Bukan Cinta Terencana (R3)

Bukan Cinta Terencana (R3)
117. Baby Moon


__ADS_3

117. Baby Moon



“Yanda merasa ada yang ganjil enggak sama sikap Dadav?”


Wanita yang tengah hamil muda itu bertanya seraya mengaplikasikan serum yang biasa dia gunakan sebelum tidur. Serum yang rutin dia gunakan itu tentu aman bagi ibu hamil dan menyusui.


“Hm. Sedikit,” jawab sang suami yang baru saja mendudukkan diri di samping ranjang. “Mungkin kepulangannya kali ini menandakan sesuatu.”


“Kara pikir juga begitu.”


Apa yang diucapkan Davian di ruang makan tadi tentu masih membekas di kepala. Bahkan meninggalkan banyak tanda tanya. Mereka dibuat bertanya-tanya, kenapa Davian berkata seolah-olah dia akan pergi begitu lama. Padahal pria muda itu baru saja menginjakkan kakinya di sini.


“Mau dibacakan surat apa?”


“Hm?” wanita cantik yang malam ini menggunakan piama model terusan yang baru saja menyusul sang suami itu tampak berpikir sejenak. “Al-waqiah. Boleh?”


“Tentu saja.”


Wanita cantik yang memiliki darah keturunan ningrat asal negeri sakura dan ginseng itu tersenyum lebar. Sebelum tidur, sudah menjadi rutinitas bagi sang suami untuk membacakan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Rutinitas itu dimulai semenjak Kara berbadan dua.


Setelah memasuki usia kehamilan ke-16 minggu, gejala-gejala yang sering terjadi pada ibu hamil seperti morning sickness juga berangsur-angsur menghilang. Hal itu tentu membuat Arsyad lega, karena tidak lagi dibuat tersiksa setiap bangun di pagi hari. Biasanya Arsyad yang akan muntah-muntah di pagi hari, uniknya hanya di jam-jam tertentu. Sedangkan Kara yang mengandung, hanya sebatas sering merasa letih, mengantuk, dan kadang tidak berselera untuk makan.


Untung saja Arsyad sebagai suami senantiasa siaga. Pria itu selalu punya solusi jika sang istri sedang tidak mood, tidak berselera untuk makan, atau ketika mudah mengantuk. Arsyad bahkan tak segan-segan turun ke dapur untuk memasak agar sang istri mau makan. Bagaimana pun juga bayi mereka membutuhkan asupan nutrisi. Jika ibunya mogok makan, dari mana bayi mereka mendapatkan asupan nutrisi tersebut?


Arsyad juga cukup selektif sebagai suami dan calon ayah yang siaga. Sejak awal Arsyad memberikan edukasi pada asisten rumah tangga yang biasa bertugas untuk mengurusi makanan Kara, ada beberapa jenis makanan yang tidak dapat dimakan Kara secara berlebihan, ada pula dilarang karena diduga dapat menimbulkan efek berbahaya bagi bayi dalam kandungannya. Makanan-makanan tersebut di antaranya, ikan yang tinggi merkuri seperti ikan hiu, ikan makarel raja, ikan tuna bigeye, ikan todak atau pedang, dan ikan tuna sirip kuning. Beberapa jenis seafood yang lebih umum di Indonesia juga memiliki kadar merkuri cukup tinggi seperti udang, salmon, tuna, sarden, lele, ikan bilis, ikan nila (tilapia), dan ikan trout.


Ada pula sushi dan sashimi dengan ikan atau seafood mentah atau setengah matang, sushi dan sashimi seperti itu dapat membahayakan janin karena terkadang masih terdapat cacing parasit dalam daging. Selain itu, steak setengah matang, telur setengah matang, susu mentah, mayonise, caffeine, makanan cepat saji atau fast food juga masuk list makanan dilarang karena diduga dapat menimbulkan efek berbahaya.


Jika sedang luang, Arsyad sendiri yang akan memastikan kebutuhan sang istri terpenuhi dengan baik. Misalnya, Jika Kara sedang ingin sekali makan steak dengan mashed potato, Arsyad akan memastikan sendiri jika daging yang dijadikan steak matang sampai tingkat well done atau matang sempurna.


Arsyad tentunya selalu ingin memberikan yang terbaik bagi istri dan calon buah hatinya bahkan sejak masih di dalam kandungan. Salah satu upaya terpenting untuk meraih tujuan tersebut adalah dengan menjaga pilihan makanan sang istri setiap harinya.


“Sudah, sekarang waktunya tidur.”


Kara mengangguk seraya beringsut mendekat ke arah sang suami. Tidur dalam dekapan suami adalah posisi yang paling nyaman baginya. Arsyad tentu dengan senang hati membiarkan sang istri mencari posisi nyaman untuk tidur dengan lengan dan dada bidangnya sebagai bantalan dan sandaran.


Pria rupawan itu baru saja menyelesaikan surat Al-waqiah sesuai request-an sang istri. Surat Al-waqiah sendiri adalah surat kekayaan menurut hadist Rasulullah. Sekarang waktunya mereka tidur, agar sepertiga malam nanti bisa bangun untuk salah tahajud bersama.


“Cantik sekali,” lirih Arsyad saat mata miliknya menatap wajah sang istri yang sudah terlelap. Kara memang mudah tidur semenjak hamil. Arsyad sama sekali tak jemu-jemu memandangi wajah cantik sang istri yang selama ini setia menemani. Salah satu mahakarya Tuhan yang terindah yang pernah Arsyad lihat dan miliki.


Jika ada yang bertanya, secantik apa memang rupa sang istri jika diibaratkan? Maka Arsyad akan menjawab dengan mantap.


“Ka’amsalil-lu’lu’il maknun. Surat Al-Waqiah ayat dua tiga.”


Ya, seperti itulah cantiknya rupa sang istri bagi Arsyad. Ka’amsalil-lu’lu’il maknun. Laksana mutiara yang tersimpan baik.

__ADS_1


💐💐


“Bunda, Onty, ada yang bisa Kara bantu?”


Dua wanita paruh baya dan dua orang asisten rumah tangga yang tengah berkutat dengan berbagai peralatan dapur kontan menoleh saat mendengar suara tersebut.


“Kamu duduk saja, biar bunda yang masak.”


“Iya. Mendingan kamu duduk manis, kemudian jadi juri dadakan buat masakan kita hari ini,” sahut Lunar yang ikut buka suara.


“Tapi Kara mau ikut masak?” lirih Kara. Belakangan wanita muda itu memang suka kelihat kontan memasak di akun media sosialnya. Mulai dari kontak masak hingga makan dan mukbang berkonsef ASMR sering kali kala ditonton karena rasa penasaran.


Semenjak menikah dan menjadi seorang istri, Kara juga berusaha semaksimal mungkin menjadi istri yang baik. Dia belajar masak dan membuat kue dengan giat agar dapat menjamu lidah dan perut sang suami dengan baik. Kara juga mendapatkan kesempatan untuk belajar memasak dari chief senior yang bekerja di caffe dan resto milik ayah mertuanya.


Melihat menantunya yang tiba-tiba diam, tidak mengeluarkan suara sedikitpun, Aurra merasa tak enak hati. Semenjak kembali ke Indonesia, Aurra bisa melihat perubahan menantunya itu. Kara kini sudah menjadi wanita yang lebih dewasa. Dia sudah mahir membagi waktu untuk mengurus suami, pekerjaan, dan dirinya sendiri. Sekali pun terlahir dengan sendok emas di mulutnya, Kara tetap jadi pribadi yang low profile.


Sebagai seorang istri dan menantu dari sebuah keluarga, Kara menempatkan diri dengan baik. Dia bangun pagi, ikut turun ke dapur pasca salat subuh. Bergabung bersama mertua dan yang lain untuk menyiapkan sarapan. Terkadang Kara turun dengan setelan kantor dan tak segan menawarkan diri untuk membantu.


“Kara.”


“Ya, bunda?”


“Boleh bantu bunda mengaduk sup ini?”


Kara tentu saja mengangguk dengan antusias saat diberi kesempatan tersebut.


“Tolong diaduk pelan-pelan, ya. Bunda mau ke belakang sebentar.”


Aurra kemudian berlalu bersama dua asisten rumah tangga yang tadi membantu. Sebenarnya acara masak sudah hampir rampung, tinggal beberapa sentuhan akhir. Tinggal menunggu masakan terakhir matang dan disajikan di atas meja, kemudian menyusun alat makan.


Oleh karena itu, saat diberikan kesempatan untuk membantu, Kara senang sekali. Namun, kesenangan itu tidak bertahan lama karena tiba-tiba ada sepasang tangan yang membuatnya terkejut karena melingkari perutnya.


“Masak apa hm?”


“Yanda!” seru Kara yang terkejut karena ulah suaminya. “Bikin kaget aja.”


Pria rupawan itu tersenyum seraya mengecup pelipis sang istri. Dia lantas menggumakan kata ‘maaf’ pada istrinya.


“Yang mau jadi ayah sama bunda baru, romantis banget kayak pengantin baru,” goda Lunar yang kebetulan menjadi saksi bisu.


Arsyad yang digoda demikian hanya menyunggingkan senyum tipis. Pria itu melepaskan sang istri, kemudian membawa tangan kanannya bermukim di atas perut istrinya.


“As’salamualaikum, selamat pagi anak ayah. Bagaimana kabar kamu pagi ini?” sapanya.


“Waalaikum’salam, ayah. Kabar aku baik,” jawab Kara dengan suara yang dibuat seperti anak kecil.


“Alhamdulillah wa syukurillah. Ayah, bunda, kakek, nenek, oma, opa, onty, om dan yang lain sudah tidak sabar menunggu ke lahir kamu ke dunia ini.”

__ADS_1


“Sabar ya, ayah. Aku insya Allah akan lahir kurang-lebih enam bulan lagi.”


Jawaban Kara itu dijawab dengan senyuman oleh sang suami, Lunar dan juga Aurra yang baru kembali dan ikut mendengarkan. Cucu pertama mereka itu memang sangat dinantikan kelahirannya.


Siapa yang menyangka jika karena sebuah insiden salah masuk kamar di vila yang berlokasi di puncak Bogor, Arsyad menemukan belajan jiwanya. Tulang rusuknya. Pendamping yang mendampingi Arsyad dari nol. Dari suka maupun duka. Dari rintangan satu ke rintangan yang lainnya. Pernikahan yang sangat mendadak dan tidak mudah diterima sejak awal itu, siapa sangka awal dari bahagia yang sesungguhnya. Menjadi pelajaran juga edukasi bagi putra seorang Radityan untuk menjadi laki-laki yang bertanggung jawab, mengayomi, menyayangi dan mencintai setulus hati. Kehadiran buah cinta di antara mereka kemudian menjadi bukti. Bukti bahwa keduanya sudah saling mencintai sesuai takdir sang ilahi.


“Arsyad.”


Mendapati namanya dipanggil, Arsyad kontan menoleh. “Iya, opa?”


Saat ini para anggota keluarga Radityan tengah berkumpul di meja makan. mereka baru saja mengisi perut dengan racikan tangan anak dan menantu keluarga Radityan. Kursi-kursi yang tersedia tersisi semua, hanya satu anak Radityan bersama keluarganya yang tidak dapat ikut berkumpul, yaitu keluarga Keevanzar Radityan Al-faruq.


“Ada titipan dari kerabat kita yang ada di Turki,” ujar Arkan—selaku kepala keluarga di mansion Radityan. “Mereka mengucapkan selamat atas kehamilan anak pertama kamu dan Kara.”


Arsyad mengangguk. Dia memang tahu jika keluarga Radityan memiliki kerabat di Turki, karena ayah Arkia—nenek Arsyad—memang keturunan orang Turki. Bahkan dulu, opa dan oma nya sempat tinggal di Turki saat Anzar—kakak ayahnya Arsyad masih berusia sekitar 5 tahun. Saat mengandung Van’ar dan Lunar, opa dan oma nya juga masih berdomisili di Turki. Hingga saat ini, ikatan kekeluargaan masih terjalin dengan baik sekali pun mereka jarang bertemu.


“Mereka juga minta maaf karena berhalangan hadir. Lalu mereka juga menitipkan hadiah pada opa,” beritahu Arkan. “Ini, bukalah hadiah untuk kalian.”


Arsyad mengangguk seraya menerima kotak kecil dengan pita berwarna biru tersebut. Alih-alih membukanya sendiri, Arsyad memberikan hadiah tersebut pada sang istri agar dibuka. Saat dibuka, dalam kotak tersebut ada sebuah surat, dua buah tiket, logam mulia, dan sapu tangan berisi permen.


“Di Turki ada kebiasaan unik saat menyambut kelahiran seorang bayi,” kata Arkan. “Setelah melahirkan, seorang ibu yang baru pulang dari rumah sakit harus tinggal di rumah selama 20 hari. Selama itu berlangsung, keluarga dan kerabat dekat biasanya akan datang berkunjung. Uniknya lagi, para tamu harus dijamu dengan minuman yang biasa dikonsumsi oleh si ibu selama di rumah sakit. Sebagai tradisi, para tamu juga akan memberikan hadiah kepada bayi yang baru lahir berupa emas. Setelah masa karantina selama 20 hari, ibu dan bayinya akan mengunjungi rumah para tamu yang pernah datang menjenguk satu per satu. Nantinya, mereka akan menerima hadiah lagi berupa sapu tangan yang berisi permen atau telur.


Sapu tangan yang berisi permen melambangkan sebuah harapan agar bayi kelak menjadi sosok yang baik hati. Sementara sapu tangan yang berisi telur melambangkan do’a agar bayi tumbuh menjadi anak yang sehat dan kuat. Mungkin mereka mengirim hadiah itu juga sebagai bentuk dari harapan mereka untuk bayi kalian. Sekali pun bayi kalian masih dalam kandungan.”


Arsyad dan Kara mengangguk paham. Mereka tentu senang karena mendapatkan banyak curahan do’a untuk buah cinta pertama mereka.


“Sedangkan untuk tiket itu, mereka harap kalian datang untuk berkunjung jika memiliki waktu. Karena mereka tidak dapat datang ke sini.” Arkan kembali bersuara. “Itu pun jika kalian ada waktu.”


“Abang ada waktu kok,” sahut Aroon. “Belakangan ini kondisi perusahaan juga stabil. Pekerjaan abang juga masih bisa dihandle oleh yang lain jika abang hendak berlibur.”


“Nah, mantap itu. Tinggal berangkat aja, bang, mbak. Hitung-hitung baby moon,” celetuk Davian tak tinggal diam. “Kalau butuh keamanan, Dadav siap pasang badan.”


“Dadav baru pulang udah mau pergi lagi?” Lunar kontan menatap sang ibu dengan tajam.


“Eh, cuma menawarkan diri, ma,” ralat Davian seraya tersenyum kikuk.


“Jadi bagaimana Arsyad? Kalian mau pergi?” tanya Arkan memastikan. “Jika kalian memutuskan untuk pergi, opa akan konfirmasi ke pilot untuk siapkan pesawat.”


Arsyad tampak berpikir untuk sejenak. Liburan, baby moon, atau apalah itu, bisa juga jadi pertimbangan. Hitung-hitung healing guna menghilangkan pening. Ada suatu tempat juga yang ingin Arsyad datangi bersama sang istri di Negara tersebut. Namanya masjid Hagia Sophia. Salah satu keajaiban arsitektur yang ada di Istanbul, Turki. Bangunan yang memadukan mozaik khas era Bizantium dan kaligrafi dari masa Kesultanan Ottoman itu awalnya dibangun sebagai gereja pada abad ke-6, kemudian berubah fungsi menjadi masjid pada masa penaklukan Ottoman di Istanbul pada tahun 1453.


Diraihnya jemari sang istri yang bermukik di bawah meja, agar dapat dia genggam. Kara yang menerima perlakuan tersebut merasakan kehangatan menyergap hatinya.


“Arsyad mau bicarakan dulu dengan dokter kandungan Kara, opa. Bagaimana pun juga kondisi kesehatan Kara dan kandungannya adalah perioritas utama bagi Arsyad.”


💐💐


TBC

__ADS_1


Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author & share ❤️


Sukabumi 04/06/22


__ADS_2