Bukan Cinta Terencana (R3)

Bukan Cinta Terencana (R3)
104. WAR II


__ADS_3

...104. WAR II...


...Jangan lupa vote, komentar, like dan share cerita ini ya 🤗...


...“Apa yang telah kita lakukan selama ini, akan dibayar kontan kemudian.”...



**


“Nomer yang anda tuju tidak dapat dihubungi. Cobalah---“


Pria rupawan yang sudah berulang kali menghubungi sang istri itu menghela nafas lemah. Bukan sekali, mungkin sudah puluhan hingga ratusan kali dia menghubungi sang istri. Akan tetapi, hanya suara operator yang terdengar. Padahal dia ingin mendengar suara wanita cantik itu, setelah satu pekan mereka tidak berkomunikasi. Namun, tanpa alasan yang pasti, nomor sang istri sulit dihubungi.


“Coba telepon ke rumah, bang. Kali aja orang rumah bisa nyambungin ke mbak Kara,” usul Aroon yang tengah bekerja di depan notebook.


“Hm.”


Arsyad mengikuti usulan saudaranya. Namun, hasilnya kembali nihil. Salah satu asisten rumah tangga yang menerima telepon mengatakan jika wanita itu tidak ada di rumah.


“Masih enggak bisa, bang?” tanya Aroon seraya melirik jam rolex yang melingkari pergelangan tangan.


“Hm. Dia tidak ada di rumah.”


“Mungkin di kantor.”


“Sekretarisnya bilang dia tidak masuk kantor.”


“Mungkin mbak Kara di rumah Ayahnya.”


“Ayah mertua ada di luar negeri. Sedang apa istriku di sana?”


Aroon tersenyum keki. “Terus, di mana dong?”


“Kalau aku tahu, aku tidak akan risau,” pungkas Arsyad.


Aroon tersenyum kikuk. “Hm, maaf. Aroon gak bisa ngasih solusi.”


“Hm. Pergilah terlebih dahulu, nanti aku menyusul,” intruksi Arsyad.


Malam ini akan ada peresmian cabang perusahaan college mereka, sekaligus acara pertunangan. Mereka memang sudah diundang sejak jauh-jauh hari, oleh karena itu tidak etis jika tidak hadir di acara tersebut. Untuk masalah perebutan saham perusahaan Hitake Wataya, sudah hampir mendekati kata deal. Pria tua itu masih kekeuh mempertahankan keputusannya, padahal sekarang sudah hampir 60% saham ada di tangan Arsyad.


“Kita berangkat bareng aja, bang. Enggak enak kalau masing-masing.”


Arsyad mengangguk menyetujui. Percuma saja dia terus menerus menghubungi sang istri jika tahu wanita itu saja tidak dapat dihubungi. Lebih baik Arsyad memenuhi undangan dari college mereka. Acara tersebut diadakan di salah satu ballroom hotel mewah di daerah Tokyo.


Ketika tiba di tempat terselenggaranya acara, petugas valet langsung menyambut mereka dengan ramah. Kendati acara mengusung tema modern, unsur tradisional juga tidak dihilangkan. Terlihat dari beberapa interior tradisional yang masih ditonjolkan. Berbagai menu makanan otentik jepang juga tersaji guna mejamu para tamu.


“Wine?” tawar salah seorang college yang tengah mengobrol bersama Arsyad.


“No, thanks.” Arsyad menjawab sekenanya. Dia memang tidak minum alkohol, karena itu dilarang dalam agamanya.


“Anda tidak datang dengan istri?”


“Tidak.”


“Bukankah istrimu cucu Hitake Wataya?”

__ADS_1


“Hm,” Arsyad menjawab singkat. Identitas sang istri memang sudah diketahui publik, semenjak mereka berani mengumbar kebersamaan di muka umum.


“Apa istri anda sedang hamil, oleh karena itu tidak bisa datang?” tanya seorang wanita cantik berwajah oriental yang ikut bergabung di antara mereka.


“No. lebih tepatnya belum,” ujar Arsyad meluruskan.


Pembicaraan di antara mereka kembali berlanjut, membahas seputar dunia bisnis dan kehidupan sehari-hari. Sebagian dari college mereka adalah kenalan lama, saat Arsyad masih menetap di New York. Namun, saat hari semakin larut, Arsyad memutuskan untuk kembali ke hotel tanpa tiga antek-anteknya. Dikarenakan Aroon, Adam dan Agam masih terlibat pembicaraan dengan beberapa college.


Tiba di hotel, Arsyad melonggarkan dasi yang terasa mencekik lehernya. Jas hitam yang dikenakannya sudah teronggok di atas ranjang. Smartphone kembali tersangga di telinga, berharap jika sang istri akan menerima panggilan tersebut. Satu kali saja, dia ingin mendengar suara wanita tersebut.


“Siapa di sana?!” Arsyad menoleh ke samping, waspada.


Dengan sigap dia menurunkan smartphone, dan mengalihkan tatapan ke arah datangnya suara ketukan yang beradu dengan lantai. Dengan insting yang kian menajam, Arsyad berjalan mendekat guna memastikan. Apa mungkin Hitake Wataya kembali mengirimkan orang?


Dengan waspada Arsyad mendekat, mengikis jarak dengan siluet yang semakin jelas tergambar di netra. Seorang wanita. Arsyad bisa menangkap siluet seorang wanita menggunakan dress berwarna hitam, dengan model mermaid yang memperlihatkan bagian punggung.


“Who this?!” tanya Arsyad tegas.


Dia sedang tidak ingin bermain-main. Apa mungkin kali ini Hitake Wataya mengirim seorang wanita untuk mengganggunya? Jika benar, maka Arsyad tidak segan-segan untuk memulangkannya. Namun, kalimat yang hendak disuarakan sebagai gertakan kembali ditelan oleh Arsyad, saat siluet berdress itu berbalik badan.



“Kara!”


Terkejut, tentu. Arsyad tentu terkejut melihat sang istri yang sulit dihubungi sekarang ada di depan mata kepalanya sendiri. Berdiri dengan anggun, layaknya batari yang cantiknya dapat membuat lupa diri.


“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Arsyad, sedikit marah. Padahal dia sudang berulang kali memperingati sang istri agar tidak datang ke tempat ini. Tapi, apa yang istrinya itu lakukan sekarang.


“Kara cuma kangen yanda.”


Arsyad menatap wanita cantik itu tak percaya. Kangen? Ya, dia juga merasakan hal yang sama. Tetapi, kenapa istrinya sampai nekad begini.


“Dengan pakaian seperti ini?” tanya Arsyad, seraya melirik penampilan sang istri dari atas ke bawah.


“Kenapa? Kara tampil cantik karena mau ketemu yanda,” bela sang istri.


“Hm. Tapi, dress mu terlalu terbuka.” Arsyad yang sudah berdiri tepat di hadapan sang istri mengangkat sebelah tangannya. “Mulai dari bahu,” disentuhnya bahu mulus sang istri yang tampak terekspose.


“Leher, tulang selangka, lengan, dan pinggang,” imbuh Arsyad seraya menyentuh titik-titik tersebut pelan.


“Tapi, kan, cantik,” dalih sang istri seraya mengerucutkan bibir. “Ini biar yanda suka loh.”


“Aku?” wanita cantik itu mengangguk.


“Kenapa denganku?”


“Kara mau kasih kejutan buat yanda.”


“Kejutan dengan tampil seperti ini?” bingung Arsyad. “Tampil dengan piama kartun kesukaanmu saja, kamu tetap cantik menurutku.”


“Yanda ih, masa gitu sih,” ketus sang istri. “Istrinya udah cantik begini, masa enggak diapresiasi?”


“For what? Satu Indonesia raya juga tahu kamu cantik. Karena itu aku ingin kamu berpenampilan lebih tertutup agar hanya aku yang bisa melihat kecantikan itu.”


Kara speechless mendengarnya. Dia memang tidak datang ke tempat ini dengan dandanan seperti ini. Awalnya dia juga mengenakan pakaian yang cukup tertutup. Namun, dia sempat bersiap saat sang suami tengah dalam perjalanan pulang. Dia juga sudah menghubungi Aroon terlebih dahulu, guna memastikan jika sang suami telah kembali seorang diri.


Kara tampil dengan dress berwarna hitam model mermaid yang membalut tubuh proporsionalnya, khusus untuk sang suami. Sebagai bentuk apresiasi bagi pria tersebut. Dia tahu jika Arsyad telah bekerja keras selama satu pekan ini.

__ADS_1


“Ganti baju sekarang. Apa kamu nyaman menggunakannya?” tanya Arsyad, seraya memperhatikan bagian-bagian tubuh sang istri yang terekspose. Di sana-sini terekspose, sungguh godaan iman 🤯


Bohong jika Kara tidak cantik dan menawan. Istrinya itu malah terlihat menggoda sekali, dan Arsyad tidak mau istrinya terlihat demikian. Lebih tepatnya, Arsyad tidak terima jika kecantikan sang istri terbagi.


“Bukan itu yang terpenting sekarang. Coba tebak, apa yang surprise dari Kara.”


“Apa?” bingung Arsyad.


“Ayo tebak,” bisik Kara sensual.


Arsyad menatap sang istri datar, mencoba menutupi ekspresi berlebihan yang bisa saja tergambar di wajahnya. Jika begini, pati aka nada udang dibalik batu. Istrinya itu cerdik, dia pasti menyembunyikan sesuatu.


“Cepat katakan, dan bergantilah pakaian.”


“No, no, no, sebelum yanda tahu surprise dari Kara.”


“Apa kejutannya? Cepat katakan, istriku.”


Kara yang dipanggil demikian mengembangkan senyum. Membuat wajah ayunya kian berseri-seri. Dengan perlahan dia meraih tangan kanan sang suami. Membawanya menuju permukaan perut datarnya yang terlapisi oleh kain.


“Say hello to baby.”


“A—pa?” Arsyad bertanya tak percaya. “K—amu, hamil?”


Kara mengangguk bersama dengan senyum yang kembali berkembang. “Waktu yanda pergi, dia sudah ada di sini.”


“Benarkan?”


Arsyad tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Perasaanya campur aduk sekarang. Terkejut, senang, juga tidak percaya. Bagaimana bisa dia tidak tahu jika buah hati yang mereka tunggu-tunggu telah hadir di sana?


Dan lagi, apa yang dia lakukan sebelum pergi? Membuat sang istri kelelahan dan menangis tersedu-sedu? Tiba-tiba relung hatinya dilanda kecemasan.


“Apa kamu baik-baik saja? Kalian sehat? Kamu tidak kelelahan?” tanyanya retoris.


“Kara kelelahan sepekan yang lalu. Ulah siapa, ingat?” Arsyad mengangguk polos seperti anak kecil yang mengakui kesalahannya.


“Maaf. Aku tidak tahu dia sudah ada di sini,” lirih Arsyad seraya menyentuh perut sang istri. “D—ia benar ada di dalam sana, ‘kan?” tanyanya, masih tak percaya.


“Iya. Dia di sana semenjak Ayahnya menjenguk sepekan yang lalu—“


Arsyad tidak lagi membiarkan sang istri berkata-kata. Direngkuhnya sang istri erat, kemudian dia menjatuhkan satu kecupan lama di kening sang istri. Sungguh, hatinya didera kebahagiaan yang tiada tara. Membuat bibirnya terus menggumamkan ‘hamdalah’ atas apa yang telah Tuhan titipkan kepada mereka saat ini.


“Kamu nekad datang ke sini dalam kondisi ‘dia’ yang masih sangat kecil? Mungkin dia masih seukuran biji kacang hijau. Perjalanan ini sangat berbahaya untuk kalian.”


Mendapati sang suami yang biasanya datar dan irit bicara, Kara tak kuasa menahan tawa. Mungkin suaminya akan terkena serangan jantung dadakan jika tahu awalnya dia berniat langsung ke Jepang saat dinyatakan tengah mengandung. Namun, Kara menahannya hingga embrio di dalam rahimnya dinyatakan baik-baik saja.


“Dia strong, yanda. Buktinya dia bisa berjumpa sama Ayahnya.”


“Iya. Dia strong. Terbukti dia hadir sekalipun ditengah-tengah pecahnya perang.” Arsyad tersenyum seraya mengecup kening sang istri. “Dia terlahir sebagai bintang dalam garis keturunan kita, like a guiding star (layaknya sebuah bintang penuntun).”


Arsyad tidak pernah menyesali keputusan yang telah dia ambil. kehadiran buah hati mereka di rahim sang istri adalah anugrah. Sekalipun dia lahir di tengah-tengah perang yang pecah, dia adalah pemacu semangat. Hadirnya akan menandai perubahan baru bagi banyak klan. Menyatukan klan-klan yang awalnya tercerai berai. Arsyad meyakini hal tersebut, karena sebuah bunga tidur pernah mengingatkan dirinya. Bahwa akan ada salah satu bintang penunjuk arah yang akan hadir dalam garis keturunan mereka.


**


SIAP-SIAP MENUJU EPILOG!


UNTUK INFORMASI LEBIH LANJUT SOAL LAPAK ARRAGEAN BISA INTIP-INTIP DI IG KARISMA022👋

__ADS_1


Sukabumi 04/10/21


__ADS_2