Bukan Cinta Terencana (R3)

Bukan Cinta Terencana (R3)
.79. Prom Night


__ADS_3

...SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI, MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN...


...🙏🙏...


📚.79. Prom Night



"Bukannya aku tidak mau mengenalkan dirimu pada dunia, namun aku takut dirimu malah terancam akan hingar-bingar duniawi."-Arsyad An-nass Senopati Az-zzioi


📚📚📚


"Yanda, Kara mau ikut."


Gerakan lelaki yang tengah mengenakan setelan formal itu berhenti seketika. Dilihatnya sang istri yang nampak merajuk dari tempatnya duduk. Gadis cantìk berdress nila itu sudah berulang kali berkata demikian.


"Stay at home, Kara." Ia menjawab dengan jawaban yang sama lagi. Sambil mengenakan dasi di kerah bajunya, ia menghampiri sang istri.


"Ayo ibadah, bantu suami." Ia menyodorkan benda yang gagal digunakan olehnya tersebut.


"Yanda, Kara mau ikut." Rajuk gadis cantik tersebut, sambil mengenakan dasi di leher sang suami.


"Sudah?" Kara mengangguk.


"Stay here, istri. Tugas istri menuruti perkataan suami bukan?" Kara kembali mengangguk.


"Maka turuti perintah satu ini, ok? Acaranya tidak akan lama." Arsyad meyakinkan sang istri.


Kara mengangguk tanpa kata. Gadis itu langsung beranjak, memberingkan dirinya di tempat tidur. Membungkus tubuhnya sendiri dengàn selimut hingga leher.


Arsyad yang melihat tingkah laku sang istri hanya tersenyum kecil. Malam ini, akan ada acara Prom Night yang ia hadiri. Acara tersebut dilaksanakan guna menjadi ajang sebagai pesta kelulusan para angkatan kelas XII. Acara Prom Night selalu diagendakan setahun sekali, dan masuk kedalam rangka program kerja tahunan sekolah. Acara tersebut akan dilangsungkan di aula SMA Dandelion, dihadiri oleh satu angkatan kelas XII dan pihak guru-guru pengajar beserta staf kepengurusan lainnya.


Cup


"Jangan marah, itu tidak baik hm."


Manik hazelnut milik gadis cantik itu terbuka sempurna. Ia memang memejamkan mata sejak berbaring di atas ranjang. Di tatapnya sang kekasih hati lekat. Lelaki itu nampak berkali-kali lipat lebih tampan saat berpakaian formal seperti saat ini. Tanpa sadar, wajahnya bersemu merah karena mengagumi ciptaan tuhan satu ini.



"Kenapa pipimu merah, kamu demam?" Arsyad bertanya, sambil menyentuh pipi sang istri yang bersemu.


"Enggak." Kara bersuara kecil. "Kara baik-baik saja."


Arsyad mengangguk, sambil tersenyum kecil. Lelaki itu lantas melirik jam yang tergantung di dinding. "Aku harus pergi." Ia beranjak.


"Tetap di rumah, mungkin aku pulang agak larut. Tidurlah terlebih dahulu." Pesannya, setelah mengecup pucuk kepala sang istri.


TOK TOK TOK


Ketukan dari luar pintu, diiringi suara familiar milik Arra teŕdengar setelahnya. Membuat Arsyad menatap sang istri sejenak. Istrinya itu juga menatapnya balik, tidak rela Arsyad pergi.


"Aku pergi dulu, Arra sudah menunggu." Ia berpamitan lagi, sambil menyentuh surai sang istri lembut.


"Assalamulaikum."


Kara masih urung menjawab. Hingga suaminya itu berlalu, hilang di balik pintu sekalipun. Tanpa sadar, setetes air matanya jatuh membasahi pipinya. Ia tidak rela sang suami pergi, karena hati kecilnya tidak mengizinkan.


Sore tadi, tanpa sengaja ia membuka room chat milik sang suami, saat suaminya itu minta untuk mengangkat telpon yang masuk. Namun, bukannya menelpon balik, Kara malah menjelajahi room chat milik sang suami. Hasilnya, ada ratusan lebih nomor tidak tersimpan yang mengirimkan pesan, berupa ajakan pergi ke Prom Night bersama.


Dari ratusan pesan singkat yang masuk, salah satunya membuat Kara paling penasaran. Atas nama Humaira di kontak sang suami, Kara akhirnya membuka room chat antara sang suami dan Humaira. Tidak ada yang janggal memang, namun pesan terakhir yang dikirim kontak tersebut cukup membuat hati Kara gerah.


"Kara gak cemburu kok, Kara cuma gak suka yanda disukai cewek lain." Monolog Kara, memberi support pada diri sendiri.


📚📚📚


Aula SMA Dandelion nampak berbeda malam ini. Musik menggema cukup keras, beberapa meja disusun dengan rapih. Bagian konsumsi sudah dipersiapkan dengan matang, siap menjamu para pendatang. Para tamu undangan mulai berdatangan, bersama pasangannya masing-masing.


Siswa-siswi yang biasanya mengenakan almamater putih biru, malam ini hadir dengan pakaian berbeda. Jas formal, berdasi, mengenakan sepatu pantopel hitam, juga arloji kenamaan. Untuk lawan jenis, mereka berlomba-lomba mengenakan dress terbaik kepunyaan.

__ADS_1


Ketika sebuah mobil pajero sport berplat nomer D dengan belakang RDY memasuki pelataran sekolah, sebagian yang melihat benda beroda empat itu sudah tahu siapa penumpangnya. Ketika pintu terbuka, seorang lelaki rupawan berjas formal keluat dengan gagah. Ia mengitari mobil, guna membukakan pintu untuk sang kembaran. Gadis cantik berhijab itu, malam ini mengenakan gaun panjang rancangan Lunar. Cantik dalam balutan warna putih dengan aksen bunga-bunga, panjang hingga menyapu lantai. Elegan namun tetap syar'i.


Keduanya langsung disambut oleh si triple yang malam ini mengenakan setelan formal berupa jas hitam dengan dalaman kemeja berwarna maroon, rancangan sang bunda.


"Selamat datang, tuan dan nona muda Radityan. Invitation please." Davian berujar layaknya penjaga tamu profesional.


"Sok-sokan lo. Udah, tinggal minta undangan terus cheklist di buku daftar tamu." Intruksi Davin.


"Iya. Yang lain ngantri di belakang." Aroon menambahi. Mereka memang kebagian menjaga buku tamu, sesuai arahan Aroon-selaku ketua pelaksana I karena jabatannya sebagai KETOS.


"Kita udah boleh masuk 'kan?" Arra bertanya.


"Boleh dong, apa sih yang enggak buat tèh Arra." Jawab Davian jenaka.


"Modus lo." Sengit Davian.


"Modus itu bukannya bilangan yang sering muncul ya, dalam sebuah data?" Monolog Aroon.


"Ini modus, modal dusta. Bukan modas yang itu!" Ujar Davin dan Davian bersamaan. Gemas akan tingkah laku sang adik yang kadang kelewat polos.


Arsyad mengamit lengan sang kembaran. Mengajaknya memasuki area diselenggarakannya acara.


"Syad," panggil seseorang, saat Arsyad telah memasuki ruangan. Ia baru saja ingin mendudukan dirinya.


"Lo berangkat sama Arra?"


"Hm."


"Sekarang Arranya mana?"


Arsyad menoleh, lantas menunjuk sang kembaran yang baru saja bergabung bersama teman-teman sejawatnya. Gadis itu nampak terlibat dalam pembicaraan heboh diantara para ladies.


"Cantik banget."


"Apa?" Arsyad menajamkan pendengarannya.


Lelaki rupawan berjas dongker itu tersenyum kikuk. "Gak salah kan? Arra kan cewek, makanya cantik."


Arsen, lawan bicara Arsyad itu berbisik pelan. Mengintruksi Arsyad untuk mendekat.


"Apa?" Tanya Arsyad datar.


"Istri lo gak ikut?" Bisik Arsen.


"Dia di rumah."


"Stay at home? Bukannya wajib bawa pasangan ya?"


"Aku datang bersama Arra." Jawab Arsyad sekenanya.


"Jangan gitu dong Syad, Arra itu malam ini jadi pasangan gue. Khususon malam ini doang, Arra sudah setuju kok."


"Ayah?"


Arsen menngangguk mantap. "Kemarin sudah izin om Van'ar juga. Boleh katanya, asal jangan buat Arra tidak nyaman."


Arsyad mengangguk faham. "Hm."


Senyum lebar terlukis di bibir Arsyad. "Thanks, syad. Malam ini aja, kembaran lo biar gue yang jaga."


Setelah pembicaraan tersebut, keduanya berpisah. Arsyad memilih duduk di salah satu kursi sambil menikmati kudapan kecil. Prom Night malam ini memang dikhususkan untuk membawa pasangan. Tapi pasangannya harus sesama anak Dandelion. Akan ada beberapa kegiatan yang nantinya membutuhkan kerjasama antar pasangan.


"Arsyad?"


Lelaki rupawan itu mendongrak. Dikala sepi yang menghinggapinya di acara megah ini, seorang gadis bergaun panjang syar'i dengan hijab pastel mendekatinya.


"Kamu sendirian?"


"Iya. Kenapa?" Arsyad bertanya to the point.

__ADS_1


Humaira tersenyum kecil. Ya, pemberangkatan Humaira dan anak beasiswa lainnya ditunda hingga minggu depan. Jadi, saat ini gadis itu bisa mengikuti serangkaian acara pasca Ujian.


"Aku kira kamu sama Arra."


"Arra bersama Arsen. Kamu?"


"Memangnya ada yang mau bareng aku?" Gadis itu menunjuk dirinya sendiri.


"Pasti ada." Jawab Arsyad sekenanya. Lelaki itu tengah rindu istrinya yang dia tinggal di rumah. Menyesalkan?


"Eh, disini rupanya."


"Ada apa Dav?"


"Acara udah mau dimulai. Ayo ke sana, kalian pasangan 'kan?" Davian yang baru saja datang, langsung memberondong keduanya dengan pertanyaan.


"Eh, kami-" Humaira hendak menjelaskan.


"Udah, ayo. Kalian couple goals banget dah. Jenius couple, gamenya bentar lagi di mulai." Atas desakan Davian pula, Arsyad dan Humaira yang tidak berniat berpasangan menjadi berpasangan.


Keduanya menyelesaikan beberapa permainan bersama, dengan kerjasama tim yang kompak. Ketika tiba di acara puncak, maka KING & QUEEN of The Years akan diumumkan. Gelar tersebut diberikan kepada siswa siswi yang populer, selalu mengharumkan nama sekolah dan aktif di berbagai bidang.


"KING & QUEEN of The Years tahun ini, kebetulan berpasangan." Ujar si pembawa acara.


Tentu riuh para penonton semakin membuat ramai. "Kalian penasaran?"


"PENASARAN?!" Jawab para audiens.


"And KING & QUEEN of The Years tahun ini adalah....." pembawa acara tersebut membuka sèbuah amplop emas berlambang logo SMA Dandelion. "ARSYAD dan HUMAIRA dari kelas XII IPA 1."


Tepuk tangan bergemuruh terdengar. Humaira tidak mampu menahan senyumnya yang berkembang. Arsyad sendiri datar-datar saja menanggapi hal tersebut. Keduanya dipanggil untuk maju ke depan guna diberi pin penghargaan dari kepala sekolah.


"Woah, couple goals satu ini terkenal sama-sama jenius dan aktif diberbagai bidang ya." Puji si pembawa acara. "Baik, pin golden Dandelion akan diserahkan oleh bapak Setyo selaku Kepala Sekolah SMA Dandelion."


Pintu utama aula terbuka. Lampu sorot dibiarkan mengarah ke arah kepsek paling bijaksana tersebut. Semua orang bertepuk tangan menyambut kedatangan Setyo, yang biasanya didampingi putranya-Dylan. Namun, kali ini agaknya berbeda. Bukan lelaki rupawan kloningan Setyo yang menemani lelaki berwibawa tersebut. Melainkan seorang gadis cantik berdress mewah berjalan dengan elegan, sambil mengamit lengan Setyo.



Para audiens terpana melihatnya, terutama kaum Adam. Sebagian dari mereka mengingat sosok tersebut, sosok yang pernah di rumorkan menjalin hubungan spesial dengan Arsyad. Sosok itu nampak seperti dewi kecantikan yang berjalan di hadapan mereka.


"Hallo, selamat malam anak-anak." Setyo membuka pembicaraan. "Malam ini saya ditemani gadis cantik, bukan putra saya."


Para audiens tertawa sopan, menanggapi ucapan Setyo. Lelaki itu nampak berwibawa dalam balutan jas formal berwarna gray miliknya. "Dia adalah keponakan saya, oleh karena itu dia cantik jelita."


Para kaum Adam sontak bersorak riuh. "Tapi maaf, maaf saja." Setyo kembali bersuara. "Si cantik ini sudah ada yang punya." Ia menoleh ke arah keponakannya.


Gadis cantik itu nampak menyunggingkan senyum tipisnya. Sedangkan di sebrangnya, Arsyad mengepalkan tangannya kuat-kuat. Puluhan pasang mata kaum Adam mendambakan miliknya. Puluhan mata itu pula, memuja setiap lekuk gadis cantik yang berdiri di podium tersebut. Itu miliknya, gadisnya, istrinya. Kepunyaanya yang tidak boleh diganggu gugat.


"Namun sayang, malam ini keponakan saya hanya boleh berpasangan denģan saya." Ujar Setyo penuh penekanan.


Arsyad tahu, sedari muncul tadi gadis itu tidak menatapnya barang sedikitpun. Ia tahu, pasti ada yang salah dengan gadisnya itu. Dan, bagaimana ceritanya gadisnya itu bisa datang bersama Setyo, saat situasinya tidak tepat begini.


"Selamat ya, kalian the best golden untuk sekolah." Setyo memberi selamat. Ia berdiri didampingi oleh Kara di sampingnya. Saat menjabat tangan Arsyad, ia merematnya cukup kuat.


"Namun, kalian bukan the best couple menurut saya."


****


TBC


Yuhuuu.... Yanda update, menemani malam TAKBIR👐


Sedihh, Ramadan sudah mau pergi lagi. Shaum satu bulan gak kerasa rasanya. Selamat hari raya idul fitri bagi readers yang merayakan ya👐


Jangan mudik dulu, ikuti anjuran pemerintah😉


Nah, loh... buat part ini gimana komentarnya? suka? enggak? komentarrrr ya. Jangan lupa like, vote, share sebanyak-banyaknya dan follow Author. Insaallah H1 atau H2 Idul fitri bakal libur up, makanya malam ini sengaja update. Semoga suka ya sama update kali ini.


Ok, segini dulu buat part kali ini. Jumpa lagi di part berikutnya. See you All😙😙

__ADS_1


Sukabumi 12 Mei 2021


__ADS_2