
...102. Surga Dunia...
...“Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan manusia dari air, lalu menjadikannya sebagai keturunan.”...
...**...
“Kenapa tidak dimakan? Tidak suka?”
Wanita cantik yang tengah menikmati steak and Quail eggs itu menerbitkan senyum. Masih banyak lagi hidangan yang tersedia, selain menu tersebut. Ada chicken with mashroom souce, mashroom soup, grilled prawn, fish N cjips, dan beberapa menu dessert. Mereka tengah menikmati sarapan saat hari sudah beranjak siang.
“Mau aku ganti makanannya?”
Wanita cantik dalam balutan dress berwarna light blue itu menggeleng. “Ini sudah cukup, yanda.”
Arsyad, pria rupawan itu menatap sang istri lamat-lamat. Sejak bangun tidur, tidak ada sejengkal pun aktivitas wanita itu yang tidak dia ketahui. Mengingat kondisinya yang tengah tidak memungkinkan melakukan banyak kegiatan, setelah apa yang mereka lakukan semalam.
“Yanda,” panggil suara lembut tersebut.
“Hm.”
“Apa yang lain sudah pulang?”
Pria rupawan yang tengah menikmati hidangan yang terbuat dari daging sapi panggang dengan telur setengah matang itu mengangguk. Saat mereka bangun pagi tadi, tahu-tahu anggota keluarga Radityan sudah lenyap. Tidak ada yang tersisa, kecuali mereka.
Setelah membersihkan diri, dan menunaikan salat subuh, mereka memang tidur kembali. saat bangun di pagi hari, ada dua koper yang tertinggal di depan paviliun yang mereka tempati. Saat dibuka, isi koper tersebut berupa hadiah dari semua anggota keluarga Radityan. Beragam bentuk, ukuran dan nilainya. Mulai dari saham, properti mewah berupa griya tawang yang diberikan oleh Setyo. Paket umroh ke tanah suci dan sepetak tanah di kota kembang dari orang tua Arsyad.
Paket honeymoon keliling eropa dan Timur Tengah menggunakan penerbangan kelas satu dari ArraGean. Satu set perhiasan berlian Swarovski dan brand pakaian anak yang khusus didedikasikan untuk calon buah hati mereka, dari Lunar dan Arkan. Pulau pribadi yang mereka tinggali saat ini, dari keluarga Anzar, bungker bawah tanah dari Pradipta bersaudara, sebuah bintang dengan nama ArKa—gabungan dari Arsyad dan Kara dari Davian yang dibeli dari NASA, dan berbagai benda berharga hingga tak terhingga.
Ada juga hadiah yang membuat Arsyad amat terenyuh. Di antaranya adalah kumpulan foto dirinya bersama Arsen, Davin, Davian dan Aroon saat SMA yang dibuat dalam bentuk 3D karya Arsen, dan sebuah foto satuan regu TNI angkatan Darat dan angkatan Udara yang tampak membentangkan sebuah spanduk bertuliskan ucapan selamat. Foto itu tentu ide brilian dari Arion dan Davin yang mendedikasikan hidupnya sebagi abdi Negara.
“Yanda?”
“Iya,” pria rupawan itu menjawab cepat. Agaknya panggilan dari sang istri berhasil mengalihkan perhatiannya. “Kamu sudah selesai?”
“Iya.”
“Kenapa cuma makan sedikit?” tanyanya, seraya mengamati piring sang istri.
“Kenyang.”
Kening pria rupawan itu bertaut mendengarnya. “Bukannya semalam kamu kelaparan? Kita tidak sempat makan malam, bahkan melewatkan sarapan pagi.”
Mendengar kalimat yang suaminya ucapkan, spontan rona merah menjalari wajah cantik wanita tersebut. “Yanda ihh,” rengeknya.
“Kenapa? Malu?” goda sang suami.
“Gak tahu. Kara mau ke kamar!” ketusnya, seraya beranjak dengan cepat. Berakhir dengan rintihan yang lolos dari bibir ranumnya.
Mendengar rintihan sang istri, Arsyad buru-buru beranjak. Dia mendekat dengan perasaan cemas. “Masih sakit?” tanyanya.
“E—nggak,” dalih sang istri seraya menggigit bibir.
Cup!
Iris hazelnut milik wanita cantik itu mengerjap kaget. Bibirnya baru saja diserang secara tiba-tiba.
“Teruslah berbohong.” Arsyad menyentuh pucuk kepala sang istri pelan.
__ADS_1
“Eh,” kaget Kara saat tiba-tiba saja tubuhnya melayang di udara. Arsyad membawa tubuhnya ala bridal style, membuat Kara langsung melingkarkan kedua tangannya.
“Padahal aku sudah berupaya selembut mungkin. Tapi, kenapa kamu tetap kesakitan?” tanya pria rupawan tersebut ambigu.
Kara yang baru saja diturunkan di tempat tidur, hanya bisa menunduk.
“Apa masih terasa sangat sakit? Perlu kupanggil dokter?”
Kara menggeleng. Entah perasaanya saja, atau memang rasa sakitnya sedemikian rupa jika baru pertama dulu berhubung. Bahkan tertinggal hingga saat ini. Padahal sejak bangun tadi, dia sudah berendam air hangat, seperti saran yang Ibu mertuanya berikan lewat pesan singkat. Tetapi, rasa sakitnya masih tertinggal.
“Akan aku panggilkan dokter—“
“Yanda,” sela Kara. Tangan mungilnya bergerak menahan ujung kaos yang digunakan sang suami.
“Kenapa hm?”
“I—ni sakitnya memang wajar. Yanda tidak perlu cemas.”
“Kamu yakin? Kamu bahkan tidak bisa bangun dari tempat tidur jika—“
“Yanda ihh,” potong Kara malu.
Melihat ekspresi sang istri, Arsyad menerbitkan senyum tipis. “Aka semalam aku tidak berlebihan?”
Kara menggelengkan kepala. “Enggak.”
“Kamu yakin?”
“Hm.”
“Tapi, kenapa kamu berteriak-teriak—“
“Gemas sekali,” ungkap Arsyad seraya membawa wanita itu ke dalam pelukannya. “Masya Allah, sihir apa yang telah hamba-Nya ini gunakan.”
Kara tersenyum malu dalam pelukan Arsyad. Dia memang seperti anak kucing yang tidak bisa berbuat apa-apa saat terbangun dengan bagian bawah tubuhnya yang nyeri. Sejak semalam, Arsyad dengan telaten membantu membersihkan tubuhnya sebelum tidur. Tidak mungkin juga mereka tidur dengan tubuh lengket karena peluh. Begitupun depan pagi tadi, pria rupawan itu dengan telaten membantu sang istri membersihkan diri. Walaupun Kara awalnya menolak keras.
“Sampai kamu sembuh total, kita libur dulu.”
“Libur?” kening Kara mengernyit bingung.
“Butuh usaha keras untuk membuat mereka hadir,” ucap Arsyad, meniru gaya bicara sang istri semalam.
“Yanda ih,” ketus sang istri malu. “M—emangnya yanda mau itu lagi?” tanyanya pelan. Wajahnya mendongak, menanti jawaban sang suami.
Alih-alih menjawab, Arsyad malah menjatuhkan kecupan singkat di kening sang istri. “Kita akan bekerja keras lagi nanti, bukan sekarang.”
“Yanda….”
“Sekarang istirahatlah. Nanti siang aku akan mengajakmu berkeliling,” ucap Arsyad seraya mengarahkan sang istri untuk berbaring. Kemudian dengan telaten dia menyelimuti tubuh Kara.
“Beristirahatlah.”
“Hm.” Kara merespon singkat.
Arsyad benar-benar pria yang sulit didefinisikan. Tanpa diperintah, diminta, ataupun dijelaskan, pria itu sudah paham betul harus berbuat apa. Sikapnya manly, penuh perhatian, pengertian, dan tidak pernah setengah-setengah jika mencintai. Membuat wanita yang dicintai bak ratu yang amat dicintai.
...**...
Ketika matahari mulai bergerak ke sisi lain bumi, Arsyad benar-benar merealisasikan ucapannya. Dia mengajak Kara jalan-jalan di sekitar penginapan. Banyak hal yang dapat mereka lakukan, mulai dari menikmati pemandangan pesisir pantai, menyelam untuk melihat keindahan biota laut, bersepeda, memetik buah-buah dan sayur organik, atau sekedar bersantai di dek kayu yang tersedia.
__ADS_1
Menjelang sore, keduanya sibuk berburu seafood untuk makan malam. Di pulau ini sarana dan prasarananya cukup lengkap. Ada petugas keamanan, petugas kebersihan, koki yang on time 24 jam, hingga tim medis. Mereka dapat dipanggil sewaktu-waktu jika dibutuhkan. Sebelum tiba jam makan malam, Arsyad dan Kara menyempatkan waktu terlebih dahulu untuk menikmati senja. Semburat cantik yang menghiasi cakrawala itu dapat dengan puas mereka nikmati.
“Cantik.”
“Iya. Cantik sekali sunset-nya,” imbuh Kara.
“Kamunya lebih cantik,” timpal sang suami.
Kara tertawa kecil. Sedangkan sang suami memilih mengeratkan rengkuhan pada pinggangnya.
“Kenapa ketawa?”
“Cute aja, soalnya yanda bilangnya gitu.”
“Itu pujian,” ujar Arsyad. “Kamu dipuji karena cantik. Kok ketawa?”
Kara menggelengkan kepala. “Geli ih,”
“Apanya?”
“Yanda barusan.”
Arsyad melonggarkan pelukan. Diraihnya wajah sang istri agar beralih ke arahnya. “Aku telah mengambil sebuah keputusan berat sebelum kita datang ke tempat ini.”
“Keputusan apa itu? Apakah soal merger?”
“Hm. Hari ini saham milik kakekmu kembali berkurang 20%.”
“Really?” kaget Kara. Bagaimana bisa kakeknya kecolongan semudah itu.
“Hm. Nenekmu juga sama. Saham miliknya tinggal 40%,” lanjut Arsyad seraya menyentuh garis wajah sang istri. “Aku akan mengambil alih jika posisi mereka sudah melemah.”
“Apa mereka bisa melemah semudah itu?”
“Tentu, jika kita menggunakan taktik yang apik.”
“Kara serahkan semuanya sama yanda,” ujar Kara. Bola mata hazelnut miliknya menatap sang suami lekat. Dibarengi dengan senyum yang merekah.
“Akan aku tangani perang dingin di antara mereka.” Arsyad meraih wajah sang istri kian mendekat. “Agar kamu bisa hidup leluasa sebagai Ibu dari anak-anakku,” lanjutnya. Diakhiri dengan bertemunya dua organ tanpa tulang yang saling sesap di antara keindahan jingga di cakrawala.
**
TBC
Baru bisa update, padahal part ini udah ada di draft lebih dari seminggu. Maaf ya🙏
Besok aku ganti sama double update. Siap-siap aja WAR, KOMENTAR, LIKE, VOTE, & FOLLOW AUTHOR.
Huhuhu…. Tinggal beberapa part lagi. Ditunggu EPILOG nya. Tapi, akutuh belum rela pisah sama mereka. Karena di lapak ini banyak kali kenangan dan tokoh-tokoh yang bikin nangis, bahagia, ngakak, mesem-mesem, juga kesel.
Jadi, gimana? Kalian siap WAR? Siap EPILOG?
Besok WAR!
KABAR BAIKNYA, DEFINISIKAN SENDIRI LEWAT GAMBAR DI BAWAH INI!
Sukabumi 03 Oktober 2021
__ADS_1