Bukan Cinta Terencana (R3)

Bukan Cinta Terencana (R3)
. 82. Kota Kembang & Kembang Hati


__ADS_3

. 82. Kota Kembang & Kembang Hati



"Kadang kala, kita bisa mendapatkan kemenangan lewat sebuah pengorbanan. Apresiasi dari kedua perantara tersebut kadang sama besarnya."-Arsenov Rayyan


****


"Hoam, ngantuk."


"Kebo lu, Dav."


"Ish, jangan sama-samain gue sama hewan suka mandi lumpur itu. Gue ganteng gini juga." Sengit lelaki berhoodie abu tersebut. Sesekali ia menguap lebar saking ngantuknya.


"Memang tidur jam berapa semalam?" Si bungsu bertanya.


"Subuh. Ngejar orderan 200 jeti. Gue udah ngerjain orderan ini seminggu, hasilnya gue cuma tidur 16 jam seminggu."


"Tapi itu sètimpal sama cuannya kan?" Ledek si sulung, sambil menyikut si tengah.


"Hm. Lumayanlah, buat jajanin lo berdua bisa nyampe 5 bulan."


Ketiganya tertawa renyah setelahnya. Udara dìngin kota kembang pagi ini, nampak menyambut kedatangan mereka. Semalam mereka tiba di kota kembang. Mereka memang berencana menginap di rumah kakek dan nenek mereka yang menetap di Bandung. Bukan cuma si kembar, Arra juga Arsen ikut serta bertandang dalam rangka liburan pasca kelulusan.


"Kok Davian nguap terus dari tadi? Semalam gadang ya?" Gadis berhijab syar'i itu bertanya, sambil menyodorkan sebotol air mineral.


"Iya. Baru tidur dua jam, eh udah pagi lagi. Mana dua kutu kupret rusuh lagi ngajakin ke gazibu." Ketusnya. "Dadav ngantuk tèh,"


"Ululuu... manjanya." Cibir Davin sambil terkekeh geli.


"Najis." Kesal Davian.


Pagi pertama di kota kembang, keempat Pandawa itu harus menjaga Srikandi yang ingin pergi ke salah satu ikonik kota kembang, yaitu Gedung Sate. Di sana mereka juga bisa berolahraga di area gazibu, mengunjungi museum Geologi Bandung, mengunjungi monumen perjuangan rakyat dan menjelajahi pasar gazibu saat akhir minggu tiba.


"Sayang gak ada bang Arsyad sama mbak Kara." Lirih Arra.


Gadis cantik itu menyayangkan ketidakhadiran sang kembaran dan istrinya. Adiknya juga tidak bisa ikut karena sedang mengikuti pelatihan khusus bersama Ayah mereka.


"Gak usah dipikirin tèh. Bang Arsyad disana lagi berjuang." Ujar Aroon, sambil menepuk bahu Arra.


"Iya. Masuk rumah Crazy Rich pasti penuh perjuangan. Apalagi setelah insiden suami ketahuan jalan sama cewek lain di malam Prom oleh istrinya sendiri." Komentar Davian jenaka.


"Mantap tuh, bisa kali dijadiin sinetron indosi*r." Kekeh Davin renyah.


"Dasar lu, korban sinetron."


Davin tertawa kecil mendengar ucapan si tengah. Ketiga lelaki yang lahir selisih beberapa jam itu, pagi ini mengenakan hoodie abu dengan bawahan celana olahraga berwarna hitam. Tidak lupa sepatu dengan brand milik keluarga Radityan, melekat pada kaki ketiganya.


Si kembar tentu menjàdi perhatian. Selain rupawan, rupa mereka yang sama tentu mencuri perhatian. Sesekali Davian malah asik mengedipkan matanya genit. Lelaki yang mengenakan slayer di kepala itu nampak suka sekali tebar pesona.


"Itu penjual bunga edelweis 'kan?" Tunjuk Arra antusias.


"Iya. Tetèh mau beli?" Tanya Aroon.


Arra mengangguk antusias. Ia memang menyukai bunga tersebut. Bunga yang melambangkan keabadian cinta itu sangat ia sukai. Dulu, ia pernah menemukan bunga Edelweis di dalam kotak kaca milik sang bunda yang terawetkan secara alami dengan setumpuk surat di dalamnya. Ketika bertanya, ternyata sekuntum bunga Edelweis dan setumpuk surat itu adalah pemberian sang Ayah.


Kala mendengar cerita lebih detailnya, Arra terharu. Ia sampai menangis kala itu. Semenjak itu pula, bunga yang hidup di ketinggian itu sangat membuatnya jatuh hati. Apalagi setelah tahu filosopi bunga tersebut bagi kedua orang tuanya.


"Eh, tapi gue mau itu." Tunjuk Davian ke arah gerobag tukang cakwè yang tengah berjalan berlawanan arah dengan mereka.


"Lah, beli gituan nanti aja. Ini tèh Arra mau beli bunga."


"Iya. Kita ke sono dulu lah Dav."


"Ish, lo gak tahu apa kalo gue lagi ngidam?!" Ketus Davian.


"Gidam?" Bingung Davin dan Aroon.


"Anak gadis mana yang lo buntingin hah?" Desak Davian cepat. "Jawab lo, jujur!"


"Maaf." Lirih Davian. "Gue buntingin Dasha Taaran, gimana dong?"


"Goblog!" Umpat Davin dan Aroon bersamaan, refleks. "Itu youtubers luar negeri woii!"

__ADS_1


"Kirain beneran. Taunya HALU!"


"Ya, gimana lagi. Jangankan pacaran, seharian aja gue pegang laptop buat nyari duit. Mana sempet buntingin anak orang." Lugas Davian.


Aroon dan Davin geleng-geleng kepala tak habis pikir. "Udah deh, kita cariin dia makan yok, Roon. Makin gesèr tuh otaknya kalo laper."


"Hm." Jawab Aroon menyanggungi. "Terus teh Arra gimana?"


"Biar sama gue." Suara familiar yang sedari tadi enggan buka suara, sekarang terdengar.


"Eh, kirain lo gak ikut Sen. Dari tadi kemana aja? Diem-diem bae." Kekeh Davian.


"Lo yang banyak bicara." Jawab lelaki rupawan berhoodie dongker tersebut. "Ayo Ra, aku antar kamu beli bunganya." Ajaknya.


"Wih, giliran soal tèh Arra gercep amat. Semañgat 45 ceritanya." Sindir Davian.


"Kayak gak pernah muda aja lu." Timpal Davin.


"Udah, udah. Tukang cakwènya keburu jauh tuh." Lerai Aroon.


"Eh, jirr. Cakwe inceran gue!"


"Ya udah, kejar sono."


"Ayuk."


Davian dan Davin berlalu, diikuti oleh Aroon setelah menitipkan Arra kepada Arsen. Kedua anak Adam itu berjalan beriringan, menyebrangi zebra cross menuju tempat bunga Edelweis tersebut di jual.


Penjual bunga tersebut adalah seorang pria tua. Bunga-bunga Edelweis berwarna putih denģan tangkai kecoklatan itu dijual dalam bentuk buket simple dengan ikatan berupa lilitan kain koran yang dibuat serapih mungkin. Si penjual juga meletakkan bunga-bunga tersebut hanya pada bakul yang terbuat dari anyaman bambu.


"Pak," Sapa Arra sopan.


"Mau beli bunganya nèng?" Arra mengangguk.


"Mangga, tiasà dipilih. Bagus-bagus bunga Edeweisnya."


Arra berjongkok, lantas memilih salah satu buket bunga Edelweis tersebut tanpa banyak pertimbangan. Toh, benar kata si bapak penjual. Bunganya masih bagus dan nampak cantik-cantik semua.


"Cantik sekali bunganya."


Arra mendengarkan dengan seksama. Arsen juga berdiri sambil mendengarkan ucapan pria tua tersebut.


"Satu aja neng?" Arra mengangguk sambil merogoh tas selempang miliknya.


"Berapa pak?" Tanya Arsen, sambil mengeluarkan dompet miliknya. Lelaki rupawan itu sudah terlebih dahulu membayar, sebelum Arra sempat melerai.


"Aku kan bisa bayar sendiri."


"Gak papa." Jawab Arsen singkat.


"Tapi kan-"


"Udàh, gak papa." Ujar Arsen, sambil menepuk pucuk kepala Arra kecil dua kali berturut-turut. Arra saja sampai melongo di buatnya.


"Semoga hubungannya awet dan langgeng ya, seperti bunga Edelweis." Ujat bapak tua itu, mengalihkan perhatian keduanya.


"Walaupun sudah lama dipetik, bunga edelweis akan selalu terlihat sama dan ajaibnya bisa awet secara alami. Semoga hubungan kalian juga demikian. Abadi selamanya."


Arra dan Arsen kompat tersenyum tipis sambil mengangguk. Entah itu basa-basi si bapak penjual atau memang do'a tulus untuk keduanya. Keduanya tidak berniat untuk menjelaskan lebih rinci, karena setelahnya si kembar telah menghampiri.


📚📚📚


"Lagi ngapain Ra?"


"Hm, ini. Lagi urus endorsan aja. Kamu udah selesai makannya?" Tanya gadis cantik berhijab syar'i tersebut.


"Hm. Kenapa gak ikut makan?"


"Masih kenyang. Tadi aku makan kue balok sama bolu susu lembang."


"Hm."


Arsen mengangguk, lantas mengambil posisi untuk duduk di samping Arra. Ada jarak tercipta walaupun mereka duduk bersisian.

__ADS_1


"Disini enak ya, adem."


"Hm. Apalagi Lembang. Aku pernah ngecamp disana bareng Ayah." Ujar Arsen.


Arra menoleh refleks. "Ngecamp?"


Arsen mengangguk. Tatapañ lelaki rupawan itu lurus ke depan. Seulas senyum tercipta di bibirnya. "Ayah orangnya sibuk, karena kerjaanya buat Animasi dan antek-anteknya. Kalau libur, biasanya Ayah suka pergi ngecamp, muncak, hiking atau mendaki gunung."


"Wah, pasti seru. Dulu bunda juga suka mendaki. Aku juga suka sih, tapi Ayah melarang. Padahal aku pingin kayak bunda. Dulu, Ayah lamar bunda di puncak gunung Gede Pangrango."


"Di puncak gunung?"


"Iya. Antimeanstream 'kan?" Arsen mengangguk lirih. Hal tersebut tentu membuat pikirannya kini berkelana.


"Semua itu terjadi tanpa rencana, namun atas kuasa sang Ilahi. Ayah selalu bawa cincin untuk khitbah bunda kemana-mana, termasuk pas misi latihan gabungan kala itu. Ayah khitbah bunda di atas ketinggian, disaksikan rekan sesama TNI dan orang-orang yang datang dari berbagai penjuru negeri, yang kala itu tengah mendaki gunung Gede Pangrango."


Arra tersenyum sumringah setelahnya. Ia selalu suka jika mendengar cerita tentang khitbah antimainstream yang dialami oleh Ayah dan Bundanya. Kelak, ia juga berharap ingin dikhitbah dengan cara yang tidak biasa. Itupun jika Allah menghendaki.


"Ra,"


"Iya, ada apa?"


"Kamu mau enggak kalau misalnya nanti kita-"


"AYO BURUAN?!"


Arsen meneguk salivanya susah payah. Baru saja ia ingin mengutarakan pikirannya, ucapannya sudah terlebih dahulu terpotong oleh suara lengkingan seorang anak jalanan.


"Kenapa?" Tanya Arsen.


"Itu, mereka kenapa pada lari?" Bingung Arra. "Eh, tadi kamu mau bilang apa? Maaf. Aku gak fokus tadi."


Arsen menggaruk belakang kepalanya sambil berdehem kecil. "Lupain aja, gak penting kok."


"Eh, kok gitu."


Arsen mengulas senyum tipisnya. "Bukan apa-apa kok."


Arra mengangguk walaupun masih penasaran. Riuh suara anak-anak dari balik pagar, kembali mengambil perhatiannya. Arra berinisiatif berjalan ke luar pagar diikuti oleh Arsen. Saat tiba di luar, mereka bisa melihat beberapa anak jalanan berlarian menuju sebuah mobil yang pintu bagasinya terbuka.


Dari dalam mobil, turun dua orang lelaki membawa barang-barang yang tersimpan dalam kardus-kardus cukup besar. Para anak-anak itu bersorak riang. Beberapa anak jalanan lain mulai berdatangan dan mengerumuni mobil berwarna silver tersebut.


"Mereka sedang apa?" Tanya Arra penasaran.


"Entahlah." Jawab Arsen sekenanya.


Tidak lama kemudian sebuah motor KLX hitam seri terbaru, datang menghampiri kerumunan tersebut. Saat berhasil memarkirkan kendaraanya, para anak-anak jalanan itu berbalik mengerumuni sosok berhelm full face tersebut.


Tidak lama kemudian, lelaki itu membuka helmnya, yang langsung di sambut riang oleh gerombolan anak jalanan tersebut.


"HOREE, KAK GEAN DATANG!"


Deg!


Arra mematung mendengarnya. Manik tuduh milih gadis tersebut menatap lekat sosok rupawan yang tengah tersenyum diantara anak-anak jalan tersebut. Senyumnya lebar, tanpa risih ataupun jijik akan keberadaan anak-anak jalanan di sekelilingnya. Senyum lebar itu tulus tercipta di wajah rupawan yang biasanya selengèhan tersebut.


"Gean?"


****


TBC


Yuhuu... bang Arseennn update!


Ada yang kangen? masih mau lanjuttt? ato masih mau kangen-kangenan? kalau mau lanjut, KOMENTAR LANJUT... sama apa yang ingin readers baca di part berikutnya.


Ok, ngerti kan rulesnya? Jangan lupa LIKE, VOTE, KOMEN & SHARE cerita ini biar makin banyak yang baca. Follow Author atau IG karisma022 ya😀


Untuk yang punya aplikasi WP juga boleh banget baca TENDEAN dan My Mysterious Bakos di sana.



__ADS_1


Sukabumi 22 Mei 2021


__ADS_2