
.84. Ungkapan Manis
[HATI-HATI, PART INI MENGANDUNG KEUWUUUAN TINGKAT DEWA]
"Ada beberapa hal yang terkadang sukar untuk diperkenalkan pada halayak umum. Tapi, itu semua pengecualian bagimu."-Naraess AlGean Hazka Dwiarga
****
Hari semakin sore, ketika sinar jingga mulai membias, menghiasi langit. Burung-burung berterbangan, kembali ke sarangnya. Begitupun dengan beberpa manusia yang usai menyelesaikan aktivitasnya. Jalanan yang tadinya agak lenggang, kembali sibuk melayani mobilitas para penggunanya.
Dua orang muda-muda nampak tengah duduk di bawah langit jingga sore. Menghadap ke sebuah padang hijau yang tenang, ditemani dengan angin semilir yang membelai ramah.
"Kamu kemana saja selama ini?" Si gadis buka suara, setelah sekian lama hening menyelimuti.
"Ada."
"Di mana?"
"Di atas bumi, di bawah naungan langit yang sama dengan tempatmu tinggal." Jawab lelaki rupawan itu sambil tersenyum kecil.
"Tapi kenapa pergi tanpa pamit, kamu seolah-olah hilang begitu saja?"
Lelaki rupawan itu tersenyum tipis, sambil mengusap surai hitam miliknya. "Khawatir sama aku ya?"
Deg!
"K-ata siapa?" Cicit gadis berkhimar tersebut, sambil mengalihkan pandangannya.
"Khawatir juga gak papa. Gak ada yang ngelarang kok."
"Ehm, bukan gitu maksudnya. Katanya kita teman 'kan?"
Lelaki rupawan itu terkekeh geli. Maniknya nampak menatap sinar jingga dengan perasaan lega. Awalnya ia tidak menyangka jika tuhan akan mempertemukan mereka. Apalagi dengan kondisi yang cukup banyak menguras kesalah pahaman pada awalnya.
Ketika bertemu tadi, ia memutuskan untuk berbicara empat mata dengan gadis cantik ini. Untungnya, Sagara, Cakrawala juga Arsen memberinya ruang agar bisa berbicara berdua saja barang sejenak. Jadi, di sinilah keduanya saat ini. Duduk di bangku yang sama, namun dengan posisi duduk bersisian dipisahkan jarak dan ruang diantara keduanya.
"Aku pamit deh, kalau gitu. Mumpung kita ketemu juga 'kan?" Gean buka suara.
"Kamu mau kemana emang?"
"Menjelajah langit dan memperluas skill, baik akademi maupun non akademi." Jawab Gean mantap.
"Di mana?"
"Ada."
"Kok ada? Lokasinya di mana?"
"Mau tau atau mau tau banget?" Canda Gean.
"Please, dimana?"
"Rhine-Tehnical University in Aachèn."
Arra menoleh sejenak. Ia cukup hafal nama tempat tersebut. Rhine-Tehnical University in Aachèn atau RWTH Aachen adalah Universitas tinggi dan terbaik dari Aachen, Jerman. Universitas tersebut juga terkenal akan universitas dengan studi penerbangan terbaik di dunia. Bapak Teknik Indonesia, Almarhum **. Habibie juga pernah mengenyam pendidikan di universitas tersebut.
"Jerman?"
"Hm."
"Jauh." Lirih Arra tanpa sadar. Gean terkekeh kecil mendengarnya.
"Enggak stay di Indo aja?"
Gean menggeleng samar. "Lanjut di sana, sudah seperti kewajiban turun temurun. Dari Kakek, Papa, Bibi, sampai Abang, semuanya ngenyam pendidikan penerbangannya di sana. Aku juga, udah dari dulu cita-cita pengen stay di Aachen."
"Jerman 'kan jauh, kamu gak papa jauh dari keluarga?"
"Udah biasa kok. Aku anak penjelajah langit, hidupku hampir seluruh masanya didedikasikan untuk bepergian. Bonyok udah maklum lah. Kalau kangen, mereka bisa telpon, atau VC, sekarang komunikasi gak harus ketemu secara langsung juga bisa."
*Bonyok : Bokap nyokap
Arra mengangguk membenarkan. "Kamu juga, mau stay di London 'kan? Bareng si Acean."
__ADS_1
Deg!
"Kok kamu tahu? Kamu stalker ya?" Kaget Arra. Padahal ia tidak pernah bercerita kepada siapapun kecuali keluarga, sahabat dekat dan gurunya.
Gean menggeleng, "aku punya banyak temen. Salah satu diantara mereka mau stay di universitas yang sama kayak kamu, chèri. Kedokteran 'kan?"
Arra menunduk, tidak tahu harus berbicara apa. Sebagai teman, jalinan pertemanan mereka memang tabu dan akward. Gean bisa dengan mudah mengetahui banyak hal tentangnya, sedangkan dirinya, sama sekali tidak tahu apapun soal lelaki itu.
"Semangat, okay? Kamu bakal lanjutin pendidikan sesuai basic dan keinginan. Aku juga sama. Aku bakal belajar banyak soal penerbangan di sana, melatih skill lebih dalam, memperluas relasi dan pertemanan, mungkin aku bisa nyari pacar juga di sana." Kekeh Gean jenaka.
"Aku udah lama vakum pacaran. Kangen sama rasanya pacaran. Udah ada yang aku incer sih, tapi sayang, kesempatan dapetin dia kayak bilangan 2/0."
"Maksudnya?"
"Tak terhingga." Jawab Gean gamblang.
Arra menaikan pandangannya, menatap apa yang tersuguh di hadapannya. Jika diingat kembali, pertemuannya dengan lelaki ini kebetulan sekali. Mereka bertemu di bandara, kebetulan saat itu mereka bertabrakan, hingga menyebabkan smartphone Arra terjatuh.
Pertemuan itu kembali terulang, di tempat dan dalam situasi yang berbeda. Awalnya Arra risih dengan sikap annoying Gean. Tapi, lama kelamaan ia menyadari satu hal. Di balik sikap annoyingnya, Gean itu orangnya baik hati. Arra bisa melihatnya lewat kebetulan-kebetulan yang sering kali melibatkan mereka.
"Chèri?"
Arra menoleh. Panggilan itu kembali menyapa indra pendengarannya. Chèri adalah panggilan khusus yang Gean sematkan untuknya. Tapi apa artinya? Chèri itu buat kan? Maksudnya Gean menyamakan Arra dengan buah ceri, begitu?
"Aku mau bilang sesuatu."
"Tentang?"
"My feel." Ujar Gean sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Cewek itu, kamu, Chèri."
Deg!
Arra tersentak dalam posisinya. Jantungnya berdebar tak karuan saat lelaki di sampingnya berkata demikian. Ia tidak bodoh, ia mengerti maksud dari ucapan lelaki tersebut.
"Jangan menoleh, okay?" Gean kembali bersuara. Arra yang hendak menoleh kembali mengurungkan niatnya.
"Dari awal jumpa, aku udah suka kamu. Hm, mungkin semacam falling in love at first meet."
Arra masih diam mengunci mulutnya. Ia mendengarkan apa saja yang lelaki di sampingnya katakan.
"Jangan menoleh, aku belum selesai bicara." Titah Gean, saat melihat lawan bicaranya bergerak, hendak menoleh.
"Tapi, aku-"
"Dengerin dulu, please. Give me a time, untuk menyelesaikan pembicaraan ini. Bisa?"
"Hm." Lirih Arra.
"Maaf, aku selalu bersikap menjengkelkan di hadapanmu, Chèri. Kata orang, dulu Papa juga gitu pas masih ramaja. Nyebelin, suka main ML, tawuran, suka geng-geñgan. Mungkin sifat itu nurun ke aku."
"Main ML?" Bingung Arra.
"Bukan ML yang itu, maksudnya ML, mobile lagends. Game populer itu." Tutur Gean. "Back to topic, karena aku gak punya banyak waktu. Besok kita LDR-an lagi."
Arra refleks menoleh. "Besok?"
"Kok noleh? Kan disuruh jangan menoleh dulu sampe selesai." Koreksi Gean sambil memalingkan muka.
Wajah lelaki rupawan itu nampak memerah, Arra bisa melihatnya tadi. "K-amu kenapa?"
"Ck, pake nanya lagi." Decak Gean gemas. Lelaki rupawan itu menoleh, lantas menatap wajah cantik di hadapannya lekat.
"Gemes." Ujarnya, sambil menyentuh pucuk khimar Arra pelan. "Maaf lancang. Habisnya ngegemesin banget sih, calòn menantunya Mama Gea."
"Siapa?"
"Mama Geasya Genandra Putri, calon mertuanya kamu." Tutur Gean sambil tersenyum lebar.
"Ish, apaan sih." Ketus Arra sambil memalingkan muka.
"Kenapa? Isin ya?"
"Isin?"
"Artinya malu, dalam bahasa sunda."
__ADS_1
"E-nggak." Dalih Arra cepat.
Gean tertawa kecil, sambil mengalihķan tatapannya. Ia kembali menatap ke arah depan. Menikmati apa yang tersaji di depan matanya.
"Aku suka kamu, Chèri. Banget. Gak tahu mau dijelaskan pakai kata-kata apa lagi."
Arra menunduk di samping lelaki tersebut. Ini baru pertama kalinya ada yang mengungkapkan perasaanya segamblang ini. Arra memang banyak disukai oleh kaum Adam, namun mereka selalu berpikir puluhan kali untuk mengungkapkan perasaanya, mengingat Arra adalah permata yang dilindungi oleh 4 Arjuna.
Jadi, saat Gean mengungkapkan perasaanya. Arra tidak tahu harus berbuat apa. Dia shok, kaget, malu dan juga kebingungan. Apalagi hari ini Gean nampak lebih serius pembawaanya. Dia juga menggunakan 'aku-kamu' saat berbicara, bukan 'lo-gue'.
"Gak usah dipikirin, Chèri. Ini pernyataan, bukan pertanyaan yang butuh jawaban. Aku cuma mau mengungkapkan perasaan ini sebelum pergi."
Gean tersenyum tipis setelahnya. Ia melirik jam tangan yang melingkari pergelangan tangannya. Jam tangan tersebut dipasang terbalik, kebiasaan bagi sebagian orang yang berprofesi di ruangan flight deçk.
Ia hanya diberi waktu 20 menit untuk berbicara dengan Arra. Saat ini, sudah 15 menit ia pergunakan untuk mengutarakan perasaanya. Tinggal tersisa 5 menit lagi.
"Kapan-kapan, kalau kamu main ke sini lagi, mampir kerumahku, mau?"
"Rumah kamu?"
"Iya. Ada yang mau kenalan sama kamu. Tapi, itupun kalau kamu gak keberatan."
Arra mengangguk sebagai jawaban. "Insaallah, nanti aku mampir jika sempat."
Gean tersenyum tipis mendengarnya. "Jaga diri baik-baik, Chèri. Mungkin mulai besok sampai beberapa tahun ke depan, kita bakal sulit ketemu."
Arra mendongrak. Gean tersenyum menyambut penglihatannya. "See you next time. Semoga kamu gak lupain aku, Chèri."
Arra menggeleng. "Aku gak akan lupain kamu."
Gean tersenyum kecil, lantas ia meraba lehernya sendiri. Melepaskan sebuah kalung yang tadinya melingkari lehernya. Ia menyodorkan kalung dengan liontin inisial huruf A dan G tersebut.
"Liontinnya gabungan dari inisial nama Al dan Gea, orang tuaku. Jika digabungkan, menghasilkan namaku. AlGean. Secara kebetulan, AG juga inisial nama panggilan kita. ArraGean." Gean tersenyum kecil.
Arra menatap Gean bingung. "Ambilah, ini kenang-kenangan dariku. Sesuatu yang aku anggap berharga, kuberikan kepadamu, Chèri."
"T-api?"
"Please, jangan menolak."
Arra mengangguk lirih. Gean lantas mengembangkan senyumannya. Gadis itu menerima pemberiannya.
"Aku senang bisa bertemu denganmu hari ini, Chèri. Sampai jumpa lagi nanti." Gue berucap sambil beranjak. "Sekarang, waktuku sudah habis." Ia menatap arlojinya.
"Ayo, mereka pasti menunggu."
Arra mengangguk, lantas beranjak. Gean berjalan terlebih dahulu, mengawal jalannya.
"Gean?" Panggil Arra.
"Hm?"
"Boleh aku tanya, kenapa kamu panggil aku Chèri? Itu nama buah bukan? Kenapa kamu panggil aku dengan sebutan Chèri?"
Gean tersenyum tanpa sepengetahuan Arra. Lelaki itu tetap berjalan sebelum menjawab. "Chèri itu kata dari bahasa Perancis, artinya sayang."
Deģ!
Arra menghentikan langkahnya refleks. "S-ayang."
"Aku sayang kamu. Chèri, itu panggilan sayang dariku."
****
TBC
ALOHA.... UPDATE UPDATE🔥
HAREDANG GAK NIH? ATAU MAU LANJUT LAGI? TIM ARRAGEAN MANA NIH? EH... TIM ARSEN'ARRA JUGA JANGAN KALAH, MANA SUARANYA?
Gimana, terjawab? sudah mulai nemu titik temu? mau diperjelas lagi? nanti Arsen juga punya kesempatan sama kok. Kalo Gean kepepet, tapi takdir (Author) berpihak ngasih waktu. Kalau Acean, lebih banyak waktu buat planning. Jadi menurut readers Arra itu condong ke siapa? GEAM atau ARSEN? jawab lewat komentar ya, yang banyakkk.
Ok, jangan lupa like, vote, komentar, follow Author. IG Karisma022 juga boleh. Tencu buat yang udah setia menunggu update. ILYSM FOR ALL😙😙
Sukabumi 29 Feb 2021
__ADS_1