Bukan Cinta Terencana (R3)

Bukan Cinta Terencana (R3)
90. Adabtasi & Abrasi


__ADS_3


Adabtasi & Abrasi




“Seperti layaknya pasir di pesisir pantai, kepercayaan jika tidak dijaga akan terus tergerus seiring dengan berjalannya waktu.”—Atmariani Karamina Adriani


****


Hidup dilingkungan baru dengan norma, adat dan kebiasaan baru pastilah membutuhkan waktu untuk beradabtasi. Hal itu juga dirasakan oleh pasangan muda yang baru saja tinggal di negeri orang ini. Keduanya harus membiasakan diri dengan adabtasi kebiasaan baru. Mulai dari norma, adat, kebiasaan hingga hukum yang berlaku di tempat mereka tinggal.


“Yanda?”


Lelaki yang tengah menengteng paperbag belanjaan itu menoleh ke arah sang istri. Pegangan gadis itu di lengannya tiba-tiba semakin mengerat.


“M—ereka itu sedang apa?” cicit sang istri, sambil menunjuk sepasang manusia yang tengah memanggut bibir di sebuah gang sempit.


“Jangan dilihat.” Arsyad mengangkat sebelah tangannya, guna menutupi pandangan sang istri.


“Ayo jalan lagi.”


Kara mengangguk kecil. “Hal seperti itu lumrah di tempat ini. Mereka bisa melakukannya di manapun, tanpa harus terikat hukum apapun.” Tutur Arsyad menjelaskan.


“Tapi ingat, kita bukan orang barat. Kita besar dan dididik dengan budaya orang timur. Jangan lupakan hal itu dimanapun kamu menetap.”


Kara mengangguk paham. “Jadi, kemungkinan besarnya orang asing sekalipun bisa berbuat seperti itu seenak hati?”


Arsyad mengangguk. “Tapi tidak dengan kita.”


“…??”


“Karena hubungan kita sudah legal di mata hukum ataupun agama.” Imbuh Arsyad sambil tersenyum tipis. “Jadi, jangan berani-berani begitu dengan pria lain.”


“Mana Kara berani.” Jawab Kara cepat.


“Good grils.” Arsyad mengguyar pucuk kepala sang istri gemas. Istrinya ini, menggemaskan sekali. Mungkin jika saja Arsyad khilaf, pasti istrinya itu sudah habis ia gigit.


“Yanda?”


“Hm.”


“Kita masuk ke kampus besok ‘kan?”


“Hm. Besok adalah masa orientasi peserta didik baru.”


Kara mengangguk sambil mendudukan dirinya di samping sang suami. Mereka baru saja tiba di rumah setelah memberi beberapa barang dan kebutuhan. Mereka akan berkuliah di salah satu universitas ternama di dunia. Kara mengambil jurusan bussines dan faculty of Arts & Sciences. Sedangkan Arsyad sendiri jurusan bussines dan engineering yang utamanya dia ingin mempelajari tentang start-up.


Keesokan harinya, Kara dan Arsyad berangkat ke universitas menggunakan supir pribadi yang telah disiapkan oleh Tyoga. Mereka juga akan dikawal oleh dua bodyguard—lelaki dan perempuan yang menyamar menjadi mahasiswa semester 2. Jalan yang mereka tempuh cukup jauh untuk sampai ke Universitas. Di universitas tersebut, Anzar juga pernah mengenyam pendidikan.


“Universitasnya bagus.” Ujar Kara terpukau.



Bangunan utama yang berwarna merah bata, menjadi penyambut mereka. Nama universitas tersebut juga terpangpang nyata sebelum mereka memasuki gerbang. Pohon-pohon yang daunnya rimbun juga terawat dan tertata dengan apik.


“Yanda,”


“Hm.”

__ADS_1


“Apa ruangan kita terpisah?”


“Tidak. Jika sudah pembagian jurisan mungkin iya.” Arsyad melirik sekilingnya teliti.


Banyak calon mahasiswa baru dari berbagai ras dan berbagai Negara. Mereka juga berbicara dengan berbagai gaya dan bahasa.


“Jangan takut, ok. Kita harus bersosialisai agar mudah beradabtasi.”


Kara mengangguk. Bersosialisasi dan beradabtasi mungkin cenderung lebih mudah dilakukan oleh Arsyad ketimbang dirinya. Toh, sedari datang ke tempat inipun Arsyad sudah seperti gula yang dikerubungi semut. Beberapa gadis bule tampak menunjukan ketertarikannya tanpa malu. Mereka bahkan menyangka jika Kara adalah saudari Arsyad. Lelaki itu hanya tersenyum tipis sambil menjawab, “She’s mine.”


Para kaum Adam juga tidak kalah banyak yang melirik Kara. Gadis cantik berparas Asia itu tampak mencolok. Dengan segala daya pikat dan sipat pemalunya, para kaum Adam yang mayoritas dari benua Eropa begitu tertarik kepada keayuan gadis tersebut. Tubuh mungilnya terbungkus oleh dress selutut yang dilapisi oleh mantel berwarna pastel. Pakaian juga aksesoris yang dikenakannya sederhana, namun semuanya terbuat dari bahan premium. Bahkan tas mungil yang dia bawa saja, keluaran rumah mode ternama asal Perancis.


Beberapa kali ada lelaki asing yang mengajak Kara berkenalan. Gadis itu hanya tersenyum kecil sambil mengangguk, tanpa meng-iyakan. Sang suami juga selalu siaga di sisinya.


“Capek ya?”


“Hm.”


Pukul delapan malam waktu setempat, mereka baru bisa sampai rumah. Setelah mandi, salat dan makan malam, mereka baru benar-benar bisa beristirahat. Hari pertama di universitas sangat melelahkan. Hal itu juga mereka rasakan.


“Yanda cape banget ya, mau Kara pijitin?” Gadis yang tengah berbaring berbantalkan lengan sang suami itu berinisiatif bertanya.


Arsyad tersenyum kecil, sambil menggeleng. “Kamu juga pasti lelah.”


“Kara gak sebanding sama yanda. Kara ambilin suplemen dulu, biar yanda enakan besok. Mau?”


“Tidak perlu. Stay here.” Lelaki itu mengganti posisinya, agar dapat memeluk sang istri.


“Handphone yanda dari tadi bunyi terus. Gak mau di angkat?”


“Hm.” Lelaki itu merespon tanpa bergerak.


“Dari siapa? Bunda bukan?”


Kara mengangguk, seraya mengubah posisinya agar bisa balik memeluk sang suami. “Suami Kara popular, ya.” Ucapnya, sambil mengamati wajah rupawan yang tersaji di hadapannya. Pahatan sempurna itu tampak berkali-kali lipat lebih tampan saat di lihat dari jarak dekat begini.


“Hm. Tapi aku sudah beristri.”


“Beristri bukan berarti tidak bisa berpindah ke lain hati. Manusia itu tempatnya khilaf dan dosa. Syetan ada untuk merealisasikan hal tersebut.”


Arsyad menyunggingkan senyum tipisnya, tanpa membuka mata. “Tapi aku sudah terlanjur tidak bisa berpaling darimu.”


Kara tersenyum lebar mendengarnya. “Sungguh?”


“Hm. Apa perlu kubuktikan?” Gadis itu menggeleng samar.


“Kara percaya kok.”


“Good wife.” Jawab Arsyad sambil menjatuhkan satu kecupan di kening sang istri. “Sleep, wife. Besok kita harus bangun pagi.”


Kara mengangguk sambil memejamkan matanya. Hari ini mereka kelelahan akan adabtasi dengan lingkungan baru. Namun, satu yang gadis itu syukuri. Semua ini dia lewati bersama lelaki yang membuat hari-harinya lebih mudah. “Have a nice dream, yanda.”


📚📚📚


Beda belahan Negara, beda berita. Seorang lelaki rupawan tampak tengah dibanjiri peluh sambil menggerakan tubuhnya naik turun. Beberapa kali erangan terdengar dari arahnya, menahan bobot tubuhnya sendiri.


“Faster…. Faster….” Ujar suara yang membuat semangatnya kian meningkat untuk menggerakan tubuhnya.


“Faster Ge… faster…”


“Shit!” Lelaki rupawan itu mengumpat kecil, saat tubuhnya ambruk tak kuat lagi untuk bergerak.

__ADS_1


“Ck, baru juga 45 menit udah tumbang.” Ujar suara lembut yang datang bersamaan dengan sapuan lembut di bahu telanjangnya.


“Capek…”


“Masa sih? Cemen banget.” Mendapat sindiran tersebut, lelaki itu melotot marah.


“Push up 125 kali itu gak sedikit, Aunty.” Protesnya sambil beranjak.


“Itu mah sedikit, baby. Nathan bisa lebih dari itu.”


Lelaki muda itu berdecak. “ Kalau abang, beda lagi ceritanya.” Dia beranjak menuju tempatnya menyimpan air.


Sambil menenggak air mineral, dia menatap langit Aachen yang mulai disinari cahaya sang mentari. Dari tempatnya saat ini berdiri, dia bisa melihat semburat cahaya sang mentari yang cantik.


“Kamu sudah lolos test dengan hasil yang mendekati kata sempurna, good job.” Puji wanita yang sedari tadi berlalu-lalang hanya dengan kostum bra sport dan legging sport keluaran brand nike. Kaki jenjangnya juga terbaluk oleh Athletic sneekers berwarna senada dengan outfitnya.


“Aunty kapan pulang ke NYC?”


“Kenapa? Kamu usir aku?” Lelaki itu mengangguk samar.


“Aunty bikin aku pusing tujuh keliling.”


“Ish, dasar keponakan laknat!” Kesal wanita cantik itu. “Dan lagi, don’t cal me aunty, Algean.”


“Ok.” Jawab si empunya nama acuh, sambil beranjak meninggalkan area gym.


“Mau kemana kamu?”


“Telpon calon istri. Rindu, ingin bertemu.”


“Cih, bucin kayak bapak sama abangnya.” Decak wanita cantik tersebut sambil menghidupkan treadmill.


Sedangkan lelaki rupawan tadi, memilih mengambil handpone miliknya yang dia simpan di kamar. Saat dia menyalakan benda tersebut, ada dua panggilan tak terjawab dari kontak bernama ‘My zaujatii’ tersebut. Dengan segera dia menelpon balik, berharap jika sang pujaan hati belum benar-benar masuk ke alam mimpi di seberang sana.


“Hallo, Assalamualikum.” Ujar suara di sebrang, pelan khas orang yang baru saja bangun tidur atau terbangun karena terpaksa.


Senyum lelaki itu terbit. Dia lantas beranjak, berjalan menuju balkon. “Waalaikumsalam, ya zaujatii.”


Gean tersenyum kecil setelahnya. Dia bisa membayangkan jika wajah ayu di sebrang sana tengah tersipu. Ah, dia menjadi rindu sosok yang terpaut ruang, waktu dan jarak dengannya tersebut.


“Hallo, Cheri. Apa kabar di negeri ratu Elizabeth sana? Sudahkah rindu pada pria yang mencintaimu setengah mati ini?”


Tidak ada jawaban dari sebrang sana. Gean tahu, sebentar lagi kekasih hatinya itu pasti akan mengejeknya.


“Dasar pemulung!”


Tuh kan. Benar apa yang Gean bilang. Pemulung—alias perayu ulung adalah ejekan andalan sang kekasih hati. Namun bagi Gean, itu adalah panggilan sayang yang teramat berarti baginya.


“Pemulung ini rindu. Tidakkah kamu merasakannya, Cheri? Jaga mata, hati, rindu, juga pikiranmu hanya untukku. Jangan sampai perasaan itu tergerus sedikitpun sampai tiba waktunya mekar.” Ujarnya mengingatkan.


Menjalani hubungan jauh tidaklah mudah. Kepercayaan akan senantiasa menjadi ancaman juga peluang. Perasaan itu harus tetap terjaga, jangan sampai seperti bibir pantai yang tergerus oleh ombak seiring dengan lamanya waktu berjalan. Oleh karena itu, kepercayaan patut dijaga dan direboisasi setiap waktu, ibarat tumbuhan agar selalu bisa hijau, tumbuh, berkembang dengan subur.


****


...TBC...


...BCT Update guys?! Absen dulu yuk…. Mana nih suaranya?...


...Ok, Jadi jangan lupa like, vote, komentar, share dan follow Author. Maaf baru bisa update sekarang(...


...Semoga Readers selalu setia & sabar menunggu ya(...

__ADS_1


...Sukabumi 28 Juni 2021...


__ADS_2