tidaknya, semua itu memiliki tujuan yang baik bagi si anak.


Hal itu juga akan dialami oleh setiap orang tua, tidak terkecuali bagi pasangan satu ini. Keevan’ar Radityan A-zzioi dan Aurra Putri Haidan—yang akan melepas dua orang buah hatinya sekaligus. Pasangan yang berprofesi sebagai abdi Negara itu itu akan melepas putra-putrinya yang akan melanjutkan study di luar negeri.


“Mas,”


“Hm.”


“Besok, abang sama Arra mau pergi.” Wanita cantik yang baru saja mengenakan kerudung instan guna menutupi helaian rambut hitam panjangnya itu berucap lirih.


“Hm. Mereka mau menuntut ilmu, dek.” Suara baritone itu bersuara.


“Mereka sudah dewasa. Mereka sudah mengerti dan bisa memilih sendiri.”


“Iya. Rasanya, baru kemarin mereka hadir dalam perutku. Rasa-rasanya, baru kemarin juga, mereka bisa memanggil aku bunda. Sekarang, mereka sudah besar.”


Pria yang baru saja menyimpan alat saalatnya itu tersenyum kecil. “Arsyad sudah beristri, jangan luapakan soal itu, dek.” Ia mengecup ujung hidung bangir sang istri singkat. Suatu kebiasaanya jika gemas melihat tingkah laku wanita yang telah menjadi pendamping hidupnya tersebut.


“Iya. Arra juga sudah besar.”


“Hm. Sudah ada dua calon yang siap meminang putri kita malahan.” Aurra mengangguk kecil.


“Nanti rumah ini sepi, mas. Anak-anak sudah dewasa dan akan menuntut ilmu di luar negeri. Tinggal si kembar tiga dan Arion.”


“Hm. Arion juga, harus Akmil setelah lulus SMA.” Van’ar menambahkan.


“Iya, mas. Arion ingin jadi seperti Ayahnya. Dia ingin menjadi tentara kebanggaan di angkatan udara.”


Van’ar tersenyum kecil sambil mengambil posisi duduk di samping sang istri. “Jangan khawatir, Ra. Mereka anak-anak yang hebat. Kamu ibunya bukan?”


Aurra mengangguk. Bibir yang tidak terhalang oleh kain niqab itu tersenyum kecil. “Anak-anak sudah dewasa. Kita yang semakin menua.”


“Kata siapa?” Aurra menoleh.


“Maksud mas apa?”


“Menua bukan berarti rasa cintaku padam kepadamu.” Wanita cantik itu teresenyum tipis. Rona merah tampak menjalari area wajahnya.


“Humaira… humaira…. Humairaku.” Panggil Van’ar. Setiap kali melihat rona merah di pipi wanitanya, maka panggilan tersebut akan ia utarakan. Humaira berarti rona kemerah-merahan. Cocok sekali disematkan kepada istri cantiknya kala wajah ayunya dipenuhi rona merah.


“Jangan khawatir, Humaira. Sudah waktunya mereka harus pergi. Ikhlaskan, agar jalan mereka untuk meraih apa yang mereka cita-citakan dapat digapai dengan mudah.”


...****...


“Semuanya sudah siap?”


“Iya, bang. Koper Arra juga sudah ada di bagasi.”


“Hm.”


Saudara kembar itu saling mengecek barang-barang bawaan pribadi. Keduanya membuat list dari jauh-jauh hari soal apa saja kebutuhan yang akan mereka bawa. Mereka akan pergi hari ini. Sebagian barang sudah di masukkan kedalam bagasi mobil yang akan membawa mereka menuju bandara. Keluarga Radityan juga tidak kalah heboh mempersiapkan segala kebutuhan si kembar—Arsyad dan Arrabella.


“Bang, ini tasnya Aroon simpen di dalam ya?”

__ADS_1


“Hm. Simpan aja, Roon.”


Aroon mengangguk. Si triple juga sedari tadi sibuk wara-wiri mengechek kebutuhan Arra dan Arsyad. Berhubung sudah tidak ada urusan lagi di sekolah, Arra dan Arsyad akan berangkat pada hari ini. Mereka akan langsung bertolak ke London, Inggris. Guna mengantarkan Arrabella, sebelum Arsyad sendiri bertolak ke New york bersama sang istri.


“Yanda?


“Hm. Ada apa?”


“Barusan Papih telpon, katanya pesawat kita akan lepas landas 10 menit lebih awal.” Arsyad mengangguk, lantas mengecup pucuk kepala sang istri singkat.


“Yanda ih, malu. Kalau ada yang lihat gimana?” Rajuk sang istri malu.


“Bukan masalah.” Jawab lelaki rupawan tersebut, sebelum menggandeng tangan sang istri.


“Yah, Bund, pesawat kami akan lepas landas 10 menit lebih awal.” Ujar Arsyad memberitahu.


“Ayah Kara sudah menelpon?” Tanya sang Ayah.


“Iya.”


“Kalau begitu, kita pergi sekarang.” Arsyad, Kara dan Arra mengangguk.


Ketiganya lantas berpamitan kepada Vano dan Arkia—kakek dan Nenek mereka yang tidak bisa mengantar hingga ke bandara. Mereka juga berpamitan kepada para pekerja yang sudah mengenal mereka dari kecil, mulai dari—tukang kebun, tukang masak, maid yang bertugas bersih-bersih, hingga si mbok—yang dulu menjadi nanny—alias pengasuh mereka ketika kecil.


Mereka berangkat menuju bandara pukul 06.00 pagi. Perjalanan mereka seluruhnya ditanggung oleh Papih Kara. Crazy Rich tersebut mengakomodasi menantu dan juga kembaran menantunya, dalam rangka menjaga kenyamanan putri sematawayangnya.


“Kalian sudah datang?” Sambut Tyoga. Pria bersetelan formal itu tersenyum tipis menyambut rombongan Radityan.


“Papih.” Panggil Kara antusias.


“My princess.” Ia melebarkan tangannya guna merengkuh sang putri. Gadis berdress semi jingga itu dengan senang hati menerimanya.


“New york bukan lagi jangkauan dalam koneksi Papih. Mungkin, di sana kamu akan lebih banyak menemukan kesulitan.”


“Iya, Pih. Papih jangan terlalu khawatir, ada yanda yang jaga Kara di sana.” Tyoga mengangguk.


Pria itu lantas berjalan menuju sang menantu. “Jaga putriku, seperti janjimu.” Arsyad mengangguk mantap sebagai jawabannya.


“Pasti.”


Pesawat yang akan membawa Arra, Arsyad dan Kara akan segera lepas landas. Mereka juga sudah berpamitan kepada sanak saudara yang ikut mengantar. Diantara para pengantar itu, salah satu sosok mencuri perhatian Arra. Gadis itu tak bisa mengalihkan tatapannya untuk sejenak.


“Kamu tidak jadi pergi?” Tanya Arra. Sosok itu menggeleng sambil tersenyum kecil.


“Kenapa?”


“Aku ambil tawaran stay di dalam negeri. Aku lanjut di UNAIR.”


“Tapi kenapa tiba-tiba?” Tanya Arra terkejut.


“Enggak tiba-tiba kok. Aku udah pikirin ini matang-matang.”


“Beri aku satu alasan yang masuk akal, Arsen.”


Lelaki berhoodie hitam itu menghela nafasnya kecil. “Ayah—itu alasan utamaku.”


“Aku gak bisa tinggalin Ayahku sendiri. Ayah itu gila kerja, kalau gak ada aku dia akan lupa istirahat. Ayah juga gak jago-jago amat masak, kalau gak ada aku, Ayah bakal terus makan mie instan. Ayah anti kerja sendiri, kalau gak ada aku, Ayah bakal kewalahan.” Tutur Arsen.


Lelaki rupawan itu mendongkrak, lantas mengalihkan pandangannya sejenak. Kini, ia menjadi pusat perhatian. “Maaf, Om. Karena telah lancang menawarkan diri untuk menjaga Arra.”


“Maaf juga, Syad. Gue gak bisa jaga kembaran lo, seperti apa yang lo mau.” Arsen berujar dengan mantap.

__ADS_1


Arsyad menatap sahabatnya itu lekat. Keberanian seorang Arsenov Rayyan akan terlihat saat ini. Lelaki muda itu serius akan keberangkatannya yang batal untuk study di Inggris. Padahal ia juga sudah mengurus kepergiannya beberapa saat yang lalu.


“Saya sayang sama putri Om dan Tante.”


Deg!


Semua orang terhenyak. Tidak terkecuali Arra. “A—pa maksud kamu, Arsen?”


“Aku suka kamu, Arra. Jauh sebelum aku sendiri sadar jika rasa itu benar ada.” Lelaki muda itu berujar mantap nan tak gentar.


“Terimalah ini.” Arsen menyodorkan sebuah flashdisk.


“Di dalamnya ada ilustrasi animasi, real buatanku.” Tuturnya. “Anggap saja sebagai kenang-kenagan.”


“I—ini?” Arra menggantung kalimatnya.


“Save flight. Semoga selamat sampai tujuan.” Imbuh Arsen. Arra menitihkan air matanya saat melihat lelaki itu berkata demikian sambil tersenyum kecil.


“Berani sekali kamu membuat dia menangis,” Van’ar buka suara. Pria berbaret merah itu lantas memeluk sang putri erat.


“Maaf telah membuat Arra menangis, Om. Saya tidak bermaksud demikian. Saya hanya ingin mengutarakan perasaan saya, karena saya sadar akan satu hal.”


Lelaki rupawan itu tersenyum kecil. “Saya sadar, ada orang lain yang lebih pantas mengisi hati putri Om. Terlebih lagi, putri om juga memiliki perasaan yang sama.”


Arsen pernah berjanji pada dirinya sendiri, untuk bersaing secara sehat dengan siapapun untuk mendapatkan hati sang pujaan hati. Namun, kali ini ia mundur dengan teratur. Bukan berarti dia merasa tidak pantas atau apa. Jika saja ia berniat tidak baik, ia sudah memanfaatkan kesempatan selama study di Inggris nantinya untuk merebut hati sang pujaan hati. Tapi dia tidak memilih opsi itu, karena ia sendiri sadar telah kalah telak. Ada yang telah mengisi hati pujaan hatinya.


Arra mungkin masih belum menentukan kepada siapa hatinya berlabuh. Namun, kegigihan Gean telah membuat Arsen sadar. Lelaki itu juga telah banyak berjuang. Walaupun tahu akan pergi jauh dari sosok yang ia sayangi, Gean tetap mengutarakan perasaanya plus dengan komitmen yang pasti. Arsen merasa kalah telak saat itu. Ia tidak mau menjadi penghalang antara cinta yang mulai berkembang diantara keduanya.


Selain itu, Ayahnya adalah alasan kedua kenapa ia memilih menetap. Ayahnya sebatang kara, gila kerja, kurang peka, dan tak pandai masak. Arsen memilih tetap stay di dalam negeri sebagai bentuk baktinya terhadap sang Ayah yang selama ini telah membesarkannya.


Terlebih lagi, ia tahu jika baru-baru ini Ayahnya telah menyembunyikan sesuatu. Pria yang telah berjasa besar membuatnya ada di dunia itu, mengidap kangker otak. Arsen baru tahu, dan ia merasa sangat bodoh juga tak berguna sebagai seorang anak.


Maka, dia memilih tetap stay di dalam negeri. Ia tidak mau membiarkan sang Ayah sendiri di hari-hari tersulitnya nanti.


“Don’t cry, Arra. Kita masih bisa berteman. Aku tidak akan pergi, menghilang maupun menjauh. Hubungi saja nomorku, jika kamu ingin bertemu.” Ia tersenyum kecil di akhir kalimatnya.


Melepaskan memang tak semudah itu. Ikhlas juga butuh perjuangan. Percaya atau tidak, saat ini Arsen tengah berupaya menahan sakit juga sesak dirongga dadanya. Namun ia tetap tersenyum ikhlas, karena ia bisa membiarkan seseorang yang disukainya pergi dengan tenang pun dengan perasaan yang lepas. Arsen cuma berharap jika Arra bahagia dengan siapapun ia menjatuhkan pilihan pada akhirnya.


****


TBC


Yuhuuu..... Update!


Tim ARSENARRA mana suaranya? Absen yok guyss....


Tim ARRAGEAN juga hadir gak nih?


Absen yok....


Gimana? part ini komentarnya apa?


maaf juga lama up-nya, karena aku baru dapat musibah Minggu lalu. Mungkin yang follow Ig atau WP aku sudah tahu. Aku butuh lebih dari sehari untuk memulihkan semua akun yang hilang. Jadi maaf baru bisa up lagi🙏


Dimaafin gak nih?


Karena BCT udah up, jangan lupa jejak vote, komentar, like, follow dan share cerita ini biar makin banyak yang baca 😘


Jumpa lagi di part berikutnya 👋


Sukabumi 19 Juni 2021

__ADS_1


__ADS_2