Bukan Cinta Terencana (R3)

Bukan Cinta Terencana (R3)
107. Shibuya


__ADS_3


Shibuya



“Ini gila, suer.” Pria muda berwajah rupawan itu sudah berulang kali berkata demikian seraya mengeratkan mantel coklat yang membungkus tubuhnya.


“Sumpah, gue miris sama keadaan gue yang sekarang menistakan kodrat seorang pria jantan.”


Mendengar celotehan sang kembran, pria muda di bermantel hitam ikut angkat suara. “Udahlah, Dav. Udah dipakai juga, kan, costumnya?”


“Udah sih, udah. Tapi, geli gue lihat diri sendiri. masa, badan manly diruruh pakai baju gini?” Davian, pria yang sedari tadi misuh-misuh sendiri itu membuka sedikit mantel yang menutupi bagian dada.


Siapa sangka, hal itu mengundang gelak tawa. “Buahaha… lucunya, Mas. Jadi inget pas dulu istri lagi ngidam.”


“Memang istri lo ngidam apaan?” tanya Davian sebal.


“Saya juga pernah dikerjaian istri karena ngidam. Disuruh pake daster emak buat ke pasar.” Pria bernama Adam itu menjelaskan. “Malunya, gak ketulungan. Tapi, bahagia lihat istri gak merajuk lagi.”


Davian manut-manut mendengarnya. “Itu sih hak suami, bahagian istri. Lah, gue? Pacar bukan, istri juga bukan. Kenapa gue yang harus coslay jadi saylor moon? Mana di Shibuya lagi!”


Lagi, mobil yang ditumpangi oleh empat orang itu diisi oleh gelak tawa. Davin, Aroon, Adam—sekretaris Aroon, dan Agam—sekretaris Arsyad. Mereka hendak menuju Shubiya, tempat di mana seorang Davian akan menjatuhkan harga dirinya ke lapisan paling dalam di muka bumi. Pria muda itu sudah misuh-misuh sejak tadi karena sekarang mengecakan costum ketat yang seolah-olah membuat tubuh kekarnya dililit sesuatu.


Shibuya sendiri adalah salah satu distrik khusus di kota Tokyo. Distrik ini berdiri pada 15 Maret 1947. Dengan populasi sekitar 221,801 jiwa. Shibuya berada di dekat Shinjuku dan Harajuku. Area ini berkembang pesat setelah dibangun kembali pada era Showa, dan sekarang ramai dikunjungi orang-orang untuk berbelanja.


Shibuya memang merupakan distrik bisnis dan perbelanjaan. Bagi orang Jepang, Shibuya memiliki image sebagai tempat kawula muda. Biasanya di tempat ini banyak berkumpul anak-anak muda dan selalu melahirkan budaya baru.


“Ini, ada yang pernah main ke Shibuya belum?” tanya Aroon. Dia sendiri sudah beberapa kali datang ke Jepang. Tapi, belum pernah ke Shibuya. Mengingat tiap kali datang ke Jepang, Aroon tidak sempat untuk jalan-jalan. Poor Aroon.


“Saya pernah.” Agam buka suara.


“Terus kita jalan mana? Mau naik kereta atau gimana?” tanya Aroon.


“Kalau naik kereta, ini mobilnya gimana, dodol garut?” timpal Davian sewot.


“Mobil ini nanti di titipin aja, gimana? Sekali-sekali kita naik kereta. Hitung-hitung jalan-jalan,” usul Aroon.


“Iya, boleh juga. Kapan lagi ke Shibuya, ‘kan?” sahut Adam. “Jadi inget istri. Dia penggemar berat anime Naruto. Apa lagi Sauke Uchiha, suka banget. Orang anime ganteng gitu, pantesan banyak yang suka.”


Davin memutar bola matanya malas. “Yang udah punya istri, tolong jangan bahas istri terus, ya. Sadar diri dong, kasihani kami yang jomblo.”


“Lah, siapa yang jomblo?” celetuk Aroon. “Gue mah udah ada gandengan. Agam juga, udah punya future. Lah, lo? Jomblo pisabilillah!”


Gelak tawa terdengar, mengisi mobil. Membuat Davian berdecak sebal, karena lagi-lagi dia yang ternistakan. Padahal, dari dulu dia yang jago membully saudara-saudaranya. Tapi, sekarang keadaanya terbalik? Poor Davian


“Kalau mau naik kereta, ada banyak jalurnya. Agak ribet, tapi saya hafal.” Agam menuturkan saat mobil yang dikendarai memasuki pelataran parker.


“Lo pernah tinggal di sini, Gam? Hafal bener keknya.” Davian kembali bersuara.


Si pemilik nama mengangguk. “Saya dulu sekolah di sini SMA sampai SMA, baru pindah ke New York.”


“O,” jawab Davian sekenanya. “Pantesan hafal,” imbuhnya.

__ADS_1


“Ada banyak cara pergi ke Shibuya. Stasiun Shibuya agak rumit karena banyak jalur dan banyak pintu keluar. Jalurnya meliputi ** Yamanote Line, Saikyo Line, Shonan Shinjuku Lini, Tokyu Toyoko Line, Den-en-toshi Line, Ginza Line—“


“Please, ini bukan lagi presentasi. Jadi, jangan dijelasin secara rinci. Ambil intinya aja.” Davian menyela, jengah mendengarkan pemaparan tour guide mereka.


Agam mengangguk seraya membuka seat belt. “Kalau gitu sekarang kita naik Keisei Line dari Stasiun Keisei sampai ke Nippori. Nanti ganti kereta ke ** Yamanote Line.”


Davian, Aroon dan Adam hanya bisa mengangguk. Mereka memang tidak pergi bersama si pemeran utaman, yaitu Arsyad dan Kara. Pasangan suami istri yang masih seperti pasangan dimabuk asmara, walaupun sudah menikah selama 5 tahun. Mereka sudah berangkat terlebih dahulu menggunakan supir pribadi, yaitu Astronot Reynand Pradipta. Mereka memang dikawal oleh para kawula muda Pradipta.


Awalnya mereka hendak bepergian menggunakan jet pribadi. Namun, ide itu ditolak mentah-mentah oleh Arsyad. Hal itu karena dirasa dapat menarik perhatian Hitake Wataya. Sedangkan posisi mereka masih menjadi incaran. Sekalipun sudah ada issu yang merebak, jika Hitake Wataya akan segera lengser dari singgasananya. Jadi, mereka menggunakan transfortasi biasa. Berbaur dengan para masyarakat kota Tokyo.


Tiba di Shibuya, mereka bergegas menuju ikonik tempat tersebut. Apalagi kalau bukan patung Hachiko. Hachiko dalah patung anjing yang berada alun-alun di depan stasiun ** Shibuya. Patung Hachiko dibuat pada tahun 1934 menggunakan dana dari sumbangan orang-orang yang terkesan dan kasihan dengan kisah anjing setia itu.


Hachiko memang dikenal sebagai anjing setia yang rela menunggu majikannya yang telah meninggal selama 9 tahun di depan stasiun tersebut, karena biasanya sang majikan menggunakan kereta untuk berangkat kerja.


“Ini lagi rame banget lo, yakin mau nyanggupin?” Aroon berbisik tak yakin saat mereka sudah tiba di alun-alun.


Davian tersenyum sinis. “Dari tadi gue udah menyuarakan ketidakmampuan, karena gue malu, oneng! Lah, giliran sekarang udah nyampe baru lo pedulu.”


Aroon tersenyum manis. “Maaf tayangku.”


“Anjir, geli. Semenjak punya calon bini, kelakuan lo jadi gini amat? Curiga gue.”


“Curiga apaan?” tanya Aroon memincing.


“Curiga kalau lo bukan aja dikasih makan nasi sama lauk cinta. Tapi, lo dikasih susu perah juga, ya?”


“Hah?”


“Sembarangan kalo ngomong!”


“Yakali, Roon. Biasanya yang lempeng kayak lu itu, jatuhnya sangean pas pacaran.”


“Gue enggak, ya!”


“Bukan enggak, tayang. Tapi belum,” ralat Davian.


“Gak akan terjadi!”


“Yakin, lo?” Davian menatap sang kembaran lamat-lamat. “Nanti juga kalau udah nikah maunya nempel terus. Gue sangsi kalau lo bakal jilat ludah sendiri.”


Aroon tidak mengubris. Kalau masalah mesum pas sudah halal, itu sih sah-sah saja. Toh, apapun yang dilakukan dengan pasangan sah jatuhnya ibadah.


“Omong-omong, ini pelaku utamanya di mana, sih?” Davian celingukan, mencari keberadaan Arsyad dan istri.


“Nah, itu.” Aroon menunjuk ke arah datangnya pasutri yang mengenakan coat cuple. Siapa lagi kalau bukan Arsyad dan istri.


“Dari mana, Bang?” tanya Aroon saat mereka mendekat.


“Dari gerai kudapan,” jawab Arsyad sekenanya.


Pria itu tampak menawan dalam balutan outfit yang istrinya siapkan. Di sampingnya, ia merengkuh possessive pinggang ramping sang istri. Menjaganya agar tidak terdorong-dorong saat berada di lautan manusia.


“Davian kok gak cosplay jadi saylor moon? Katanya kemarin janji?” Kara buka suara.

__ADS_1


Wanita itu tiba-tiba menampilkan wajah sedih yang membuat para pria kelimpungan.


“Eh, ini udah dipake, kok.” Davian mengeratkan pegangan pada mantelnya. Anak sultan ngidamnya kok gini-gini amat, ya—batinnya di dalam hati.


“Kenapa di tutupin mantel?”


“Dingin. Ini, kan, winter.”


“Terus, selfienya gimana?”


“I—ya, ini dilepas,” ujar Aroon, membuat Davian melotot.


“Gak kira-kira, lo. Ini harga diri kembaran lo yang jantan bakal dipertaruhkan, loh?”


“Demi, Dav.”


“Demi siapa? Anak gue juga bukan!” ketus Davian.


“Dav,” panggil Arsen.


Davian menoleh, melarikan pandangan pada si empunya suara. “Iya, kenapa, Bang?”


“Kalau gak mau gak usah. Dan, gak usah kasih Kara harapan.” Setelah berkata demikian, Arsyad meraih tangan sang istri. Membawanya pergi menjauh dari Davian, Aroon, Adam dan Agam yang dibuat melongo.


“Lah, Bang. Ini beneran loh, gue mau cosplay,” ujar Davian, buru-buru menunjukkan costum yang digunakan.


“Yanda?” lirih Kara, saat langkah Arsyad tak berhenti. Sekalipun Davian sudah memanggil. “Baby-nya mau lihat itu, loh.”


“Kara.”


“Please, yanda. Lagipula Davian juga bersedia.”


Arsyad menghembuskan nafas lemah. Ia bukan marah, hanya saja tidak mau memaksa siapapun berbuat sesuatu yang tidak dikehendaki. Sebagai Ayah dari si jabang bayi, Arsyad merasa bersalah. Ia juga tahu jika hal itu memalukan jika dilakukan. Akan tetapi, mau bagaimana lagi? Semua itu di luar kendali.


“Setelah ini aku akan minta maaf sama Davian,” gumam Arsyad lirih.


Pada akhirnya pertunjukan benar-benar di mulai. Davian memperlihatkan kostum yang ia gunakan dibalik mantel. Beberapa orang tentu tertarik melihatnya. Ada pula yang merekam kemudian membagikannya. Sesi selfie bersama patung Hachiko itu ternyata menarik banyak perhatian. Davian harus mati-matian menahan malu selama memenuhi keinginan sang ipar. Untungnya, ia memakai masker. Jadi, tidak terlalu jelas rupanya. Malu dong. Mau ditaruh di mana muka ganteng Davian si agen khusus besutan GG bersaudara 🤭


**


Hallo, apa kabar? maaf baru bisa update lagi. Aku benar-benar sibuk sama real life, padahal belum kerja😌


Semoga readers mengerti ya 👋


Besok aku up lagi, ya. Jangan lupa like, vote, komentar dan follow Author.


Udah baca Arragean belum nih? udah part 20 loh.



Kalau penasaran, cuss add FB Karisma Yknp dan gabung ke grup Rumah Sastra dan Bahasa ( Faza Citra Production) 🥳


Sukabumi 04/11/21

__ADS_1


__ADS_2