Bukan Cinta Terencana (R3)

Bukan Cinta Terencana (R3)
.70. Perihal Nafkah yang Rumit


__ADS_3

📚.70. Perihal Nafkah yang Rumit


"Ada dua hal yang menjadi nafkan untuk seorang istri. Lahiriah dan Batiniah. Dan untuk kondisi saat ini, perihal nafkah yang satu itu menjadi lebih rumit."-Arsyad An-nass Senopati Az-zzioi


****


"Kara, apa kamu haus? Atau, kamu membutuhkan sesuatu?"


"Tidak yanda. Kara tidak mau apapun."


Arsyad mengangguk. Lantas dengan pelan, dia merah sisi kepala sang istri untuk dibawa kedalam dada bidangnya. Ia tahu, sejak dalam pesawat, istrinya itu menjadi lebih pendiam karena cemas.


"Tidurlah. Kamu pasti lelah."


"Hm."


Cup


"Sleep, Kara." Ujar Arsyad lirih, sambil mengecup pucuk kepala sang istri.


Gadis cantik tersebut mengangguk samar. Sejak menginjakkan kakinya di negeri sakura tersebut, pikirannya memang terganggu oleh banyak hal. Terutama soal salah satu kebiasaan sang kakek yang suka mengintimidasi. Datangnya lelaki tua itu ke Indonesia, sudah Kara pastikan jika lelaki tua itu tengah mengincar sesuatu.


Kara tidak bodoh. Dia sudah belajar dari pengalaman. Jangan lupakan jika ia sama halnya seperti mawar merah yang cantik, tapi berduri. Ia patut waspada akan segala kemungkinan yang bisa saja terjadi nanti.


Untuk saat ini, biarlah ìa terlelap dalam pelukan dada bidang sang suami. Tempat ternyaman kedua setelah pelukan sang papih. Sosok yang setidaknya bisa ia andalkan untuk saat ini.


"Kara?"


"Hm."


"Kita sudah sampai."


"Hm."


Gadis cantik tersebut membalas lirih, namun masih enggan membuka matanya.


Melihat itu, Arsyad tersenyum tipis. Ia tahu jika sang istri enggan datang ketempat ini. Walaupun begitu, sekarang mereka sudah ada disini. Semua keengganan itu tentu harus dihadapi.


"Ayo, kakekmu menunggu." Ujarnya, sambil mengelus tulang pipi sang istri.


"Gendong."


Lelaki rupawan tersebut mengangguk kecil. Toh, bukan perkara sulit baginya untuk menggendong sang istri yang beratnya seringan bulu.


"Ayo, tuan putri."


Kara tersenyum sumringah, saat merasakan tubuhnya melayang diudara. Maka dengan segera, ia mengalungkan kedua tanganya dileher sang suami.


"Ayo." Ujar Kara dalam aksen jepang.


Keduanya saling melempar senyum, sebelum berlalu. Didepan gerbang, terdapat 4 orang pria berpakaian tradisional jepang. Berbeda sekali dengan para oyabun yang dikirim untuk mengawal keduanya.


Ketika memasuki bangunan tradisional tersebut, mereka tentu langsung disambut oleh hunian khas tradisional jepang. Lengkap dengan para oyabun yang mengenakan pakaian tradisional jepang.


Pakaian tradisional Jepang sangat kental dengan kebudayaannya. Bahkan, sangat melekat dalam sejarah Jepang sendiri. Salah satu pakaian yang paling kuno adalah kimono. Kimono sendiri digunakan oleh pria dan wanita. "Kimono" berarti sebuah kata dalam bahasa Jepang yang artinya "pakaian". Orang Jepang sendiri pada zaman purba menggunakan pakaian yang dibuat dari kulit hewan hasil buruan mereka.


Bahkan, pembuatan mode pakaian juga dibedakan berdasarkan sistem kelas. Kaum bangsawan menggunakan baju berlapis dengan gaya busana indah yang disebut "junihitoe", yang memiliki paduan warna dari dua belas lapis pakaian. Berbeda dengan rakyat biasa. Mereka harus cukup puas menggunakan pakaian dari kain linen, dengan gaya busana "kosode."


Sebagian dari mereka juga mengenakan Hakama. Hakama merupakan baju tradisional Jepang hasil adaptasi dari kostum imperial China atau kerajaan China lama. Pada masa lalu, Hakama dimanfaatkan oleh samurai. Hakama yang memiliki panjang hingga mata kaki dapat mengecoh pandangan mata lawan ketika bertarung.


Seiring perkembangan zaman, mulai bisa membuat baju dari kain. Akan tetapi, banyak juga dari masyarakatnya yang masih melestàrikan peninggalan leluhur mereka tersebut.


"Nona muda, mari lewat sini." Enzo buka suara, sambil memimpin jalan.


"Tenang saja hm?" Ujar Arsyad, dirasa sang istri mulai tidak nyaman ditempatnya.


"Hm."


Enzo benar-benar membawa keduanya untuk bertemu kakek Kara. Pria jepang tersebut tidak membiarkan keduanya beristirahat barang sedikitpun, walaupun baru tiba di Jepang.


"Mari," ujar Enzo, sambil membuka pintu khas interior tradisional jepang yang terbuat dari kayu tersebut.


Hunian kakek Kara itu tentu sangat luas. Hampir satu komplek berdiri didalam lingkup tanah yang diberi pembatas dingding cukup tinggi tersebut. Didalamnya, terbagi kedalam beberapa bagian bangunan beserta fungsinya. Pohon persik dan sakura yang tengah bermekaran juga nampak mengisi beberapa lahan kosong.


"Dimana kakek?" Tanya Kara.

__ADS_1


Enzo menoleh, karena pada akhirnya sang nona muda mau berbicara kepadanya.


"Ada didalam nona."


Kara mengangguk lirih. Bukan hanya satu pintu melainkan beberapa pintu yang harus mereka lewati. Baru dipintu ke-7, mereka dihadapkan dengan seorang pria tua berkimono hitam dengan kain terbaik, duduk dengan penuh wibawa di depan dingding berhiaskan lukisan bambu yang cukup populer.


Kara memberi sang suami intruksi untuk menurunkannya. Enzo juga sudah memberi hormat saat menghadap kepada pria tua yang penuh wibawa tersebut.


"Sakura-chan?" Suara pria tua itu terdengar.


Gurat wajah tuanya tidak mengurangi etensi ketegasannya. Wajah oriental khas Jepangnya, nampak datar namun berangsur-angsur normal.


"Mendekatlah, Sakura-chan."


Kara tahu dengan pasti jika nama tersebut adalah nama yang tersemat untuk dirinya. Sakura merupakan nama bunga yang identik dengan negeri ini. Nama yang memiliki sejuta filosopi tersebut disematkan kepadanya, karena ia lahir pada hari anak perempuan yang sering disebut Hina Matsuri diperingati pada tanggal 03 Maret. Nama sakura juga berarti "Bunga ceri" karena bunga tersebut banyak tumbuh dan bermekaran di sekitar tempat tinggal almarhumah ibu Kara.


"Mendekatlah." Ujar pria tua itu lagi.


Kara masih enggan bergerak. Aura di ruangan tersebut terasa mulai mencekam. Di sisi kanan dan kiri tempat kakeknya duduk, berdiri patung berjirah besi dengan samurai panjang ditangannya. Pemandangan tersebut terasa begitu kontras dengan latar belakang sang kakek.


"Ayo, mendekatlah." Ujar Arsyad.


"Yanda, Kara-"


"Sakura-chan, mendekatlah." Enzo menyela, sambil menunjuk tempat dihadapan sang kakek.


Terdengar helaan nafas gusar, sebelum gadis itu menjawab. "Baiklah."


Setelah berkata demikian, Kara berjalan menuju tempat sang kakek. Mendudukan dirinya dihadapan pria tua tersebut, sesuai adab orang jepang ketika duduk berhadapan dengan yang lebih tua. Puluhan tahun telah berlalu, tetapi ia bisa ingat dengan betul jika dulu ia pernah singgah ke tempat ini.


"Ada apa, kakek?" Tanya Kara to the point.


"Kamu sudah besar, Sakura. Wajahmu mirip sekali dengan ibumu." Ujar pria tua tersebut, sambil menatap cucu satu-satunya tersebut.


"Kakek mau apa?" Tanya Kara tidak mau basa-basi.


"Kenapa? Kamu tidak suka jika kakek ingin kamu berkunjung?"


"Tidak. Kara tidak mau bertemu kakek."


"Kakek sudah bunuh mamih Kara!" Hardik Kara.


Arsyad yang berdiri tidak jauh dari Kara, agaknya bisa menangkap perubahan mood sang istri. Walaupun keduanya bicara dalam bahasa Jepang, ia bisa menangkap sedikit dari maksud pembicaraan keduanya.


Pria tua itu menghembuskan nafasnya gusar, sebelum menyodorkan sebuah dokumen bertandatangan.


"80% saham yang aku wariskan untuk ibumu, beralih nama menjadi milikmu sejak kamu baru berusia 3 hari." Hitake Wataya kembali buka suara.


"Ketika usiamu genap berusia 17 tahun, semua peninggalan itu akan beralih kepadamu. Kakek sudah tua, sudah waktunya kamu yang mengambil alih."


"Maksud kakek?"


"Menetaplah di Osaka."


Deg


Kara membulatkan matanya refleks. Menetap di Osaka? Jangankan untuk menetap, barang menginap sehari saja ia sudah enggan.


"Tidak mau. Kara mau tinggal sama Papih dan yanda di Indonesia. Kakek tidak boleh egois."


"Disana berbahaya."


"Kakek lebih bahaya!" Jawab Kara.


"Sakura-chan?" Lerai Enzo.


Hitake Wataya mengangkat tangannya. Mengintruksikan kepada sang tangan kanan untuk diam saja.


"Kakek tidak bisa menjaga mamih. Apa kakek bisa jaga Kara?"


"...."


"Kakek yang membunuh mamih secara tidak langsung. Apa kakek juga akan membunuh Kara dengan cara yang sama?!"


"Sakura-chan?!" Enzo kembali buka suara.

__ADS_1


"Kara gak mau tinggal disini. Kalau bukan karena suami Kara, kara gak bakal mau bertemu kakek." Pungkas gadis tersebut, sambil berlalu meninggalkan ruangan tersebut.


"Kara?" Panggil Arsyad, saat sang istri berlalu begitu saja dengan penuh derai air mata.


"Berhenti disitu."


Arsyad menoleh, langkahnya yang hendak mengejar Kara terhenti seketika.


"Kemarilah." Hitake Wataya bersuara.


"Mendekatlah." Enzo menuturkan dalam bahasa Inggris.


"Cucuku akan baik-baik saja. Dia pasti akan berakhir di kamar ibunya." Hitake Wataya berujar dalam aksen Inggris.


Arsyad tentu terkejut pada awalnya, namun ia bisa menormalkan ekspresi wajahnya dengan cepat.


"Kau suami cucuku?" Tanya Hitake Wataya saat Arsyad sudah duduk didepanya.


"Iya."


Pria tua tersebut mengangguk samar, sambil menunjukan dokumen dihadapannya.


"Kalian menikah di usia yang masih dini."


Arsyad mengangguk dalam diam. Dia tidak terkejut akan informasi yang kakek istrinya ini dapatkan. Hitake Wataya adalah pria berkuasa di negeri sakura. Uang, kekuasaan, dan koneksi ada didalam genggamannya. Pria tua tersebut pasti sudah mengantongi segala identitas dan latar belakangnya.


"Latar belakang pendidikan dan keluargamu sudah ada dalam genggamanku."


"Sebenarnya aku menyesalkan keputusan satu ini. Kenapa harus kau yang menjadi pendamping cucuku."


"Kenapa? Apa yang membuat anda sesal akan takdir tersebut?" Arsyad memberanikan diri untuk bertanya.


"Karena dirimu berasal dari negara yang sama seperti pria yang telah menikahi putriku."


Arsyad tahu kemana arah pembicaraan ini tertuju. Ujung-ujungnya, latar belakang dan kelayakan dirinya akan dipertanyakan dan disamakan dengan mertuanya, Tyoga.


"Tapi itu tidak masalah jika cucuku tidak menjadi pembangkang seperti ibunya."


Hitake Wataya menunjukan dokumen dihadapannya dengan dagunya.


"Cucuku akan menguasai kerajaan bisnis di Osaka, dan sekitarnya. Semua peninggalanku akan jatuh kepadanya. Oleh karena itu ia harus menetap disini."


"Tidak." Jawab Arsyad tetap.


"Dia tidak akan tinggal dan terpenjara disini. Dia akan pergi dan tinggal bersamaku."


Pria tua tersebut menarik garis bibirnya tipis. "Begitukah? Kau akan membawanya ke New york?"


Deg


Arsyad mati kutu. Bagaimana bisa, Hitake Wataya mengetahui wacana. Padahal, wacana itu masih ia pikirkan matang-matang.


"Jika tidak, aku berikan satu pilihan."


Arsyad mendongrak, menatap lawan bicaranya.


"Buat cucuku memberiku keturunan pengganti."


Deg


"Hadirkan garis keturunanku dari rahimnya, dan biarkan aku membesarkan dan mendididiknya untuk menjadi pengganti ibunya."


****


TBC


Yanda update🔥


Maaf telat dari jadwal yang seharusnya🙏


Kemarin aku mau up, tapi sibuk sama organisasi RTIK. Hari ini juga jadwal lumayan full. Nyekar pagi2, kumpul sekolah, dll. Semoga readers semua mengerti ya.


Jadi, yang kangen yanda gimana? part ini gimane? kira2 yanda mau apa coba? jantungan gak? atau penisirin?


Wokeee, jangan lupa like, vote, komentar, dan follow Author. Kita jumpa lagi di part berikutnya😙

__ADS_1


Sukabumi 12 April 2021


__ADS_2