
...106. Bumil Moodyan....
...Jangan lupa vote, coment, like & follow Author...
...❤️...
Banjir sinar mentari pagi yang memasuki ruangan, mengusik tidur sepasang suami-istri tersebut. Keduanya masih terlelap nyenyak dibalik gelungan selimut tebal. Suhu di ruangan boleh saja dingin, tetapi tidak dengan mereka. Satu pelukan erat yang tak terlepas sepanjang malam, nyatanya mampu membuat kehangatan yang bertahan lama di antara mereka.
Si wanita tampak membuka mata terlebih dahulu. Kelopak mata yang ditumbuhi oleh bulu mata lentik tersebut terbuka, meloloskan sepasang netra hazelnut cantik yang langsung disuguhi pemandangan indah. Bagaimana tidak, saat membuka mata dia langsung disuguhkan dengan wajah rupawan yang tampak polos. Pahatan sempurna sang Maha Kuasa itu tampak sempurna.
Ketampanannya tampak tidak nyata untuk sejenak. Rambut legamnya jatuh berserakan di sekitar dahi. Alisnya terbentuk secara tegas dan simetris. Kedua kelopak mata yang ditumbuhi bulu mata lentik itu tertutup. Menaungi sepasang manik elang yang tengah beristirahat. Hidung mancungnya tampak mencuri perhatian. Bibir sensual miliknya tampak merah alami. Dibingkai pula dengan rahang tegas yang memperjelas keindahan kaum Ada satu ini.
Sosok yang mampu membuat segerombolan kaum Hawa tergila-gila hanya karena sekali lirik. Tidak terkecuali bagi Atmariani Karamina Adriani.
Saat pertama kali berjumpa, dia sempat ragu. Ragu akan kesungguhan yang coba dia tawarkan. Bagaimanapun juga Arsyad adalah orang baru bagi Kara. Kara sempat menyimpan ragu, tetapi tidak bertahan lama. Karena kesungguhan seorang Arsyad An-nass Senopati Az-zzioi mampu meluluhkan hatinya.
“Sudah puas hm?”
Kara terhenyak. Gerakan jemari lentiknya yang tengah menyusuri sepanjang garis wajah sang suami, kontan terhenti. “Sejak kapan yanda bangun?”
“Belum lama,” jawab pria rupawan tersebut seraya mengeratkan rengkuhannya. “Tidurmu nyenyak?”
“Nyenyak.”
“Dia juga?”
Kara mengernyitkan kening. Dia baru paham saat sang suami menyentuh perutnya dari balik kemeja yang dia kenakan. “I feeling good.”
“Syukurlah.” Arsyad tersenyum tipis. Wajah rupawannya tampak berkali-kali lipat lebih menawan sekalipun baru bangun tidur. Berada di dekat wanita tersebut, Arsyad tidak merasakan gejala mula-mual yang belakangan sering dia rasakan. Dia tertidur nyenyak di peraduan seraya memeluk sang istri semalam. “Semalam dia tidak terganggu, bukan?”
Kara kontan memerah. Wajah cantiknya kemudian terbenam sempurna di dada bidang sang suami. “Aku rasa enggak. Dia baik-baik saja.”
“Kamu yakin? Bukannya kita perlu berkonsultasi?”
“Yanda, Kara Ibunya. Kara tahu kalau dia baik-baik saja tau tidak.” Kara menjawab pelan.
Semalam dia memang mengalami kesulitan tidur. Dia baru bisa terlelap setelah mengganti dress cantiknya dengan kemeja yang dipakai Arsyad. Bak aroma terapi, aroma yang tertinggal di pakaian tersebut malah membuatnya mengantuk.
“Kara.”
“Hm.”
“Apa orang rumah sudah tahu soal kehamilan mu?”
“Iya. Waktu itu Bunda yang pertama kali tahu.” Kara menuturkan. Dia ingat sekali saat berita bahagia itu didengar oleh keluarga Radityan. Ada buncahan kebahagian yang tampak di wajah-wajah tersebut.
Dengan suka-cita mereka menyambut kehadiran cucu pertama untuk Van’ar dan Aurra. Banjiran do’a dan ucapan selamat tiada henti-hentinya berdatangan. Kabar kehamilan Kara juga menjadi berita yang disambut haru oleh Tyoga. Pria yang masih setia dengan status lajangnya itu bahkan sampai menitihkan air mata kala melihat pemeriksaan ultra sonografi. Dari sana dia bisa melihat calon cucunya yang masih tampak seperti titik kecil.
Dia masih tidak menyangka jika putri kecilnya akan segera menjadi Ibu. Gadis kecil yang dulu sangat dia lindungi setengah mati, kini tengah membawa kehidupan baru yang harus dia lindungi pula.
__ADS_1
“Ayah mertua menangis?”
“Iya. Katanya sih terharu.”
“Siapa yang tidak terharu jika mengetahui kabar bahagia seperti ini?” Arsyad menyentuh perut sang istri pelan. Menyapa calon buah hati mereka yang tengah tumbuh di dalam sana.
“Yanda memangnya bahagia?”
“Pertanyaan bodoh dari mana itu.”
Mendapati kata ‘bodoh’ dari sang suami, wanita cantik itu kontak mengangkat wajah. Menatap sang suami dengan bibir mengerucut. “Kara bodoh?”
“Tidak. Bukan begitu maksudnya.”
“Terus, barusan yanda bilang gitu apa maksudnya?” tuntut Kara.
“Itu spontanitas.” Arsyad menjawab sekenanya.
“Spontanitas?” Kara mengernyitkan kening. “Katanya, spontanitas itu adalah cerminan dari kejujuran yang mau disembunyikan, tetapi gagal. Jadi, menurut yanda, Kara itu bodoh?”
“Tidak. Kamu pintar, istriku.”
“Kalimat yang pertama kali muncul selalu menjadi kunci utama kejujuran.” Kara beranjak cepat dari posisinya. Meninggalkan tempat tidur tanpa bisa Arsyad cegah. Mood wanita cantik itu tiba-tiba berubah drastis. Membuat Arsyad kebingungan.
“Apa karena hormon kehamilan?” bingung Arsyad.
Kondisi itu bertahan hingga mereka sarapan bersama yang lain. Kara hanya mau berbicara dengan pria muda bermata biru yang tampak mencuri banyak perhatian setibanya dia di tempat ini. Siapa lagi jikalau bukan Astronot putra dua Pradipta bersaudara. Dia memang tumbuh menjadi pria rupawan dengan visual menawan. Tidak mau kalah dengan Astronot, ketampanan putra Gemintang Reynando Pradipta juga patut diacungi jempol. Fajar tumbuh dengan ketampanan yang diwariskan sang Ayah. Plus dengan sifat humble dan sumpel dari pasangan Gemitri.
“Ini, kenapa pada diem terus sih? Bibirnya habis di-chidori sama Sasuke Uchiha?” celetuk Davian.
Dia mana bisa diam lama, karena bukan passion-nya jika tidak banyak bicara. Sedangkan sekarang, mereka hanya diam-diam saja seraya menikmati waktu sarapan.
“Diem aja, lo. Bersisik terus!” ketus Aroon yang baru saja menyeruput kuah Ramen pesanannya.
“Berisik cinta. Yakali bersisik. Memangnya gue siluman duyung.”
“Serah. Intinya jangan berisik!”
“Iya, gue coba. Soalnya di sini pada diem-diem bae. Horor tau gak sih, kayak aura hutan Aokigahara.”
“Memangnya lo pernah ke sono?” tanya Aroon seraya menyipitkan mata.
“Pernahlah. Tempat eksis mana sih yang enggak pernah gue singgahi? Konohagakure aja pernah gue singgahi.”
“Ngawur lo!” Aroon berdecak menghadapi lelucon sang kembaran. Davian hanya terkekeh geli melihatnya.
“Dav.”
Merasa dipanggil, si pemilik nama menoleh. Saat sadar siapa yang memanggilnya, dia langsung menerbitkan senyum. “Pantes suaranya alus banget, ternyata titisan dewi kecantikan yang manggil,” celetuknya, yang langsung menarik delikan tajam dari samping si wanita.
__ADS_1
“Wih, bang Arsyad matanya mau loncat keluar. Sans aja, bang. hidup itu harus dibawa bergurau dikit, kebanyakan serius nanti otaknya kasihan. Tertekan.” Davin tertawa kecil setelahnya. Ekspresi saudaranya itu terlihat seperti Lion sang siap menerkam mangsa.
“Iya, Mbak yang cantik. Ada apa ya manggil-manggil?”
“Aku mau lihat kamu selfie di hutan Aokigahara.”
“HAH?!” Davian kontan menganga. Bukan cuma Davian sih, tetapi 5 pria rupawan yang sama-sama duduk di meja tersebut dibuat terkejut.
“Please, jangan bilang kalau mbak Kara sekarang lagi bunting calon keponakanku yang unyu-unyu. Terus, ceritanya ini lagi ngidam?”
Tidak mendapati jawaban dari siapapun, Davian melainkan pandangan ke arah Arsyad. “Bang, please don’t say yes. Karena hutan Aokigahara itu horor banget. Lebih horor dari kenyataan kalau Orochimaru bisa hidup lagi.”
Arsyad tidak bereaksi apa-apa. Mood swing sang istri memang tidak bisa ditebak sejak pagi. Jika ini adalah bagian dari keinginan si bumil, siapa yang tahu? Diamnya Arsyad, Davian anggap sebagai jawaban. Bahunya lemas seketika.
“Kara.” Arsyad memanggil pelan.
“Ya?” wanita cantik itu menoleh, menatap sang suami.
“Kamu, yakin?” tanya Arsyad ragu.
“Kalau Davian enggak mau gak papa.” Mendengar jawaban itu, Davian mengelus dada lega. Yakali dia harus datang ke tempat fenomenal itu hanya untuk berselfie. Bagaimana jika saat tengah berselfie riang, tiba-tiba hantu Sadako muncul? Hih, ngeri gak tuh melihat penampakan hantu legendaris di Jepang?
“Sebagai gantinya Davian harus cosplay jadi Sailor moon.”
“WHAT THE HELL IS THAT?!”
“Selfie-nya harus di patung Hachiko, patung simbol Shibuya,” imbuh Kara seraya memperlihatkan hazelnut puppy eyes miliknya.
Sekali lagi, Davian memekik histeris. Membuat orang-orang memperhatikannya, juga membuat para pria di mejanya mengulum senyum. Arsyad juga diam-diam tersenyum tipis. Namanya juga bumil, tidak tahu apa dan siapa yang sewaktu-waktu dapat menjadi korban mood swing atau keinginan nyelenehnya. Jikalau tidak dituruti, hal itu akan berimbas pada mood-nya yang akan memburuk.
“Jadi, Dav, turutin aja. Itung-itung sebagai bentuk selebrasi karena bentar lagi ada yang manggil kita Om,” ujar Aroon seraya terkekeh geli.
Davian tersenyum masam, kemudian mendekatkan bibir ke telinga sang kembaran. “ARE YOU FUCKING KIDDING ME?!”
**
TBC
HOLLA, AUTHOR BAWA BERITA BAIK.
READERS BISA TENANG, KARENA BCT BELUM EPILOG SAMPAI PULUHAN PART KE-DEPAN👋 KENAPA? KARENA MASIH BANYAK YANG PERLU DIURAIKAN DALAM LAPAK INI.
TUNGGU JUGA ANAK BARUKU DI SINI. SPILL COVER DULU🤭
KEPO? YUK TANYA-TANYA DI KOLOM KOMENTAR 🤩
Sukabumi 13 Oktober 2021
__ADS_1