Bukan Cinta Terencana (R3)

Bukan Cinta Terencana (R3)
96. Memperbaiki Lagi


__ADS_3

...96. Memperbaiki Lagi...


...Yang kemarin kecewa sama bang Arsyad, kumpul yuk👋...


...“Maaf jika selama ini aku mulai tidak memperhatikanmu lagi. Tapi, percayalah jika perasaan ini masih tetap sama.”—Arsyad An-nass Senopati Az-zzioi...


...****...


Empat tahun bukanlah kurun waktu yang sedikit. Ada ribuan hari yang dilewatkan dalam kurun waktu tersebut. Setiap detik sangatlah berarti. Banyak memori yang tertinggal di setiap waktu. Ada yang telah dilewati dengan baik ataupun kurang baik. Karena tidak selamanya hari-hari yang dilewati bisa mulus seperti jalur bus. Ada kalanya lubang, genangan, juga kerikil yang menjadi hambatan dalam setiap perjalanan.


Begitu juga dengan sebuah hubungan. Hal yang paling sulit saat membangun hubungan adalah berkomitmen untuk mempertahankan hubungan tersebut. Acak kali hubungan yang sudah dibina bertahun-tahun lamanya kandas di tengah jalan karena suatu masa di mana kejenuhan menjadi penguji utama. Hubungan bertahun-tahun lamanya pasti akan ada masa di mana jenuh mendera, membuat pikiran berkelana guna mencari cara lain untuk menghibur hati dan pikiran.


Di masa-masa seperti itu, akan ada rintangan muncul satu persatu. Menggoyahkan pertahanan yang selama ini dibangun atas dasar kepercayaan terhadap pasangan. Hal itu juga dialami oleh Arsyad dan Kara. Pasangan muda yang menikah semenjak mereka masih mengenakan almamater putih abu.


“Maaf,” Arsyad buka suara.


“Kara maafin.”


Semudah itu Kara memaafkan. Percuma saja dia memperpanjang dengan cara mendebat Arsyad, toh semuanya sudah berlalu. Anniversary ke-4 nya sudah tidak bisa di ulang lagi. Apa lagi kepercayaanya yang mulai meragu tidak bisa kembali.


“Kara?” panggil Arsyad, saat melihat sang istri beranjak dari duduknya.


“Kara lelah, mau istirahat.”


Empat kata, satu kalimat, berjuta makna. Arsyad tahu jika dibalik kalimat tersebut sang istri mencoba menyampaikan berbagai kelelahan yang mendera batinnya selama ini.


Kara beranjak meninggalkan Arsyad. Menaiki satu per satu udakan tangga menuju lantai atas. Dia lantas berjalan lurus menuju kamar mandi. Pikirannya butuh relaksasi. Mungkin sedikit berendam di air hangat akan membuat tubuh dan pikirannya di terapi.


Kendati udara sangat dingin di luar sana, hal itu tidak menyurutkan niatnya untuk berendam. Kara melepaskan dress rumahannya. Menyisakan hot pans berwarna putih setengah paha dengan kaos dalam. Rambut coklat keemasannya yang sudah memanjang hingga pinggul, segaja di cempol tinggi-tinggi agar tidak basah terkena air. Namun, baru saja hendak melangkahkan kaki menuju bathtup, ada sepasang lengan kokoh yang berhasil menghentikan gerakannya.


Sepasang lengan kokoh yang dihiasi bisep itu menlingkari perut rampingnya. Membuat kepalanya berpikir sejenak, soal bagaimana cara pemilik lengan itu bisa masuk kemari?


Bukannya pintunya terkunci?


“Aku ambil kunci duplikatnya,” jawab si empunya lengan, menjawab pertanyaan yang muncul di otak cantik Kara. Seolah-olah dia cenayang yang bisa membaca pikiran.


“Kara mau berendam. Yanda jangan ganggu.” Kara mencoba melepaskan diri dari sang suami.


“Aku temani.”


“Enggak mau!” Kara menolak cepat. Dia ini sedang marah dan butuh waktu sendiri. Me time. Seharusnya Arsyad mengerti bukan?


“Kenapa sulit sekali mendapatkan maafmu?” suara pria rupawan itu kembali terdengar dari belakang tubuh Kara. Membuatnya menegang saking dekatnya posisi mereka. Sudah berapa lama mereka tidak berdekatan seperti ini?


“Maaf, aku sudah mengabaikanmu selama ini.”


Kara memilih bungkam dan tidak merespon sedikitpun. Dia ingin tahu, sejauh mana Arsyad mampu membujuknya. Dia bukan anak kecil lagi sekarang. Dia sudah lebih open minded dalam menghadapi berbagai problematika.

__ADS_1


“Sebulan belakangan aku mengurusi proyek yang gagal ditanami saham oleh investor. Seharusnya keuntungan dari proyek itu menjadi hadiah anniversary untuk kita,” Arsyad kembali buka suara. “Maaf kalau selama ini aku tanpa sadar telah menciptakan jarak diantara kita.”


Kara tahu ini bukanlah kesalahan Arsyad seorang diri. Bagaimanapun juga dia tahu kalau sang suami banting tulang dan bekerja keras untuk membuktikan diri sebagai suami dan menantu yang pantas. Tuntutan dari pihak keluarga menjadi faktor utama. Kara tahu jika sang suami mencoba membuktikan jika dirinya pantas.


Tetapi, dalam prosesnya Arsyad lupa akan kewajibannya. Kara istrinya. Dia wanita. Dan, sebagai mahluk perasa yang selalu peka dan haus perhatian, dia tidak bisa diabaikan begitu saja bukan?


Seharusnya Arsyad paham akan hal tersebut.


“Kakekmu menelepon kemarin,” ujar Arsyad memberi tahu.


Kara terkejut mendengarnya. Untuk apa kakeknya menelepon? Padahal beberapa tahun kebelangan ini Hatake Wataya cukup ‘tenang’ dan tidak terlalu mengusik hidup mereka.


“Kakek bicara soal apa?” Tanya Kara penasaran. Isi kepalanya menebak satu persoalan yang pasti kakeknya ungkit.


“Baby?” tebaknya. Namun, Arsyad masih enggan buka suara. Kara hanya bisa merasakan kecupan singkap yang menghijani pucuk kepalanya.


“Yanda, jawab ih,” kesal wanita cantik tersebut, sembari membalikan tubuhnya agar bisa menghadap ke arah sang suami.


“Apalagi yang kakekmu bahas selain kamu dan soal bakal calon cicitnya,”


Kara mengerucutkan bibirnya kesal. Dan inilah salah satu faktor lain yang pasti membebani pikiran sang suami. “Terus, Yanda jawab apa?”


“Jawab seadanya.”


“Iya, jawab apa?” ketus wanita cantik berisis hazelnut tersebut.


Kara diam-diam meng-iyakan ucapan sang suami. Baik posisi sebagai pemimpin ataupun sebagai seorang Ibu, dia belum siap. Kara masih mempersiapkan diri. Menjadi calon pengganti Ayahnya saja sudah merupakan tanggung jawab yang berat. Apalagi harus menggantikan sang kakek. Bisa-bisa nanti pihak neneknya juga meminta hal yang sama.


“Terus kakek bilang apa?” Kara mendongrak, menatap lurus ke arah manik gelap sang suami.


“Apa yang bisa kakek ucapkan kalau kamu belum siap? Tidak ada yang bisa beliau paksakan.” Arsyad menjawab sembari memeluk pinggang sang istri. Membawa tubuh ramping yang sangat pas dalam dekapannya itu semakin merapat.


“Tidak perlu dipikirkan. Biar aku saja,” Arsyad menjatuhkan satu kecupan di ujung hidung bangir sang istri. Membuat wanita cantik itu mengerjapkan matanya beberapa kali.


“Maaf kalau selama ini aku terlalu sibuk sampai mengabaikanmu.”


“Gak pa-pa, Kara mengerti,” jawab Kara jujur. Dia harus mengerti dan bersabar lagi. Mereka bisa bertahan selama ini karena saling percaya dan saling menguatkan satu sama lain.


Empat tahun telah mereka lalui. Dan tinggal dua bulan lagi menuju wisuda kelulusan. Setelah itu, baik Arsyad maupun Kara akan benar-benar terjun ke dunia mereka masing-masing.


“Melamun hm?”


Kara terhenyak. Dia baru sadar jika tubuhnya sudah melayang di udara sekarang. Sejak kapan? Dia tidak tahu sejak kapan, tetapi yang pasti sekarang dia hanya bisa melingkarkan tangannya di sekitar leher sang suami untuk berpegangan.


“Jangan dipikirkan lagi. Kita memiliki waktu dua bulan lagi untuk berkuliah sebelum wisuda. Setelah itu kita kembali ke tanah air dan mengurus semuanya.”


“Hm. Benar-benar semuanya,” gumam Kara kecil.

__ADS_1


Arsyad tersenyum kecil melihat respon sang istri. Dengan perlahan dia menurunkan tubuh sang istri di dalam bathtub yang sudah berisis air hangat dan cairan aroma terapi yang menimbulkan banyak buih putih. Untuk sejenak Kara memejamkan mata, guna menikmati sensasi menyenangkan saat genangan air hangat itu merilekskan tubuhnya.


“Yanda mau apa?” tanyanya kaget, saat melihat sang suami berhasil meloloskan baju yang dikenakannya. Membuat tubuh bagian atas yang dihiasi pack-pack hasil workout rutin itu terekspose.


“Berendam.”


“Tapi—“ suara Kara tercekat, saat pria rupawan itu hendak menurunkan zipper celananya.


“Yanda!” pekiknya kaget.


Selama menikah 4 tahun lamanya, Arsyad tidak pernah melucuti pakaiannya sendiri di hadapan Kara. Walaupun sering melihat pria itu bertelanjang dada, Kara tidak pernah berada di posisi seperti ini sebelumnya.


“Kenapa? Malu?” Tanya suara milik sang suami, dibarengi dengan rengkuhan di pinggangnya. Pria rupawan itu sudah bergabung rupanya. “Kenapa harus malu?”


“Yanda gak pake celana, ih,” protes Kara malu.


“Kata siapa? Aku masih pakai celana.” Arsyad menyangkal tebakan sang istri.


Kara masih enggan menyahut. Pasalnya posisi ini terlalu intim menurutnya. Selama menikah mereka tidak perlah melakukan hal-hal yang terlalu intim melebihi batas ciuman dan berpelukan. Tapi sekarang, apa sudah waktunya?


“Kenapa? Kamu tidak nyaman?” Tanya Arsyad, menyadari tubuh sang istri yang menegang sejak tadi. “Aku bisa pergi kalau—“


“Kara kenapa sih? Tiba-tiba kok jadi gini?” seloroh Kara yang berhasil membuat Arsyad tertawa. Tawa yang sudah lama tidak Kara dengar tentunya.


“Aku cuma mau menebus kebersamaan kita yang sudah lama tertunda. Apa salah?”


“Tapi enggak gini juga caranya,” protes Kara. “Bikin deg-degan aja,” sambungnya.


Arsyad kembali tertawa lepas. Seolah-olah beban dalam pikirannya lepas begitu saja saat bersama sang istri begini.


“Yanda jadi banyak ketawa lagi.” Kara menerbitkan senyumnya. Dia senang karena pada akhirnya permasalahan diantara mereka sudah bisa diatasi. Terlebih lagi, sekarang dia bisa mendengar tawa sang suami. Tawa memikat yang selalu membuat orang terpikat.


“Karena kamu,” Arsyad menjawab sambil menyentuh dagu sang istri. Agar wanita cantik itu menoleh ke arahnya. “Semua ini karena kamu. Tidak ada seorangpun yang bisa membuatku begini selain kamu, Kara.” Bersama dengan kejujuran tersebut, Arsyad menjatuhkan satu ciuman dalam di bibir ranum sang istri. Aktivitas yang sudah lama sekali tidak dia lakukan. Menyapa milik sang istri yang manis seperti cairan nektar yang diincar banyak serangga. Menabuh genderam di rongga dada, meciptakan letupan euphoria yang membuat sasak nafas.


Arsyad tidak pernah begini dengan wanita lain. Pun tidak pernah tertarik untuk melakukannya dengan yang lain. Sekonyong-koyong karena hanya wanita ini yang berhasil menguasai hati dan pikirannya. Membuatnya mabuk kepayang tanpa sadar hanya karena bisa melihat senyumnya, mulai dari bangun pagi hingga tidur lagi. Hanya Atmariani Karamina Adriani yang mampu membuatnya begini.


...****...


...TBC...


...Komentarnya buat part ini dong 🙀😸...


...Jangan lupa like, vote, follow Author & share....


...Jumpa lagi Minggu depan 👋...


...Sukabumi 15 Agustus 2021...

__ADS_1


__ADS_2