Bukan Cinta Terencana (R3)

Bukan Cinta Terencana (R3)
. 77. Kara Cemburu


__ADS_3

📚. 77. Kara Cemburu


...[Part ini mengandung keuwuuuan yang bikin iri dengki. Hati-hati saat membaca]...



"Cemburu adalah hal lumrah jika apa yang menjadi milik kita, dengan terang-terangan disukai oleh yang lain."- Atmariani Karamina Ardiani


****


Musim akan silih berganti datang dan pergi. Begitu juga dalam musim pendidikan. Akan ada masanya datang dan pergi. Yang datang menjadi siswa-siswi baru, yang pergi menjadi para alumni. Hal itu juga berlaku bagi semua intansi pendidikan tak terkecuali SMA Dandelion. Musim ujian telah tiba.


Kelas XII mulai disibukkan dengan berbagai macam simulasi sebelum melaksanakan ujian. Belum lagi seperangkat praktek yang harus mereka ikuti pula. Semua itu dilakukan sebagai tahap akhir pengujian dalam masa putih abu. Sebelum mereka melanjutkan ke jenjang berikutnya.


"Ok, jadi kita kumpul dimana nih? Di rumah gue gak bisa. Bokap lagi sibuk meeting sama tim animatornya di rumah." Lelaki rupawan bermanik coklat itu bersuara.


"Di rumah gue juga gak bisa. Ada arisan nyokap."


"Gue juga gak bisa. Gak layak huni rumah gue."


Jawaban kedua lelaki tersebut membuat lelaki tadi memijit pangkal hidungnya. "Rumah bukan gak layak huni, tapi gak layak didatangi."


"Yeh, lo, Sen. Tahu aja kebangsat*n keluarga gue." Kekeh lelaki berambut cepak tersebut sambil garuk-garuk kepala.


"Jadi kita belajar dimana nih?" Arsen, lelaki rupawan itu kembali bertanya.


"Di rumah aku bisa." Ketiga lelaki itu kompak menoleh.


"Lah, lo kan tinggal di panti asuhan. Mana bìsa kita belajar bersama disana?"


"Iya. Bukan maksudnya nyinggung atau apa. Tapi, kalau adik-adik lo ganggu gimana?"


Gadis berhijab yang baru saja menyerukan suaranya itu menunduk dalam. "Maaf."


"Ngasih solusinya yang benerlah, Hum."


"Iya, maaf."


"Udah, udah." Arsen melerai. "Kita lebih baik belajar-"


"Dirumahku." Sebuah suara tiba-tiba menyela.


"Syad," dua lelaki yang duduk di samping Arsen langsung tersenyum senang.


"Iya. Ide brilian tuh. Rumah Arsyad gedè, strategis, gak brisik, plus wifi on time."


"Iya. Setuju deh gue, daebak banget idenya."


Arsen tersenyum kecut. "Dasar kampret." Lelaki rupawan itu lantas menatap sang sahabat lekat. "Gak papa memangnya, Syad?"


"Hm." Si empunya nama menjawab singkat. Sedari tadi ia memang sibuk dengan bahan-bahan soal simulasi yang telah di share di grup kelas.


"Ok, kalau gitu kita udah sepakat. Kita belajar di rumah Arsyad, selesai *** langsung on the way ke lokasi." Ujar Arsen mengambil kesimpulan.


"Ok, deal."


Untuk memudahkan pemantapan simulasi ujian, para guru juga membuat kelompok-kelompok belajar bersama. Tujuannya agar para siswa-siswi kelas XII tetap bisa belajar setelah simulasi di sekolah usai. Setiap kelompok di atur oleh guru-guru secara langsung, agar setiap anggotanya tidak pincang saat pembelajaran.


Sesuai dengan keputusan yang diambil saat musyawarah tadi, kelompok yang diketuai oleh Arsen itu langsung meluncur ke kediaman Radityan setelah *** usai. Satu kelompok terdiri dari 7 orang. 4 lelaki dan 3 perempuan. Kebetulan, dua perempuan di kelompok mereka tengah berhalangan hadir.


Jadi saat ini mereka hanya belajar bersama berlima. Mereka belajar dengan soal simulasi yang telah di share, di ruang belajar para cicit Radityan.


"Tunggu, tunggu. Ini suara apaan? Lembut banget kek suara Tingkerbell." Lucky, lelaki berambut cepak itu bersuara.


"Suara apaan?" Luhan, lelaki yang duduk di samping Lucky ikut buka suara.


Mereka memang bisa mendengar suara tuts-tuts piano yang berbunyi dengan indah, mengiringi suara emas milik seseorang.


"Suaranya Arra kali ya?" Lucky bermonolog.


"Arra gak ada di rumah. Dia belajar bersama di rumah Flora. Lupa?" Arsen menuturkan.


"Iya ya? Terus suara siapa dong?"


Mereka cukup terganggu dengan suara indah yang mengalun penuh irama, diiring dentingan tuts-tuts piano tersebut. Mereka menjadi tidak fokus di buatnya.


"Woah, peri njirr." Luhan berseru heboh, sambil menunjuk sebuah ruangan dari celah pintu ruang belajar yang terbuka lebar.


"Itu cewek beneran 'kan, bukan boneka?" Lucky ikutan bertanya. Ia juga terpukau akan sosok cantik yang berada di balik suara tuts-tuts piano dan suara merdu tersebut.


"Dia kayak bidadari." Puji Luhan.


"Iya, kayak-"


"Ekhem." Dehaman keras membuat keduanya menatapnya bingung.


Si empunya suara hanya diam dengan manik yang menatap tajam objek perbincangan mereka. Dia beranjak setelahnya, sambil menatap para sekawannya.


"Lanjut dulu, aku pergi sebentar." Ujarnya, dibalasi anggukan oleh ketiganya.


Lelaki rupawan itu berjalan dari keluar ruangan tersebut. Ia lantas menuju ke arah sumber suara lembut yang membuat salah fokus tersebut.

__ADS_1


"Yanda?" Si empunya suara menatap Arsyad penuh binar. Gadis itu nampak cantik dengan seragam almamater SMA Internasional yang populer di Jakarta.


Dia ditemani oleh seorang wanita berkacamata yang tengah memegang sebuah buku. Arsyad yakini jika buku tersebut merupakan buku panduan untuk seorang pianis.


"Yanda sudah pulang?"


"Hm."


"Kenapa belum ganti seragam? Kara sudah siapin baju ganti yanda di atas tempat tidur." Gadis itu berujar setelah ia berdiri tepat di hadapan sang suami. "Udah makan belum?"


"Belum."


"Kok belum sih? Tadi bunda masakin makan siang enak banget. Kara gak tahu namanya. Yanda makan dulu ya?"


Arsyad menyentuh pucuk kepala sang istri. "Sudah selesai lesnya?"


Kara mengangguk. "Barusan lagu terakhir. Miss. Anna juga sudah mau pulang."


Wanita berkacamata tadi mengangguk. Ia sudah menyangklong tas prada hitam miliknya.


"Sampai jumpa besok, nona muda."


"Sampai jumpa besok, miss." Jawab Kara sambil melambaikan tangannya.


Sepeninggalan guru les Kara, gadis itu kembali menatap sang suami.


"Masuk ke kamar."


"Eh?"


"Jangan keluar dari kamar."


"Tapi kenapa?" Bingung Kara, saat pertanyaan darinya belum dijawab, namun Arsyad sudah menuntunnya pergi ke lantai atas.


"Jangan kemana-mana. Mengerti?" Walaupun masih dilanda kebingungan, Kara tetap mengangguk.


Ia baru saja tiba di kamar mereka. Sikap sang suami yang tiba-tiba demikian, tentu membuat Kara bingung. Kenapa pula ia tidak boleh pergi ke mana-mana?


"Aku akan kembali."


Kara mengangguk, sambil menatap kepergian punggung tegap sang suami. "Yanda kenapa sih?" Pikirnya bingung.


📚📚📚


"Dimakan dulu, kak, bunda pesan suruh dihabisin katanya." Remaja tanggung itu menunjuk berbagai cemilan dan minuman segar yang tersaji di atas meja.


"Gak usah repot-repot Rion," Arsen bersuara. "Lagipula kita mau pulang kok."


"Makan, kalian pasti lapar." Arsyad bersuara. Lelaki itu baru saja mendudukan dirinya di dekat sang adik.


"Woalah, kalau gitu gue makan nih." Lucky bersuara. "Sayang makanan enak dianggurin, mubadzir."


Luhan tertawa kecil, " gue sih udah ngincer ini dari tadi." Ia mengambil sepotong pie bertaburan potongan buah segar di hadapannya.


"Sok malu-malu lo Syad, makan aja. Rumah calon mertua lo ini."


Si empunya nama menatap jengah Lucky. "Syad, gue makan nih. Kudapan manis buatan bunda Kia selalu enak soalnya." Ia mengambil sepotong brownis yang bertaburan kacang kismis.


"Tuh kan, manggilnya aja udah bunda. Auto resmi jadi menantu nih."


"Iya. Arsen jadi the next menantu Radityan." Imbuh Luhan. Keduanya tertawa girang setelahnya.


"Kurang asem memang." Kesal Arsen, si korban pembulian tersebut.


"Makan, jangan dilihatin terus." Arsyad mendorong sepiring cup cake ke hadapan Humaira.


Gadis berhijab itu nampak mendongrak, menatap bingung ke arah Arsyad. "Makan, jangan sungkan. Bunda buat semua ini untuk kalian, termasuk kamu."


"M-akasih." Humaira tersenyum kecil, membuat semburat merah muncul di kedua pipinya. Hal itu pula yang membuat ibu panti memberi nama dirinya Humaira. Bayi yatim piatu pemilik rona kemerah-merahan yang cantik.


"Duh, Humhum auto dinotice Arsyad." Luhan berbisik ke arah Lucky.


"Iya. Cocok juga sih. Sama-sama pinter sama taat agama." Timpal Lucky yang diangguki oleh Luhan.


"Kalau yang ini buat dibawa pulang." Arion membagikan satu persatu paper bag yang dibawanya.


"Wih, gak perlu repot-repot yon." Kekeh Lucky sambil memeluk paper bag pemberian Arion. "Gue demen tuan rumah yang kek gini."


"Sama. Perut keyang, hati senang, pulang diberi bekal." Timpal Luhan.


Arsen geleng-geleng kepala sendiri melihat kelakuan dua teman sekelasnya itu. Jiwa-jiwa missqueen mereka meronta-ronta, padahal Lucky dan Luhan tidak miskin-miskin amat.


"Eh," Humaira menatap tangan yang baru saja mengambil paper bag miliknya.


"Bawa yang ini juga, belum disentuh kok. Adik-adik kamu pasti suka." Humaira menatap lelaki rupawan yang tengah memasukan berbagai aneka makanan kedalam paper bag itu dengan lekat.


Inilah kenapa seorang Arsyad An-nass Senopati Az-zzioi disegani. Selain peringainya yang rupawan, karakteristiknya juga sangat peduli, tidak pernah membedakan kasta. Humaira juga sangat mengidolakan sosok Arsyad untuk menjadi calon pendampingnya kelak.


Tidak ada gadis manapun yang menolak jika diberi imam seperti sosok Arsyad.


Semua itu nyatanya tak luput dari pantauan sepasang manik hazelnut. Gadis cantìk berdress jingga itu nampak lekat menatap pemandangan di ruang tamu lewat tangga tempatnya berpijak.

__ADS_1


"Wah, angel!" Luhan berseru heboh.


"Mana?" Lucky penasaran.


"Tuh, barusan naik ke atas." Tunjuk luhan.


"Yang pake dress jingga bukan?"


"Iya."


Arsyad menoleh. Di rumah ini, tidak ada satu orang perempuan pun yang biasa memakai dress, kecuali istrinya. Barusan istrinya itu ada di tangga?


📚📚📚


"Ada apa?" Arsyad bertanya, saat baru memasuki kamarnya. "Kamu tadi turun ke bawah?"


"Kara haus." Jawab gadis berdress jingga yang tengah fokus melukis tersebut. Tangannya sibuk mengulaskan cat minyak di atas kanvas.


"Apa yang kamu lihat tadi-"


"Banyak," sela gadis cantik tersebut. "Banyak yang Kara lihat. Tolong lebih spesifik bertanyanya, yanda."


Arayad mendekàti sang istri, membawa kuas yang ada di tangan sang istri menjauh. "Jangan berdalih."


"Tapi tadi Kara-"


Cup!


Ucapan gadis itu terpotong Kara kecupan tiba-tiba jatuh di keningnya.


"Kamu berpikir yang tidak-tidak." Arsyad berujar sambil menyentuh bekas kecupannya.


"Kara bilang-"


Cup!


"Apa yang kamu lihat belum tentu benar." Ia mengecup pucuk hidung sang isti.


"Yanda, Kara tadi-"


Cup!


"Teruslah berkelit lidah, aku tahu kamu bohong." Kara tidak berniat berucap lagi, setelah Arsyad menjatuhkan satu kecupan singkat di bibirnya.


"Ada apa?"


"Kara cemburu. C-E-M-B-U-R-U."


"Cemburu, itu apa?" Arsyad bertanya.


"Kara gak suka yanda disukai cewek lain. Yanda baik sama cewek itu, dia nanti baper."


Bukannya menjawab, lelaki rupawan itu malah tertawa kecil. Tawa yang membuat sang istri tertegun.


"Kamu ternyata belum bisa membedakan yang mana cemburu dan egois hm?"


"Kara cemburu, bukan egois." Ketus gadis bermanik hazelnut tersebut.


"Dengar, cemburu dengan egois itu berbeda tipis. Wàjar jika kamu cemburu karena pasanganmu dekat dengan perempuan yang lain. Egois jika kamu marah saat pasangan kamu menolong seseorang atas dasar perikemanusiaan. Paham?"


"Tapi cewek itu kayaknya suka yanda deh?" Kara mengerucutkan bibirnya kesal.


"Memangnya kamu tidak suka aku?" Pancing Arsyad.


"Ish." Kesal Kara. Gadis itu lantas berhambur memeluk tubuh sang suami. Membenamkan wajahnya di dada bidang sang suami.


"Suka. Suka banget sampai gak rela jauh-jauh dari yanda."


Lelaki rupawan itu tersenyum, sambil membalas pelukan sang istri. "Lantas, kenapa harus khawatir? Aku milikmu, begitupun sebaliknya. Kita sudah menikah, tuhan yang telah menyatukan kita. Jangan buang-buang energi hanya karena prasangka yang tidak benar."


"Maaf, Kara egois." Lirih Kara.


Arsyad mengecup pucuk kepala sang istri lama. "Tidak apa-apa, itu berarti kamu sayang aku."


"Yanda ihh." Kesal Kara.


Lelaki rupawan itu tertawa kecil. "Itu fakta kok, gak papa." Karena pada dasarnya, hal-hal seperti itu akan silih berganti berdatangan untuk menguji ketahanan perasaan mereka satu sama lain.


****


TBC


Huahaha.... gak kuat sama keuwuuuan mereka. Kalau LDR-an lagi autò nangis bengèk😭😭


Yo.... yang rindu Yanda sm Kara absen dulu yuk? sekitar 2 atau 3 part lagi mereka bakal pindah ke NYC. Sudah siap pisah sama Acean? Arra? Arion? Aroon? Davin? bunda-panda Van'Ra? siapa???


Aku sih siap gak siap.


Ok, dukung terus novel Yanda Kara ini ya😀Jangan lupa like, vote, komentarrr, share dan follow Author. Bantu BCT banyak dikenal orang" yok👐


Sukabumi 07 Mei 2021

__ADS_1


__ADS_2