Bukan Cinta Terencana (R3)

Bukan Cinta Terencana (R3)
116. Diselimuti Keganjilan


__ADS_3

116. Diselimuti Keganjilan



Tangis haru dua orang ibu tak terbendung saat dipertemukan kembali dengan buah hatinya. Apalagi setelah dipisahkan oleh jarak dan waktu yang begitu membentang. Hanya do’a pada sang pencipta yang dapat menjadi pelipur dalam setiap kesempatan. Kini, jarak dan waktu itu telah dikikis, sehingga tak menciptakan jarak yang begitu berarti.


“Kenapa bunda sama mama malah menangis menyambut kepulangan Dadav?”


Pria muda yang tampak semakin dewasa dari yang terakhir kali mereka lihat itu menyunggingkan senyum tipis. Dua tangan wanita paruh baya itu sudah dia salami bergantian, pun sudah dia imbuhi dengan kecupan singkat.


“Dadav pulang bukan untuk melihat bunda Aurra sama mama terluka,” ujarnya. “Dadav pulang karena rindu ingin bertemu.”


Lunar—ibu kandung dari pria muda itu tampak tak kuasa menahan tangis. Kedua matanya tak sedikit pun lepas dari sang putra. Buah hatinya yang telah lama tak dia lihat secara langsung. Bahkan di awal-awal kepergiannya ke New York, sang buah hati sulit sekali dihubungi. Jika Lunar atau suaminya sengaja berkunjung atau pun ada perjalanan bisnis ke New York, mereka akan menyempatkan diri untuk mampir ke mansion Pradipta, namun mereka jarang bisa bertemu.


Katanya putra mereka yang bernama lengkap Davian Arion De Prameswari itu sibuk mengenyam pendidikan juga menjalankan pelatihan. Tidak seperti teman-teman seusianya, kebanyakan waktu yang Davian dihabiskan untuk belajar dan berlatih. Dia juga aktif mengikuti latihan dan percobaan lewat misi-misi dengan kategori paling ringan hingga cakupan sedang dan berat.


Kediaman Radityan juga pernah beberapa kali kedatangan dua orang asing yang menanyakan soal keberadaan Davian Arion De Prameswari. Dilihat dari logat bicara yang tegas dan formal hingga penampilannya, Lunar maupun sang suami bisa menilai jika mereka bukan orang biasa.


“Sudah, bunda. Jangan menangis.” Kini giliran pria muda satu lagi yang angkat bicara.


Tangan kanannya sudah beberapa kali bergerak guna menyeka air mata yang berjatuhan dari kelopak mata sang bunda. Aurra tak kuasa menahan tangis, karena tak menyangka putranya sekarang telah pulang dengan selamat. Semenjak memiliki suami seorang abdi Negara, selalu ada kecemasan yang datang dan pergi. Belum lagi sekarang profesi itu dilanjutkan oleh si bungsu. Arion jarang pulang karena harus bertugas dari satu pulau ke pulau yang lain, bahkan si bungsu juga berencana untuk mengikuti seleksi di Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian TNI. Dari proses seleksi itu, akan dipilih para personel dari TNI AD, AU, dan AL yang akan diberangkatkan ke Negara konflik di bawah Kontingen Garuda.


Sebagai ibu Aurra tentu bangga sang putra mengabdi untuk Negara. Namun, sebagian hatinya selalu dilanda pikiran negatif jika saja sang putra hilang kontak dengan pihak keluarga. Belum lagi jika Arion mantap bergabung dengan Kontingen Garuda yang dikirimkan ke Negara konflik, maka nyawa adalah taruhannya.


“Arion tidak suka melihat bunda menangis karena Arion. Bunda seharusnya tersenyum saat menyambut kepulangan Arion. Kecuali jika Arion pulang dengan keadaan tinggal nama—“


“Astagfirullah, Arion enggak boleh bilang begitu,” potong Aurra cepat. Kedua tangan wanita paruh baya itu memegang lengan sang putra kuat. “Bunda menangis karena senang melihat Arion pulang dengan kondisi sehat dan selamat.”


“Kalau begitu sekarang bunda jangan menangis lagi, atau Arion akan dimarahi sama Ayah dan abang karena sudah membuat bunda menangis.”


Aurra mengangguk. Ibu tiga anak itu memang menangis karena merasa terharu melihat sang putra. Putra bungsunya yang sudah lama tak bisa hadir pada setiap acara keluarga. Hanya kabar dan surat yang santer terdengar. Bukan kemunculannya yang telah dirindukan banyak orang. Sebagai seorang ibu, Aurra tidak pernah membeda-bedakan putra-putrinya. Namun, Arion yang lahir sebagai anak bungsu sebisa mungkin mendapatkan perhatian lebih, karena sudah menjadi rahasia umum jika terkadang anak bungsu memiliki perbedaan dengan anak sulung atau tengah. Entah dari sifat ataupun karakternya.


Terlebih lagi Arion itu anaknya sangat pendiam dan cuek. Melebihi ayah dan abangnya. Jika Arsyad ada Arra sebagai pendamping untuk berbagi keluh-kesah, si bungsu tidak memiliki kesempatan seperti itu. Di keluarga Radityan, Arion juga anak paling kecil. Dia tidak memiliki banyak teman seperti Arsyad dan Arra—kakaknya—karena sifat pendiam dan cueknya itu.


Kepulangan dua putra beda usia itu lantas menjadi tamu spesial di acara tasyakuran anak pertama Arsyad dan Kara. Kemunculan Davian dan Arion juga tentu mencuri banyak perhatian, terutama para kaum Hawa. Mereka dibuat terpana dan terpesona akan ketampanan dan kegagahan dua abdi Negara yang mengabdi lewat jalur yang berbeda. Tidak sedikit pula para tamu undangan yang hadir bertanya soal siapa kedua pemuda tersebut, karena keduanya jarang terlihat hadir di acara-acara yang kerap kali digelar oleh keluarga Radityan.


Sempat tertunda untuk beberapa waktu, acara tasyakuran 4 bulanan menantu pertama di generasi keempat itu kemudian berlangsung sesuai dengan rencana yang telah disusun dengan baik. Acara berjalan dengan lancar dan hidmat, dimulai dari pembukaan, sambutan, serangkaian acara pengajian, sholawatan, santunan hingga penghujung acara.


Arsyad sebagai ayah dari janin yang tengah bersemayam di dalam rahim sang istri juga mendapatkan kesempatan guna melantunkan do’a bagi calon buah hati mereka. Pria rupawan itu dengan lantang melantunkan kalimat demi kalimat do’a yang dia kuasai guna mendoakan sang buah hati.


“Allahummahfazd waladii maadaama fii bathnika wasyfihi anta syaafil laa syifaa illa syofaauka syifaa allaa yughaadiru saqama.

__ADS_1


Allahumma showwirhu hasanata watabbit qalbahu iimaanambika wabi rasuulika. Allahumma akhrijhu mimbathnii waqta wilaadatii sahlaw watasliimaa.


Allahummaj’alhu shohiihan kaamilaw wa’aaqilan hadziqon ‘aliman ‘aamilaa.


Allahumma thowwil ‘umrohu washohhih jasadahu wahasan khuluqohu wafshoh lisaanahu wa ahsin shoutahu liqirooatil hadiitsi walquraani bibarakati muhammadin shollallahu ‘alaihi wa sallam. Walhamdulillahi robbil ‘aalamiin.”


Do’a tersebut dilantunkan dengan pembawaan bacaan yang tartil dan suara yang enak di dengar. Arsyad juga membacakan arti dari do’a tersebut dengan suara yang jelas dan jernih supaya para tamu undangan yang hadir mendengar dan senantiasa ikut mengamini.


“Ya Allah, peliharalah dia selama berada dalam kandungan ibunya. Sehatkanlah dia, karena sesungguhnya Engkau adalah Dzat yang bisa menyehatkan. Tiada kesembuhan melainkan kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit sedikitpun.


Ya Allah, Bentuklah dia di dalam perut ibunya dalam bentuk yang bagus dan tetapkanlah hatinya dalam keimanan kepada-Mu dan Rasul-Mu.


Ya Allah, keluarkanlah dia dari perut ibunya pada saat kelahirannya dengan mudah dalam keadaan selamat dan dengan bentuk yang indah dan sempurna.


Ya Allah, Jadikanlah dia anak yang sehat dan sempurna, berakal yang cerdas, yang alim, dan mau mengamalkan ilmunya.


Ya Allah, panjangkanlah umurnya, sehatkanlah tubuhnya, baguskanlah akhlaqnya, fasihkanlah dan merdukanlah suaranya untuk membaca Alquran dan Alhadist dengan berkah Nabi Muhammad SAW. Dan segala puji bagi-Mu.”


Setelah mengakhiri bacaan doanya, tangan Arsyad yang tadinya bermukim di permukaan perut buncit sang istri berpindah ke sisi wajah sang istri. Dielus sisi wajah sang istri dengan sayang, sebelum Arsyad merendahkan kepala agar dapat menjatuhkan satu kecupan di permukaan perut istrinya. Menyapa sang buah hati yang bermukim di dalam sana.


Momen manis itu tak ayal membuat sebagian besar kaum hawa yang ada di sana jadi iri dengan posisi Kara. Wanita cantik itu memiliki suami yang tampan nan rupawan, perhatian, penuh kasih sayang, mapan, dan dapat bertanggung jawab. Di antara hati yang merasa iri tersebut, ada yang menyayangkan Arsyad berjodoh dengan Kara, karena baginya ada perempuan lain yang lebih cocok bersanding dengan Arsyad. Dia yang duduk di antara para santriwati hanya bisa memendam semua itu sendiri, sebelum dibagi dengan seseorang yang jauh lebih mengenal Arsyad di luar sana.


Sekitar pukul Sembilan malam waktu Indonesia bagian barat, acara tasyakuran Kara selesai diselenggarakan. Para tamu undangan mulai berangsur-angsur meninggalkan kediaman Radityan, menyisakan beberapa orang yang kebetulan kerabat dan anggota keluarga.


“Papi juga hati-hati. Jaga kesehatan, jangan telat makan dan minum multivitamin. Jangan sampai Kara dengar papi sakit karena kecapean.”


“Of course, honey.” Pria paruh baya itu menjatuhkan satu kecupan di kening sang putri. “Jaga putri dan calon cucu ku dengan baik selagi aku pergi,” katanya kemudian, beralih pada sang menantu.


Si menantu lantas mengangguk sebagai jawaban. “Tentu.”


Tyoga—papi Kara—mengangguk kecil, kemudian menyunggingkan senyum tipis saat kembali menatap sang putri. Tyoga harus pergi ke Uni Emirat Arab malam ini juga karena ada jadwal kunjungan kerja ke beberapa Negara di Timur Tengah, salah satunya adalah Uni Emirat Arab. Rencananya Tyoga juga akan mengunjungi kota suci Mekah dan Madinah dalam schedule kunjungan kerjanya. Dua kota yang belum sempat disinggahi sang istri semenjak wanita itu memeluk agama islam.


“Saat pulang nanti papi akan bawakan kurma Ajwa dan Sakari yang banyak supaya putri papi senang.”


Sang putri yang sudah berkaca-kaca tak kuasa menahan senyum. Semenjak usia kandungan Kara memasuki minggu ke-16, dia memang suka sekali makan kurma. Terutama kurma Ajwa dan Sakari. Kurma Ajwa atau biasa disebut kurma nabi—karena konon kurma Ajwa adalah kurma pertama yang ditanam sendiri oleh nabi Muhammad SAW—terkenal sebagai kurma paling enak dengan daging lebih tebal dan kenyal. Rasa kurma Ajwa sendiri tidak terlalu manis, sedikit asam, mirip dengan kismis. Warna kurma Ajwa juga cenderung berwarna coklat kehitaman, lebih pekat dari kurma biasa yang umumnya berwarna kecoklatan. Permukaan kurma Ajwa juga lebih mengerut jika dibandingkan dengan jenis kurma lain.


Sedangkan untuk kandungan gula dan nutrisi, kurma Ajwa memiliki gula 77 persen, yang terdiri dari 0,5 persen sukrosa, 34,5 persen glukosa, dan 25,6 persen fruktosa. Terdapat pula kandungan mineral sebanyak 3 persen. Jumlah ini lebih banyak ketimbang kurma biasa yang hanya mencapai 1,5 sampai 2,7 persen. Kandungan kalsium pada kurma Ajwa pun lebih tinggi, yakni sekitar 1,22 gram per 100 gram. Dalam sebuah hadist, nabi Muhammad juga menganjurkan makan kurma Ajwa 7 butir sehari agar terhindar dari berbagai jenis penyakit.


Sedangkan kurma sakari sendiri dikenal sebagai kurma madu, karena memiliki rasa lebih manis dan warnanya lebih kuning.


Setelah mengantarkan kepergian ayah Kara, pasangan suami-istri itu kembali ke dalam rumah. Lebih tepatnya ke ruang makan, di mana sebagian keluarga tengah berkumpul dan berbincang-bincang. Ada pula yang tengah mengisi perut yang keroncongan pasca sibuk mengurus acara tasyakuran.

__ADS_1


“Makan, bang, mbak,” tawar Davian yang terlihat sedang mengambil nasi dengan semangat. Setelah landing di bandara Soekarno Hatta, dia langsung tancap gas ke mansion Radityan. Tak heran jika sekarang dia kelaparan.


“Dadav makan sama apa?” tanya Kara ramah.


“With sour vegetable soup alias sayur asem,” jawab si pemilik nama jenaka. “Ditambah empal sapi dan sambal tentunya.”


“Wah, kayaknya enak.”


“OF course. Jarang-jarang nemu yang kayak gini di NYC,” tambah Davian yang kontan membuat orang-orang di sana tertawa. Davian si happy virus telah kembali. Membawa pula sifat jenakanya yang tidak dimiliki siapa pun, tak terkecuali saudara kembarnya.


Sebelum menikmati makanan yang sudah dia ambil, Davian terlebih dahulu berjalan ke arah Arsyad dan Kara. Pria muda itu kemudian berlutut di hadapan Kara, tepat menghadap ke arah perut buncit Kara. Hal itu sontak menjadi tontonan para anggota keluarga, dan mengundang tanda tanya. Apakah gerangan alasan yang mendasari tingkah si tengah.


“Hai, little nephew. Ini Om Davian. Om yang kamu jadikan tontonan di Shibuya karena cosplay jadi Sailor Moon sambil foto sama patung Hachiko. Ingat?”


Perkataan Davian itu kontan membuat Aroon dan Davin tertawa heboh, bahkan hampir ngakak. Membuat Davian menatap kedau kembarannya itu dengan mata melotot. Arsyad dan Kara yang juga mengingat insiden di Shibuya waktu itu, merasa tidak enak sendiri. Sedangkan anggota keluarga lain yang baru mengetahui informasi tersebut, tentu dibuat terkejut.


“Kamu sudah tumbuh besar dan sehat ya, di perut ibumu? Om doakan supaya kamu selalu diberi kesehatan dan keselamatan hingga lahir ke dunia ini. Semoga kamu jadi anak yang baik, berbakti pada kedua orang tua, jenius, dan berguna bagi keluarga, agama, nusa dan bangsa. Maaf jika nanti Om tidak bisa menjenguk kamu saat lahir ke dunia ini. Yang terpenting, kamu harus ingat jika Om yang sempat jadi korban ‘ngidam’ sangat menyayangi kamu.”


Suasana yang tadinya dipenuhi canda dan tawa, tiba-tiba jadi sepi dan sunyi. Davian menyadari jika kalimatnya telah membawa perubahan signifikan pada suasana di ruangan tersebut.


“Bang, boleh elus gak nih?” tanyanya kemudian, masih dengan nada jenaka tersempil di dalamnya.


Arsyad mengangguk dengan kecil. Membiarkan saudaranya itu menyapa calon buah hatinya di dalam sana.


Mendapatkan lampu hijau dari Arsyad, Davian tentu tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. “Gak nyangka bakal jadi om secepat ini,” kekehnya setelah menarik tangannya kembali. “Nanti teh Arra, teh Alea, Davin, sama Aroon juga bakal nyusul punya istri dan baby. Semakin ramai deh mansion ini.”


“Kamu juga akan menikah dan punya bayi, Dav,” koreksi sang kembaran. Seolah-olah tak suka Davian bicara seperti demikian.


Davian tersenyum misterius seraya mengambil alih piring berisi makanannya. “Hm, maybe,” ujarnya ambigu.


“Dav, kamu bicara apa sih sayang? Jangan bilang kalau kamu….” Lunar yang ikut risau langsung angkat bicara, namun dipotong oleh sang putra.


“Mama tenang aja, apa yang mama pikirkan sekarang belum tentu benar,” koreksi sang putra. “Dadav mau makan dulu, laper. Nanti Dadav mau bicara sama mama dan papa.”


Entah apa yang tengah direncanakan oleh Davian, namun sikap pria muda itu teramat ganjil bagi keluarganya.


**


TBC


Yanda-Kara update lagi. Ada apa dengan Dadav? Komentar dong!

__ADS_1


Maaf belum bisa update teratur. Extra part Mistress juga bakal menyusul.


Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author & share ❤️


__ADS_2