Bukan Cinta Terencana (R3)

Bukan Cinta Terencana (R3)
99. Wedding Surprise


__ADS_3

...99. Wedding Surprise...


...“Wanita dinikahi karena empat perkara; karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya, niscaya engkau beruntung.”—Hadist Riwayat Bukhari...



...**...


Arsyad tidak tahu apa maksud surprise yang dimaksud oleh orang-orang terkasih nya. Yang dia ketahui, saat ini mereka tengah bertolak dari New York entah ke mana. Tidak ada yang memberi tahu Arsyad soal tujuan mereka saat ini. Masalah lainnya datang dari sang istri. Wanita cantik itu entah pergi ke mana. Semenjak pesawat take off, wanita cantik itu tidak terlihat di manapun juga.


“Rainbow mooncake, bang. Mau?”


Arsyad menggelengkan kepala sebagi jawaban. “Kamu lihat Kara, Ron?”


Si empunya nama menggelengkan kepala sembari melahap rainbow mooncake yang terbuat dari talas bogor tersebut. “Enggak. Kenapa memang, bang?”


“Dia enggak ada di mana-mana. Aku khawatir.”


“Mbak Kara sama Papihnya kali, jangan khawatir.” Aroon berucap sembari mengurai senyum.


“Abang,” panggil suara lembut yang berasal dari ambang pintu. Seorang wanita cantik berkhimar pastel tampak berjalan memasuki ruangan.


Pesawat yang membawa keluarga Radityan memang termasuk transportasi yang mewah. Di dalamnya dilengkapi bengan berbagai fasilitas wah. Mulai dari tempat tidur mewah, meeting room, area bersantai, jamuan makan 24 jam, dan masih banyak lagi. Namun, semua itu tidak berarti tanpa kehadiran sang istri.


“Makan dulu, abang belum makan malam, kan?”


Wanita cantik itu menyodorkan nampan berisi nasi yang dilengkapi dengan lauk-pauk berupa masakan rumah. “Ini bunda sendiri yang masak buat abang, khusus.”


“Terimakasih.” Arsyad tersenyum kecil sembari menerimanya.


Dia memang belum makan, karena rasa lapar itu tak kunjung datang. Namun, mengingat sang Ibu sudah repot-repot memasak, dia menghargai semua usaha itu. Lagi pula dia juga sudah rindu masakan sang Ibu.


“Cobain juga daging ayamnya, bang. Itu Arra yang masak.”


Arsyad mengangguk. Kemudian dengan perlahan dia mengambil daging ayam yang sudah dipotong-potong kecil tersebut.


“Gimana, bang?”


“Hm. Enak,” jawabnya sambil mengulas senyum.


“Aroon juga laper, teh. Masih ada nasi lagi enggak?” si bungsu triple D buka suara. Melihat Arsyad yang tengah menikmati makan malam, dia tergoda untuk ikut mencicipi.


“Masih ada kok. Lauknya ada di Tupperware, kalau nasinya ada di penanak nasi.”


“Okay, on the way makan lagi!” seru Aroon antusias sembari pamit undur diri. Pria rupawan itu memang hobby makan, kendati demikian badannya tetap proposional. Tubuh ideal itu hasil dari kebiasaanya workout rutin.


“Padahal tadi habisin rainbow mooncake hampir selusin, sekarang mau makan. Apa Aroon enggak kenyang?” pikir Arra, sembari menatap sisa rainbow cake yang tinggal beberapa biji.


“Aroon kesehariannya berada di kantor, mungkin sekarang dia banyak makan karena punya kesempatan,” seloroh Arsyad. Dia juga baru tahu kalau Aroon sekarang jadi doyan melahap semua makanan.


“Bukan gitu, bang. Doi-nya Aroon itu master chief, makanya jangan heran kalau dia doyan makan. Orang tiap hari dimasakin enak-enak terus.”


“Dia punya pacar?” tanya Arsya penasaran.


“Iya. Namanya Aarin. Dulu mantan chief senior di caffe, terus dia resign karena mau lanjut kulian di luar. Dua tahun kebelakang mereka enggak sengaja ketemu di festival masakan nusantara Jakarta. Karena ada rasa ketertarikan sejak pertama kali bertemu, Aroon memberanikan diri buat deketin Aarin. Ternyata mereka sama-sama suka sejak lama, tapi sibuk sama karier masing-masing. Rencananya bulan ramadan tahun ini Aroon mau ngelamar Aarin,” cerita Aurra.


“Dia punya rencana untuk menikah duluan?”


“Enggak juga.” Arra menggelengkan kepala sembari menyodorkan segelas air putih pada Arsyad. “Davin, kan, udah pacaran dari SMA sama Davina. Mereka juga udah tunangan lama, tapi belum bisa menikah karena pengajuan nikah tentara itu enggak gampang. Kalau Aroon mau nikah, tunggu Davin sama Davina dulu. Rencananya mereka mau nikah awal tahun depan.”


Arsyad yang masih setia mendengarkan itu mengangguk paham. Tidak terasa, makanan di piringnya hampir habis. Arra yang menyadari hal tersebut tidak kuasa menahan senyum senang, karena berhasil membuat sang kembaran makan.


“Berarti tinggal Davian, ya?”


“Iya. Dia, kan, sibuk sama dunia hacker, jadi sekarang enggak ada waktu buat urusan asmara. Padahal, dulu Davian yang paling gercep soal asmara.” Arra tersenyum jenaka di akhir kalimat.


Davian saat masih remaja memang playboy kelas kakap. Tetapi, sekarang bermetamorfosa menjadi playboy insaf. Pria muda itu terlalu sibuk terbang dari Negara satu ke Negara lain guna menjalankan misi-misi berbahaya. Namun, dibalik semua itu tugasnya mulia, karena dia bekerja untuk kepentingan orang banyak. Sekarang ini dia juga tengah terlibat kembali dengan pasukan perdamaian di bawah naungan PBB, untuk menjalankan misi di Negara terdampak perang saudara.


“Cheri?” suara husky yang dalam itu terdengar di indra pendengaran, membuat kedua si kembar Arsyad-Arra menoleh bersamaan.

__ADS_1


Suara itu ternyata berasal dari ambang pintu. Di mana ada seorang pria gagah ruapawan berseragam pilot tengah membawa piring kosong.


“I’am hungry, cheri (Sayang, aku lapar.)”


Arra yang mendengar pertanyaan tersebut langsung beristigfar. Dia lupa jika tadi pria ruapawan yang merupakan tunagannya itu tengah menunggu. “Aduh, maaf, A. Arra barusan lupa, saking asiknya ngobrol.”


Pria rupawan itu mengangguk paham. “It’s okay. Lanjutin aja ngobrolnya, aku bisa ambil makan sendiri. kamu kasih tahu aja di mana rendang sama nasinya.”


“Eh, enggak-enggak. Biar Arra yang ambilin. Aa diem di sini aja, tapi—“ kalimat wanita cantik itu terpotong, saat dia mengingat suatu hal. “Kalau Aa di sini, siapa yang ngendaliin pesawat ini?” tanyanya horror.


Mendapatkan pertanyaan demikian, pria itu menyeringai kecil. “C’mon, cheri. Ada co-pilot, dan ada Om Gemintang yang lebih handal dari aku. Beliau mengambil alih flight deck setelah mendengar keributan yang berasal dari sini.” Dia menunjuk bagian perut yang tertutup baju.


Melihat itu Arra malu sendiri. Dia melupakan sang tunangan yang tengah menunggu rending pesanannya. Dia benar-benar ceroboh, astagfirullah.


“Pergi saja, Ra. Abang juga udah selesai makan. Kasih calon suamimu itu makan, lapar katanya.” Arsyad bersuara. Melihat interaksi keduanya, diam-diam dia melepaskan senyum tipis.


Ternayata keputusannya memberi pria itu kesempatan tidak salah. Lihatlah kini, kembarannya tampak sangat bahagia. Keduanya saling mengerti, melengkapi, juga menuntun menuju ridho Allah SWT. Tinggal menunggu hari yang telah ditetapkan datang, maka status keduanya akan berubah menjadi pasangan yang sah.


“Kalau gitu Arra pergi dulu, ya, bang. Kasihan si Aa mau makan, tapi lupa dikasih rendang pesanannya.”


Kedua pria itu sama-sama tersenyum tipis. Arsyad dengan perasaan senang dan lega, karena Arra telah menemukan kebahagiaan bersama pria pilihannya. Sedangkan AlGean, merasa begitu gembira saat sang pujaan hati begitu perhatian kepadanya. Ingin cepat-cepat membawanya ke kantor urusan agama saja jikalau bisa. Biar cepat bisa menjadi pasangan yang sah di mata hukum dan agama.


“Abang istirahat aja, pasti hari ini capek. Yang lain juga sudah beristirahat.”


“Hm.”


“Jangan nyariin mbak Kara. Besok juga ketemu.”


Arsyad mengernyitkan kening mendengan pernyataan sang kembaran. Maksud dari kalimat tersebut apa?


“Sekarang abang bobo sendiri aja, Mbak Kara-nya lagi dipinjam dulu. Anggap aja kayak pasangan mau nikah lagi pingitan.”


Arsyad semakin dibuat kebingungan. Pingitan? Buat apa? Dia saja menikah sudah empat tahun lamanya, tanpa prosesi pingitan segala. Mengingat dulu dia menikah by acciedent. Sepeninggalan Arra dan Gean, rasa kepenasaran masih menghinggapi benak Arsyad. Dia juga sudah mencoba menghubungi sang istri beberapa kali, tetapi nihil.


Terdengar hembusan nafas lemah sedetik kemudian. Mungkin perkataan Arra ada benarnya. Bisa saja sang putri tengah bersama sang Ayah, guna melepas rindu karena telah lama tidak bertemu. Arsyad mencoba positif thingking saja. Dia pun memutuskan untuk mengambil air wudhu sebelum menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim. Setelahnya dia beralih ke tempat tidur guna mengistirahatkan tubuh serta pikiran.


“Selamat malam, istri. Suami kangen.” Arsyad bergumam kecil sebelum benar-benar jatuh ke dalam buaian mimpi. Kalimat tersebut biasanya diucapkan sang istri, sekarang keadaanya malah terbalik.


Pasawat landing tepat saat matahari baru saja muncul dari peraduan. Ketika bangun tidur hingga meninggalkan burung besi tersebut, Arsyad masih curi-curi pandang mencari sang istri. Semua orang seolah-olah tengah bersekongkol menyembunyikan wanita cantik beriris hazelnut tersebut.


“Nyari apa, bang?”


“Hm, enggak ada.” Arsyad buru-buru menjawab singkat.


“Ya sudah, ayo masuk. Kita masih harus melanjutkan perjalanan.”


Arsyad mengangguk. Dengan langkah pelan dia kemudian mengekori wanita berkhimar dan mengenakan niqab tersebut. Ibunya. Pesawat sudah landing, tetapi perjalanan masih harus dilanjutkan. Sekarang Arsyad tahu mereka ada di mana. Tetapi, sampai saat ini dia belum tahu kenapa mereka datang ke tempat ini. Hawaii. Kenapa mereka sekeluarga besar datang ke Hawaii? Lebih tepatnya ke salah satu pulau yang di sewa secara pribadi.


“Abang, ganti bajunya sama ini, ya.”


Kening pria rupawan yang baru saja mendudukkan dirinya itu mengeryit dalam. “Ini tuxedo buat apa, Mah?”


“Pakai aja ya, ganteng. Terus nanti rambutnya biar ditata sama Mama.” Wanita berkhimar itu berucap seraya teresnyum lebar.


Setelan tuxedo mahal berwarna hitam itu tersimpan dengan rapih di atas tempat tidur. Rombongan keluarga Radityan memang baru saja tiba di penginapan yang terdiri dari satu bangunan utama dan satu pavilium terpisah. Anehnya lagi, Arsyad disuruh untuk menghuni kamar utama di pavilium yang letaknya terpisah dari bangunan utama. Dia bisa merasakan keheningan yang nyata dalam bangunan dua lantai yang dihuni seorang diri tersebut.


Sebagian besar bangunan terbuat dari bahan kayu yang menojolkan kesan hunian tropis yang alami, dan klasik. Bangunan itu tidak terlalu besar seperti bangunan utama. Hanya ada tiga kamar tidur, satu kamar utama di lantai atas, dua lainnya di lantai dasar. Kamar utama yang dilengkapi dengan ranjang king size menghadap langsung ke arah lepas pantai. Saat membuka transparent glass berhubung antara balkon, maka view cantik nan asri akan didapatkan. Perpaduan antara keindahan lepas pantai dengan airnya yang biru, dengan hamparan perkebunan kelapa, juga siluet gunung yang tampak menjulang di seberang.


Ketika semburat jingga mulai tampak di sepanjang garis pantai, dua orang pria rupawan berjas rapih datang mengunjungi Arsyad. Arsyad sendiri sudah mengenakan tuxedo yang diberikah Lunar. Dia sudah menunggu cukup lama di sini.


“Ganteng banget, bang. Kayak mau nikah aja,” komentar salah satu pria tersebut sambil mengusap dagu.


“Ini sebenarnya ada apa?” tanya Arsyad bingung.


“Lo mau dinikahin lagi. Masa gak nyadar?”


“Apa maksudmu?”


“Istri lo udah pulang ke negaranya, kali. Dia mau didapuk sebagai pewaris utama di Korea sana. Sekaligus dinobatkan sebagai putri dengan gelar apalah gitu,” tutur Arsen—pria ruapawan yang datang bersetelan jas tersebut.

__ADS_1


“Jangan bercanda!” Arsyad menatap keduanya lekat. “Katakan apa yang sebenarnya terjadi, Davin, Arsen?!”


“Ikut sama kita aja dulu, bang. Nanti abang bakal tahu sendiri jawabannya.”


Tanpa babibu lagi, Arsyad langsung meng-iyakan ajakan mereka. Jika apa yang dikatakan Arsen dan Davin ada benarnya, maka Arsyad tidak akan segan-segan untuk menyuarakan kemarahan. Mana mungkin dia menikah lagi disaat sang istri tengah ditawan oleh keluarga sendiri. Apa ini yang mendasari ketidakhadiran sang istri sejak kemarin?


Pikiran Arsyad mulai bercabang ke mana-mana. Kebingungannya semakin menjadi-jadi, saat Arsen dan Davin membawa dia ke bibir pantai. Tempat di mana sebuah dekorasi indah layaknya sebuah pelaminan tersedia. Lengkap dengan para anggota keluarga besar Radityan.


“Apa-apaan ini?” Arsyad bertanya sembari menoleh ke arah Arsen dan Davin bergantian.


Keterkejutan kembali bertambah, saat Arsyad bisa melihat seorang pria berseragam loreng telah menunggu di penghujung jalan berlapis karpet merah yang dia lalui. Sepanjang langkah, semua anggota keluarga Radityan menebar senyum seolah-olah menertawakan kebingungannya. Arsyad benar-benar tidak mengetahui maksud dari semua ini. Dan, pria berseragam loreng itu? Bagaimana bisa ada di sini? Bukannya beliau tengah bertugas?


“Tugas kita cuma sampai di sini,” ujar Davin sembari mengarahkan tangannya agar Arsyad terus melangkah.


“Lo lanjut sendiri,” imbuh Arsen.


Arsyad tidak berkata. Dengan langkah mantap dia berjalan mendekati sang Ayah. Tiba di penghujung, Arsyad langsung menghadap Van’ar. Bohong jika dia tidak rindu akan pria tersebut. Dia rindu. Rindu kepada pria yang sering kali meninggalkan sang Ibu, dia dan saudarinya. Sejak dalam kandungan sekalipun, Arsyad selalu dibuat rindu akan kehadiran sosoknya.


“Ayah,”


Pria itu merespon dengan senyum tipis. Tubuhnya berdiri dalam posisi siap yang sempurna. Pakaian yang dia gunakan tampak mencolok di antara orang-orang yang mengenakan pakaian dengan tema monokrom.


“Selamat atas kelulusanmu, prajurit muda.”


Arsyad tertegun mendengarnya. ‘Prajurit muda’. Dulu saat masih kecil dia senang sekali jika dipanggil dengan panggilan tersebut. Sekarang perasaan senang itu bisa Arsyad rasakan kembali setelah sekian lama.


“Selamat juga atas hari jadi pernikahanmu. Tetaplah menjadi kepala keluarga yang tangguh bagi keluargamu.”


Arsyad terharu, sungguh. Dia tidak tahu jika sang Ayah akan mengingat hari jadi pernikahannya. Padahal dulu dia sempat berpikir jika Ayahnya akan menganggap pernikan ini sebagai lelucon, saat dia meminta izin untuk menikah muda.


“Sekarang jalan yang sesugguhnya telah menanti dirimu.” Van’ar berucap sembari menyentuh bahu sang putra.


“Tetaplah tangguh, berpegang teguh pada pedoman yang telah Ayah dan bunda tanamkan kepadamu.”


“Baik, Ayah.”


“Sekarang tinggikan kepalamu, tegapkan bahumu, dan berbaliklah. Masa depan tengah menunggumu.”


Arsyad mendongkrak. Menegapkan bahu yang sempat melemah. Dia menggerakkan kaki, memutar tubuh. Menatap lurus ke ujung jalan yang sempat dia lalui. Saat pandangannya tiba di penghujung, pandangan mereka bertemu. Arsyad bisa melihat sosok cantik jelita bak bidadari yang tengah pelesiran ke bumi, berdiri mengapit lengan seorang pria. Senyum manis terpatri di bibir. Raut wajahnya kentara sekali memancarkan aura kebahagiaan.


Untuk sejenak Arsyad terhenyak. Dia bergulat dengan pikirannya sendiri soal semua ini. Ini nyata atau hanya fiksi? Bagaimana bisa wanita yang telah menemani dirinya selama ini berubah menjadi bidadari dalam balutan wedding dress?


Wedding dress yang jatuh menyapu lantai dengan taburan kristal Swarovski itu tampak melekat dengan indah. Membentuk lekuk tubuhnya dengan cantik, tanpa kesan berlebihan. Surai kecoklatan miliknya ditata sedemikian rupa, hingga tersanggul dengan cantik. Dihiasi dengan wedding veil yang jatuh menjuntai menyapu lantai. Senyum yang berseri setia menemani. Raut wajahnnya benar-benar menggambarkan kebahagiannya hari ini.


“Congratulation. Kamu telah berhasil melewati masa trainee,” pria yang diapit oleh wanita cantik itu bersuara. Saat mereka sudah tiba di hadapan Arsyad.


“Papih,” lerai suara lembut tersebut memperingati.


“Ekhem. Papih cuma mengingatkan.” Pria yang masih memegang tittle sebagai Crazy Rich itu berdeham kecil. “Kali ini aku menyerahkan putriku dengan kepercayaan penuh, setelah melihat bagaimana bahagianya dia karena dirimu. Jangan berani-berani membuat jiwa dan raganya terluka.”


Arsyad yang mendapat wejangan itu mengangguk patuh. Perasaanya masih tidak menentu.


“Lakukan apapun agar membuatnya selalu bahagia, sudah cukup selama ini hidupnya tersiksa.”


“Baik.” Arsyad menjawab dengan mantap. Untuk sejenak tatapan Arsyad bersirobak dengan tatapan si pemilik iris hazelnut tersebut. Sosok yang dia cari-cari sejak kemarin.


“Termasuk jika dia menginginkan keturunan. Itu kembali kepada keputusanmu.”


Tyoga memberikan tangan sang putri pada Arsyad. Arsyad menerimanya dengan baik. Hari ini, seharusnya terjadi empat tahun yang lalu. Hari di mana dia mengikat gadis tersebut atas nama hukum dan agama. Hari dimana seharusnya dunia tahu jika mereka sudah menikah. Namun, karen banyaknya hal-hal yang krusial, kesempatan itu jatuh pada hari ini. Hari di mana hubungan mereka tidak akan lagi ditutup-tutupi. Semua orang berhak tahu bahwa Arsyad telah memiliki seorang bidadari. Bidadari cantik untuk dirinya sendiri. calon Ibu dari anak-anaknya nanti. Sang pembawa bahagia dalam tiap langkah yang dia temani.


...**...


...TBC...


...Hallo, apa kabar? Sehat kah? Masih mau baca BCT, gak nih?...


...Maaaf kalau updatnya kelamaan, karena aku dituntun harus konsisten nulis di platform orange selama aku mengikuti event. Semoga readers semua mengerti. Jika berkenan, mampir juga ke username @nengkarisma di dunia orange. Aku juga akan tetap berusaha update setiap akhir pekan, apalagi BCT sudah mendekati EPILOG. Jadi, jangan bosan-bosan buat baca sampai final....


...🤗...

__ADS_1


...(Note : BDJ besok ya:')...


...Sukabumi 10 September 2021...


__ADS_2