Bukan Cinta Terencana (R3)

Bukan Cinta Terencana (R3)
111. Rapat Umum Pemegang Saham


__ADS_3

111. Rapat Umum Pemegang Saham



Rapat umum pemegang saham atau RUPS adalah salah satu meeting penting yang sangat krusial. Meeting tahunan ini tidak main-main persiapannya. Karena jadwal RUPS yang dijadwalkan maju dari schedule yang seharusnya, hal itu berimbas pada kinerja orang-orang di balik layar yang harus bekerja dua kali lipat lebih giat. Oleh karena itu, Aiden dibantu Aroon mempersiapkan meeting penting tersebut dengan sebaik mungkin. Mengingat kondisi saham perusahaan utama milik keluarga Kim mulai anjlok di pasar saham. Jika dibiarkan, kemungkinan besar perusahaan akan mengalami kerugian.


Arsyad juga tak hanya ongkang-ongkang kaki saja. Pria itu ikut bekerja hingga larut malam, demi mempersiapkan RUPS yang akan diselenggarakan dengan para pemegang saham. Sekarang, pria rupawan itu baru saja memasuki ruangan yang diisi oleh para pemegang saham tertinggi di perusahaan milik keluarga Kim. Ditemani sang istri, Arsyad akan diperkenalkan sebagai pemegang saham tertinggi untuk saat ini. Sedangkan Kim Eun Ha, selaku pemegang saham utama memilih mengikuti meeting secara virtual karena saat ini wanita itu masih berada di negeri Sakura.


“Yanda gugup?”


Mendapati pertanyaan demikian, si pemilik panggilan menoleh. Alih-alih menjawab, pria rupawan itu memilih membawa jemari mungil sang istri untuk dikecup. Bohong jika ia tidak risau barang sedikitpun. Namun, kehadiran sang istri sudah lebih dari cukup untuk memberinya semangat.


“Apa kamu menginginkan sesuatu? Rapatnya masih belum dimulai. Mungkin kamu haus, atau lapar?”


Wanita cantik yang tengah duduk dengan manis itu menggeleng. “Kara tidak mau apa-apa.”


Arsyad mengangguk paham. Pria rupawan itu selalu mengutamakan kenyamanan sang istri yang tengah berbadan dua, di manapun mereka berada. Karena baginya, tidak ada yang lebih penting ketimbang istri dan calon buah hati mereka.


“Yanda jangan gugup, ya. Di sini kita akan selalu support yanda,” ujar Kara memberi tahu.


“Hm. Terima kasih karena sudah hadir untuk menemaniku,” balas Arsyad seraya menyentuh perut ramping milik sang istri.


Kara tersenyum manis seraya mengangguk. Ia juga tidak pernah merasa keberatan jika harus ikut maju ke medan pertempuran bersama sang suami. Toh, ia tahu jika keberadaanya dapat menjadi supporter terbesar bagi sang suami.


Ketika jarum jam menyentuh pukul delapan waktu setempat, rapat umum kemudian dimulai. Aiden selaku wakil pemimpin terdahulu membuka acara, karena ia juga bertugas sebagai moderator. Rapat berjalan dengan hidmat dari awal dibuka. Walaupun sempat memanas pada saat pemungutan suara dan pendataan ulang para pemegang saham, sejauh ini rapat umum para pemegang saham masih berjalan dengan kondusif. Tidak ada jalan keluar lagi selain merger, kecuali mereka setuju untuk akuisisi.


Keputusan final diambil setelah melewati musyawarah dan mendapatkan hasil yang telah disetujui. Arsyad tetap maju sebagai pemimpin terpilih dari dua perusahaan yang berhasil disatukan lewat merger. Sekarang mereka bisa pulang dengan senyum lebar karena sudah dipastikan jika tidak ada lagi pertentangan yang berarti. Kim Eun Ha juga sudah mengeluarkan keputusannya lewat sebuah dekrit.


“Setelah rapat ini selesai, PR kita adalah merapihkan jajaran hingga staf kepala mulai dari Radityan Corp’s hingga Aryan’s Cooperation.” Pria yang baru saja membalik daging itu buka suara. Menyuarakan PR yang masih menjadi pekerjaan mereka nantinya.


“Iya. Itu bisa dibicarakan nanti dengan dewan direksi yang lain,” sahut sekretaris lelaki tersebut.


“Untungnya, sekarang rapat umum pemegang saham sudah selesai dilaksanakan.”


“Hm. Setidaknya kita bisa bernafas lega sekarang.”


Tawa kemudian mengudara di meja yang diisi oleh 9 pria rupawan tersebut. Arsyad, Aroon, Agam dan Adam memang tengah bersama Aiden dan kawan-kawan saat ini. Aiden sengaja mengajak mereka makan-makan di malam harinya, pasca rapat umum pemegang saham selesai dilaksanakan. Berbagai menu makanan terhidang di atas meja. Menu utamanya adalah gogigui. Gogigui adalah daging yang dipanggang dengan gaya barbeque di atas panggangan. Ada banyak restoran di Korea yang menyajikan menu yang popular yang acak kali muncul di drama-drama korea itu.


Orang Korea suka sekali memakan gogigui dengan cara digulung bersama daun selada dan beberapa jenis sayur lain. Selain gogigui, Aiden juga memesan menu otentik seperti kimchi. Itu loh, sayuran yang difermentasi dengan bumbu khas sehingga menghasilkan rasa yang pedas dan asam. Bagi masyarakat Korea, kurang afdol jika saat makan tidak ada kimchi. Selain itu, ada juga japchae yang mirip capcay jika di Indonesia. Bedanya, adalah ada mie bihun khas korea yang tidak ditemukan pada capcay Indonesia.


Selain japchae, ada juga bulgogi atau daging sapi yang dipotong-potong tipis dan kemudian dipanggang setelah dibumbui, dan masih banyak lagi menu yang tersaji di atas meja.


“Makan yang banyak, Bang.” dengan telaten Aroon memindahkan daging yang telah matang ke mangkuk milik Arsyad.


Si empunya nama hanya berdeham kecil sebagai respon. Awalnya Arsyad menolak ikut acara makan-makan ini, tetapi Aiden memaksa. Arsyad hanya tidak enak harus pergi tanpa sang istri yang saat ini tengah berada di kediaman Kim. Acara ini memang khusus untuk para pria. Aiden ingin meningkatkan solidaritas di antara mereka yang sekarang bukan saja keluarga, tetapi juga rekan kerja.


Rencananya, setelah makan-makan Aiden akan mengajak mereka mengunjungi beberapa tempat hits di Seoul. Mumpung mereka saat ini sedang ada di Korea. Rencana itu didukung penuh oleh yang lain. Mengingat mereka juga jarang-jarang memiliki waktu karena sibuk bekerja. Jadi, malam ini waktunya boys time.


“Abang kenapa? Dari tadi kok lihatin handphone mulu?” tanya Aroon kala mendapati Arsyad kembali menatap layar gaway. “Mbak Kara minta Abang cepat pulang?”


“Tidak,” jawab Arsyad sekenanya. Wanita itu tidak pernah melarang Arsyad untuk pergi bersenang-senang. Akan tetapi, di sini Arsyad yang tidak bisa jauh dari wanitanya. Entah mengapa, perasaan Arsyad tidak tenang.


“Jika kamu mau pulang terlebih dahulu, tidak apa.” Aiden yang baru saja menggigit galbi atau daging iga sapi panggang itu buka suara. “Sepertinya kamu memang tidak bisa jauh dari my baby. Kami juga bisa memaklumi, mengingat kalian akan segera memiliki bayi.”


Aroon manggut-manggut mendengar ucapan Aiden. Mereka memang cepat akrab dari pertemuan pertama. “Iya, Bang. kalau mau pulang duluan gak papa. Jangan lupa beliin Mbak Kara Jajangmyeon sama bibimbap. Tadi pesan itu, ‘kan?”


Arsyad mengangguk. Ia mana bisa melupakan pesanan sang istri yang tengah hamil muda. Jajangmyeon dan bibimbap. Jajangmyeon sendiri adalah mie khas Korea yang disiram saus kedelai hitam sehingga mie menjadi berwarna hitam. Sedangkan bibimbap adalah nasi yang dicampur dan diaduk dengan berbagai macam lauk-pauk. Biasanya ada 7 macam jenis sayuran yang ada dalam bibimbap, kemudian dicampur dengan daging dan telur atau tahu.


Mendapatkan lampu hijau dari teman-teman hangout-nya, Arsyad tanpa pikir panjang pamit undur diri. Sebelum pulang, pria itu tak lupa membeli pesanan sang istri di tempat yang Aiden rekomendasikan. Ingin rasanya cepat pulang agar dapat merayakan kemenangan hari ini bersama sang istri. Mengingat sejak pagi Arsyad tidak memiliki banyak waktu dengan sang istri. Selepas meeting, Arsyad dibawa kesana-kemari untuk berkenalan dengan beberapa pemegang saham dan College. Hingga sang surya kembali menutup hari sekalipun, Arsyad harus rela membiarkan sang istri pulang terlebih dahulu. Mengingat Aiden masih membutuhkan Arsyad.


“Kara?” panggilnya saat memasuki ruangan.


Lampu-lampu sudah menyala, membuat sinar terang benderang memenuhi ruangan. Selama tinggal di Korea, mereka memang diberikan tempat tinggal pribadi. Hal itu didasari oleh titah Kim Eun Ha, agar kenyamanan cucu satu-satunya terjamin selama tinggal di Korea.


“Kara, kamu di mana?” panggil Arsyad lagi seraya menyimpan pesanan sang istri di atas meja.


“Kara di sini, yanda,” jawab si pemilik nama yang baru saja muncul. Wanita yang tengah hamil muda itu tampak cantik dalam balutan dress model baby doll berwarna putih gading yang jatuh di atas lutut.


“Yanda sudah pulang?”


Alih-alih menjawab pertanyaan tersebut, Arsyad memilih membawa tubuh mungil itu ke dalam dekapan. Ia memeluk wanitanya erat, seolah-olah tidak aka nada hari esok lagi. Sedangkan Kara yang mendapat perlakuan seperti itu, hanya menautkan kening kebingungan. Entah ada apa dengan suaminya yang tiba-tiba manja itu?


“Yanda kenapa?”


“Apa salah kalau aku memeluk istriku?” alih-alih menjawab, pria rupawan itu malah kembali melontarkan pertanyaan. Membuat Kara mengulas senyum di bibirnya.


“Tidak salah, kok. Cuma aneh saja tiba-tiba yanda begini.”


“Bawaan bayi, maybe.”


Mendengar jawaban sang suami yang asal, Kara tidak lagi menahan tawa. Apa katanya, bawaan bayi? Yang hamil di sini siapa, ya? Ingin sekali wanita itu bertanya demikian. Gemas akan tingkah laku calon bapak muda satu ini.


“Udah dulu ya pelukannya, Kara mau makan dulu.”


Arsyad menggelengkan kepala, enggan melepas pelukan mereka. Pria rupawan itu saat ini sibuk mengubur wajahnya di lekukan antara leher dan tulang selangka sang istri. Membuat sang istri kembali tertawa kecil menghadapi sikap sang suami yang tiba-tiba menjadi manja.


“Kara mau makan Jajangmyeon sama bibimbap yang Kara pesan. Tadi beli, ‘kan?”

__ADS_1


Arsyad mengangguk tanpa suara. Mau tidak mau, pria rupawan itu melepaskan sang istri. Membiarkan wanita itu menikmati makanan pesanannya dengan lahap. Mengingat sekarang Kara bukan saja makan untuk dirinya sendiri, melainkan berbagi dengan kehidupan lain yang tengah berkembang di dalam rahimnya.


“Yanda enggak mau?” tanya Kara seraya menunjukkan sumpit di tangannya yang berisi lilitan mie hitam.


“Kamu saja yang makan. Aku sudah kenyang.”


Kara mengangguk seraya tersenyum tipis. “Tadi ke mana aja sama hyung?”


“Kami cuma diajak makan-makan. Rencananya setelah makan-makan mereka mau main ke beberapa tempat,” cerita Arsyad.


“Terus, kenapa yanda pulang cepat? Sekarang, kan, boys time.”


“Karena aku mau,” jawab Arsyad sekenanya. “Aku lebih ingin menghabiskan waktuku bersama kamu dan dia,” lanjut Arsyad seraya menyentuh perut ramping sang istri.


Kara menerbitkan senyum lebar. Ia tak menyangka jika sang suami lebih menginginkan kebersamaan dengannya, ketimbang bersama teman-temannya. Padahal jarang sekali Arsyad menghabiskan waktu bersama teman-temannya.


“Terima kasih, yanda.”


“Terima kasih untuk?” bingung Arsyad, karena tiba-tiba saja sang istri mengatakan terima kasih.


“Karena yanda lebih mementingkan kami,” jawab Kara seraya mengelus perut rampingnya.


Arsyad tersenyum tipis melihatnya. Tidak ada yang lebih penting ketimbang keluarga. Arsyad selalu belajar tentang hal itu dari kedua orang tuanya.


“Yanda, Kara juga mau minta sesuatu.”


Kening Arsyad bertaut mendengarnya. “Kamu mau apa? Kue beras pedas lagi? Tidak. Itu tidak baik untuk kesehatan.” Arsyad berucap seraya menatap sang istri penuh peringatan. Ia tidak mau sang istri meminta dibelikan kue beras pedas atau Tteokbokki seperti terakhir kali. Yang ada nanti sang istri sakit perut lagi.


“Bukan, Kara bukan mau itu.”


“Lantas, kamu mau apa? Jangan meminta yang aneh-aneh.”


Kara menggeleng seraya tersenyum tipis. “Kara mau ubi bakar Cilembu.”


“A—pa?” kaget Arsyad.


“Ubi bakar Cilembu, yanda. Dari tempatnya langsung!”


“U—bi bakar Cilembu?” ulang Arsyad pelan. Dari tempatnya langsung itu, berarti di Bogor bukan? Tolong, beri Arsyad bantuan untuk menjawabnya.


🍠🍠


Bunyi-bunyian tercipta dari dalam panci yang berisi kuah yang tengah mendidih. Daging bagian iga baru saja dicelupkan ke dalam kuah tersebut. Aroma lezat juga tercipta, mengisi ruangan yang tampak dihiasi oleh atmosfir kurang menyenangkan tersebut.


Seorang kepala keluarga tampak menatap sepasang muda-mudi yang tertunduk di hadapannya dengan lamat. Sedangkan di sampingnya, sang istri tengah mengusap lengan kokoh berhias bisep miliknya. Mencoba menenangkan gejolak emosi yang timbul lewat usapan tersebut.


“Nanti. Sebelum salah satu dari mereka ada yang mau jujur, sunshine.”


Wanita berhijab syar’I tersebut menghela nafas kecil. Kemudian ia beranjak, kembali memeriksa soup yang tengah dimasak di atas kompor. Menjauhi area meja makan yang tengah menjadi meja persidangan. Memberikan mereka ruang untuk bicara.


“Jadi, sudah berapa lama?” tanya kepala keluarga tersebut to the point. Netranya masih menatap lawan bicaranya lamat-lamat.


“Adakah dari kalian yang ingin menjawab? Davian? Senja?” tanyanya retoris.


“Baru-baru ini, Om.” Suara si lelaki muda terdengar. Membuat kepala keluarga yang sebenarnya baru pulang kerja itu menautkan kening. Niat hati pulang di jam makan siang ingin mengisi perut yang keroncongan dengan masakan istri tercinta, ia malah mendapati berita mengejutkan.


“Baru-baru ini? Kapan lebih spesifiknya?”


“Sekitar tujuh atau delapan bulan belakangan, Om.”


Pria rupawan yang tengah duduk dengan kedua tangan menyangga dagu itu membulatkan mata mendengarnya. “Kalian backstreet selama itu?” tanyanya, tidak menyangka jika ‘baru-baru ini’ yang dimaksud lawan bicaranya sudah selama itu. Keterlaluan!


“I—ya, Om,” jawab pria muda di hadapannya.


Gemintang Reynando Pradipta menatap lawan bicaranya lekat. Bagaimana bisa ia kecolongan selama ini? Tujuh hingga delapan bulan itu bukan waktu yang sebentar. Sungguh, Gemintang merasa dibohongi di kandang sendiri. padahal ia juga tahu jika sejak lama anak muridnya itu memendam rasa pada sang putri, tetapi ia tak menyangka akan jadi begini pada akhirnya. Siapa sangka pada akhirnya mereka memilih merajut kasih secara diam-diam, ketimbang jujur pada orang-orang rumah. Gemintang merasa dibohongi sebagai seorang kepala keluarga, ayah, sekaligus sebagai seorang guru. Bisa-bisanya anak didiknya memacari putrinya sendiri tanpa sepengetahuan. Tidak dapat dibenarkan!


Untung saja Fajar—putra sematawayangnya—mengetahui hubungan terlarang tersebut. Jika tidak, mungkin pasangan muda-mudi itu akan menjalin hubungan sembunyi-sembunyi atau backstreet lebih lama lagi.


“Kenapa kamu memilih hubungan sembunyi-sembunyi, Davian Arion De Prameswari?”


Si empunya nama menelan Saliva nya susah payah. Ia tahu ia salah karena telah menyembunyikan fakta tersebut. Kendati demikian, keputusan itu diambil semata-mata karena telah mempertimbangkan berbagai aspek.


“Keputusan ini saya ambil karena saya tidak mau membuat Senja terbebani, Om.”


“Terbebani? Dengan cara memacari putriku secara diam-diam?”


Lagi, Davian dibuat mati kutu. “M-aaf, Om. Saya yang salah di sini.”


“Iya, kamu yang salah. Senja tidak mungkin mau dipacari jika tidak diberi mantra aligator andalanmu itu. Dasar buaya muara!”


Davian meringis kecil mendengarnya. Sedangkan Mentari—istri Gemintang—yang tengah memasak sesekali tertawa geli mendengar pembicaraan mereka. Ia baru melihat sisi sang suami yang satu ini.


“Udahlah, A. kayak Aa gak pernah muda aja.”


“Aku memang pernah muda, sayang. Tapi, enggak pernah nekad pacaran diam-diam,” ujar Gemintang membela diri.


“Ya iyalah. Orang Aa itu punya mantan satu, tapi ditolak 5 kali.”

__ADS_1


Gemintang melotot mendengarnya. “Sayang, please. Jangan membuatku mengurung mu di kamar seharian karena buka-buka aib.”


Mentari mengedipkan bahunya acuh. Ibu dua anak itu kemudian menghampiri sang putri, menyentuh bahu putrinya pelan seraya berkata. “Pacaran boleh-boleh saja, asalkan sewajarnya saja. Di dalam islam, tidak dianjurkan untuk berpacaran. Karena dalam islam hanya mengenal ta’aruf, khitbah dan nikah.”


“Bunda tahu Davian dan Senja sudah sama-sama dewasa. Sudah tahu dan dapat membedakan mana yang benar dan salah. Jadi, Bunda harap kalian mengerti kenapa kalian sekarang diintrogasi seperti ini.”


Gemintang manggut-manggut mendengar ucapan sang istri. “Dengarkan itu. Pacaran itu banyak negatifnya, makanya dalam agama dilarang. Tapi, kalian malah bandel!”


“Sebenarnya Davian sama Senja belum sampai tahap pacaran, Om, Onty,” ujar Davian meluruskan.


“Maksud kamu?” tanya Gemintang to the point.


“Davian memang ngebet pengen jadi pacar Senja. Tapi, Senja masih belum ngasih Davian kepastian. Kita delapan bulan belakangan ini dekat hanya sebatas penjajakan.”


“Yakin cuma penjajakan?” pancing Gemintang.


Davian mengangguk mantap. “Om bisa tanya Senja kalau gak percaya.”


Gemintang menatap lawan bicaranya lekat. Sedetik kemudian, pria rupawan itu beralih menatap sang putri. “Senja, my sun. sekarang Ayah mau tanya, boleh?”


“Boleh, Ayah.” Gadis berhijab syar’I yang sedari tadi menunduk itu menjawab.


“Senja harus jawab dengan jujur. Okay?” Si empunya nama mengangguk seraya mendongkrak, menatap sang ayah.


“Apa benar yang dikatakan Davian? Kalian hanya penjajakan? Atau sudah berpacaran?”


Mendapati pertanyaan retoris seperti itu, Davian meringis kecil. Ia tidak tahu jika akan seperti ini pada akhirnya. Semua ini karena ulah room mate-nya sendiri alias Fajar yang salah curi dengar. Sekarang Davian hanya bisa menghela nafas lemah seraya menunggu jawaban sang pujaan hati yang tengah diintrogasi.


“Jangan takut, sayang. Coba jujur sama Ayah,” ujar Gemintang pengertian.


“Tidak Ayah,” jawab sang putri.


“Tidak bagaimana maksudnya?”


“Senja sama A Davian enggak pacaran.”


“Yakin? Kata Fajar kalian tadi mesra-mesraan di dalam kamar? Fajar juga dengar Davian manggil kamu pacar?”


“Aa,” lerai Mentari. “Kalau nanya itu satu-satu. Senja pasti kebingungan.”


Gemintang berdeham kecil, menyadari tindakannya yang terlalu berlebihan. “Jadi, jawabannya tidak?” tanyanya memastikan.


Senja mengangguk mantap. “Seperti yang Bunda bilang tadi, dalam islam tidak mengenal kata pacaran. Jadi, Senja menolak saat A Davian ngajak pacaran.”


“Diajak pacaran nolak, diajak ta’arufan mau?” celetuk Gemintang tiba-tiba.


Davian yang mendengar itu langsung mendongkrak semangat. Yes, lampu hijau!


“Jadi Davian sama Senja boleh ta’arufan nih, Om?” tanya Davian memastikan.


“Ta’arufan gundulmu! Nanti lah. Senja ini masih harus menyelesaikan study-nya,” ralat Gemintang membenarkan.


Davian mengangguk paham seraya tersenyum lebar. “Kalau begitu, berarti Om sama Onty ngizinin Davian deketin Senja, ‘kan?”


“Menurutmu?” tanya Gemintang balik.


“Davian mana tahu. Dari dulu Davian udah coba dapetin lampu hijau dari Om dan Onty. Hasilnya, masih belum tampak,” ujar Davian mengutarakan keluh-kesahnya.


“Asalkan jangan ada drama air mata, silahkan saja,” ujar Gemintang tiba-tiba.


“Jadi boleh, Om?”


“Hm.”


Davian tersenyum lebar mendengarnya. Dengan perasaan bahagia yang membuncah di dalam dada, Davian menoleh. Menatap sang pujaan hati yang telah lama mendiami hati. Gadis cantik itu tampak tersipu malu dalam duduknya. Ah, Davian gemas sekali melihatnya. Siapa sangka jika ia akan mendapatkan lampu hijau semudah ini setelah bertahun-tahun memendam rasa.


“Ingat, jaga jarak minimal satu meter selama kamu masih ingin tinggal di rumah ini,” ujar Gemintang mewanti-wanti.


“Siap, Om!”


“Dan jangan berada dalam satu ruangan bersama Senja. Bahaya, takutnya kamu khilaf. Om tahu ya, track record kamu sebagai predator perempuan. Sejak duduk di SMA mantan kamu sudah segudang!”


Davian meringis mendengarnya. “Hehe, itu mah dulu, Om. Sekarang udah enggak.”


“Iya, dulu. Tapi, sekarang masih ada sisa-sisanya, ‘kan?”


“E—nggak, Om. Saya setia kok sama Senja,” ujar Davian membela diri.


Gemintang mengangguk-anggukan kepalanya, paham. Sebelum ia melontarkan kalimat yang membuat Davian meringis untuk ke sekian kalinya. “Setia? Setiap tikungan ada maksudnya?”


**


Komentar nya?? like, vote, share & follow??


Jangan lupa nabung buat yang mau peluk novel Arragean 🥰🥰


Ada yang mau riquest scen? Aroon? Davin? atau siapa??

__ADS_1


Sukabumi 03/12/21


__ADS_2