Bukan Cinta Terencana (R3)

Bukan Cinta Terencana (R3)
95. Semakin Menjauh


__ADS_3

...95. Semakin Menjauh...


...“Terkadang apa yang diabaikan tidak akan akan terasa semakin jauh hari demi hari.”—Atmariani Karamina Adriani...


...****...


Sepasang kaki jenjang yang terbalut Heeled knee boots berwarna coklat kulit, tampak baru saja memasuki sebuah ruangan. Heeled knee boots adalah perpaduan heels dan boots yang panjangnya sampai lutut. Sepatu ini cocok digunakan saat cuaca dingin karena membuat penggunanya merasa hangat seperti saat ini. Tubuh rampingnya terbalut dress motif flora dari Giambattista Valli. Dipadukan dengan mantel tebal berwarna senada dengan sepatunya. Sebuah tas selempang dari Chanel juga tampak menghiasi bahunya.


Aroma cat dari berbagai jenis mulai terhirup oleh indra penciumnya saat memasuki ruangan tersebut. Tiga orang wanita berwarna kulit berbeda tampak menghampiri saat dia datang.


“Kamu baru datang, Kara?”


“Hm.”


“Apa dinner mu berjalan lancar kemarin?”


“Iya. Ayo ceritakan bagaimana dinner mu kemarin malam.”


Wanita cantik yang belakangan bekerja sampingan sebagai Fashion influencer itu menatap ketiga wanita yang berstatus sebagai ‘temannya’ itu bergantian. Yang satu biang gossip, satunya lagi tukang memanas-manasi, dan yang terakhir tukang membicarakan keburukan orang lain. Toxic friendly.


Sebenarnya bukan keinginnya dekat dengan ketiganya. Namun, ketiganya yang selalu mendekatinya dalam berbagai kesempatan. Mereka selalu berlindung dibalik tameng kata ‘teman’ yang mereka bangga-banggakan.


“Di mana sir Adrian?” alih-alih menjawab pertanyaan ketiganya, dia memilih menanyakan dosennya yang kebetulan mengajar hari ini.


“Sir Adrian sedang pergi ke luar sebentar. Kita bisa mengobrol sebelum—“


“Aku harus pergi mengambil peralatan. Aku permisi.” Ketimbang meladeni ketiganya yang acak kali cari muka di hadapannya, Kara lebih memilih meninggalkan tempat tersebut.


Harinya sudah diawali dengan mood yang buruk. Dia butuh moodbooster untuk memulai sisa harinya. Dengan menuangkan kegundahannya dia atas kanvas sepertinya itu ide yang tidak terlalu buruk. Mungkin kanvas, kuas dan cat bisa membantu memperbaiki mood-nya pagi ini.


“Sedang apa pagi-pagi begini, young lady?” Tanya sebuah suara yang membuat Kara refleks menoleh.


“Sir Adrian, anda di sini?”


Pria berkacamata itu tersenyum sembari melongok ke arah kanvas yang sudah dihiasi berbagai warna tersebut. “Ada makna tersirat dalam lukisan ini. Sedang mencoba menghibur diri?”


Kara tersenyum tipis sambil meletakkan kuas di tangannya. “Hm, mungkin sedikit peralihan.”


“Ada yang menganggu pikiranmu? Biasanya pagi-pagi begini kamu akan berada di kelas bisnis, bukan di ruangan berantakan berbau cat ini.”


Kara tersenyum tipis mendengarnya. Pria yang berstatus sebagai salah satu dosen di universitas tempatnya mengenyam pendidikan itu memang cukup dekat dengannya. Usia mereka juga terpaut tidak terlalu jauh. Di usia yang baru mau mendekati kepala tiga, pria keturuan Perancis itu sudah menjadi seorang dosen seni yang cukup mentereng namanya. Ditambah lagi dengan rupa rupawan dan kepribadian yang easy going, membuatnya disegani oleh banyak mahasisawa.


“Aku tidak memiliki kelas pagi ini, sir.”

__ADS_1


Pria itu mengangguk, sembari mengambil kanvas baru dari tempat menyimpan. “Kalau begitu biar aku temani kamu di sini, sembari aku mengerjakan satu lukisan surialisme.”


Kara mengangguk sambil tersenyum tipis. Memiliki teman saat melukis dan memiliki aliran pemikiran yang sama-sama menyukai dunia seni, adalah hal yang menyenagkan. Mereka bisa mengobrol sambil berbagi berbagai pengetahuan soal dunia seni yang tidak akan habisnya.


Di sela-sela tuntutan pendidikan dan pekerjaan yang dijalaninya, Kara memang sering kali melarikan pikirannya pada dunia seni untuk memperbaiki mood. Bukan saja sebagai hobby yang kerap kali ditekuni, dia juga menjadikan kecintaanya pada dunia seni sebagai investasi di masa mendatang.


Kara bahkan sudah memiliki galeri sendiri. Dari hasil penjualan lukisan-lukisan yang sudah terkumpul, uangnya akan dia gunakan untuk membantu anak-anak yang membutuhkan di berbagai Negara seperti Afrika dan Negara terdampak konflik atau peperangan.


Di tuntut dewasa di saat semakin bertambahnya usia, membuat Kara semakin open minded. Dia dituntut agar selalu berpikir luas dan terbuka guna menghadapi dunia kerja yang sesungguhnya. Beberapa tahun kebelakang Kara juga sudah mulai bermain dengan indeks saham dunia. Dia mulai tenjun sendiri untuk mengelola jabatan yang memang dipersiapkan untuknya.


Namun, karena tuntutan yang semakin berat dan banyak, membuat kebersamaanya dengan sang suami semakin berkuarng. Intensitas pertemuan mulai jarang sekali terjadi. Padahal mereka tinggal satu atap. Bahkan ada kalanya, Kara kesulitan saat ingin berbicara dengan pria rupawan keturunan Radityan tersebut saking sibuknya.


Tanpa mereka sadari, apa yang mereka abaikan akan menjadi boomerang di kemudian hari. Kara selalu berusaha menyisihkan waktunya untuk sang suami. Sebagai seorang istri, hal utama baginya adalah melayani sang suami. Menyiapkan semua kebutuhannya dari mulai bangun pagi hingga tidur lagi. Namun, hal tidak seimbang diperlihatkan sang suami. Pria itu terlalu berfokus pada beberapa titik hingga melupakan posisinya sebagai seorang suami.


Keberadaanya di butuhkan sang istri. Perhatiannya didambakan oleh wanita yang dia cintai. Tapi, apa yang dia beri? Diabaikan lagi karena tuntutan pekerjaan, pendidikan dan masalah pribadi.


Untuk sejenak dia lupa jika posisinya adalah seorang suami, kepala rumah tangga juga seorang pemimpin. Masalah duniawi membuatnya lupa arah pulang untuk beberapa hari.


“Josh, kamu melihat Arsyad?” Tanya Kara pada salah seorang teman sang suami. Dia sudah mencari pria tersebut sejak jam makan siang di mulai, tetapi tetap tidak dapat menemukannya.


“Mungkin di perpustakaan. Tadi aku melihatnya bersama Jessy di sana,” jawap leleki bernama Josh tersebut.


“Owh, thanks. Aku ke perpustakaan dulu kalau begitu.” Kara berlalu setelahnya.


Dia memang pergi pagi-pagi sekali dari rumah, untuk menjemput sang Ayah. Bagaimanapun juga, dia pergi untuk menghindari kontak dengan sang suami pagi tadi. Ada rasa kesal yang masih tersisa saat mengingat gagalnya dinner yang telah dia rancang kemarin. Ayahnya memang datang untuk mampir dan melihat kondisinya. Pria itu rutin melihat kondisi sang putri barang sebulan satu kali.


Tiba di perpustakaan, Kara langsung mencari sang suami. Ada beberapa hal yang perlu dia bicarakan dengan pria tersebut. Saat tiba di tempat yang biasa digunakan untuk membaca, di sudut ruang perpustakaan, siluet itu bisa ditangkap oleh manik hazelnut miliknya. Namun, pria itu tidak sendiri.


Dia tampak sedang berdiskusi dengan seorang pria berkulit pucat di hadapannya yang duduk dengan seorang perempuan bersurai perak. Di samping suaminya sendiri, ada seorang wanita bersurai pirang yang tampak tengah bergelayut manja di lengan bisep kokoh miliknya.


Kara hapal siapa mereka. Mahasiswa jurusan apa dan latar belakang mereka di universitas. Salah satunya adalah Jessy. Wanita berambut pirang yang sedang duduk sambil memeluk lengan berotot bisep sang suami.


Kara memilih mengurungkan niatnya. Mood-nya untuk berbicara dengan sang suami sirna begitu sja. Rasanya, hanya dia yang berusaha mempertahankan agar semuanya ‘baik-baik saja’, tidak dengan pihak sebaliknya.


****


“Ayo kita lunch bersama?”


“Aku sibuk. Makanlah sendiri,” jawab pria rupawan yang tengah membenahi peralatan menulisnya itu. Dia baru saja selesai berdiskusi soal organinisasi dengan teman satu organisasinya.


“Ayolah, Syad. Aku mau kamu—“


“Aku pergi,” sela pria rupawan tersebut. Sedari tadi dia sudah risih dengan sikap wanita bersurai pirang tersebut. Mood-nya hari ini sudah buruk, diperburuk lagi oleh kehadiran wanita tersebut.

__ADS_1


“Arsyad, kamu masih di sini?”


“Ada apa?” Tanya si empunya nama balik.


“Tadi Kara mencari kamu. Kupikir dia sudah menemuimu,” ucap lelaki bernama Josh itu memberi tahu.


Arsyad tampak berpikir sejenak. Tetapi selama berada di perpustakaan tidak ada yang menghampiri, apalagi sang istri.


“Aku baru saja berpapasan dengannya. Kalian sudah bicara?”


“Belum,” jawab Arsyad sekenanya.


“Kalau begitu aku pergi dulu.” Josh berlalu setelah berkata demikian. Meninggalkan Arsyad yang masih tenggelam dalam kebingungan.


Hubungannya dengan sang istri mulai memasuki tahap renggang musim ke-2. Rasa hambar mulai menyebar ketika tidak ditanggulangi dengan sabar. Baik dia maupun sang istri harus bisa berpikir dewasa dan rasional. Akan tetapi, di sini yang acak kali membuat segalanya rusak adalah dirinya. Ya, Arsyad akui itu.


Oleh karena itu, hari ini dia akan berusaha bicara dengan sang istri. Jika dibiarkan lebih lama lagi, tidak akan ada yang selesai. Yang ada hanyanyalah masalah yang semakin terbengkalai.


“Kara?”


Wanita cantik berdress rumahan dari brand ternama itu menoleh. Kedua tangannya terbalut sarung tangan anti panas yang digunakannya untuk mengeluarkan loyang dari dalam oven.


“Iya?” jawab si empunya nama, sembari mengeluarkan Loyang berisikan kue-kue kering hasil kreasinya. “Yanda sudah pulang?” tanyanya ramah, seolah-olah mereka memang baik-baik saja.


“Hm,” respon si empunya panggilan. “Kamu sedang apa?”


“Ah, ini. Kara sedang membuat flower oolong tea cookies. Resep cookies dari mbak Alea,” jawab Kara sekenanya.


“Bisa kita bicara sebentar, Kara?”


Wanita cantik itu tersenyum tipis sambil mengangguk. “Kara selalu punya waktu, Yanda.”


Arsyad merasakan ucapan sang istri menusuk relung hatinya. Entah sudah berapa lama mereka tidak mengobrol begini. Rasanya, wanita yang sekarang duduk di hadapannya semakin jauh dari jangkauannya. Atau, dirinyalah yang membuat wanita itu terasa begitu jauh tuk digapai?


“Happy anniversary ke-4, Yanda. Maaf, cake-nya udah gak bisa di makan lagi. Sudah kelamaan di dalam lemari pendingin,” ucap Kara riang. Padahal Arsyad tahu jika hati istrinya itu tersakiti. “Jadi, sebagai gantinya, Kara sajikan cookies ini saja.”


Wanita cantik itu menyodorkan toples bening yang didalamnya sudah terisi flower oolong tea cookies buatannya. “Seperti umpamanya cake anniversary, semakin tahun semakin kecil dan kadang kala berganti menjadi cookies, siapa yang tahu? Seperti itu juga perasaan kita yang telah dijaga bertahun-tahun lamanya. Apakah masih sama seperti dulu, tersisa sedikit, ataukah sudah mulai menipis karena tergerus oleh waktu?”


...****...


...TBC...


...Jangan lupa LIKE, VOTE, KOMENTAR, SHARE & FOLLOW Author. ...

__ADS_1


...🙏🙏...


...Sukabumi 14 Agustus 2021...


__ADS_2