
๐.9-Tanggungjawab Seorang Radityan Dipertanyakan?!
ูููู ููููู ูุคูู ูููููู ููุบูุถูููุง ู ููู ุฃูุจูุตูุงุฑูููู ู ููููุญูููุธููุง ููุฑููุฌูููู ู ุฐููููู ุฃูุฒูููู ููููู ู ุฅูููู ุงูููููู ุฎูุจููุฑู ุจูู ูุง ููุตูููุนูููู. ูููููู ููููู ูุคูู ูููุงุชู ููุบูุถูุถููู ู ููู ุฃูุจูุตูุงุฑูููููู ููููุญูููุธููู ููุฑููุฌูููููู ููููุง ููุจูุฏูููู ุฒููููุชูููููู ุฅููููุง ู ูุง ุธูููุฑู ู ูููููุง
โKatakanlah kepada laki-laki yang beriman: โHendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemal*annya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuatโ. Dan katakanlah kepada wanita yang beriman: โHendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemal*an mereka, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka.โย (QS an-Nuur: 30-31)
****
"Jadi namamu Arsyad An-nass Senopati Az-zzioi?"
Arsyad mengangguk. Pemuda tampan itu sudah menemukan dan mengenakan pakaianya kembali. Sekarang dia disini,dinterogasi oleh pria paruh baya penjaga villa tempatnya menginap. Sudah beberapa menit berlalu,dan pria baya bernama Usรจp itu masih mengintrogasi dirinya.
"Namamu bagus,dengan artian pemberian nama yang baik bagi sosok yang dikemudian hari diharapkan menjadi manusia yang memiliki jabatan tinggi dan dihormati."
Arsyad tertegun,dirinya bingung dengan apa maksud dari pria berpeci hitam itu berkata demikian.
"Tapi,perbuatanmu tidak mencerminkan demikian."
Arsyad merasakan tikaman yang pasti dalam ucapan pria tersebut. Satu pukulan telak yang mengecewakan kehormatanya sendiri.
"Dia-gadis yang kamu tiduri memang bukan darah dagingku,akan tetapi sudah aku anggap seperti putriku sendiri."
Satu Fakta kembali Arsyad temukan. Penjaga Villa ini memberikan klarifikasi lainya tentang sosok asing yang ada disisinya ketika terbangun tadi. Kata kata 'Ditiduri' agaknya terlalu berlebihan untuk menggambarkan kejadian yang sebenarnya.
"Jadi,kira kira apa yang akan kamu utarakan sebagai pembelaan disini?" Tanya pak Usep.
"Saya tidak mau menyangkal apa yang bapak lihat," Arsyad angkat bicara.
"Hanya saja saya bersumpah demi apapun,jika semalam saya tidak berbuat apapun kecuali sekedar tidur bersama dengan dia,dengan airtian yang sesungguhnya. Itupun dibawah pengaruh minuman yang dicampur obat perangsang."
"Obat perangsang?"
"Iya," Jawab Arsyad mantap.
Kepingan tentang insiden semalam mulai menyeruak kedalam memori dikepalanya. Membawa slide slide memori awal hingga ia bisa memasuki tempat tersebut.
"Seseorang telah menjebak saya pak."
"Lantas,apa dengan fakta ini kehormatan putri saya bisa kembali?"
Arsyad meneguk salivanya susah payah. Mau bagaimanapun juga,ia tidak akan mudah terlepas dari yang namanya tanggungjawab tersebut.
"Dalam hukum islam saja semua ini sudah salah nak. Lalu,apa yang bisa diperbaiki dari semua ini selain tanggungjawab?"
Deg
"Kehormatan putri saya hanya kamu yang tahu. Tapi,apa pandangan masyarakat umum jika mengetahui ini? Masyarakat tidak akan mudah menerima akan dalih apapun. Terlebih lagi lingkungan disini masih awam dengan pergaulan bebas." Tutur pak Usep.
"Sebuah aib dan dosa namanya jika seorang gadis tidur dengan lelaki yang bukan mahromnya."
Arsyad tahu betul tentang bagaimana islam mengatur pandangan tersebut. Ayah dan bundanya selalu mewanti wanti tentang hal hal demikian sejak dini. Hanya saja,beberapa pandangan masyarakat umum dibeberapa tempat yang masih menjungjung tinggi adat istiadatnya,akan menganggap jika aib besar ketika putrinya tidur dengan lelaki yang bukan suaminya. Terlepas dari apapun yang terjadi sebenarnya.
"Tunjukanlah tanggungjawab yang sepantasnya kamu tunjukkan nak," Arsyad mendongrak,memastikan pendengaranya.
"Nikahilah putriku,itu tanggungjawab yang terbaik yang harus kamu ambil."
Deg
__ADS_1
Arsyad terpaku ditempatnya. Bayang bayang mimpi dan cita cita mulainya kini mulai kandas ditengah jalan. Arsyad hafal betul,jika salah satu butir persyaratan untuk menjadi TNI RI adalah Belum pernah kawin (menikah) dan sanggup tidak kawin selama mengikuti pendidikan pertama sampai dengan 2 tahun setelah lulus pendidikan pertama, yang diketahui oleh orang tua/wali, Lurah/Kepala Desa dan Kantor Urusan Agama (KUA)/catatan sipil setempat (bermaterai).
Sedangkan,jika Arsyad memilih mengambil tanggungjawabnya saat ini,maka hancurlah sudah mimpi mimpi yang telah ditatanya dengan rapih. Semuanya akan raip,dengan apa yang akan ditanggungnya nanti. Apa yang harus Arsyad lakukan kini? Ketika hati mulai dilanda kebingungan yang hakiki. Pertanggungjawabanya sebagai seorang Radityan dipertanyakan disini. Ketika ulah tak disengajanya membuat buntut tak terujung hingga diakhir.
Dia memang lelaki yang sudah matang dalam artian sudah manjing umur (balig) sesuai usia. Akan tetapi untuk berkomitmen pada sebuah ikatan pernikahan,Arsyad belumlah bisa memutuskan siap atau tidaknya. Sejauh ini dia menyiapkan diri untuk menempuh pendidikan diakademi militer,agar bisa meraih cita citanya sebagai seorang TNI Republik Indonesia yang membanggakan kedua orang tuanya. Akan tetapi untuk hal lainya,Arsyad belumlah siap.
"Berpikirlah sejenak nak,saya tahu ini bukan perkara yang mudah. Akan tetapi masalah ini jauh akan lebih rumit jika ayah nona muda mengetahui ini,dan putrinya tidak mendapatkan pertanggungjawaban yang pasti."
Arsyad mengangguk lemah. Dia harus berpikir dengan jernih untuk kedepanya. Bukan nasib dirinya saja yang dipertaruhkan disini,namun nasib seorang gadis yang kehormatanya pasti akan dipertanyakan jika halayak umum mengetahui apa yang telah menimpanya.
Karena serapih apapun kita menyembunyikan bangkai,baunya pasti akan tercium juga.
"Saya ingin menelpon seseorang terlebih dahulu,apakah boleh pak?"
"Silahkan nak,"
Dalam hal ini Arsyad harus menghubungi seseorang. Seseorang yang selalu berhasil menjadi pedoman dan panutanya hingga kini.
Nutt Nutt Nutt
Bunyi sambungan telephonenya yang mulai terhubung. Jantungnya mulai berdebar tak beraturan,saat membayangkan ekpresi apa yang akan muncul diwajah pria disebrang sana. Apalagi saat sambungan telephone itu terhubung,deberan jantungnya kian membumbung.
"Hallo,Assalamualaikum?"
"W-alaikumsalam,Ayah?" Lirih Arsyad sambil memejamkan matanya.
"Ada apa? Kenapa menelphone,semalam handphonemu tidak aktif. Bunda dan Arra cemas,kamu baik baik saja?"
Arsyad tertahan dalam kesadaranya kini. Apa yang harus diungkapkanya terasa kelu dibibirnya.
"Bang?" Panggil suara disebrang sana.
"Arsyad?"
"Apa itu?"
"Abang minta restu." Hening sejenak,menghiasi sambungan telephone nirkabel tersebut.
"Bisa kamu ulangi bang?"
"Abang harap,ayah bisa datang kesini memberi restu."
๐๐๐
"Belum ketemu juga?" Bingung Davin yang langsung mendapat jawaban berupa sebuah gelengan.
"Bang,loe udah ketemu sama bang Seno?" Tanya Aroon beralih.
"Belum,"
"Bang Arsyad kemana sih?" Bingung Aroon frustasi.
Sudah satu jam berlalu setelah kepulangan rombongan camping yang dikawal oleh Davian and the geng. Namun Arsyad masih belum ditemukan. Sosok tampan itu masih menjadi bahan pencarian hingga kini.
"Apa dia udah balik ke Jakarta?" Celetuk Davin bermonolog.
"Mana mungkin bang Seno gak ngasih tau kita?"
"Iya. Biasanya Arsyad selalu ngasih tau kalau mau pergi." Imbuh Arsen.
__ADS_1
"Iya juga sih. Eh,itu kayak mobilnya om Van'ar?" Ujar Davin yang membuat keduanya langsung menoleh.
"Mana?"
"Itu yang hitam. Flat nomernya B berarti bener dari Jakarta kan?"
"Iya. Itu memang mobilnya om Van'ar. Tapi om Van'ar ngapain disini?"
Arsen dan Davin kompak menggeleng. Tidak lama kemudian,pria paruh baya muncul dari dalam kendaraan tersebut. Masih berpakaian resmi yang tentu saja membuat ketiga remaja tersebut bertanya tanya.
"Om Van'ar sedang apa disini?" Tanya Aroon kala pria itu sudah berdiri dihadapanya.
"Om dari kesatuan ya? Ada tugas ya om?" Selidik Davin.
Van'ar mengangguk samar,dia memang berada dikesatuan tadi. Tapi bukan untuk melaksanakan tugas seperti biasanya,melainkan untuk memenuhi panggilan mendadak dari kesatuan.
"Arsyad mana?"
Ketiga remaja itu dia mematung. Mereka bingung,harus menjawa apa sekarang. Putra pria paruh baya yang masih terlihat tampan itu masih menghilang. Keberadaanya saja masih belum mereka ketahui.
"I-itu om,bang Arsyad hilang." Lirih Aroon mewakili.
Van'ar mengangguk mengerti,kemudian tatapanya beralih kepada Arsen.
"Sen,antarkan saya keruangan utama dilantai dua villa ini."
Arsen diam sejenak,entah dari mana Ayah dari sahabatnya itu tahu jika dirinya memang hafal tata letak villa tersebut.
"Baik om,mari saya antar." Van'ar beranjak,berjalan mengikuti langkah Arsen.
Sedangkan Davin dan Aroon mau tak mau ikut mengikuti langkah saudara kembar dari ibu mereka tersebut. Mereka juga masih menerka nerka apa yang membuat Van'ar bisa sampai datang kesini. Terlebih lagi mereka juga belum menemukan Arsyad putranya.
Tiba dilantai dua,ditempat yang mereka tuju. Van'ar uluk salam. Membuat empat orang pria beda usia didalam sana beralih etensi kepadanya sambil membalas salamnya.
"Syad,loe disini?" Kaget Arsen yang juga menemukan sosok yang hilang sejak tadi ada disana.
"Kita nyariin loe dari tadi bang. Taunya disini!" Imbuh Aroon yang sama sama terkejut melihat Arsyad berada disini.
Akan tetapi,belum selesai keterkejutan mereka terbayar. Suara seorang pria yang tengah membolak balikan dokumen dokumen entah apa itu mengintruksi.
"Jadi,bisa kita mulai ijab qabulnya?"
****
TBC
Huaha๐ข๐ข๐ข
Ada yang bisa bayangin gimana sedihnya bang Arsyad??
Inilah salah satu konflik utama BCT. Tikungan tajam yang membuat Arsyad menjauh dari cita cita mulianya. Menurut readers gimana nihh??
Jangan lupa komentarnya ya readers๐๐
Tencu yang udah follow IG @Karisma022
Yang punya APK Wttp juga bisa mampir kekarya karyaku @nengkarisma
ok,jumpa lagi nanti yo readers๐
__ADS_1
Sukabumi 13 Ok 2020