
📚. 49-Kehilangan & Kedatangan
"Ada kalanya, siput yang terlihat lemah dan lamban memutar balik keadaan sang kancil yang cerdik."-Atmariani Karamina Adriani
****
"Pah, papah jangan diem aja dong! Lakukan sesuatu, biar anak kita bisa keluar dari penjara?!"
"....?"
"Pah. Mamah gak mau tahu ya, sampai kamis pokoknya anak kita harus sudah keluar dari penjara."
"Kamis?"
"Iya. Kamis ada arisan keluarga, papah gak mau apa kalau keluarga besar kita tahu." Ujar wanita berterusan maroon tersebut, berapi-api.
"Malu?" Wanita itu mengangguk.
Pria berkacamata itu menatap sang istri lekat. "Berita tentang ditangkapnya putramu itu sudah disiarkan di seluruh chanel nasional. Kamu masih berpikir buat malu?"
Wanita berlipstik merah itu diam tak berkutik. "Tapi, pah--"
"Kamu pikir sendiri Sekar, mau dengan cara apa kita mengeluarkan Galang? Pekerjaanku terancam dicabut, karena masalah ini. Dan kamu, masih memikirkan malu yang sebenarnya sudah terjadi?" Murka pria berkacamata tersebut.
Ia tak habis pikir dengan permintaan istrinya ini. Ia pikir, keadaanya tidak sesulit itu kah? Jika saja putranya dijebloskan ke penjara karena kedapatan Cubbling atau sebagainya, mungkin ia bisa membantu menggunakan kekuasaannya. Tapi jika sudah berhubungan dengan narkotika, ia angkat tangan. Toh, ia pikir putranya itu hanya doyan main ONS, bukan main barang haram. Begini-begini, ia juga pria sehat yang tidak pernah menyentuh barang haram. Walaupun ya, pada masa mudanya ia juga sering bergonta-ganti pasangan ONS. Tapi, ia tidak pernah sekalipun menyentuh barang haram macam narkoba.
"Pah, Galang kan masih dibawah umur. Dia bisa direhabilitasi kan?"
"Hm."
"Papah minta pengacara buat ajukan banding. Putra kita gak boleh dipenjara pah." Tangis Sekar mulai pecah.
"Apa papah tega, lihat putra kita satu-satunya menderita di penjara?"
Pria berkamata itu menghembuskan nafasnya gusar. Semarah apapun ia, tetap saja jiwa prianya sebagai seorang suami akan tersakiti jika istrinya menitihkan air mata. Iya, istrinya benar. Ia juga tidak akan rela jika putra satu-satunya yang telah ia tunggu selama 11 tahun lamanya, mendekam dipenjara. Ia tentu tidak akan tinggal diam.
"Galang gak boleh dipenjara pah. Mamah gak mau kehilangan Galang, enggak lagi pah." Tangis Sekar semakin menjadi, membuat sang suami iba.
Ya, mereka menunggu 11 tahun lamanya hingga hadirnya Galang. Putra sematawayang yang akhirnya mereka dapatkan setelah penantian yang begitu lama. Maka jangan heran jika Galang begitu dimanjakan dengan harta, karena hadirnya dianggap begitu berharga. Galang bahkan cucu lelaki satu-satunya di keluarga Sanjaya. Adimana--ayah Galang tentu sangat bangga akan putranya. Oleh karena itu ia membebaskan putranya bergaul, dengan catatan tidak sekalipun berani mencicipi barang haram. Tapi jika sudah begini, ia sendiri merasa wajahnya di lempari kotoran oleh putra kesayangannya sendiri.
"Pah, pokoknya Galang harus bebas hiks..."
"Hm."
"Papah janji?"
"Tidak, untuk saat ini papah belum bisa janji."
"Pah?"
Adimana bergerak, memeluk sang istri guna menenangkannya. Kali ini masalah putranya itu kelewat serius, oleh karena itu uang juga kekuasaan saja tidak bisa membantu. Maka, jalan yang bisa ia ambil adalam merelakan untuk kehilangan sejenak. Ia akan membiarkan sang putra merasakan kehilangan apa yang biasanya ia banggakan. Orang tua, rumah, fasilitas, kedudukan, status sosial, juga berbagai pegangan lainnya. Adimana akan membiarkan putranya itu merasakan kehilangan terlebih dahulu, agar mengerti rasanya akibat dari perbuatan yang ia tuai.
"Untuk saat ini, biarkan Galang dipenjara."
"Tapi pah--"
"Malam ini. Besok, pengacara akan mengajukan banding sesuai keinginanmu."
"Papah janji?"
"Ya. Bagaimanapun juga, Galang putra kita. Anugrah tuhan yang kita tunggu hadirnya selama sebelas tahun."
Sekar kembali terisak lirih dalam pelukan sang suami. "J-adi, sekarang Galang akan tidur di penjara?"
"Hm."
"K-alau dia kedinginan gimana Pah? Galang juga pasti gak suka makanan penjara pah, hiks...."
"Dengar Sekar, untuk saat ini biarkan Galang merasakan kehilangan fasilitas yang membuatnya manja. Biar dia mengerti, apa yang salah dari perbuatannya."
"Tapi--"
"Jika tidak begini, Galang akan terus mengulanginya. Dia bisa saja kecanduan obat-obatan terlarang itu. Kamu mau Galang seperti itu?" Sekar menggeleng.
"Jalan terbaik untuk saat ini adalah opsi tersebut. Biarkan Galang merasakan kehilangan, agar dia mengerti. Besok, pengacara akan mengajukan banding. Dan, kamu harus menemui putra putri keluarga Radityan."
"Untuk apa?"
"Minta maaf."
__ADS_1
"Aku gak mau! Aku gak mau minta maaf, pah."
"Kamu harus minta maaf, karena tindakanmu itu salah."
"Tapi--"
"Apa kamu tahu, siapa pengacara yang bisa saja keluarga mereka tunjuk untuk menuntutmu?"
"S-iapa?"
"Kaisar Zega Redadgard Al-Haidan."
Deg
"Ibu dari teman Galang yang kamu tàmpar itu, adalah kakaknya."
"K-akak pengacara Zega?"
"Hm. Jadi, lebih baik kamu minta maaf ketimbang membuat keadaan semakin rumit. Mengerti?"
Sekar mengangguk tanpa pikir panjang. Toh, ia cukup kenal siapa lawyer hebat yang ternyata masih memiliki ikatan darah dengan remaja yang ia tampar secara membabi buta. Benar kata suaminya, ia tidak boleh membuat masalah lain karena insiden tersebut. Toh, untuk saat ini kehilangan putra kesayangan saja sudah bencana baginya. Apalagi jika keluarga pemilik perusahaan raksasa itu menuntutnya, ia bisa apa?
📚📚📚
"Makan yang banyak."
"Yanda, ini sudah cukup. Segini saja, Kara sudah kenyang."
"Makan lagi. Kamu kelihatan kurus."
"Tapi--"
"Perlu aku suapi?"
"Eh, enggak." Tolak gadis cantik berterusan peach tersebut.
Aurra yang melihat perhatiaan sang putra itu, ikut dibuat tersenyum dibalik penutup wajahnya. Kedatangan menantunya beberapa jam yang lalu, nyatanya mampu membuat sang putra kembali bersemangat. Lihat saja, bagaimana cara lelaki tampan itu memperhatikan istri kecilnya saat ini.
"Kara gak bisa makan banyak, yanda. Perut Kara gak cukup."
"Kata siapa?"
"Kata Kara barusan."
"Coba juga sayurnya, itu baik buat kesehatan pencernaan karena mengandung banyak serat." Aurra buka suara.
"I-iya, bunda." Cicit Kara.
Bukan, bukan Karena ia takut akan Aurra. Sejauh ini, ia sudah mulai bisa beradabtasi dengan sekelilingnya termasuk mertuanya yang baik hati ini. Hanya saja, ia tidak sanggup lagi makan karena sejak tadi suami dan ibu mertuanya tersebut, terus saja menyodori makanan ini itu kèpadanya.
"Yanda, Kara udah kenyang." Ungkapnya lirih, takut-takut menyinggung ibu dan anak yang kompak ingin membuatnya gendut ini.
Padahal porsi makan Kara memang sedikit. Tyoga saja dulu sempat kewalahan, karena takut Kara kecil mengalami malnutrisi karena susah makan.
Sruk
"Mana?" Tanya Arsyad, sambil menyentuh permukaan perut langsing sang istri.
"A-pa?" Kikuk Kara, salting karena gerakan tiba-tiba sang suami.
"Perutmu tidak buncit. Barusan kamu makan sedikit kan?"
Kara menatap Arsyad tidak percaya. Padahal dari tadi, ia sudah cukup makan. Soal perutnya yang masih ramping, itu memang sudah rumus dari dulunya. Sebanyak apapun dia makan, tubuhnya akan tetap ideal.
"Perut Kara kalau buncit, berarti ada bayi didalamnya bang. Abang ada-ada saja." Intruksi Aurra, sambil membenahi sisa makanan dimeja.
"I-iya." Jawab Kara meng-iyakan.
"Istrimu itu sudah kenyang, jangan dipaksa makan terus." Intruksi suara lain.
"Abang cuma mau dia gendut."
Tiga pasang mata langsung menatap Arsyad lekat. Mau Kara gendut katanya?
"Kenapa? Abang cuma merasa Kara kurusan." Ujar Arsyad, mempertahankan argumennya.
"Istrimu bukan kurusan, tapi memang tubuh idealnya seperti ini." Jawab pria berkaos abu-abu tersebut.
"Sudah, jangan dikasih makan lagi. Nanti kekenyangan." Ujar Van'ar, sambil menyentuh sekilas pucuk kepala Kara.
Sentuhan perdana yang dilakukan pria rupawan yang kini sudah memiliki menantu tersebut. Diam diam, Aurra tersenyum tipis dibalik penutup wajahnya. Ia senang, akan kehadiran Kara yang memang diterima dengan baik dikeluarganya.
__ADS_1
"Dek, ayo ke atas. Ada yang mau mas bicarakan." Ujar Van'ar, mendekati sang istri.
"Iya, mas. Habis beresin ini, aku keatas."
"Biar bibi aja yang beres-beres." Ujar Van'ar, sambil membawa sang istri bersamanya.
"Bilangin ke adikmu, hafalan Undang-Undang malam ini ditunda dulu. Ayah ada perlu dengan bunda."
"Hm." Jawab Arsyad.
Sepeninggalan Van'ar dan Aurra, Kara pun ikut beranjak dari duduknya. Membawa piring kotor bekas makannya dan Arsyad, menuju tempat cuci.
"Mau apa?"
"Cuci piring." Jawab Kara jujur.
"Tidak usah."
"Kenapa? Kara bisa cuci piring kok." Ujar Kara, benar-benar merealisasikan ucapannya.
Gadis cantik tersebut mencuci piring beserta antek-anteknya, dengan telaten. Membiarkan Arsyad yang masih berdiri memperhatikannya sendiri.
"Yanda ngapain masih disini? Yanda duluan saja keruang tengah." Tawar Kara.
"Aku tunggu."
"Ya sudah. Tapi Kara cuci piringnya masih lama loh." Ujar Kara, sambil menunjukkan beberapa barang kotor yang tertinggal dibak cuci piring.
"Aku tunggu."
Seulas senyum tipis terbit dibibir gadis cantik tersebut. Mencuci piring ditemani oleh lelaki yang dia sayangi, nyatanya mampuh membuat hatinya menghangat.
"Kenapa senyum-senyum?" Tanya Asyad, sambil membenahi helaian anak rambut yang menutupi jarak pandang istrinya.
"Enggak. Kara senang aja."
"Senang?"
"Iya, senang karena bisa pulang. Bisa bertemu Yanda lagi, sama yang lainnya." Ungkap Kara.
"Kamu bahagia disini?"
"Iya."
"Kenapa?"
"Karena dimana ada Yanda, disitulah tempat Kara pulang. Sekalipun harus tinggal digubuk reyot, Kara akan tetap senang."
Arsyad tersentuh dengan jawaban tersebut. Ia senang, Karena perlahan-lahan Kara telah bisa beradabtasi dengan lingkungan barunya. Ia juga mulai bisa menerima kondisi yang ada dalam lingkup keluarga Radityan.
Arsyad maju selangkah, melingkarkan tangannya pada pinggang langsing tanpa lemak milik sang istri. Memeluknya erat, membagi kehangatan nyata lewat rengkuhannya.
"Yanda?" Kaget Kara. "Kalau ada yang lihat gimana?"
"Biarin, mereka juga maklum."
"Tapi,"
"Kara?" Bisik Arsyad, sambil mengeratkan pelukannya. Dapat ia rasakan, tubuh sang istri menegang dalam pelukannya.
"Teruslah bahagia."
"Maksud yanda?"
"Teruslah tersenyum, walaupun ada atau tidaknya aku." Ujar Arsyad lirih.
Ia juga baru tahu, ia bisa bahagia hanya karena melihat Kara bahagia. Sejak menikah, ada banyak pengalaman baru yang didapatkan olehnya. Baik itu dari segi tanggung jawab, ataupun tindakan lainnya. Satu pintanya, agar selalu bisa menjaga bahagianya sang istri. Karena kerasnya hidup, sudah cukup membuat istrinya tersakiti.
****
TBC
Selamat Pagi All readers👐
Yanda dan Kara update guys👐
Gimana buat part ini? Ada yang ngode-gode nih. Buat Galang, sudah patap kan balasannya? kalau Yanda dan Kara gimana nih? mau istri gemuk, berarti harus....? Kasih makan yang banyak kayak yanda ke Kara ya😅
Jangan lupa like, vote, komentar, share dan follow jika sempat ya. Ditunggu kritik dan sarannya.
Ok, segimi dulu. Nanti jumpa lagi di part selanjutnya 👐
__ADS_1
ILYSM❤
Sukabumi 16 Januari 2021