Bukan Cinta Terencana (R3)

Bukan Cinta Terencana (R3)
. 40-Rumor & Rumit


__ADS_3

📚. 40-Rumor & Rumit



"Kunci dari semua tuntutan masalah adalah tenang. Karena ketenangan, akan membantu membuat hati dan pikiran seiras dalam mengambil keputusan."-Arsyad An-nass Senopati Az-zzioi


****


Hari nampak mulai menjelang siang berawan. Selimutan kemelut awan abu nampak menggelung dilangit. Gemuruh hujan yang akan tiba nampak menambah mencekam suasana. Semencekam suasana ruang kepala sekolah SMA Dandelion. Semua mata dan perhatian beralih membaca sederetan headline yang tengah menjadi tranding topik.


"CUCU SULUNG KEKUARGA RADITYAN DIKABARKAN TELAH MENIKAH MUDA. APAKAH ALASANYA?!"


"PUTRI CRAZY RICH ASAL SURABAYA, TY0GA YOSEP DJJANUARTA BENARKAH MANTU KELUARGA RADITYAN?"


"PUTRA SULUNG TENTARA KEEVANAR DAN DOKTER AURRA, TELAH MENIKAH MUDA?"


"CRAZY RICH SURABAYA SUDAH MANTU? LIHAT KUTIPAN SUMBER BERIKUT."


Headline yang nampak jelas membawa bawa nama dua keluarga besar yang terpandang itu tentu menjadi tranding topik. Bukan saja tercetak jelas mading sekolah, kurang dalam kurun waktu 2 x 24 jam, berita tersebut sudah tersebar di media percetakan seperti koran, selebaran bahakan merambat ke dunia persiaran seperti radio, hot new ditelevisi, hingga terpangpang jelas dibaligo yang terpasang dibeberpa titik. Masyarakat mulai penasaran mencari cari informasi tentang kedua sosok yang tengah tranding topik tersebut.


Bukan saja anggota sekolah SMA Dandelion yang sekarang tengah berjuang menarik peredaran info tersebut. Tyoga saja sudah turun tangan, ketika nama putrinya terseret kedalam berita tranding topik tersebut.


"Hm, yanda." Bisik gadis Flora tersebut kecil.


"Hm." Jawab si empunya nama datar.


"Om Tyo, ini sebenarnya ada apa?" Tanya gadis itu kecil.


Pria berjas rapih yang dipanggil om itu menoleh. Tersenyum tipis, guna meredam kepeningan yang melanda kepalanya.


"Tidak ada apa apa. Hm, bagaimana kalau Kara pergi kerumah om saja. Mau kan?" Tawar Tyo.


"Hm, tapi gimana sama orang orang itu?" Tunjuk Kara, kepada gerombolan manusia yang masih berkerumun didepan kantor kepsek.


Kara--gadis benar benar tidak tahu harus berbuat apa. Semua orang diruangan ini terlihat cemas, termasuk Arsyad. Akan tetapi, saat ia bertanya semua orang malah bungkam. Satu satunya yang Kara tahu, ayahnya itu akan segera datang kemari. Padahal pria itu tengah berada diluar Kota.


Awalnya Kara itu akan pergi kerumah Setyo--pria yang dipanggil Om olehnya. Setyo adalah adik Tyoga, pemilik sekolah SMA Dandelion. Namun, karena Setyo hendak meninjau sekolah, pria itu mampir kesekolah sebelum kembali kekediamanya. Karena ia bersama Kara, ia pun menawari putri kakaknya itu untuk berkeliling sejenak. Akan tetapi, tindakan yang diambilnya itu malah membawa petaka kini. Ketika ia hendak menuju ruang kepsek, nyatanya Setyo malah melihat peristiwa yang cukup menggemparkan seluruh warga sekolah. Kini, ia telah mengumpulkan para pihak bersangkutan di ruang kepsek.


"Jadi, kamu yang hari ini bertugas?" Tanya Setyo.


"Iya pak. Saya dan Nia yang bertugas pak." Jawab seorang lelaki yang merupakan anggota jurnalistik SMA Dandelion tersebut.


"Kamu, Selatania?"


"Iya pak." Jawab gadis disamping lelaki tersebut, keçil.


"Apa kamu tahu siapa yang menempelkan selebaran tersebut?"


"Tidak pak?"


"Kamu, Timura?"


"Tidak pak. Saya dan Nia terakhir meng-update informasi di mading sekitar pukul 07.00 pagi, sebelum para siswa berdatangan." Ujar Timura, ketua ekttrakulikuler Jurnalistrik yang kebetulan bertugas hari ini.


Timura dan Selatania adalah dua orang yang sekarang diintrogasi, karena keduanya merupakan anggota jurnalistrik yang bertugas. Biasanya, apapun yang tertempel di mading/papan informasi, hanya anak jurnalistik yang memiliki wewenang.


"Mungkin, sekitar pukul 07.20 menit saya dan Nia sudah selesai mengupgrade informasi di mading. Menurut perkiraan saya, sekitar pukul 07.21 hingga 08.00 pasti si pelaku menempelkan selebaran tersebut. Karena pada pukul 08.00 anak ektrakulikuler pramuka menitipkan selebaran untuk kami tempelkan, dan selebaran itu sudah tertempel disana pak." Tutur Timura.


"Hm." Setyo beralih, menatap sepasang anak muda yang masih tidak berbicara.


Kara dan Arsyad, keduanya nampak saling mendiami. Terutama Arsyad, lelaki itu diamdan tentu membentangkan jarak tak kasap mata antara ia dan Kara. Kepalanya tengah berputar mencari solusi terbaik untuk ia mengambil sikap kedepanya.


"Dan kamu, Elang anak informatika?"


"Iya pak."


"Kamu tahu, kenapa artikel artikel itu bisa muncul di website sekolah kita?"


"Tidak pak. Pagi tadi, ketika saya chek website sekolah sudah ada gangguan pada website itu pak. Sepertinya, website sekolah sudah di heck." Tutur Elang--anak informatika yang diamanahi untuk menjadi user website resmi SMA Dandelion.


Setyo bukan tanpa alasan mengintrogasi Timura, Selatania dan Elang. Akan tetapi, ketiganya di introgasi karena memang bisa dicuragai sebagai pelaku penyebaran berita tersebut.


"Selain itu, beberapa cctv di area tertentu juga mengalami masalah pada jam yang tadi disebutkan oleh Timur pak." Ujar Elang, menunjukkan beberapa hasil rekaman cctv yang blur atau berhenti bekerja secara tiba tiba.


"Kenapa bisa begini?" Tanya Setyo.


Beberapa staf pengajar dan staf keamanan mulai angkat bicara soal kecolongan tersebut. Insiden ini tentu membawa dampak bagi pihak sekolah pula. Karena pada saat ini, masyarakat bisa memberikan opini buruk kepada sekolah kenamaan seperti SMA Dandelion.

__ADS_1


"Pak, boleh saya masuk?" Ujar seseorang, membuat etensi fokus mereka teralihkan.


"Davian, ada urusan apa kamu kesini?" Tanya salah seorang guru.


"Bang, ada mamah sama papah di parkiran." Ujar Davian memberitahu.


"Kenapa mereka kesini?"


"Bantu cancel semua masalah ini." Ujar Davian.


"Kamu ada perlu apa kesini?" Tanya Setyo, gantian bertanya.


"Boleh saya lihat user website sekolah yang kena heck pak?" Tanya Davian.


"Memangnya kamu tahu menahu soal penyerangan hacker?"


Davian terkekeh kecil. "Hm, sedikit pak."


"Dav, lo bisa buka website ini? Gue udah coba dari pagi, tapi gak bisa." Ujar Elang sambil memberikan laptop yang sedari tadi dioperasikan olehnya.


Davian mengangguk, lantas pemuda itu mengambil alih. Memperlihatkan segala kepiyawaanya akan mengoprek software. Sedangkan Arsyad, lelaki itu masih belum angkat suara. Walaupun ya, Kara sedari tadi sudah mengajaknya bicara.


"Permisi."


"Ya, siapa ya? Ada perlu apa bapak ibu kemari?" Hadang guru yang bertugas menjaga pintu kepsek untuk sementara.


"Saya wali pengganti untuk Arsyad."


"Persilahkan mereka masuk." Ujar Setyo.


Arkan dan Lunar datang, keduanya nampak buru buru masuk kedalam ruang kepsek. Sepasang suami istri itu langsung on the way ke Sekolah putra putranya, ketika melihat berita tentang keponakan mereka. Karena Van'ar tengah bertugas diluar kota, begitu pun dengan Aurra yang tengah melakukan oprasi darurat. Jadilah Lunar dan Arkan yang menjadi wali sementara untuk Arsyad. Baik orang tua Arsyad maupun Kara memang dipanggil oleh Setyo. Pria itu juga tengah berusaha keras untuk menarik segala pemberitaan yang menyangkut nama putri kakaknya tersebut.


"Bang?" Panggil lunar.


"Tante Lunar?" Wanita berhijab syari itu segera berlalu dan duduk disamping sang keponakan yang sudah seperti putranya sendiri.


"Tenang. Abang gak perlu khawatir, kita sedang berusaha menarik semua artikel dan pemberitaan itu." Ujar Lunar menenangkan.


"Bunda sama ayah sudah tahu?"


"Hm."


"Abang tenang aja, disini tante dan om bakal sebisa mungkin narik semua berita itu."


"Hm."


Lunar beralih, menatap suaminya yang tengah mengobrol dengan Setyo dan seorang guru. Selain itu ia juga menangkap sosok putranya yang tengah berutat dengan laptop dihadapannya.


"Anak itu lagi ngapain sih? Sodaranya lagi dilanda masalah begini, dia malah sibuk mainan laptop." Gerutunya.


"Davian lagi bantu mulihin website sekolah yang diheck."


"Di heck? Memangnya Davian bisa gitu?"


"Hm. Dia juga hacker."


"Astagfirullah, Davian apa bang?"


"Hacker, tante." Lirih Arsyad.


"S-ejak kapan? Mana bisa dia jadi hacker, kemampuan IT nya dari dulu jelek kok?" Ujar Lunar tak percaya.


"Iya. Davian memang hacker."


Wanita itu menatap putranya tak percaya. Hacker? Apa benar putranya yang playboy itu adalah seorang hacker? Lunar malah shok mengetahui fakta tersebut.


"Kara?" Panggil seseorang yang langsung membuat si empunya mendongrak.


Sedari tadi, gadis itu hanya diam karena semua orang mendiami dirinya. Padahal ia benci suasana seperti saat ini. Dia dibirkan tidak tahu apa apa, padahal ia juga penasaran.


"Papih?" Kagetnya.


"Are you okay?" Tanya pria baya tersebut, sambil buru buru memeluk sang putri.


Semua orang diruangan tersebut melongok, saat seorang pria berjas dongker memasuki ruangan kepsek dikawal oleh 4 pria berpakaian hitam hitam.


"Papih ada disini?"

__ADS_1


"Hm. Apa kamu baik baik saja?"


"Iya. Kara baik baik saja, tapi ada apa ini papih? Kenapa tadi orang orang tunjuk tunjuk Kara dan merhatiin Kara terus?"


Tyoga--lelaki itu tersenyum tipis, guna meminimalisir mimik wajahnya yang sedari tadi risau.


"Tidak apa. Sekarang, Kara pulang sama om ini ya. Biar papa urus sedikit masalah disini."


"Pulang?"


"Ya."


"Kenapa gak pulang sama yanda?" Tanyanya.


"Untuk saat ini, Kara pulang sama om." Ujar Tyoga sambil mengisyaratkan satu bodyguardnya untuk maju.


"Pak?" Panggil Arsyad.


"Diam." Jawab Tyoga.


"Tapi, papih--" Belum sempat gadis itu menyelesaikan ucapanya, tubuh mungilnya sudah terlebih dahulu luruh ke lantai.


"Kara?" Kaget Arsyad. Ketika hendak mendekat, Tyoga sudah terlebih dahulu bersuara.


"Bawa putriku ke mansion." Titah Tyoga yang langsung dipatuhi oleh para bodyguardnya.


Semua orang diruangan tersebut tersebut tentu dibuat melongok akan peristiwa yang baru saja terjadi. Tyoga--membuat putrinya pingsan janya dalam satu gerakan tangan dileher gadis tersebut. Semua terkejut, kecuali Setyo yang sudah hafal tingkah laku sang kakak.


"Laras, masuk." Panggil Tyoga, tak lama kemudian seorang wanita berkaca mata memasuki ruangan.


"Saya ingin semua artikel itu ditarik saat ini juga. Semua, jangan sampai ada yang tersisa."


"Baik pak. Sedang kami usahakan."


"Pastikan semuanya menghilang." Setelah berkata demikian, Tyoga menyuruh asistenya itu untuk berlalu.


Susana diruangan tersebut kembali mencekam. Semua orang didalam sana kini menatap Tyoga dengan tatapan berbeda-beda. Akan tetapi, sosok yang ditatap malah balik menatap satu objek datar.


"Tyo, urus bagianmu. Saya sudah urus bagian diluaran. Saya tidak mau ada satupun yang tertinggal soal masalah ini."


"Baik. Tapi, bagaimana soal opini publik? Anak anak juga pasti akan terus membicarakan rumor ini. Sebentar lagi Arsyad ujian, pasti akan ada dampak negatif dari peristiwa ini?"


Tyoga beralih, menatap empat orang berseragam putih abu dihadapanya.


"Kalian bisa tutup mulut dan keluar dari ruangan ini? Jika tidak, orang orang saya akan mengurus kalian." Tanyanya tajam.


"I-ya." Jawab ketiganya kikuk.


"Keluar sekarang." Ketiganya langsung beranjak.


Baik Timura, Selatania maupun Elang tak ada yang berani angkat bicara. Ketiganya merupakan salah satu siswa siswi yang pintar, jadi mereka cukup paham apa yang dimaksud oleh Tyoga. Sepeninggalan ketiganya, kini tinggal Lunar, Arkan, Arsyad, Davin, Setyo, 3 orang guru, 2 orang bodyguard dan Tyoga sendiri. Merek mulai diliputi atmosfir tak nyaman diruangan tersebut. Apalagi Tyoga, pria itu kentara sekali memperlihatkan kemarahanya.


Arsyad sendiri bisa melihat raut kemaran tersebut. Walaupun ya, dia sendiri tidak tahu bagaimana harus mengambil sikap. Yang terpenting utamanya adalah tenang. Jangan terlalu tergesa-gesa menanggapi sesuatu, takutnya nanti malah berbuat hal hal yang gegabah. Meledaknya rumor itu tentu membawa dampak besar, terutama Arsyad. Kini, ia tengah bergelut dengan pikiranya sendiri. Apakah setelah ini, ia akan didrop out dari sekolah? Apakah setelah ini, ia tidak biaa lagi menemui Kara?


Arsyad bisa melihat sendiri, bagaimana tadi Tyoga melarangnya mendekati Kara. Nah, sekarang ia kembali dihadapkan dengan dua masalah. Dia akan didrop out atau pun dipisahka dengan Kara, siapa yang tahu?


"Good job." Kekeh Davian.


"Ini, si penyebar rumor sudah terjebak." Ujarnya, yang tentu membuat mereka terkejut.


****


TBC


BCT UPDATE, tapi maaf kalau gak kena feelnya😢😢


Entah kenapa, rasanya peminat bct kurang responya. Jadi, aku tuh gak sreg kalau mau nulis cerita ini. Karena mood nulis itu bisa tumbuh karena timbal balik dari permintaan pembaca. Gimana dong😢😢 mood rumit, serumit kisah bang Arsyad😭😭😭


Gimana, Gimana?? ini ulah sapa sih? Galang apa bukan?? Cuss, komentar yoo👐


Ok, jumpa lagi dipart berikutnya.



TYPO MASIH BERTEBARAN🙏🙏


Sukabumi 24 Des 2020

__ADS_1


__ADS_2