Bukan Cinta Terencana (R3)

Bukan Cinta Terencana (R3)
.16-Jadi Bagaimana?


__ADS_3

📚.16-Jadi Bagaimana?



“Kepada apa pun yang terhidang di hadapan, itu adalah sebuah kenyataan.” – ** Habibie


****


Hati seorang ibu memang tiada tolak ukurnya. Pastilah semua itu sudah pasti dalam penjabaranya. Wanita berhati mulia ini-memang sudah khodratnya memiliki hati berlipat lipat penuh dengan kasihsayang terlebih lagi soal buah hatinya sendiri. Sesukar apapun buah hatinya memupuk luka,hati ibu akan mudah luluh kembali jika melihat putranya berada dalam keadaan yang tidak baik baik saja.


"Siapa namamu sayang?" Tanya Aurra,setelah pelukanya dengan sang putra terlepas.


Semua mata kini menoleh kearah sigadis yang ditanya. Gadis itu tidak menunjukkan tanda tanda akan merespon. Wajahnya masih tersembunyi dibalik tunduknya kepala gadis tersebut. Tanganya masih meremas remas ujung terusan yang digunakanya. Tanganya gemetar,walaupun samar karena gerakan tanganya sendiri. Pelipisnya mulai dibanjiri peluh dingin.


"Hey,sayang?" Panggil Tyoga was was.


"Kara,dengar. Ini papih sayang?" Panggil Tyoga sambil berlutut dihadapan sang putri yang nafasnya mulai tersenggal-senggal.


"Tarik nafas yang teratur sayang. Ini papih,dia bundanya Arsyad. Bukan wanita itu,lihat. Dia bukan wanita itu sayang." Tyoga berusaha membuat sang putri tenang.


Jika sudah begini,bisa dipastikan jika pasti fhobia yang dialami putrinya itu kembali kambuh.


"D-ia kenapa bang?" Bingung Aurra.


"Bunda,Kara-"


"Bunda," Panggil sang suami.


Aurra menoleh,menatap kearah sang suami bingung. "Ada apa mas?"


"Bisa mendekat kesini?" Aurra mengangguk,lalu melangkah kearah sang suami.


"Kara,hey?" Panggil Tyoga sambil mengusap tangan sang putri risau.


"Ini Papih sayang. Papih?" Panggilnya berulang kali.


"P-paih?" Panggil suàra lirih Kara serak.


"Iya,ini Papih sayang."


Upaya yang selalu Tyoga lakukan sebagai penanganan utama adalah menenangkan putrinya,saat fhobia yang dialami putrinya itu kambuh. Kara akan sulit nernafas,diiringi dengan kecemasan berlebihan yang membuat tubuhnya bergetar dan dibanjiri peluh dingin. Disaat seperti ini,kinerja jantung juga akan bekerja dua kali lipat. Ini juga yang bisa menyebabkan bahaya dan menimbulkan kematian jika tidak ditangani dengan benar.


"P-apih?" Lirih Kara serak.


Tyoga bergerak-pria baya itu langsung membawa putrinya kedalam pelukanya. Memberikan ketengan agar tubuh mungil itu bisa melawan ketakutanya. Ini sudah 17 tahun berlalu,dan putrinya masih tersiksa oleh trauma puluhan tahun lalu.


"Tarik nafas yang teratur sayang. Papih ada disini,ada disini. Memelukmu." Ujar Tyoga menenagkan.


Putrinya itu tak lagi pernah kambuh,dua tahun belakangan ini. Tyoga malah lega saat melihat putrinya bisa hidup normal seperti manusia pada umumnya. Namun,kali ini fhobia menyiksa itu kembali menghampiri putranya.


"Kara?"


"Kara,sayang?"


"Nak,Atmariani Karamina? Sayang?" Panggil Tyoga saat tidak ada respon dari sang putri.


Arsyad beringsut,merendahkan posisinya lalu mengechek denyut nadi istrinya.


"Denyut nadinya terlalu lemah." Ungkapnya.


"Kara pingsan." Ujar Tyoga sambil membopong tubuh mungil putrinya.


Aurra tambah risau saat melihat gadis yang berstatus sebagai istri putranya itu pingsan. Keadaanya hampir seperti gejala yang dialaminya jika gangguan jantung yang dulu diidapnya kambuh. Melihat dengan mata kepalanya sendiri kesulitan Kàra,hati Aurra terenyuh. Ternyata ada lagi gadis yang hampir mirip dengan apa yang dideritanya dulu.


"Dimana kamarmu?" Tanya Tyoga.


"Diatas."


"Tunjukkan." Titah Tyoga yang langsung diangguki patuh oleh Arsyad.


"Dia sakit apa mas?" Tanya Aurra.


"Vestifobia."

__ADS_1


"Vestifobia,apa itu mas?"


"Ketakutan irasional terhadap pakaian. Seseorang yang menderita kondisi ini, bisa mengalami kecemasan yang amat tinggi hanya dengan memikirkan pakaian, apalagi jika sampai mengenakannya."


"Salah satu gangguan kecemasan?"


"Kamu tahu dek?"


"Aku sempat mempelajari tentang spesialis jiwa. Mas sendiri?"


"Aku dulu ambil jurusan psikolog,bumu ingat." Jawab Van'ar yang langsung membuat sang istri tersenyum tipis dibalik hijabnya.


"Aku lupa mas," Van'ar mengangguk tipis sebagai respon.


"Kita keatas. Ada yang harus dibicarakan dengan Pak Tyoga."


"Pak Tyoga?"


"Hm. Besan kita." Aurra mengangguk. Nama tersebut agaknya tidak terlalu familiar ditelinganya. Dia seperti sering mendengarnya,tapi entah dimana.


"Bagaimana kondisinya?"


"Lebih baik. Tapi adalah salah satu respon paling buruk dua tahun belakangan ini." Ungkap Tyoga.


"Jadi,dua tahun belakangan ini Kara tidak pernah kambuh?"


"Ya. Hampir tidak pernah."


"Apa itu karena aku?" Semua mata menoleh kearah suara tersebut.


"Bukan begitu." Tyoga meluruskan. "Kara cuma belum bisa menghandle kecemasan juga ketakutanya sendiri. Trauma dimasalalu telah melukainya hingga sedalam ini."


Van'ar,Aurra,dan Arsyad terdiam sejenak. Kondisi Kara ini memang membutuhkan penangan yang cukup rumit. Terlebih lagi fhobia yang dideritanya tergolong aneh.


"Jadi bagaimana solusinya?" Arsyad angkat bicara.


"Apa fhobia itu tidak bisa disembuhkan?" lanjutnya.


"Maksudnya?"


"Ini masalah mental. Cara terbaik adalah membuat Kara bisa melawan ketakutanya sendiri. Tapi sampai saat ini,itu belum bisa tercapai."


"Jadi bagaimana? Apa Kara akan terus begini jika melihatku mas?" Tanya Aurra kepada sang suami.


"Dek,jangan berpikiran begitu." Lerai sang suami.


"Ini bukan salah anda atau siapapun. Kara juga akan bisa menerima jika terbiasa dengan lingkungan barunya. Disini Arsyad yang akan berperan besar."


Arsyad menoleh kearah Tyoga. Itu memang benar,karena Kara sekarang adalah tanggunjawabnya sekarang.


"Kara tanggungjawabmu sekarang. Sudah menjadi tugasmu untuk membuatnya nyaman dengan lingkungan baru yang dia tinggali."


Ucapan mertuanya itu memang benar adanya. Bagaimanapun juga kini Kara adalah tanggungjawabnya. Prioritas yang akan menjadi bagian utama dalam kehidupanya. Belum lagi masalah pendidikanya yang terancam putus ditengah jalan. Tapi kini,yang paling utama adalah tentang kenyamanan sang istri-Atmariani Karamaina Adriani.


📚📚📚


"Hey,sudah bangun?"


Gadis yang baru saja terjaga dari tidurnya itu langsung terduduk diatas tempat tidur. Mata hazelnutnya langsung beredar kesekeliling ruangan,dirasa tempat itu familiar bagi pandanganya.


"Minum dulu,kamu pasti haus?" Tawar lelaki tampan bersarung hitam tersebut.


Kara menerimanya dalam diam. Tenggorokanya memang terasa kering. Saking keringnya dia sampai enggan bersuara.


"Kenapa,kamu butuh sesuatu?" Tanya Arsyad mencoba sepengertian mungkin.


"P-apih dimana?" Cicitnya kecil.


"Dikamar sebelah."


"A-ku mau bertemu papih?"


"Besok." Gadia itu mendongrak,hendak menolak. Akan tetapi sudah disela oleh suara bariton Arsyad. "Ini sudah malam. Tengah malam."

__ADS_1


Kara melirik jam dinding dibelakang Arsyad. Pukul setengah satu dini hari,memang sudah tengah malam lewat. Tapi,kenapa juga lelaki dihadapanya masih terjaga.


"Tidurlah lagi. Besok kamu bisa bertemu ayahmu." Ujar Arsyad sambil membenahi alat salatnya.


"Ini kamar kamu?"


"Hm"


"Kamu tidur disini?"


"Hm"


"Sama Kara?"


"Hm-ekhem. A-ku tidur disofa,kamu ditempat tidur." Ralat Arsyad yang tadi kelepasan.


"Kamu habis ngapain?"


Untuk ukuran gadis-Kara ini ini memang termasuk golongan yang banyak bicara walaupun pendiam. Dia lebih banyak diam,tapi jika suda bicara pasti akan berkesinambungan.


"Salat."


"Malam malam?"


"Hm"


"Kenapa?"


"Beribadah kepada tuhan tidak perlu alasan Kara." Jawab Arsyad sambil menyimpan peci yang tadi membungkus kepalanýa.


"Tidurlah,kamu harus istirahat yang cukup." Arsyad dengan telaten membenahi selimut dan bantal tambahan untuknya tidur.


Tetapi sebelum itu,maniknya beralih menatap sang istri. Sosok yang kini mengisì wilayah teritorialnya. Sosok yang masih begitu baru menginpasi kehidupanya.


"Tidur,ini sudah malam." Arsyad membiarkan gadis dihadapanya itu untuk kembali tertidur.


Kara menurut tanpa protes. Dia langsung kembali berbaring,sambil menatap Arsyad lekat.


"Jangan lupa baca doa." Ingatkan Arsyad,sambil menaikan selimut yang Kara gunakan hingga sebatas dada.


Kara tak tahu bagaimana,tetapi suara bariton yang belum 24 jam tepat itu dikenalnya,sangatlah mudah membuatnya tenang. Selain Papihnya,mang Usep dan istrinya-Kara ini jarang sekali percaya pada seseorang. Sedangkan dengan Arsyad-entah apa yang dilakukan lelakin tersebut. Yang pasti,Kara-bisa beradabtasi dengan mudah akan keberadaan Arsyad dikehidupanya.


"Selamat malam,ya Zaujatii." Ujar Arsyad lirih,sambil menyentuh pucuk kepala Kara.


Seperkian detik bertahan dalam posisi tersebut,sebelum beralih dan beranjak. Kembali kesofa didekat televisi,yang malam ini akan menjadi tempatnya mengistirahatkan diri. Walaupun masih terasa asing dan awam,semua ini benar benar realita. Dalam jangka yang tidak terpikirkan sekalipun olehnya,satusnya telah berubah.


Entah bagaimana esok ia akan menghadapi diri. Yang pasti,besok semuanya akan terasa lebih berbeda. Ada yang akan dilepaskan olehnya besok,ada juga yang harus diperkenalkan olehnya besok. Jadi bagaimana Arsyad merenungi segalanya esok hari?


Maka,ketika belinggu pelik melilit dirinya. Mengadu kepada yang maha kuasa adalah yang utama. Mendekatkan diri dan senantiasa meminta percerahan untuk jalan yang diridhoi oleh-Nya. Karena menurut beberapa hadist sahih,salat disepertiga malam adalah salah satu jalan yang paling apdol ketika ingin mendekatkan diri kepada sang maha kuasa.


"Doa disaat tahajud,bagaikan anak panah yang melesat tepat mengenai sasaran."


-Imam Asy-syafei-


*****


TBC


Holla,met malam Readers???


BCT update lagi nih^^


Ayoo,yang mulai bapèr cung??


Ada yang mau dipanggil ya Zaujatii (Duhai istriku) juga sama babang Arsyad😉😉


Yang mau cungg^^


Ok,jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya biar aku makin cemungutt updatenya. Maaf kalau banyak typo yang masih bertebaran^^



Sukabumi 24 Okt 2020

__ADS_1


__ADS_2